Cerpen Irwan Kelana (Republika, 21 Juli 2013)

Senja di Kairo ilustrasi Rendra Purnama

SEMUA orang yang kukenal mengingatkanku agar membatalkan keberangkatanku ke Kairo. Suasana Mesir dalam beberapa hari terakhir semakin panas. Para pendukung maupun penentang Presiden Mursi sama-sama unjuk kekuatan di ibu kota Mesir itu. Berita-berita di televisi maupun di koran yang aku baca memperlihatkan para penentang presiden yang terpilih secara demokratis itu terkonsentrasi di Lapangan Tahrir sedang para pendukungnya berkumpul di Rabi’ah Al Adawiyah. 

Berita-berita itu juga menyebutkan, pihak militer memberikan waktu kepada presiden terpilih untuk mengikuti skenario yang mereka siapkan yang disebut peta jalan hari ini pada pukul lima sore waktu Mesir. Kalau presiden terpilih tidak mau mundur, pihak militer berlepas tangan atas apa yang terjadi.

Mengapa akhirnya aku memutuskan tetap berangkat ke Kairo, ada dua alasan. Pertama, memenuhi permintaan Semesta Menulis yang berasal dari Ikatan Jurnalis Masisir (IJMA) untuk memberikan pelatihan dan motivasi kiat menulis fiksi, baik cerita pendek maupun novel, bagi para mahasiswa Indonesia di Mesir (Masisir).

Kedua, aku berpikir justru suasana pergolakan politik yang sangat kencang di antara dua kubu ini merupakan latar (setting tempat) yang menarik untuk menulis novel dengan latar belakang Revolusi Mesir jilid 2 (Revolusi Mesir jilid 1 adalah tahun 2011 ketika rakyat menggulingkan Presiden Husni Mubarak yang telah berkuasa selama 30 tahun). Tentu saja lengkap dengan berbagai pernak-pernik sejarah, budaya, dan suasana Kota Kairo yang—menurut berbagai referensi yang aku baca—berdebu, namun eksotis.

Lagi pula, aku tidak sendiri. Ada dua penulis terkemuka lainnya—Pipiet dan Sastri—yang juga memutuskan tetap berangkat ke Kairo apa pun yang terjadi (mungkin karena kami sama-sama penulis dan menyukai tantangan).

Pesawat Qatar Airlines itu mendarat di Kairo International Airport sekitar pukul 04.15 setelah sebelumnya transit di Doha, Qatar, sekitar satu jam. Yang pertama aku lakukan ketika memasuki terminal kedatangan adalah mencoba mengamati keadaan sekitar. Apakah tampak suasana genting atau tidak? Naluriku mengatakan keadaan masih aman meskipun aku belum tahu apa yang terjadi di luar sana.

Kami segera membeli visa di tempat penukaran uang seharga 15 dolar AS per visa. Sekitar setengah jam kemudian urusan imigrasi beres sehingga kami dapat segera mengambil bagasi,

Di luar hari masih gelap. Namun, panitia sudah menunggu.

”Assalamualaikum, Mas Irwan, Bunda Pipiet, Bunda Sastri. Terima kasih tetap berkenan datang walaupun situasi politik di Mesir sedang panas,“ kata Ketua Panitia Ridho. Dia dan anggota panitia lainnya bergantian menyalami dan memeluk kami.

Sepanjang jalan kami mengobrol tentang kondisi terkini Mesir.

”Tadi malam militer mengambil alih kekuasaan dan presiden kabarnya menjadi tahanan rumah,“ kata Ridho.

”Militer melakukan kudeta?“ tanyaku.

”Mereka tidak mau menyebutnya begitu.“

”Karena itu, kami mohon maaf kepada Mas dan Bunda, terpaksa tidak jadi menginap di hotel. Sebab, hotel yang sudah kami siapkan berada di jalur demo di dekat Rabi’ah Al Adawiyah.“

Gak masalah. Kita ini penulis. Di mana saja bisa hidup,” kata Pipiet.

”Jadi kita menginap di mana?” tanyaku.

”Di rumah seorang tenaga ahli migas asal Indonesia, di daerah Ma’adi. Insya Allah wilayah tersebut cukup aman.”

***

Aku penasaran ingin melihat demo di Rabi’ah dari dekat. Panitia awalnya keberatan sebab situasi politik lagi panas. Dan, ada edaran dari KBRI Mesir agar WNI yang ada di Mesir tidak ikut politik praktis dan jangan mendekati tempat-tempat demo. Namun, aku memaksa panitia untuk diantar ke Rabi’ah Al Adawiyah.

Sekitar pukul 10 malam, aku diantar ke tempat demo. Kami naik mobil hanya bertiga, yakni aku, Ridho, dan Dani, sang fotografer. Sedangkan, Pipiet dan Sastri tidak ikut sebab masih jetlag dan kecapaian.

Kami berdiri hanya beberapa meter dari tempat berkumpulnya para pendukung presiden terpilih.

Melihat jutaan pendukung presiden terpilih berdemo, qiyamul lail, dan shalat Subuh berjamaah, aku bisa merasakan aura kesalehan dan persaudaraan yang kental di antara mereka.

Belum selesai shalat Subuh berjamaah, tiba-tiba terdengar suara gas air mata dan berondongan tembakan. Akibatnya, terjadi kepanikan. Suasana gaduh dan kacau. Orang-orang berlarian ke sana ke mari. Aku sama sekali tidak siap dengan kejadian tersebut. Yang aku tahu, aku ditabrak kerumunan massa. Setelah itu, aku tak ingat apa-apa lagi.

Ketika siuman, ternyata aku berada di sebuah kamar.

”Alhamdulillah, Mas Irwan sudah sadar,“ terdengar suara Ridho.

“Di mana saya?”

”Mas berada di Ma’adi. Saat kerusuhan tadi pagi, Mas ditabrak massa dan jatuh pingsan. Saya dan Dani langsung melarikan Mas kemari. Untungnya waktu itu mobil kita posisinya siap di jalan,” kata Ridho.

Aku berusaha mengingat-ingat kejadian tadi.

”Berapa lama saya pingsan?“

”Dua jam, Mas.“

”Ada korban tewas, Ridho?“

”Sejauh ini, Al-Jazeera melaporkan 20 orang lebih yang tewas. Jumlah itu masih bertambah terus.“

”Minum teh manis dulu, Pak,“ tiba-tiba terdengar suara yang begitu lembut.

Aku menoleh. Gadis berjilbab abu-abu itu mengantarkan segelas teh manis. Langkahnya anggun.

”Ini Julia, Mas Irwan. Lengkapnya Julia Alexandria. Dia bendahara panitia. Kemarin belum sempat bertemu Mas Irwan,” kata Ridho.

Aku menerima teh manis itu dan langsung meminumnya.

”Terima kasih, Julia.“

”Sama-sama, Pak.“

”Jangan panggil saya, Pak. Saya baru 30 tahun. Dan, yang pasti belum menikah alias jomblo. Panggi saja Mas atau Kak.”

Julia tersenyum. Senyum alami dan paling manis yang pernah aku lihat dari seorang gadis.

Mungkin dia bukan gadis paling cantik yang pernah aku kenal. Tapi, kelembutan dan kesederhanaannya itulah yang telah mencuri hati ini. Aku pernah membaca sebuah kata mutiara, konon laki-laki tak bisa lari dari harimau lapar dan perempuan yang berhati lembut.

Dalam karierku sebagai penulis yang tengah naik daun selama lima tahun terakhir, aku telah berjumpa dengan banyak sekali wanita cantik dan sebagian di antaranya berjilbab. Namun, belum ada satu pun yang mampu menggetarkan hatiku pada pandangan pertama. Mungkinkah cintaku akan berlabuh pada seorang gadis Al Azhar?

Sebenarnya, wanita seperti apa yang aku dambakan? Tidak muluk-muluk. Aku hanya mencari wanita yang sederhana dan berhati lembut. Kecantikan akan pudar seiring waktu. Namun, kesederhanaan dan kelembutan akan abadi. Dan, Julia memiliki keduanya.

Dalam berbagai kesempatan, aku selalu berusaha untuk dekat dan mengobrol dengannya. Hatiku terpincut kepadanya. Dia manis dan lembut. Tipikal seorang calon istri yang hangat dan berbakti kepada suami.

Pada satu kesempatan, aku bertanya apakah ia sudah punya calon suami? Julia hanya tersenyum.

Aku menanyakan apakah dia sudah punya calon suami sebab aku memang tidak mau pacaran. Aku mencari seorang wanita yang mau kunikahi sebagai seorang istri.

Setelah latihan intensif penulisan fiksi selama empat hari, panitia mengajak kami jalan-jalan ke Alexandria. Salah satu kota terindah di Mesir. Kota dengan pinggir jalan pantai yang sangat panjang. Sepanjang jalan berdiri hotel dan kafe khas Mesir, dilengkapi kursi-kursi santai dan shisha.

Kami melewati sebuah jembatan. ”Ini namanya Jembatan Iskandariyah. Namun, sejak syuting film Ketika Cinta Bertasbih (KCB), orang-orang Indonesia menyebut jembatan ini Jembatan KCB,“ kata Ridho menerangkan.

”Di bawah jembatan ini ada kamar-kamar hotel yang disewakan untuk turis dengan pemandangan pantai,“ kata Ridho menambahkan.

Aku memperhatikan apa yang diucapkannya. Subhanallah. ”Romantis sekali.“

Diam-diam aku berazam, kalau aku menikah dengan Julia, aku akan membawanya bulan madu ke Alexandria dan menginap di hotel di bawah Jembatan KCB.

Tepat seminggu berada di Kairo, acara puncak digelar sore hari sampai Isya. Setelah itu, kami menuju Ashab Gamik, daerah Mahatta Gami, Hay Asyir, untuk menikmati jus atau biasa disebut asir.

Tiba-tiba saat akan ngasob (minum jus) itu, aku menangkap pemandangan Ridho beradu mulut dengan Julia. Ridho meminta Julia duduk di depan, di dekatku. Namun, ia tidak mau. Berkali-kali Ridho minta Julia duduk di dekatku, namun ia tetap tidak mau. Akhirnya Julia malah pergi ke belakang dan asyik sendiri memainkan HP-nya.

Sepanjang perjalanan dari tempat ngasob ke markas, aku bertanya-tanya dalam hati, apa yang terjadi? Mengapa Ridho dan Julia yang semula sangat kompak dan sangat care terhadap kami tiba-tiba ribut?

Di tempat penginapan, aku mendiskusikan hal tersebut dengan Pipiet dan Sastri. ”Coba perhatikan, tidakkah Mas Irwan menangkap sinyal di antara keduanya?“ kata Pipiet.

”Kita ini penulis. Kita ini bisa merasakan aura perasaan seseorang,” kata Sastri.

Aku berusaha mengumpulkan ingatan. Berbagai kejadian selama seminggu kami berada di Kairo seperti diputar kembali. Puzzle demi puzzle itu akhirnya memberikan suatu gambaran yang utuh.

Aku melihat foto-foto yang dibuat oleh panitia dan sebagian sudah dimasukkan ke komputerku. Aku mencermati foto-foto saat Ridho bersama Julia. Ya Tuhan!

***

Sehari sebelum kembali ke Jakarta, panitia mengantar kami berbelanja barang-barang kristal di Ashfour. Setelah itu, kami shalat Zhuhur dan Ashar jamak qashar di Masjid Al-Azhar, lalu belanja di Pasar Khan Kalili. Ada bermacam-macam oleh-oleh khas Mesir bisa dibeli di Khan Khalili. Gantungan kunci, papirus, kiswah, kerajinan dari perak, dan lain-lain.

Kami menikmati teh hangat di kedai dekat Masjid Husen sambil memandang langit senja yang berwarna semburat merah. Sepanjang perjalanan dari tadi pagi, diam-diam aku mengamati Ridho dan Julia.

***

Hari terakhir, aku sengaja minta diantar ke bandara lebih cepat. Ridho dan Julia ikut masuk ke dalam bandara. Anggota panitia yang lainnya menunggu di luar.

Aku minta izin kepada Pipiet dan Sastri untuk berbicara enam mata dengan Ridho dan Julia di sebuah kafe.

Kulihat sorot gelisah di mata Ridho maupun Julia. Namun, bahkan pada saat gelisah pun, gadis tersebut tetap keliahtan manis. Ya Tuhan, mengapa aku sulit sekali melupakan gadis yang satu ini.

”Ridho, saya tidak mau berbasa-basi. Saya minta maaf atas segala sikap dan perkataan saya kepada Julia yang mungkin membuat Ridho tidak nyaman.”

”Mengapa Ridho tidak bilang dari awal kalau kalian ini bukan sekadar ketua an bendahara panitia, tapi juga sepasang kekasih?”

”Maafkan saya, Mas Irwan. Saya sebetulnya sudah berusaha untuk bersikap sewajar mungkin dan tidak menunjukkan bahwa saya mencintai Julia. Namun, saya tidak bisa menahan diri untuk itu. Saya minta maaf. Mungkin Mas Irwan kecewa.“

”Ridho, jangan pernah merasa bersalah mencintai seorang wanita yang salehah.“

”Terima kasih, Mas Irwan. Terus terang, selama beberapa hari terakhir ini, saya sangat takut kehilangan Julia. Tapi, posisi saya terjepit sedangkan Julia tidak bisa menolak kebaikan Mas Irwan.“

”Maafkan saya. Saya merasa sangat bersalah. Saya hampir saja memutuskan tali kasih yang indah antar dua insan yang saling mencintai.”

”Julia, tetaplah menjadi gadis manis yang salehah. Agar siapa pun lelaki yang menyuntingmu kelak, ia akan menjadi lelaki yang paling beruntung di dunia ini dan di akhirat.”

Julia menunduk. Ia menggigit bibirnya.

Aku menepuk bahu Ridho. ”Ridho, jagalah Julia. Dia gadis yang salehah. Banyak wanita cantik di luar sana, namun mencari gadis yang manis dan salehah belum tentu mudah kamu dapatkan.“

”Terima kasih, Mas Irwan. Julia sangat berarti bagi saya. Selama ini, kalau saya ada masalah apa pun, Julia adalah benteng terakhir saya untuk bertahan. Kami sama-sama alumni Gontor dan selama ini sering bersama-sama dalam kegiatan kemahasiswaan di Kairo. Namun, baru enam bulan ini kami dekat secara pribadi.“

Di ruang tunggu keberangkatan Gate F7, aku termangu. Terkadang, aku menyesali mengapa aku begitu terlambat menyadari ada pendar-pendar cinta di mata Julia dan Ridho manakala mata mereka beradu? Bukankah sebagai seorang novelis aku mestinya sangat memahami hal tersebut? Selama ini, aku sangat pandai membaca sorot mata, mimik wajah, dan bahasa tubuh seseorang.

Kini, semua terlambat. Sementara, benih-benih cinta telah terlanjur tumbuh di hatiku.

Pukul 18.45—terlambat satu jam dari jadwal semula—pesawat Qatar Airlines yang aku tumpangi perlahan meninggalkan landasan Kairo International Airport. Dari balik jendela, kutatap langit Kairo berlumur cahaya senja. Tiba-tiba, aku melihat wajah Julia tersenyum dan melambaikan tangan perpisahan.

Tak lama kemudian, burung besi itu menukik ke langit membelas senja. Kota Kairo yang berdebu semakin jauh di belakangku. Namun, hatiku seperti tertinggal di sana. Entah untuk siapa.

Kairo, 2013

Untuk anakku, semoga Allah selalu menjaga dan melindungimu, Nak.

 

Penulis adalah wartawan Republika yang juga cerpenis dan novelis.

 

Advertisements