Cerpen Liam O’Flaherty (Koran Tempo, 21 Juli 2013)

Penembak Jitu ilustrasi Yuyun Nurrachman - Koran Tempo.jpg
Penembak Jitu ilustrasi Yuyun Nurrachman/Koran Tempo

PETANG bulan Juni yang panjang telah pudar menjadi malam. Selain redup sinar bulan, yang menerobos bongkah-bongkah awan putih-lembut dan menyiramkan berkas-berkas pucat di jalanan dan perairan gelap di sekitar Liffey, hanya kegelapan yang menyelimuti Dublin. Di sekitar Four Courts yang terkepung, senjata berat meletup-letup. Di seluruh penjuru kota itu, senapan mesin dan bedil mencabik-cabik kesunyian malam tanpa henti seperti anjing yang menyalak-nyalak di sebuah peternakan terpencil. Kaum pendukung Republik dan Free State masih sengit bertempur. 

Seorang penembak jitu Republik berjaga di atap sebuah gedung dekat Jembatan O’Bridge. Senapan teronggok di sisinya dan tali teropong terkulai di atas bahunya. Wajahnya adalah wajah seorang mahasiswa yang tirus dan mirip pertapa, namun dengan tatapan seorang fanatik yang berkilat-kilat di matanya. Mata itu dalam dan bijak, mata seorang lelaki yang telah terbiasa menatap kematian.

Ia tengah makan sandwich dengan lahap. Perutnya belum kemasukan apa-apa sejak pagi. Ia terlalu gugup untuk makan. Ia memandaskan sandwich, mengambil sebotol wiski dari sakunya, dan meneguk sekali. Ia terdiam sejenak, menimbang-nimbang apakah ia berani mengambil risiko dengan merokok. Sangat berbahaya. Kerlip api dapat terlihat dalam kegelapan dan banyak musuh sedang berjaga di luar sana. Ia memutuskan untuk mengambil risiko itu.

Setelah menjepitkan sebatang rokok di antara bibirnya, ia menyalakan sebatang korek api, mengisap asap cepat-cepat dan mematikan korek. Hampir seketika itu juga, sebutir peluru menghantam dinding kecil pembatas atap. Si penembak jitu mengisap rokok sekali lagi lalu mematikannya. Lalu ia memaki dengan suara pelan dan merayap ke kiri.

Dengan hati-hati, ia mendongak dan mengintip melalui dinding kecil pembatas atap. Kerlipan api terlihat lalu sebutir peluru mendesing di atas kepalanya. Cepat-cepat ia tiarap. Ia telah melihat kerlipan api di seberang jalan itu.

Ia berguling ke arah cerobong di bagian belakang atap lalu pelan-pelan berlindung di balik cerobong hingga matanya sejajar dengan bagian atas dinding kecil pembatas atap. Tak terlihat apa pun—hanya garis tepi atap rumah seberang yang tampak kabur berlatar langit biru. Musuhnya tersembunyi.

Sebentar kemudian, sebuah mobil lapis baja melintasi jembatan dan melaju pelan di jalan. Mobil itu berhenti di seberang, sekitar lima puluh yard dari si penembak jitu. Ia dapat mendengar deru mesin mobil itu.

Jantungnya berdetak lebih keras. Itu mobil musuh. Ia ingin menembak, namun ia tahu akan sia-sia saja. Pelurunya tak akan pernah sanggup mengoyak lempengan baja yang melapisi monster abu-abu itu.

Lalu, dari sudut sebuah gang, muncul seorang wanita tua berkerudung selendang compang-camping. Ia berbicara kepada tentara yang bersiap di menara senjata mobil itu. Ia menunjuk-nunjuk atap tempat si penembak jitu tiarap. Seorang informan.

Menara senjata terbuka. Kepala dan bahu seorang lelaki tampak dan menatap ke arah si penembak jitu. Si penembak jitu membidik dan menembak. Kepala itu tersentak ke dinding menara senjata. Si wanita tua lari tergopoh-gopoh ke seberang jalan. Si penembak jitu kembali menembak. Wanita tua itu terhuyung sebentar lalu roboh seraya mengerang di selokan.

Tiba-tiba dari atap gedung seberang jalan sebuah letusan terdengar dan si penembak jitu melemparkan senapannya seraya menyumpah-nyumpah. Senapannya terlempar dengan suara berisik di atap. Si penembak jitu berpikir bunyi gaduh itu bisa membangkitkan orang mati. Ia berkisar untuk meraih senapan itu tetapi ia tak mampu mengangkatnya. Lengannya tak terasa. “Aku tertembak,” gumamnya.

Tiarap di atap, ia merangkak kembali ke dinding kecil pembatas atap. Dengan tangan kirinya, ia meraba lengan kanannya yang terluka. Darah mengucur membasahi lengan bajunya. Tak ada rasa sakit—hanya sensasi tanpa rasa, seolah-olah lengan itu telah terpotong.

Cepat-cepat ia menghunus belati dari saku, membukanya di dinding pembatas atap, lalu mengoyak lengan bajunya. Sebuah lubang menganga di tempat peluru itu masuk. Di sisi lainnya tidak ada lubang. Peluru itu bersarang dalam tulang.

Tulangnya pasti sudah hancur. Ia menekuk siku di bawah luka itu. Sikunya terkulai begitu saja. Ia mengertapkan gigi untuk mengatasi rasa sakit.

Lalu, setelah mengeluarkan perban, ia menyobek bungkusan itu dengan belati. Ia membuka leher botol yodium dan menuang cairan dingin itu pada lukanya. Rasa perih yang hebat meluapi sekujur tubuhnya. Ia meletakkan kapas di atas luka dan melilitkan perban di atasnya. Ia menyimpulkan perban itu dengan giginya.

Lalu ia tiarap tanpa bergerak di samping dinding kecil pembatas atap, dan, setelah memejamkan mata, ia menghimpun tekad untuk mengatasi rasa sakit.

Di bawah sana, jalan sepi sekali. Mobil lapis baja telah mundur dengan sigap ke dekat jembatan, dengan kepala penembak senapan mesin terkulai tanpa nyawa di menara senjata. Mayat wanita tua itu masih teronggok di selokan.

Selama beberapa saat, si penembak jitu tetap bertiarap untuk merawat lengannya yang terluka dan menyusun rencana untuk meloloskan diri. Dia tidak boleh tetap di atap dalam keadaan terluka saat pagi tiba. Musuh di atap gedung seberang pasti menutup semua jalan keluar. Ia harus membunuh musuh itu, namun ia tak bisa menggunakan senapannya. Ia hanya dapat menggunakan revolver. Lalu sebuah rencana terbersit di pikirannya.

Ia melepaskan topi lalu meletakkannya di moncong senapan. Lalu ia mendorong senapan itu perlahan- lahan ke atas dinding kecil pembatas atap sehingga topi dapat terlihat dari gedung di seberang jalan. Hampir seketika itu juga terdengar letusan, dan sebutir peluru mengoyak topi itu. Si penembak jitu memiringkan senapannya ke depan. Topi terjatuh ke jalan. Lalu, sambil memegang bagian tengah senapan, si penembak jitu menjatuhkan tangan kirinya di atap dan membiarkannya menggelantung tanpa bergerak. Sejenak kemudian, ia melepaskan senapannya ke jalan. Lalu ia merayap mundur di atas atap seraya menarik tangannya.

Seraya berdiri dengan cepat, ia mengintip dari sudut atap. Siasatnya berhasil. Penembak jitu musuh itu, karena melihat topi dan senapan yang jatuh, mengira ia telah berhasil membunuh sasarannya. Sekarang ia berdiri di depan barisan cerobong, menatap ke arah seberang, dengan kepala yang membentuk siluet terlihat dengan jelas berlatar langit barat.

Penembak jitu Republik itu tersenyum dan mengangkat revolvernya ke tepi dinding kecil pembatas atap. Jaraknya sekitar lima puluh yard— tembakan yang sulit dalam cahaya remang dan lengan kanannya sakit bukan kepalang. Ia membidik. Tangannya gemetar karena gembira. Seraya mengatupkan bibir, ia menghela napas melalui hidung dan menembak. Ia hampir tuli oleh bunyi letupan itu dan lengannya bergetar oleh rekoil.

Lalu, saat asap menyisih, ia mengintip dan berseru gembira. Musuhnya tertembak. Lelaki itu terhuyung-huyung sekarat di dinding kecil pembatas atap. Ia berjuang untuk berdiri, namun dengan pelan ia terhuyung ke depan seperti dalam mimpi. Senapan terlepas dari tangannya, membentur dinding kecil pembatas atap, terpelanting, membentur tiang sebuah kios tukang cukur di bawah dan kemudian berderak di trotoar.

Lalu lelaki yang sekarat di atap itu semakin terhuyung dan akhirnya jatuh. Badannya berguling-guling di udara dan berdebum membentur tanah. Lalu mayat itu tergeletak tanpa bergerak.

Si penembak jitu melihat musuhnya terjatuh dan ia menggigil. Gairah pertempuran dalam dirinya telah padam. Ia tercekam penyesalan. Butir-butir keringat mengucuri keningnya. Lemah karena luka dan puasa yang panjang di hari musim panas dan berjaga di atap, ia mengalihkan pandangan dari jasad remuk musuhnya yang telah mati itu. Giginya gemeretak, ia mulai meracau, mengutuk perang, mengutuk dirinya sendiri, mengutuk semua orang.

Ia menatap revolver yang masih berasap di tangannya, lalu seraya memaki ia melemparkan revolver itu ke atap. Suara letupan menyusul jatuhnya revolver itu dan peluru mendesing di samping kepala si penembak jitu. Terkejut, ia kembali merasakan ketakutan. Syarafnya kembali tenang. Kabut ketakutan berhamburan dari pikirannya dan ia tertawa.

Setelah mengambil botol wiski dari sakunya, ia mengosongkan botol itu dengan sekali teguk. Ia merasa nekat karena pengaruh minuman keras itu. Ia memutuskan untuk meninggalkan atap sekarang dan melapor kepada komandan kompinya. Sepi ada di mana-mana. Tidak berbahaya jika menyeberang jalan. Ia meraih revolver dan menyarungkannya lagi. Lalu ia merangkak menuruni jendela loteng rumah di bawahnya.

Saat mencapai gang yang sejajar dengan jalan, tiba-tiba si penembak jitu merasa ingin tahu identitas penembak jitu musuh yang baru saja dibunuhnya. Ia menganggap musuhnya itu cukup jitu, siapa pun dia. Ia bertanya-tanya apakah ia mengenal musuhnya itu. Mungkin mereka pernah satu kompi sebelum pemisahan Angkatan Darat. Ia memutuskan untuk mengambil risiko dengan memeriksa musuhnya itu. Ia mengintip dari sudut Jalan O’Connell. Ada tembak-menembak sengit di hulu jalan, namun di sekitar sini hanya ada kesunyian.

Si penembak jitu melesat menyeberangi jalan. Sebuah senapan mesin menghamburkan peluru yang mencabik-cabik tanah di sekitarnya namun ia berhasil lolos. Cepat-cepat ia bertiarap di samping mayat itu. Senapan mesin telah sepi. Lalu si penembak jitu membalikkan mayat itu dan melihat wajah kakak laki-lakinya sendiri.

 

Liam O’Flaherty (1896-1984) adalah penulis novel dan cerita pendek Irlandia. Ia pernah bertempur di pihak Republik dalam Perang Saudara Irlandia yang berlangsung sebelas bulan, tak lama setelah Irish Free State didirikan pada 6 Desember 1922. Irish Free State mencakup seluruh Irlandia, termasuk daerah yang kini dikenal sebagai Republik Irlandia Utara. Irish Free State resmi dibubarkan pada 29 Desember 1937. Cerita pendek di atas diterjemahkan oleh An. Ismanto.

Advertisements