Doomga


Cerpen Yudhi Herwibowo (Suara Merdeka, 28 Juli 2013)

Doomga ilustrasi -

NAMAKU Frank Marryad. Pada 1825, saat usiaku belum genap 18 tahun, aku sudah mengikuti pelayaran sebagai kadet di Kapal HMS Samarang untuk menyisir kepulauan Melayu. Saat itulah aku menyaksikan pemindahan para tahanan dari Bencoolen di Sumatera Utara menuju Singapura. Dan untuk pertama kalinya aku bertemu dengan seorang tahanan India yang memiliki aura sangat menakutkan. Ia berjalan beberapa langkah di depan tahanan lainnya. Tangan dan kaki diikat rantai besar, yang lebih besar dari rantai tahanan lainnya. Awalnya sampai di situ saja keherananku, namun saat aku mengamati lebih tajam, baru kusadari bila di dahinya ada cap bertulis Doomga yang terlihat mencolok. Dan belum habis keherananku, aku kembali menyadari bila mata tahanan itu kosong. Maksudku benar-benar kosong, tanpa ada bulatan putih dan hitam di situ! 

Kepada sipir penjara, aku langsung bertanya tentang tahanan itu.

‘’Namanya Suluk! Ia adalah tahanan nomor satu di penjara ini!’’

‘’Tahanan nomor satu?’’

Sipir itu mengangguk. ‘’Dulunya ia merupakan orang India paling kaya di sini. Seorang pengusaha kapal. Anak buahnya mencapai ratusan. Beberapa diantaranya bahkan ada yang berada di penjara ini. Ia ditangkap karena berencana berbuat licik dengan membakar sendiri kapal-kapal yang diasuransikannya. Tapi upaya itu dapat terbongkar.’’

‘’Apa… sejak dulu ia… tak memiliki mata?’’

Sipir itu menggeleng lemah, ‘’Tidak, tidak. Kali pertama datang kemari, matanya masih ada. Tapi, ah, sulit aku mengatakannya. Mungkin ini sedikit berlebihan, tapi matanya… hmmm, dapat membakar seseorang!’’

‘’Membakar seseorang?’’ aku tak mengerti.

‘’Setiap kali ia marah, orang yang dipandangnya dengan tajam akan terbakar. Beberapa dari mereka yang tak lagi sempat kami tolong, mati dengan tubuh hangus. Maka itulah kepala penjara, selain memutuskan untuk mengecap dahinya, juga… mencongkel kedua matanya!’’

Aku bergidik membayangkan itu. Keperihan yang diderita tak lagi bisa kubayangkan. Namun sebagai seorang penulis amatir yang kerap menjadi koresponden koran-koran di Inggris, aku tentu saja tertarik dengan kisah ini. Semua sisi sepertinya memiliki nilai jual dan disukai redaktur.

Tapi entah mengapa, aku merasa tak cukup berani melakukannya. Saat aku berada cukup dekat dengan tahanan itu, aku merasa ia tidaklah benar-benar buta. Ia seakan dapat mengamati sekelilingnya dengan baik. Bahkan cukup lama menatap ke arahku, seakan-akan ia dapat mendengarkan apa yang kubicarakan dengan sipir di sini.

***

Waktuku di Singapura masih beberapa hari lagi, sebelum melanjutkan pelayaran menuju Borneo. Sampai saat ini aku masih menahan keinginan melakukan wawancara dengan tahanan itu. Aku mencoba mencari topik-topik lain yang kupikir tak kalah menarik. Namun di pulau ini, sama sekali tak ada yang menarik. Walau banyak hotel telah berdiri, karena banyaknya pengunjung Bombay ke China yang singgah ke sini, namun keadaan siang hari terasa sepi. Orang-orang nampaknya lebih memilih tidur. Selama beberapa hari aku sudah melakukan perjalanan ke seluruh tempat, kadang menggunakan palanquin ataupun gig.

Tapi hanya tempat-tempat perjudian dan rumah-rumah madat yang banyak kutemui. Sungguh, sepertinya memang tak ada lagibyang lebih menarik dari kisah tahanan butabdengan cap doomga di dahinya itu.

Maka di hari-hari terakhir di sini, aku mengumpulkan keberanianku untuk kembali mendatanginya. Sang sipir, menyambutkubdengan baik. Dia bilang wawancara dapat dilakukan karena Suluk bisa berbahasa Inggris dengan baik. Namun saat ia tetap melihat keraguanku, ia pun kemudian mengusulkan, ‘’Kalau engkau merasa tak nyaman, kau bisa menyamar sebagai dokter. Kau tahu kami memang punya kebiasaan memeriksa semua tahanan.”

Aku setuju. Sipir pun segera meminjamkan aku pakaian putih-putih. Untuk ini semua aku memberikan beberapa dolar lebih untuknya.

Setelah itu, aku mulai mendekatinya tahanan itu.

‘’Aku sekadar melakukan pengecekan rutin,’’ ujarku semirip mungkin dengan ucapan dokter yang kukenal.

Untunglah tahanan ini tak banyak bicara. Ia menuruti apa yang kuminta. Ia membuka bajunya, membiarkan aku memeriksa seluruh tubuhnya, terutama lubang matanya.

‘’Aku dengar kau datang dari India?’’ aku berusaha mengajaknya bercakap, selayaknya yang dilakukan seorang dokter. ‘’Aku pernah ke sana.’’

Tahanan itu tak menanggapi ucapanku.

‘’Aku suka berada di sana. Berburu harimau dan menaiki gajah, itu sangat kusuka.’’ Aku tertawa kecil.

Tahanan itu hanya bereaksi sedikit. ‘’Tak ada lagi yang kuingat tentang tanah itu,’’ ujarnya datar.

Aku hanya bisa mengangkat bahu.

‘’Kau seorang pelaut?’’ aku masih mencoba bicara tanpa menghentikan pemeriksaanku pada tubuhnya. ‘’Tentu banyak kisah yang kau alami. Kudengar pelau-pelaut di sini begitu berani.’’

‘’Tentu saja,’’ tahanan itu mulai terpancing.

‘’Kudengar mereka berani merampok kapal-kapal besar dari Eropa hanya dengan perahu-perahu kecil?’’

Tahanan ini menyeringai. ‘’Ya. Tentu tak sekadar itu.’’

‘’Benarkah?’’

Tahanan itu berpaling padaku, Matanya yang kopong seakan menatapku. ‘’Ya, aku melalui sendiri kisah-kisah itu.’’

Aku terdiam menunggu. Kupikir aku telah berhasil memancingnya. Ini adalah awal percakapan yang baik. Aku pun segera menyahut, ‘’Kalau kau tak keberatan, kau bisa menceritakan satu atau dua kisah padaku. Kau tahu, aku suka kisah-kisah tentang pelayaran hebat.’’

Ia terkekeh. ‘’Tentu, akan kuceritakan padamu, agar kau bisa menceritakan kembali kepada teman-temanku. Ini adalah kisah tentang kapal hantu yang kami temui di Selat Malaka.’’

‘’Kapal hantu?’’Aku menjadi benar-benar tertarik.

Ia tersenyum. ‘’Sekitar lima tahun yang lalu, aku pernah berlayar menuju Sri Langka. Entah pada malam yang ke berapa, kami melihat sebuah kapal yang berlayar di dekat kami. Awalnya tentu kami menyangka itu kapal biasa. Namun saat kami lebih mengamati, ternyata dugaan kami salah. Kau tahu, semua penghuni kapal itu ternyata adalah mayat hidup. Tubuhnya memang seperti kita, namun nampak berbayang dengan bekas-bekas luka yang dipenuhi belatung. Beberapa bahkan masih kami lihat dengan pedang dan golok yang menancap di tubuh mereka.’’

‘’Benarkah? Apa… semua awak kapal melihat itu.’’

‘’Tentu saja! Aku yang melihat terakhir kali sebelum semua awak kapalku melihatnya. Bahkan untuk meyakinkan, aku memerintahkan kapalku untuk menjejeri kapal itu untuk beberapa lama.’’

‘’Ini cerita yang menarik,’’ tanggapku. ‘’Aku sudah melakukan perjalanan panjang, tapi tak pernah mengalami kejadian semenarik itu.’’

Ia tertawa senang.

***

Pada hari berikutnya, saat aku kembali mendatangi tahanan itu, ia menerimaku lebih ramah.

‘’Aku sudah mendengar tentang apa yang terjadi dengan matamu,’’ ujarku yang sejak tadi terus menggali informasi tentangnya dengan pertanyaan-pertanyaan selayaknya dokter. ‘’Di Belanda kami memakai mata palsu, agar lubang matamu

tak nampak mengerikan seperti ini.’’

‘’Tak masalah,’’ ia tersenyum samar. ‘’Toh, aku sendiri tak bisa melihat seberapa

mengerikan.’’

‘’Tapi… aku tetap tak percaya dengan cerita-cerita tentangmu,’’ ujarku mulai memancingnya. ‘’Terutama kisah tentang matamu yang dapat membakar seseorang yang kau pandangi.’’

Ia terkekeh dengan suara yang terdengar mengerikan. ‘’Kau tak harus percaya.’’

Lalu dengan gerakan perlahan, ia memalingkan wajahnya kepadaku. Sehingga aku dapat melihat lubang kopong matanya begitu jelas. ‘’Tapi…,’’ ia melanjutkan, ‘’itu sangat menyenangkan. Aku sama sekali tak menduga bisa melakukannya. Seorang Datu Toba yang tengah berkelana di tanah ini memberikan padaku beberapa kalimat dari pustaha-nya hanya untuk beberapa keping uang. Katanya kalimat itu tuah. Dan itu benar. Hanya dengan menatap seseorang sambil mengucapkan kalimat itu berulang kali, api tiba-tiba akan muncul dan membakar tubuh orang itu. Aku sama sekali tak tahu bagaimana itu terjadi. Yang kutahu, tatapan mata hanyalah sebuah pengantar, dan ketakutan menimbulkan hawa panas di seluruh tubuh.’’

Ia menyeringai mengerikan. ‘’Tentu, kembali kukatakan padamu, kau tak harus percaya. Namun bila kedua mata ini masih ada, tentu aku akan dengan senang hati membuktikan langsung padamu.’’

Hatiku bergidik. Bulu kudukku meremang. Kakiku nampak goyah. Tak ada lagi kata yang kemudian bisa terucap dari bibirku. Aku memilih pamit padanya. Namun saat langkahku mulai menjauh, ia menahannya sejenak.

‘’Semua yang kuucapkan, tentu tak perlu kau ceritakan pada siapa pun!’’ ia menghampiri dan menepuk pundakku seakan-akan seorang sahabat yang akan ditinggal pergi. ‘’Kalau kau melakukannya, aku tentu akan memburumu ke mana pun kau pergi!’’

Selepas itu, ia tertawa lepas. Aku ikut memaksakan tawaku. Walau ucapan itu terdengar sebagai ancaman, aku tetap yakin ia hanya mencoba berkelakar. Aku tahu, sepanjang penjara ini didirikan, tak pernah ada seorang pun yang berhasil lari dari sini. Hampir semua sisi penjara ini adalah lautan. Semua orang hanya bisa menunggu waktu dibebaskan atau maut menjemput. Terlebih buat seorang buta!

***

Sebulan kemudian tulisan tentang Tahanan Buta dengan Cap Doomga di Dahinya, dimuat di salah satu koran di Inggris. Aku sangat senang. Terlebih saat respons pembaca cukup luar biasa. Beberapa stasiun radio bahkan mendatangiku untuk meminta wawancara langsung mengenai kisah ini.

Namun ketika suatu kali aku kembali ke Singapura karena sebuah tugas, aku disambut kabar yang mengejutkan oleh sang sipir yang dulu mengijinkanku mewawancarai tahanan itu.

‘’Suluk, tahanan buta dengan cap doomga di dahinya, telah lari dari penjara. Itu sehari setelah seorang anak buahnya membawakan koran tempat tulisanmu termuat.’’

Aku terkejut bukan kepalang, ‘’Tapi… bagaimana mungkin?’’

‘’Kau tahu, para anak buahnya memasang tubuh mereka agar dapat membentuk tangga buat dirinya, hingga ia bisa mencapai puncak tembok. Lalu setelah itu, ia menceburkan dirinya ke laut. Sebuah kapal ternyata telah menunggu untuk menyelamatkannya.’’

Sipir itu mengatur napasnya. ‘’Dari salah satu anak buahnya, kami tahu kalau ia begitu marah dengan tulisan yang kau tulis. Terlebih saat kau menulis ucapan tentang matanya yang benar-benar dapat membakar seseorang. Kau tahu, sampai saat ini ia tak pernah mengakui. Itulah yang membuatnya tak dihukum mati sampai sekarang.’’

Sipir itu menghela napasnya. ‘’Kini, aku tak mau berpikir buruk tentang apa yang akan dia lakukan setelah pergi dari penjara ini, namun sebaiknya kau cepat-cepatlah pergi dari pulau ini.’’ (62)

 

 

Catatan:

– Bencoolen: sebutan untuk Bengkulu saat itu

– Doomga: bahasa Hindustan, artinya pembunuh.

– Palanquin: sejenis kereta kecil roda dua yang ditarik dua ekor kuda

– Gig: sejenis kereta kecil roda dua yang ditarik seekor kuda

– Datu Toba: dukun dari Toba

– Pustaha: buku mantra

 

 

– Yudhi Herwibowo. Aktif di buletin sastra Pawon, Solo. Telah menulis beberapa buku, di antaranya: Lama Fa, Perjalanan Menuju Cahaya, Pandaya Sriwijaya, Mata Air Air Mata Kumari, Untung Surapati dan (un)affair. Novelnya yang terbaru Miracle Journey.

 

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: