Archive for July, 2013

Ibu Terus-menerus Bungkam
July 21, 2013


Cerpen Gunawan Budi Susanto (Suara Merdeka, 21 Juli 2013)

Ibu Terus-menerus Bungkam ilustrasi -

IBU bungkam. Selalu bungkam setiap kali aku bertanya tentang berbagai peristiwa dalam perjalanan hidupnya antara tahun 1960-an dan pertengahan 1970-an. Ibu bisa bercerita secara runtut dan detail peristiwa-peristiwa masa lalu, jauh sebelum menikah. Namun tak sekecap pun, tak sehuruf pun, dia ucapkan atau dia tulis mengenai rentang waktu 1960-an sampai pertengahan 1970-an. Masa itu kosong, bolong, melompong.

Padahal, justru itulah masa paling genting dalam kehidupan kami sekeluarga. Itulah masa ketika kehidupan berputar sedemikian kencang, lalu tiba-tiba berhenti dan kami semua terpelanting, lalu terpuruk dalam ketidakberdayaan. Apalagi kemudian setiap orang menjauh, sejauh-jauhnya. Mereka bersikap seolah-olah tak pernah mengenal kami, seolah-olah tak pernah berhubungan dengan kami.  (more…)

Senja di Kairo
July 21, 2013


Cerpen Irwan Kelana (Republika, 21 Juli 2013)

Senja di Kairo ilustrasi Rendra Purnama

SEMUA orang yang kukenal mengingatkanku agar membatalkan keberangkatanku ke Kairo. Suasana Mesir dalam beberapa hari terakhir semakin panas. Para pendukung maupun penentang Presiden Mursi sama-sama unjuk kekuatan di ibu kota Mesir itu. Berita-berita di televisi maupun di koran yang aku baca memperlihatkan para penentang presiden yang terpilih secara demokratis itu terkonsentrasi di Lapangan Tahrir sedang para pendukungnya berkumpul di Rabi’ah Al Adawiyah.  (more…)

Pengacara Pikun
July 21, 2013


Cerpen Gerson Poyk (Kompas, 21 Juli 2013)

Pengacara Pikun ilustrasi ....

TAKSI bandara menurunkan Dewi dan suami serta dua anak yang masih kecil di depan rumah opa mereka. Keduanya duduk dan melapor: ”Kami datang untuk cari kerja di sini, Opa. Sarjana hukum seperti kami berdua sukar dapat kerja di daerah.”

Sang Opa kaget, ”Ah, jauh-jauh terbang untuk cari kerja. Hmm, kalian berdua sarjana hukum. Sawah dan ladang pusaka tak terkelola?” tanya sang Opa.  (more…)

Sangkar di Atas Leher
July 14, 2013


Cerpen Adi Zamzam (Koran Tempo, 14 Juli 2013)

Sangkar di Atas Leher ilustrasi Yudha AF

AKAN kuceritakan kepadamu tentang keanehan yang kualami sejak empat hari kemarin, yang terus saja menyiksaku hingga detik ini. Adalah kicauan seekor burung terdengar seperti permintaan tolong dan kadang terdengar pula seperti ratapan. Kicauan itu terus bergema dalam kepalaku. Tak henti-henti. Ya, di dalam kepalaku!

Saat kicauan itu berdenging di telinga kiriku, segera saja kusumpal lubang telinga kiriku. Pun ketika kicauan itu meriuhi telinga kananku, segera saja kusumpal lubang telinga kananku. Tapi semua itu sia-sia belaka. Kicauan itu justru kemudian meloncat ke atas.  (more…)

Belfegor
July 14, 2013


Cerpen Kiki Sulistyo (Suara Merdeka, 14 Juli 2013)

Belfegor ilustrasi -

LIDAH Nenek seperti silet yang mengiris tepat di jantungku. Kata-katanya bagai cuka, memberi kadar perih yang berlebih. Aku tertunduk, menatap lantai tanah yang seumur hidupku tak pernah berubah. Dari luar rumah seberkas cahaya bulan menerobos pagar bambu, mendesakkan diri menjadi bilah-bilah tipis. Nenek meludah. Cairan merah jatuh di lantai. Cairan sirih yang dikunyah hingga semirip darah. Aku tetap tertunduk. Bersimpuh di dekat kakinya yang telanjang.  (more…)

Yu Gemi Pergi Haji
July 14, 2013


Cerpen Budi Suryawan (Republika, 14 Juli 2013)

Yu Gemi Pergi Haji ilustrasi Rendra Purnama

SEJAK masih ingusan, Yu Gemi sudah menyimpan impian untuk pergi ke haji. Jangan tanya kenapa karena ia pasti kerepotan menjawabnya. Yu Gemi tidak memiliki titisan darah santri yang merasa kurang sempurna keimanannya bila belum berhaji. Dalam silsilah keluarganya, tidak satu pun di antara mereka yang mengenakan kopiah haji. Nenek moyangnya menderita kemiskinan berganda: miskin harta, melarat pula ilmu agama. Mana berani Yu Gemi bercerita tentang impiannya? Yu Gemi tahu diri, harapan itu pun tersimpan aman dalam lipatan angan-angan.  (more…)