Cerpen Kiki Sulistyo (Suara Merdeka, 14 Juli 2013)

Belfegor ilustrasi -

LIDAH Nenek seperti silet yang mengiris tepat di jantungku. Kata-katanya bagai cuka, memberi kadar perih yang berlebih. Aku tertunduk, menatap lantai tanah yang seumur hidupku tak pernah berubah. Dari luar rumah seberkas cahaya bulan menerobos pagar bambu, mendesakkan diri menjadi bilah-bilah tipis. Nenek meludah. Cairan merah jatuh di lantai. Cairan sirih yang dikunyah hingga semirip darah. Aku tetap tertunduk. Bersimpuh di dekat kakinya yang telanjang. 

Aku telah membuat Nenek marah. Aku telah bercerita pada Sirin perihal ruang bawah tanah di bagian belakang rumah Nenek. Sirin orang yang tak bisa menjaga mulutnya. Jangan sekali-sekali kau menceritakan rahasia padanya, demikian pernah kawan-kawanku berpesan. Mulut Sirin mirip saluran yang bocor, apa saja yang mengalir padanya akan ditumpahkan sembarangan. Dan itu terbukti sekarang.

Paman yang pertama-tama bertanya pada Nenek perihal ruang bawah tanah itu. Nenek menyanggah, tapi tak memberi kesempatan pada Paman untuk membuktikan sanggahannya. Nenek melarang Paman memeriksa ruang bawah tanah itu. Aku mendengar mereka bertengkar dari beranda. Tapi tentu saja, Paman takkan pernah bisa menang berhadapan dengan Nenek. Lidah Nenek yang tajam menyayat ke mana saja Paman menghindar. Karena tak tahan, Paman beranjak dari rumah. Di beranda, matanya sempat tertumbuk padaku. Aku melihat mukanya yang dipenuhi amarah dan rasa penasaran.

Malamnya Nenek memanggilku.

”Anak tikus tolol. Rupanya kau tak cukup sabar. Besok hari lahirmu, tapi ruhmu baru ditiupkan sepuluh hari ke depan. Sembilan hari setelah kelahiranmu, ruhmu masih ditahan di neraka. Kalau bukan karena perjanjianku, kau sudah membusuk sebelum diberi nama.”

Suara Nenek bergulung-gulung di telingaku. Aku tertunduk semakin dalam. Tak mampu mengeluarkan sepatah katapun.

Beberapa saat setelah dilahirkan –pernah suatu ketika Ayah bercerita- aku memang sempat dikira mati. Lebih dari seminggu aku teronggok di ranjang rumah sakit. Hanya Nenek yang percaya bahwa aku akan baik-baik saja. Dan seluruh keluarga mengucap syukur manakala kata-kata Nenek terbukti benar. Aku sadar kembali, tumbuh sehat, dan tak pernah sekalipun mengalami sakit.

Sekarang aku menjelang 21 tahun, hidup berlimpah. Karier Ayah sebagai pengusaha dan politikus melesat tajam semenjak kelahiranku. Aku satu-satunya cucu kandung Nenek. Karena ingin sekali memiliki anak, beberapa waktu setelah kelahiranku, Paman mengadopsi seorang bayi perempuan berambut pirang. Bayi yang kemudian tumbuh menjadi perempuan cerewet dan bermulut bocor. Sirin hampir sepantaran denganku. Wajahnya tirus macam orang penyakitan. Rambut pirang yang dibawanya semenjak bayi, dipotong pendek seperti lelaki. Sirin gemar menato tubuhnya. Maka, apabila ia mengenakan tank-top, ia kelihatan seperti tembok yang penuh grafiti.

Nenek meludah lagi. Lalu kudengar suaranya bergerumun tak jelas. Aku berusaha menegakkan kepala dengan susah payah. Kulihat wajah Nenek disaput cahaya temaram. Di atas atap terdengar suara kepak sejenis burung, disusul teriakan serak dari binatang nokturnal itu. Aku terkejut setengah mati, ketika tiba-tiba Nenek menirukan suara burung itu. Suaranya lebih serak dan lebih keras, telingaku seperti ditampar. Sekonyong-konyong Nenek berdiri dan memerintah

”Bangun!”

Aku tergeragap dan berusaha berdiri tegak dengan sepasang kaki yang kesemutan. Nenek mencengkeram lenganku dan menyeretku ke dalam. Setelah melewati dua pintu, kami tiba di ruang paling belakang. Tak ada setitik pun cahaya di ruangan itu. Udara berubah dingin seakan-akan kami berada jauh di bawah lapisan bumi. Tulang-tulangku terasa bergemeretak. Karena sedemikian gelapnya, aku tak dapat melihat apa yang dilakukan Nenek. Cengkeramannya di lenganku sudah lepas semenjak kami memasuki ruangan ini. Aku mendengar seperti bunyi gerendel dilepaskan, lalu suara rantai yang diseret. Beberapa saat kemudian, selembar cahaya terpancar dari lantai. Aroma debu menguar bersamaan dengan perintah Nenek

”Turun!”

Aku berjalan mendekati cahaya yang terpancar dari bawah lantai. Di bibir lantai yang terbuka aku melongok ke bawah. Nenek sudah lebih dulu menuruni anak tangga menuju ruang bawah tanah. Hawa dingin semakin menggigit saat aku menjejakkan kaki di anak tangga. Semakin ke bawah hawa dingin semakin padat dan membuat tubuhku menggigil. Tiba di akhir tangga, aku melihat Nenek menghadap ke dinding yang gelap. Aku tak tahu dari mana sumber cahaya dingin ini, sampai aku melihat sebutir bola di hadapan Nenek. Di belakang bola itu samar-samar aku melihat sesosok tubuh tinggi besar. Cahaya tak menyebar ke belakang sehingga sosok itu tak tampak jelas. Aku hanya mendengar dengusnya yang berat seakan-akan makhluk itu sedang sekarat. Kakiku terpatri di lantai karena hawa dingin sekaligus rasa takut. Sampai aku nyaris tak mendengar perintah Nenek

”Sujud!”

Aku baru tersadar tatkala melihat Nenek bersujud di hadapan bola cahaya dan makhluk samar itu. Entah kekuatan dari mana yang membuat lututku turut tertekuk, kepalaku seperti ditekan untuk mencium lantai. Aku turut bersujud. Saat itu makhluk samar di hadapan kami menggeram. Aku memejamkan mata manakala merasakan tubuh dan pikiranku melesat begitu cepat. Aku seperti dibawa melintasi berbagai tempatdan waktu. Merasakan peristiwa-peristiwa masa lalu. Aku melihat seorang perempuan dikubur di padang pasir. Orang-orang ramai menyeret perempuan itu. Berteriak-teriak dengan bahasa yang tak kumengerti. Mereka mengacung-acungkan benda-benda tajam. Lalu semuanya bergerak kembali dengan cepat. Rumah-rumah dibangun. Pemukiman-pemukiman baru dibuka. Serombongan orang digiring ke sebuah lubang. Ditembak dan ditimbun jadi satu. Segerombolan yang lainnya diseret ke kamar yang penuh gas. Mati bersama-sama. Lantas aku mendengar pidato-pidato yang gawat. Awan cendawan mengepul ke angkasa. Anak-anak yang terkelupas kulitnya. Tahanan-tahanan yang disergap sampar dikumpulkan dalam satu gundukan. Lalu dibakar. Aku bahkan bisa mencium bau daging terbakar. Hidungku penuh, seperti juga telingaku. Kepalaku berputar-putar. Hawa dingin meresap jauh ke dalam tulangku. Aku mencoba bertahan tapi kemudian terjerembab dan tak ingat apa-apa lagi.

***

Surel dari Paman tiba hampir bersamaan dengan sejumlah foto yang dikirim seorang kawan dari luar negeri. Paman mengabarkan bahwa tidak ditemukan apa-apa di kamar bawah tanah rumah Nenek. Hanya ruangan yang dipenuhi barang-barang bekas. Paman berani memeriksa kamar bawah tanah itu setelah Nenek wafat beberapawaktu lalu.Rasa penasarannyayang begitu besar membuat Paman kecewamenemukan kenyataan itu. Dalam surelnya Paman juga bertanya apakah aku pernah melihat benda-benda berharga di kamar itu.Aku membalas surel Paman dengan ringkas. Kukatakan bahwa aku tak tertarik dengan cerita-cerita masa lalu. Aku terlalu sibukdengan urusan bisnis dan politik.

Aku memang sedang mempersiapkan seseorang untuk menjadi agenku di pemerintahan. Kalau aku mau, sebenarnya bisa saja aku yang masuk. Tapi aku lebih suka berada di belakang layar. Sejak peristiwa di kamar bawah tanah itu, aku merasakan ambisiku meluap-luap. Aku bermain di banyak kalangan. Aku mengacaukan sejumlah bisnis perusahaan besar. Membuat konflik para pemegang saham hingga perusahaan kolap dan tumbang. Aku juga menyusun jalur perdagangan yang arahnya pada pundi-pundiku sendiri. Bahkan bisnis Ayah dan karier politiknya diam-diam kuhabisi pula. Aku punya misi yang lebihbesar, jauh lebih besar daripada yang bisa dipikirkan seorang pebisnis atau politikus mana saja.

Setelah membalas surel Paman, aku membuka foto-foto yang dikirim kawanku, seorang peneliti antropologi. Foto-foto itu sebenarnya dimaksudkan sebagai bagian dari laporan proposalpenelitiannya. Dalam pengantarnya,kawanku itu kelihatan gembira dengan penemuan timnya. Sejumlah foto yang dikirimnya memang menunjukkan aktivitas penggalian di suatu situs. Beberapa dari banyak foto itu, menunjukkan penemuan sesosok mumi perempuan yang sedang mendekap benda bulat mirip bola. Inilah pusat kegembiraan kawanku itu. Bola Belfegor, katanya dalam surelnya. Dia hendak membuktikan eksistensi iblis kekayaan itu ke dunia sejarah dan sains. Aku tersenyum dan teringat kata-kata Nenek ketika subuh mengapung di kejauhan, sesaat setelah aku tersadar dari sujudku malam itu.

”Anak tikus tolol. Sekarang kau sudah mewariskan kutukanku. Hiduplah di dunia ini dengan kutukan itu. Apa saja yang ingin kau lakukan, lakukanlah. Sampai dunia ini menyusut dalam genggamanmu. Tapi ingat, suatu ketika kau harus mewariskan kutukan ini pada anakmu. Dan sebaik-baik anak buatmu adalah anak dari perempuan iblis.”

Aku tertawa sendiri mengenang kalimat Nenek.

Menjelang petang aku beranjak pulang. Taman kota ini seperti terbungkus selimut lembut. Angin bertiupcukup kencang menggoyang dahan-dahan pohonan. Aku melihat orang-orang berjalanke sana kemari. Di sebelah sana,sepasang jompo saling gandeng berjalan perlahan. Lalu ada penjual balon menuntun sepedanya. Sekelompok perempuan muda memamerkan keceriaan mereka. Dan seorang bermantel berbicara di telepon sembari bersandar di tiang rambu. Aku melihat ke langit. Benih-benih awan hitam mulai beranjak dari barat. Pelan-pelan menggumpal, dan membentuk lapisan pekat.

Aku sampai di rumah dan langsung beranjak ke ruang belakang. Kudengar angin di luar menderu-deru. Aku membuka gerendel pintu menuju ruang bawah tanah. Bau alkohol langsung menyergap hidungku. Di ruang itu, beberapa orang sedang berusaha mengeluarkan bayi dari perut Sirin yang meraung-raung. Sirin akan segera melahirkan anakku. Ketika aku mendekat, raungan Sirin berhenti. Salah seorang kemudian menyodorkan bayi itu padaku. Tali pusarnya bergelantungan. Aku menyambut bayi itu dengan dua tanganku. Begitu tersentuh tanganku, bayi itu bergerak-gerak dan dari mulutnya yang kecil keluar suara serak dan keras seperti kaok burung. Aku tertawa. Aku tertawa keras sekali sampai bayi di tanganku terguncang-guncang. (63)

 

Lombok, 4 Juli 2013

– Kiki Sulistyo lahir di Kota Ampenan, Lombok 16 Januari 1978. Puisi dan cerita pendek dimuat di banyak media massa. Dia bekerja pada Departemen Sastra Komunitas

Akarpohon, Mataram, NTB.

Advertisements