Cerpen  A.S. Laksana (Jawa Pos, 28 Juli 2013)

Cerita Ababil ilustrasi -

KELAK akan ada gelandangan bicara tentang rombongan burung dari neraka. Tapi itu urusannya. Urusanku adalah menyampaikan apa yang sesungguhnya terjadi.

Aku datang pada hari kematiannya dan mengatupkan matanya yang tak sepenuhnya terpejam; aku tak ingin orang-orang yang datang melayat menganggapnya mati penasaran, walaupun aku yakin Maliki memang penasaran. Ia mati pada umur sembilan puluh enam dan selama hidupnya ia tiga kali gagal mewujudkan apa yang ia inginkan. 

Yang ketiga sebenarnya hampir berhasil. Istana terbakar. Namun, sebagaimana yang terjadi dalam dua upaya sebelumnya, kepala negara bisa diselamatkan.

Maliki satu tahun di atasku dan orang tuanya berlangganan majalah anak-anak dan aku suka membaca majalah-majalah di rumahnya. Aku juga suka mengikutinya jika ia pergi dolan ke tempat-tempat yang agak jauh.

Kami pernah melihat tukang sulap di alun-alun memamerkan atraksi membakar kertas koran dengan ludah. Itu pertunjukan sulap paling memukau yang pernah kami lihat dan fakta bahwa air ludah bisa membakar koran tampaknya terus melekat di benak Maliki. Ia yakin tukang sulap itu seorang ahli hipnotis. “Hanya ahli hipnotis yang mampu membakar koran dengan ludah,” katanya. Kubilang padanya mungkin tukang sulap itu memiliki tenaga dalam. “Bisa jadi,” katanya.

Tak lama setelah itu ia membeli buku hipnosis dan buku tenaga dalam dan melatih diri berbulan-bulan untuk meludahi koran dan majalah lama dan sampah di kubangan belakang rumah, namun tak ada api yang muncul dari semburan ludahnya. Belakangan ia juga membeli buku Seribu Satu Keajaiban Metafisik, sebuah buku yang membuat gairahnya kian meluap, dan ia rajin menceritakan kepadaku setiap kali berhasil mewujudkan hal-hal ajaib melalui cara yang diajarkan oleh buku tersebut.

Beberapa ceritanya bisa kupercaya, beberapa yang lain terdengar seperti bualan, tetapi ia menceritakan apa saja dengan sungguh-sungguh dan aku mendengar semua ceritanya dengan sungguh-sungguh, bahkan ketika aku menganggap ia sedang membual. Keajaiban pertamanya muncul pada hari Kamis dua bulan setelah ia membeli buku itu. Aku sedang duduk melamun di kamar mandi saat kudengar suaranya di balik pintu. “Rustam, aku berhasil,” katanya, seperti berbisik tapi agak keras. “Aku bisa mempengaruhi pikirannya dari jarak jauh.”

“Siapa?” tanyaku.

“Buka dulu pintunya,” katanya

Kubuka pintu kamar mandi dan ia masuk.

“Minggu lalu aku memintanya datang ke rumahku dan ia benar-benar datang,” katanya.

“Siapa?” tanyaku.

“Menik.”

“Aku tidak kenal.”

“Aku juga tidak kenal, tapi ia lewat kampung kita minggu lalu bersama ibunya dan aku mempengaruhi pikirannya agar ia datang mencariku. Barusan ia datang. Katanya, ‘Apakah kau Maliki? Kata temanku kau memiliki banyak buku. Kalau kau punya komik Asterix aku ingin meminjamnya untuk adikku.’ Aku bilang punya tapi sedang dipinjam teman. ‘Datanglah dua hari lagi,’ kataku.”

“Kau punya komik itu?”

“Tidak. Besok kita cari dulu di tukang buku loak.”

Kami tidak menemukan komik Asterix di tukang loak dan Maliki tidak menceritakan apakah Menik datang lagi kepadanya atau tidak. Ia bergeser ke cerita lain beberapa minggu kemudian. Ia bilang buku keajaiban metafisik ternyata juga mengajari cara melihat kehidupan orang-orang yang sudah mati dan sekarang ia bisa melihat mereka dan ia pernah bertemu dengan seorang perempuan yang menangis di bawah pohon mengkudu di tepi tanggul. Katanya, “Ia sudah mati lima belas tahun lalu dan sampai sekarang tetap di sana. Ada juga yang linglung mondar-mandir saja di kebon. Yang lebih menyedihkan dari itu banyak.”

Angin bertiup agak kencang di luar. Sebentar lagi mungkin hujan. Aku memandangi wajah pucatnya agak lama. Sekarang ia sudah tampak lebih tenang di pembaringan dengan mata terkatup. Para pelayat datang mendoakannya dan aku menyingkir dari mereka, aku tidak mendoakannya. Kami berkawan sejak kecil dan ia suka menceritakan rencana-rencana besarnya kepadaku tetapi aku merasa tidak perlu mendoakannya. Ia mengecewakan aku malam itu, ketika umurnya lima puluh tujuh dan umurku lima puluh enam….

Malam itu kami ngobrol sampai larut.

“Jadi kau benar-benar akan menjalankan rencanamu besok, Maliki?”

“Ya, semakin cepat semakin baik,” jawabku. “Tambah kopi lagi?”

Tanpa menunggu jawabannya aku masuk menemui Nurdi, anak yang kuasuh sejak bayi dua puluh satu tahun lalu, dan meminta dibuatkan dua cangkir kopi lagi. Kupesankan kepadanya agar ia meludahi kopi untuk Rustam. Lalu aku keluar lagi dan kami melanjutkan pembicaraan. Rustam pamit pulang pada pukul empat pagi.

“Menginaplah di sini,” kataku.

“Lain kali saja,” katanya. “Hari ini harus mengantar istriku pagi-pagi.”

Menjelang maghrib, ketika aku hendak meninggalkan teras, Rustam datang lagi menemuiku.

“Kenapa kau tega padaku, Maliki?” tanyanya. “Kau meracun kopiku?”

“Terpaksa kulakukan, Rus,” kataku. “Kau tahu semua rencanaku dan aku tak ingin ada orang yang tahu rencanaku, maka harus kulakukan apa yang perlu kulakukan.”

“Tapi kita berteman sejak kecil.”

“Ya, kita berteman baik. Karena itulah aku menjagamu dari kemungkinan khianat.”

“Kau membunuhku dan sekarang aku tak bisa lagi menemui istriku, tak bisa menemui anak-anakku, tak bisa menemui siapa pun yang ingin kutemui. Sekarang aku harus ke mana? Aku tak tahu harus ke mana.”

“Kau bisa menemuiku, Rustam. Dulu kau mungkin tak benar-benar percaya aku bisa melihat orang-orang yang sudah mati. Aku bisa dan kautahu sekarang ini kau sedang menemuiku dan bicara denganku. Jadi, tinggallah di sini. Di rumah ini banyak kamar yang bisa kautempati. Kau temanku, tinggallah di rumah ini bersamaku.”

Kami hampir selalu bersama-sama sejak kecil. Kami memiliki banyak kegemaran yang sama dan kami pernah membaca buku yang sama tentang orang yang mati gentayangan. Menurut buku itu, orang-orang yang mati gentayangan akan tetap berkeliaran di antara orang-orang yang masih hidup namun tidak bisa lagi berhubungan dengan mereka. Sebaliknya, orang-orang yang masih hidup tidak bisa melihat orang-orang yang mati gentayangan di sekitar mereka. Kadang-kadang saja si gentayangan bisa menampakkan diri pada orang yang masih hidup, tapi tidak setiap saat. Tetapi aku bisa melihat mereka setiap saat.

Rustam menangis. Ia mengatakan mula-mula tak menyadari dirinya telah mati dan baru tahu itu ketika ia hendak mengetuk pintu rumahnya dan ternyata tangannya menembus dinding pintu. Dan kemudian ia bisa masuk begitu saja ke dalam rumahnya. “Kubangunkan istriku namun ia tidak merasakan sentuhanku,” katanya. “Aku terus duduk di tepi tempat tidur dan, ketika ia bangun sendiri, ia tidak melihat kehadiranku. Ia juga tidak menanggapi omonganku ketika aku mencoba bicara dengannya, seolah-olah ia tidak mendengar suaraku sama sekali. Pada saat itulah aku tahu aku sudah mati. Kenapa kau setega itu kepadaku, Maliki?”

Kugandeng tangannya dan kubawa ia ke kamar yang bisa ia tempati.

“Beristirahatlah di sini. Selamanya,” kataku.

Setelah menenteramkannya, aku menemui orang-orang yang kutugasi mengerjakan rencanaku. Mereka meninggalkan rumah malam-malam dan pulang dua hari kemudian melaporkan kegagalan. Hari itu kepala negara melakukan kunjungan dan orang-orang kepercayaanku mencegatnya di perbatasan, namun semburan ludah mereka meleset dan hanya mengenai mobil pengawal yang terbakar seketika itu juga. Setelah kejadian itu, kepala negara tetap berpidato di stadion sesuai rencananya. Kepada orang-orang yang mendengar pidatonya ia mengatakan bahwa ada tukang sihir yang berniat mencelakainya namun Tuhan selalu melindunginya.

Aku menemui Rustam di kamarnya setelah mendengar laporan kegagalan.

“Kenapa kau menghalangi upayaku?” tanyaku.

“Aku tak melakukan apa-apa,” katanya.

“Aku melihatmu di tempat itu dan kau membelokkan arah ludah.”

“Kalau kau ingin membunuhku sekali lagi, lakukanlah.”

Aku tak bisa lagi melanjutkan omongan. Kupeluk ia. Sunyi semalaman. Kami tak bicara….

Pagi-pagi sekali aku terbangun oleh suara orang-orang membaca mantra, menggemuruh seperti gaung suara dari zaman purba. Aku tahu itu pasti anak-anak asuh Maliki yang sedang menjalankan ritual mereka. Sejak lama ia memiliki keinginan untuk memelihara bayi-bayi yatim piatu dan mengasuh mereka dan mengajari mereka hanya bertapa dan mengucapkan mantra-mantra. Ia mulai menceritakan gagasan itu kepadaku setelah enam orang masuk rumah sakit dan beberapa yang lain masuk penjara karena menentang keputusan kepala negara.

Ia pernah bilang bertahun-tahun lalu, saat ia mulai suka turun ke jalan, bahwa kekuatan iblis hanya bisa ditundukkan dengan jalan spiritual dan ia mengingatkanku tentang tukang sulap yang kami tonton ketika kecil. “Aku ingin mengumpulkan orang-orang yang memiliki kekuatan seperti itu,” katanya. “Jika tukang sulap itu bisa, orang-orang lain tentu bisa melakukannya asalkan mereka mengembangkan kekuatan spiritual.”

“Kau harus kaya untuk mengumpulkan mereka,” kataku.

“Tentu saja,” katanya. “Buku itu tidak hanya mengajariku mempengaruhi pikiran orang dari jarak jauh dan melihat orang-orang yang sudah mati. Ia juga memberi tahu caranya menjadi kaya raya.”

Kupikir ia hanya melamun dan ternyata pikiranku keliru. Setelah menikah, Maliki benar-benar mengumpulkan bayi-bayi yatim piatu dan bayi-bayi yang sejak lahir dibuang oleh orang tua mereka dan mengasuh mereka sebagaimana yang ia inginkan: mereka tidak perlu melakukan hal-hal lain kecuali hanya bertapa dan membaca mantra. “Dua puluh tahun lagi kita akan memetik hasilnya,” katanya ketika pertama kali menunjukkan kepadaku tiga puluh tiga balita sedang bertapa dan menggumamkan mantra-mantra. Mereka berkumpul di ruangan besar di belakang rumahnya.

“Aku tak menduga kau akan menjadi sangat kaya dan bisa mewujudkan keinginanmu,” kataku.

“Hanya menjalankan resep kuno, Rustam. Aku memilih pacar anak orang kaya dan menjadikannya istriku,” katanya.

Dengan modal dari mertuanya ia membuat kapal-kapal kecil di dalam botol dan dengan jaringan luas mertuanya ia berhasil menjual kapal-kapalnya sampai ke luar negeri. Aku tidak pernah memiliki keinginan melawan iblis sepertinya dan tidak berpikir untuk menjadi kaya dengan resepnya. Istriku seorang bidan puskesmas dan kami berkenalan ketika sama-sama menunggu hujan reda di warung makan.

“Kau benar-benar akan menggunakan mereka untuk meludahi kepala negara?” tanyaku.

“Hanya itu jalan yang paling masuk akal, Rustam” katanya. “Jika sepanjang hidup anak-anak itu hanya bermeditasi dan mengucapkan mantra-mantra dan memuja kebesaran Tuhan, maka mereka akan menjadi sakti. Ludah orang yang memuja kebesaran Tuhan sepanjang hidupnya tentu bisa membakar apa saja yang ia inginkan terbakar.”

“Kepala negara yang kaubenci itu mungkin sudah mati duluan sebelum anak-anak itu sanggup mengeluarkan ludah yang ganas,” kataku.

“Tidak ada masalah,” katanya. “Mereka tetap berguna untuk menggulingkan kepala negara berikutnya jika ia sama buruknya dengan yang sekarang.”

Sambil memelihara anak-anak itu, Maliki tekun mengumpulkan berita-berita tentang orang-orang melarat yang bernasib sial. Di kamarnya ada satu lemari besar yang ia sebut lemari penjaga ingatan. Di lemari itu kau bisa menemukan potongan-potongan berita tentang seorang gelandangan yang ditemukan mayatnya pada hari Kamis di sebuah selokan, tentang seorang pengumpul sampah yang terseret banjir bersama-sama dengan sampah yang dikumpulkannya dan istrinya dan empat anaknya, tentang perempuan tua yang diadili dengan dakwaan mencuri bijih-bijih kopi, dan sebagainya. Juga tentang anak-anak nelayan yang tumbuh sisik pada kulit mereka dan anak-anak petani yang menderita busung lapar.

Selain lemari itu, ada satu lagi lemari yang ia gunakan untuk menyimpan tumpukan stofmap berisi kumpulan berita-berita korupsi. Anak-anak asuhnya ia kumpulkan setiap magrib untuk membaca berita-berita tersebut seperti mereka membaca kitab suci.

“Jadi, sambil memperkuat tenaga dalam, mereka tahu sejak awal siapa saja yang harus mereka ludahi. Itu tak beda dengan kau membakar sampah,” katanya.

Ia menyebut tindakannya sebagai upaya-upaya ilmiah untuk membersihkan negeri dari iblis dan kotoran. Aku takjub padanya namun tak pernah menyangka bahwa ia akan membunuhku kelak sebelum menjalankan rencana pertamanya.

Aku sudah menyampaikan bahwa ia tiga kali gagal dalam upaya penggulingan. Kegagalan kedua terjadi dua tahun lalu dan sekarang ia sedang menyiapkan upaya ketiga. Pada malam yang ditetapkan, Maliki mengirimkan tiga puluh tiga orang kepercayaannya untuk mengepung istana dan, pada pukul tiga dinihari, mereka bersama-sama meludahi istana dari tempat persembunyian mereka masing-masing. Demi keberhasilan upaya ketiga ini, dalam dua tahun terakhir Maliki sudah meminta mereka berlatih menyemburkan ludah dari jarak jauh.

Seorang gelandangan menyaksikan kejadian tersebut dan mengatakan bahwa pagi itu ia tiba-tiba melihat serombongan burung melintas di atas istana dan menjatuhkan api. “Mungkin ababil,” katanya. “Mereka menjatuhkan api dari neraka.”

Kabar resmi mengatakan bahwa kepala negara selamat, tetapi ia tidak pernah muncul lagi sejak itu, mungkin sembunyi selamanya, dan negara menjadi seperti tidak punya kepala. Maliki lebih banyak menyendiri setelah kegagalan yang ketiga dan mati dua puluh tiga tahun kemudian dan memilih tinggal di kamar yang sama dengan Rustam. Kalau kau pernah mendalami cara melihat orang-orang yang mati gentayangan, kau akan mendengar di kamar itu mereka bercakap setiap malam tentang rencana penggulingan—sampai sekarang.[*]

 

 

Advertisements