Cerpen Dias Novita Wuri (Koran Tempo, 28 Juli 2013)

Teman Kami ilustrasi Yuyun Nurrachman

“NAH lihatlah, Teman, kami sudah memenuhi permintaan-permintaanmu. Kami datang saat kau panggil, dan kami sudah membantu membuatmu kaya tanpa kau harus bekerja apa-apa seumur hidupmu. Kau sudah punya sebuah mobil yang nilainya hampir dua ratus juta mata uangmu, kau berhasil menikahi perempuan cantik itu (tadinya ia benci padamu, tentu saja, dan selalu mengerutkan alisnya tiap kali kau muncul di depan pagar rumahnya, tapi kami punya cara untuk membujuknya, mengisiki hatinya dengan tipu daya), dan kini kau punya dua rumah—besar dan terletak di lokasi yang bagus, meskipun tidak megah. Kau berkecukupan tanpa harus berusaha, karena perempuanmu yang bekerja seumur hidupnya hingga kalian punya semua itu. Ia cantik, serba-bisa, dan pintar, ia yang bekerja membanting tulang di sebuah bank asing selama dua puluh lima tahun sementara tugasmu hanya menjemputnya setiap sore di kantornya. Itu pun kau selalu mengeluh. Kau marah-marah, memukulkan kepalan tanganmu ke klakson mobil, memaki-maki pengendara lain saat jalanan macet. 

“Jadi sekarang biarkan kami berbuat semau kami padamu.”

Saat usianya menginjak lima puluh lima, pelan-pelan kami membuatnya gila. Kami membuat dunianya tampak tak lagi masuk akal di matanya. Kami mengosongkan otaknya, mengacaukan segala sistem di tubuhnya. Kami menjadikannya boneka kami. Awalnya hanya serangan-serangan tak berarti yang para dokter artikan sebagai “stroke ringan”: ia kehilangan kendali akan otot-otot di kaki dan tangannya, menjatuhkan gelas saat sedang memegangnya, lupa arah dan menerobos lampu-lampu merah saat mengemudi. Pelan-pelan kami membuat semua itu memburuk. Ia mulai berteriak-teriak karena hal-hal sepele. Kemudian ia juga kehilangan kemampuannya bicara. Ia tidak lagi dapat memahami dan dipahami.

Ini rahasia. Kalian tidak perlu tahu keberadaan kami. Namun, jika kalian cukup mampu, kalian akan bisa melihat kami di sana, mengelilinginya. Kami duduk ketika ia duduk, berdiri ketika ia berdiri, berbaring ketika ia mengistirahatkan tubuhnya yang kian lama kian kami buat renta, tubuh yang dagingnya menyusut dari hari ke hari seberapa pun banyaknya ia makan. Kami ada bersamanya ketika ia dikunci dalam kegelapan kamarnya, di atas kasur kapuk yang telah mengeras dengan seprai yang bercak-bercak air seni dan liur, hanya ditemani sebuah televisi kecil yang menayangkan saluran belanja-dari-rumah yang tak ada habis-habisnya, dua puluh empat jam sehari.

Kami menyenangi rumahnya. Tempat itu dipadati berbagai patung kayu dan lukisan: kesukaaan kami adalah sesosok dewi berkepala dan sayap burung rajawali tapi bertubuh manusia. Kadang kami akan berkerumun saja di sekitar dewi burung itu untuk mengagumi sepasang payudara bulat montok pada dada telanjangnya. Itu, dan lukisan gadis sedang memandangi lilin, dinaungi bayangannya sendiri. Oh, bagaimana kami bisa tidak senang. Ada alat-alat musik juga, segala yang berdenting dan bergemerincing. Tempat itu bagaikan surga bagi kami.

Kalau kalian bisa melihat kami, temukan kami di sudut tergelap dari sebuah ruangan yang gelap.

***

Setiap pagi, sebelum semua orang bangun, kami akan menyuruhnya buang air besar. Ia selalu menurut. Sama sekali tidak pernah melawan. Kami memilihkan tempat terbaik untuk melakukannya. “Dapur,” kami berkata. “Tahukah kamu, di dapurmu itu kita bisa menemui seorang teman. Ia kadang-kadang ada di sana. Ia jiwa yang penuh dendam, yang suka mewujud menjadi seorang kakek tua berlumuran darah di mata mereka yang mampu melihat. Dapur juga tempat istrimu memasak berbagai makanan, menanak nasi, dan merebus air. Sana, pergi dan kotori tempat itu.”

Setiap pagi ia ke sana dan memelorotkan celana kolornya, lalu celana dalamnya, lalu berjalan berkeliling sambil melaksanakan hajat. Ceprot-ceprot-ceprot. Tahinya yang encer berair pun berjtuhan di mana-mana dan kami bersorak kegirangan. “Lagi. Lebih banyak lagi! Ambil tahi itu dengan tanganmu, lalu usapkan tanganmu ke bajumu.” Ia melakukannya. Lebih banyak lagi tahi berjatuhan. Seperti bom, atau seperti buah masak yang jatuh ke tanah dari tangkainya. Tak lupa ia bermain-main dengan tahinya sendiri dan mengusapkan tangannya ke bajunya.

Lalu bau tajam akan menguar membangunkan istrinya. Ia keluar dari kamarnya sendiri—bukan, tentunya bukan dari kamar yang dulu ia bagi denganmu, Teman, sekarang istrimu telah membangun sarangnya sendiri jauh darimu—mengenakan daster dan melangkah tergopoh-gopoh dengan sisa-sisa mimpi masih menyelubungi pikirannya (dan mimpinya kebetulan sebuah mimpi aneh yang indah, nanti akan ia ceritakan ke anak perempuannya). Namun ia selalu tahu itu ulah suaminya, karena ini merupakan skenario sehari-hari. Kami mengamati wajahnya yang kini berkeriput dan pucat, gelung rambutnya longgar menyentuh tengkuk. Tiga puluh tahun yang lalu, ia merupakan kembang desa di kampung halamannya di Pati. Ia membuat pria-pria tak terhitung banyaknya bertekuk lutut di kakinya, kemudian mematahkan hati mereka semua. Dua puluh lima tahun yang lalu ia datang ke kota metropolitan ini untuk mencari pekerjaan. Dua puluh tahun yang lalu ia bertemu dengan teman kami yang gila ini.

“Papa!” ia berseru. Benaknya yang gusar bertanya-tanya mengapa ia masih bisa merasa marah, teramat sangat marah, padahal ia mengalami kejadian ini setiap hari. Suaminya hanya berdiri menatapnya, seperti biasa dengan kedua bahu yang kini telah bungkuk. Kami beri tahu kalian, bahu itu membungkuk sedemikian rupa karena ia harus memanggul kami, bukan? Ya, ia memanggul kami selama ini.

“Sana, Papa minggir dulu,” ujar si istri di antara gigi yang terkatup beradu. Gigi itu berfungsi sebagai penahan kemarahannya, yang sudah menggelak ingin menyembur keluar. Tapi suaminya gila. Mana mungkin orang yang masih waras punya hak untuk memarahi orang tak waras? Lagi pula tidak ada gunanya. “Masuk kamar lalu pakai celana yang bersih. Tunggu, tunggu. Langsung masuk kamar mandi, nanti aku mandikan sehabis aku kelar membersihkan kotoranmu.” Tapi semua itu tidak pernah dilakukan. “Lepaskan bajumu. Keluar ke halaman tanpa baju,” kata kami. Itulah yang dilakukannya.

Kami gembira menyaksikan istrinya kalang-kabut, dikerjai, merasakan hatinya yang tersayat perlahan. “Kalau besok begini lagi, Pa,” ancamnya, “nanti Papa dikirim ke rumah sakit jiwa. Mau?” Wah, itu sudah pernah terjadi, tapi tidak bertahan lama Karena tahukah kalian berapa biaya rumah sakit jiwa per harinya? Jadi kemudian istrinya pun harus menghadapi hal ini setiap hari di rumah, tanpa kami berikan jeda. Kami gembira menyaksikan kedua tangannya yang dulu indah kini pelan-pelan menguning dan kering. Karena air pel, usia tua, dan tahi.

Setiap siang kami menurunkan sedikit tenaga teman kami itu. Tiap kali ia diberi makan, kami akan melipatgandakan rasa laparnya. Kami ikut makan, jadi ia tak pernah merasa kenyang. Kami membuatnya berkeliling mencari wadah-wadah makanan yang disembunyikan, lalu ia akan mengobok-obok makanan dalam wadah-wadah itu dengan jari gilanya yang kotor. Kesukaan kami adalah kembang sepatu mentah (istrinya punya persediaan kembang sepatu untuk dimasak jadi kimlo), juga gula pasir, dan sisa-sisa kopi bekas menyuguhi tamu, dan terutama makanan dalam wadah-wadah yang disembunyikan.

***

Setelah setengah tahun, pelan-pelan kami membuatnya semakin sakit. Kali ini para dokter bisa dengan percaya diri memberikan diagnosis yang bukan lagi hasil meraba-raba seperti “stroke ringan” senjata pamungkas mereka yang dulu itu. Kali ini “pecah pembuluh darah otak”, “level kolesterol mendekati titik bahaya”, dan ia pun dilarikan ke Unit Gawat Darurat rumah sakir anyar milik sebuah universitas. Hari itu sudah lewat tengah malam, istri dan anak laki-lakinya tampak duduk menemani teman kami di dalam mobil ambulan. Tentunya kami juga ikut berada di sana, kami duduk dengan leluasa di antara orang-orang yang saling berdesakan. Si anak perempuan ditinggal di rumah untuk menjaga rumah. Di dalam ambulan, kami bersenang-senang dengan ikut berguncang-guncang kapan pun roda mobil masuk ke gerowong di aspal atau melewati gundukan polisi tidur. Si istri mengenakan dasternya lagi. Si anak laki-laki tampak tegar dan kokoh menyerupai laki-laki dewasa (tanpa disadarinya, sudah lama ia menjadi kepala keluarga).

Malam itu teman kami mengalami koma, tapi ia kembali lagi. Kami tahu ia belum akan mati. Semua ada waktunya. Malam demi malam terlewati, keluarganya menunggui di rumah sakit itu kecuali si anak perempuan teman kami yang membencinya. Ia tak pernah memunculkan batang hidungnya, ia menetap di benteng kamarnya di malam hari dan bekerja keras mengurus rumah di pagi hari sampai suatu ketika ibunya memaksanya datang. “Kalau Papa meninggal, nanti kamu menyesal.” Jadilah si anak perempuan pun muncul hari itu dengan berat hati, ditemani kawan laki-lakinya. “Mama pulang ya, ganti kamu jaga Papa di sini,” kata ibunya, dan si anak perempuan tak berkomentar apa-apa.

Malam itu kami menggoda si anak perempuan. Kami bisikkan di telinga teman kami, “Bangun, mari kita berkeliling. Bangun, kau harus buang air besar. Bangun, kau harus buang air kecil tapi tidak melalui selang goblok itu. Kau cabut selang itu.” Anak perempuannya sedang tidur meringkuk di lantai yang beralaskan sajadah untuk sembahyang dan berselimut sehelai sarung, ketika teman kami terbangun dan mulai mencabuti keteter air seni hingga air kuning pesing berceceran di lantai. Noda tahi tertinggal di seprai. Makanan rumah sakit di atas nampan berjatuhan. “Papa mau ke mana?” seru si anak perempuan. “Jalan-jalan,” jawab ayahnya dengan bahasa yang tak jelas. “Nggak boleh, Pa, lagian mau jalan-jalan ke mana? Papa mesti di tempat tidur, nggak boleh ke mana-mana!”

Tapi tentu saja ia tak mendengarkan. Anak perempuannya menahannya, tapi kami sangat kuat. Kami buat dia menyambar tangan kurus milik anak perempuannya, memuntir tangan itu, menggigit tangan itu hingga berdarah-darah. Si anak perempuan menjerit-jerit, perawat berdatangan ke dalam kamar itu. Kami tertawa puas sekali, seluruh peristiwa ini lucu sekali. Lalu si anak perempuan berdiri di sudut, menyaksikan para perawat dan kawan lelakinya menangani ayahnya yang mengamuk, menangis sedikit tapi segera meraih kain serbet yang dibawa dari rumah dan mulai membersihkan kencing yang tercecer di lantai.

Kami ulangi kesenangan itu beberapa kali dalam minggu itu, kami buat anak perempuannya hancur hingga kebencian di hatinya berakar semakin kokoh, tidak tergoyahkan.

***

Setelah setengah tahun lagi, kami tahu perjalanan teman kami ini akan segera berakhir.

Hari itu berlangsung sebagaimana biasanya baginya (karena setiap hari selalu berlangsung sebagaimana biasanya baginya). Kami menghabiskan waktu-waktu terakhir itu dengan berbaring bersamanya di ranjang, semua lampu dimatikan, televisi menyala dengan suara keras, kasur berbau ompol, semua jendela dan pintu ditutup. Keluarganya sedang tidak ada, hanya ada anak laki-lakinya, tetapi ia sedang tidur pulas (istrinya pergi mengunjungi salah satu sahabat karibnya yang sakit, anak perempuannya sedang pergi ke bandara untuk mengantar pacarnya kembali ke Jogjakarta). Hari itu ia tidak tampak betul-betul sakit ataupun sepenuhnya gila. Hanya biasa-biasa saja. Tetapi, ia akan mati.

Kami mendampinginya.

“Tahukah kau,” kata kami dengan mendayu-dayu, mendesiskan dongeng menjelang tidur abadi ke telinganya yang kisut, “tahukah kau, di depan rumahmu ada sesosok jiwa. Ia berdiam di tiang listrik, terkadang ia akan memanjat dan bertengger di puncak, terkadang ia akan duduk saja di tanah. Ia juga jiwa yang penuh dendam, yang suka mewujud menjadi gadis pucat berbokong tipis di mata mereka-mereka yang mampu melihat. Ketika ia sangat marah, ia akan mengaburkan penglihatan manusia-manusia yang berkendara melewatinya hingga mereka terjatuh dan menabrak tiang listrik tempatnya berdiam. Lalu manusia-manusia itu akan terluka parah, kaki mereka patah, kepala mereka pecah. Belum ada yang mati, tapi itu akan terjadi suatu saat nanti.

“Tahukah kau, kami datang dari kerajaan yang besar di dasar samudera. Kami tertarik dengan panggilanmu dan dedaunan yang kau bakar di atas tungku, dengan jampi-jampi yang kau lantunkan dan garam kasar yang kau tebar, mantra-mantra yang kau simpan di dalam dompetmu. Kami tertarik dengan busuk di dasar hatimu dan bagian belakang kepalamu. Kami mencintai dirimu ketika muda, dan karena itulah kami menyertaimu hingga tua.

“Kau tidak punya teman lain, tidak ada yang lain kecuali kami. Tapi sekarang kami harus meninggalkanmu karena tugas kami sudah usai.”

Ia memandangi kami dengan matanya yang kuyu dan merah berurat-urat.

“Bagaimana perasaanmu, Teman?” tanya kami. “Seumur hidupmu kau bukanlah siapa-siapa.”

Perlahan-lahan, satu per satu dari kami melepaskan diri darinya. Kami terbang ke langit seraya memandanginya meregang nyawa. Apakah kami merasa sedih? Ia memandangi kami, dan kami merasa sedih karena ia tampak begitu bahagia telah lepas dari kami, begitu lega karena ia akan mati.

Kemudian kami beterbangan untuk mencari petualangan baru di tempat baru, dan terutama, teman yang baru.(*)

 

 

Dias Novita Wuri lahir di Jakarta, 11 November 1989. Lulus dari Program Studi Rusia, Universitas Indonesia. Ia tinggal di Jakarta.

Advertisements