Cerpen Gerson Poyk (Kompas, 21 Juli 2013)

Pengacara Pikun ilustrasi ....

TAKSI bandara menurunkan Dewi dan suami serta dua anak yang masih kecil di depan rumah opa mereka. Keduanya duduk dan melapor: ”Kami datang untuk cari kerja di sini, Opa. Sarjana hukum seperti kami berdua sukar dapat kerja di daerah.”

Sang Opa kaget, ”Ah, jauh-jauh terbang untuk cari kerja. Hmm, kalian berdua sarjana hukum. Sawah dan ladang pusaka tak terkelola?” tanya sang Opa. 

”Oh, Opa, musim kemarau panjang menyebabkan tanaman di kebun kering. Untung masih ada pohon lontar, gewang, dan kelapa sehingga niranya bisa disadap. Setiap hari kami masak gula, minum nira dan gula cair dan lawar cuka dari daun pepaya, kelor dan rumput laut, bercampur ikan, kerang dan gurita yang diambil ketika laut surut dan tertampung di pematang batu yang dibuat oleh kakek buyut. Kami kenyang, kami tak menganggap ada musim paceklik karena makanan tak pernah putus, tetapi anak-anak kami selalu menangis minta nasi dan roti. Kami menipu anak-anak dengan membelah kelapa yang telah tumbuh berpucuk kecil. Di dalamnya ada tembolok berupa roti,” Dewi menjelaskan.

”Oh, Tuhan, tiap tahun universitas di Indonesia bertelur dan menetaskan ribuan sarjana hukum, tapi sarjana hukum bagaikan anak ayam yang menciap-ciap kelaparan tak ada pekerjaan,” keluh sang Opa. ”Nampaknya yang kasihan pada sarjana hukum hanyalah para koruptor yang sibuk mencari pengacara. Hah, kalau tak ada korupsi, mampuslah semua pengacara di negeri ini,” sang Opa menggerutu. Lalu terkekeh.

”Tapi, koruptor cuma sedikit di daerah, Opa. Kalau banyak koruptor, banyak pekerjaan membela mereka,” kata Dewi, juga terkekeh.

”Oh, koruptor bukan sedikit di kota ini, cucuku,” kata Opa.

”Kalau begitu apakah cucu bisa mendapat pekerjaan membela koruptor, Kakek?” tanya Dewi sang cucu.

”Jangan membela koruptor, ganyang koruptor dengan memasang tarif tinggi!” kata Sang Opa lalu berusaha mengingat-ingat. ”Oh, baru Opa ingat. Dulu, kakak perempuan Opa, nenek kalian, ketika masih gadis remaja tiap hari berbelanja ke pasar. Di situ ada anak kecil belum sekolah umur tujuh tahun tidur di lantai pasar karena ketinggalan perahu untuk pulang. Anak itu mengemis. Nenek membawa dia ke rumah, memandikan dan memberi pakaian baru dan makanan bergizi, memasukkannya ke sekolah. Mulai dari kelas satu SD sampai tamat SMA. Kemudian merantau dan di perantauan ia kuliah di fakultas hukum. Lalu ia menjadi hakim, tapi kemudian minta berhenti setelah seorang pengusaha menyogok dia sehingga bisa membeli sebidang tanah untuk ditanami nanas, dan di atas tanah itu dibangun sebuah pabrik nanas kalengan untuk pasaran dalam dan luar negeri. Akan tetapi, pabrik nanasnya terbakar dan tanahnya bermasalah sehingga bangkrutlah dia. Lalu ia membuka kantor pengacara. Usahanya maju karena industri korupsi makin berkembang. Kalian mau bekerja di kantor pengacara, adik angkat Opa dan Nenek itu?”

”Mau. Selama nenek jadi buta, kami tak pernah mendengar ada adik angkat nenek yang sukses. Sekarang nenek sudah berumur sembilan puluh tahun. Walau buta, badannya masih segar. Makannya seperti biasa, ingatannya hanya kepada kampung halamannya. Tiap hari ia ngoceh tentang masa kecilnya di kampung. Akan tetapi, akhir-akhir ini nenek merupakan kesulitan. Gerakan peristaltik di duburnya tidak berfungsi sehingga tinjanya keluar sendiri di pagi hari. Wah, banyak sekali. Nenek masih kuat makan daging karena giginya masih utuh. Cuma itu… kita harus menggendong nenek ke kamar kecil untuk membersihkan tubuhnya,” lapor Dewi.

”Oh, Tuhan. Umur panjang menyulitkan anak cucu,” kata Opa.

”Terlalu banyak sarjana hukum yang nganggur di kota kelahiran kami. Kalau sulit jadi pengacara, jadi satpam sajalah, asal setiap bulan ada gaji. Soalnya di ibu kota banyak koruptor yang mesti dibela. Di daerah sangat sedikit, dan sebaliknya sarjana hukum dan pengacara banyak sekali. Korupsi tidak banyak. Jadi, kami berdua ambil keputusan untuk pindah. Soalnya Ibu kami mesti ditolong. Kami belum mampu membiayai pembantu untuk menolong ibu mengurus nenek,” kata Dewi.

Maka, pada suatu hari Dewi dan suaminya diantar Opa ke kantor pengacara milik adik angkat nenek.

Pengacara Lell Hanack tampak ramah menerima mereka. Setelah mendengar cerita tentang keadaan nenek, pengacara Lell Hanack kaget, ”Oh, kalau saya tahu nenek masih hidup di usia sembilan puluh tahun dan buta, saya akan masukkan dia ke panti jompo. Saya lupa menanyakan keadaan nenek karena terlalu sibuk dengan pekerjaan. Akhir-akhir ini memang saya suka lupa. Koruptor terlalu banyak dan kerjanya pun banyak sehingga kurang tidur dan otak atau ingatan jadi kendor.”

Dewi dan suaminya diterima menjadi karyawan di kantor itu. Suami Dewi jadi sopir pribadi di samping sebagai pengacara, dan Dewi diangkat menjadi sekretarisnya, juga sebagai pengacara. Keduanya bahagia karena banyak koruptor datang ke kantor sehingga mereka bekerja siang dan malam di negeri industri korupsi dan industri pengacara.

Tiba-tiba timbul isu fitnah bahwa Lell Hanack adalah sarjana hukum palsu karena ada yang menceritakan bahwa dia kenal Lell Hanack ketika kuliah. Lell Hanack kuliah di fakultas hukum hanya dalam satu semester terakhir. Fakultas yang kekurangan uang membuka kesempatan bagi siapa yang membayar sejumlah uang untuk duduk di semester terakhir lalu lulus sebagai sarjana hukum loncat bajing!

Akan tetapi, riwayat Lell Hanack mengalahkan ibu kota sangat menarik. Begitu tamat, ia membual bahwa ia bisa ke ibu kota tanpa uang. Benar, ketika kapal hewan sedang mengangkut rumput dan hewan, ia menyelusup naik ke kapal dan bersembunyi di tumpukan rumput makanan hewan. Ia hanya membawa sebuah pisau yang sangat tajam. Karena ia penumpang liar, maka ia tak mendapat jatah makanan. Malam-malam ia keluar dari tumpukan rumput, memegang telinga sapi dan memotongnya, lalu mengunyahnya mentah-mentah.

Turun dari kapal, usaha mengalahkan ibu kota ialah dengan latihan tidur sambil berdiri dan bukan berdiri diam, tetapi ia berlatih tidur berdiri sambil mulutnya komat kamit supaya pencuri setan blau akan terhalau jauh. Setelah itu, ia mendapat pekerjaan sebagai centeng dengan gaji cukup besar.

Lucunya, sebelum mahir tidur berdiri dan mulut komat kamit, ia melatih dirinya sebagai banci sehingga bisa mendapat pekerjaan beberapa bulan di salon banci. Pekerjaan sebagai banci di salon itu diketahui melalui sebuah poster sindiran di halaman universitas berbunyi: Mau cepat dapat kerja gaji besar? Berlatihlah goyang-goyang pinggul sambil tangan diayun-ayun. Setelah pintar bergoyang banci, lamarlah kerja di salon banci. Pasti diterima. Ia pun bekerja di salon banci itu, tetapi karena takut gerakan peristaltiknya rusak dimakan AIDS, maka ia lari meninggalkan salon banci, kembali menjadi jantan sejati yang berdiri sambil tidur komat-kamit. Dengan pekerjaan itu ia pun kuliah benaran. Jadi ia sarjana hukum asli, bukan sarjana kuliah semester loncat bajing.

Mungkin karena terlalu banyak pekerjaan, maka ia kurang tidur. Kesehatannya agak terganggu, tapi tetap tampak sebagai orang bertubuh sehat. Mungkin otaknya terlalu lelah karena terlalu banyak membela koruptor sehingga pikun. Setelah dipaksa cukup lama untuk kembalikan yang terlupa, barulah ingatannya kembali.

Pada suatu hari, Dewi terkejut ketika Lell Hanack muncul di kamar sekretariat, berpakaian celana dalam, bertanya, ”Dewi kau taruh celana panjang saya di mana?”

Tentulah Dewi tak bisa menjawab. Karena lama tak menjawab Lell Hanack marah, ”Kau mau jadi perempuan cantik yang kebagian uang berjuta dari koruptor sehingga kau sembunyikan celana panjangku?”

Tiba-tiba pesuruh membawa celana panjang. ”Ini Boss, terlupa di kamar mandi.”

”Oh, maaf, saya lupa.”

Itulah peristiwa lupa pertama majikannya yang dialami Dewi.

Suatu hari, Herman, suami Dewi, membawa majikannya pulang ke rumah dari kantor pengadilan. Jalan macet.

”Ah, kapan kemacetan hilang dari negeri ini?” gerutu sang majikan.

”Pemerintah harus membuat program transmigrasi baru, dengan memberi uang kepada para insinyur dan petani untuk bisa memenuhi kebutuhan maksimum transmigran dalam membangun desa-desa transmigrasi di daerah yang lahannya kosong,” kata Herman. ”Jalan keluarnya kosongkan Jakarta hingga sisa satu juta jiwa saja. Sembilan juta ditransmigrasikan saja. Itu jalan keluarnya. Indonesia sangat luas. Begitu juga lautnya. Malah ada orang Bajo yang sayang pada hutan sehingga mereka tinggal di laut.”

”Itu urusan menteri transmigrasi! Pikirlah bagaimana supaya kita tak terjebak oleh kemacetan,” kata sang pengacara.

”Yang penting harus sabar. Kondisi sekarang istilahnya padat merayap. Kita dididik oleh kota besar untuk bisa memiliki kesabaran padat merayap,” kata Herman.

”Bagi orang yang bukan sopir, istilah putar balik itu berarti jelek. Sopir putar balik itu bagus. Pengacara putar balik, jelek, tidak bermoral. Tapi sopir yang putar balik berarti orang jujur. Jadi kalau macet begini, coba diusahakan putar balik ke belakang,” kata Lell Hanack. ”Ayo! Putar baliklah supaya terhindar dari kemacetan,” perintah sang pengacara.

”Mana bisa Pak, tidak ada tanda lalu lintas putar balik,” kata Herman.

”Huh! Negara ini rusak karena tidak bisa putar balik!” gerutu sang pengacara.

Herman diam saja melihat ke depan, mencari tanda lalu lintas putar balik. Sang pengacara membuka pintu, lalu berjalan ke belakang. Tiba-tiba ia kaget melihat sang pengacara melompat ke punggung sedan yang satu ke sedan yang lain. Sejumlah klakson berbunyi keras. Tiba di rumah, sang sopir kaget karena Lell Hanack sudah tiba lebih dulu.

Ketika kondisi keuangan Dewi dan Herman mulai membaik, rumah tangga mereka mulai tegang karena ada teman yang menceritakan bahwa Herman dan majikannya sering mandi di sauna bath. Herman membantah bahwa dia menunggu sambil tidur di mobil.

Pada suatu hari ketika Herman duduk-duduk santai di kantor sekretariat di depan meja istrinya, Lell Hanack muncul. Dengan pandangan yang lupa-lupa ingat, ia menunjuk dada Herman lalu bersuara kasar: ”Ini orang ngapain duduk-duduk di sini. Ini bukan kantor kamu, ini kantor pengacara. Silahkan keluar dari sini, saya belum bisa menerima karyawan baru. Pergi!”

Dewi dan Herman, suaminya, kaget, tapi mereka segera sadar bahwa pikunnya Lell Hanack makin parah, dimulai dari lupa celana luar di kamar mandi dan menggerutu ingin Herman putar balik mobilnya dan keluar dari mobilnya dan lompat seperti Spiderman di atas kulit beberapa sedan.

Beberapa bulan kemudian. Sehabis makan banyak cempedak dan roti pada suatu siang, besoknya ia ke kamar kecil untuk buang air besar. Duduk di WC, terjadi pergumulan dahsyat karena tinjanya terlalu keras sehingga sukar untuk dikeluarkan. Ia ngeden berjam-jam, tapi tinjanya tak meluncur keluar. Akhirnya ia kehilangan tenaga dan napas. Ia meninggal di WC.

 

 

Advertisements