Serigala di Kelas Almira


Cerpen Triyanto Triwikromo (Kompas, 7 Juli 2013)

Serigala di Kelas Almira ilustrasi ....

YA, mereka memang akan menjebloskanmu ke rumah sakit jiwa. Tak perlu takut. Kepada siapa pun yang memeriksamu, kau hanya perlu mengatakan apa pun yang dianggap melampaui batas dan tidak masuk akal adalah kebenaran juga. Kau harus berani bicara. Jangan hanya membisu…

Tak ada ular, tetapi sejak pagi, sejak kau merasakan semacam gempa meledak di otak dan segala benda dunia jungkir balik berjumpalitan tak keruan, ada yang mendesis-desis saat kau meminta mereka menceritakan hal-hal menakjubkan yang mereka impikan semalam. Juga tak ada kambing, tetapi ada yang tiba-tiba merangkak, menghampirimu, dan mengembik keras-keras. Tentu saja juga tidak ada serigala, tetapi di kelas IV Sekolah Dasar Merah Putih yang sangat riuh itu, berkali-kali ada yang melolong-lolong seperti memanggil arwah para leluhur. 

Ada semacam delirium yang menghantam otakmu saat itu. Otakmu menjadi tegang. Ada ilusi aneka benda yang bertabrakan. Ada halusinasi bercampur peristiwa nyata yang melenting-lenting. Kecuali yang berada di kelas, apa pun yang kaudengar bahkan hadir sebagai gemuruh ombak dan petir yang terus menggegelegar. Kau merasakan ada yang tak beres di otak dan curiga jangan-jangan telah menderita sakit jiwa, tetapi kau tetap bertahan berdiri di kelas itu. Kau mencoba melawan kegilaan yang menyerang secara mendadak kewarasanmu.

“Ajari aku tetap sabar dan tak menganggap mereka sebagai binatang, ya Tuhan,” kau mendesis lirih sambil terus mendengarkan percakapan antarmurid yang tidak nyambung, tetapi sangat mereka mengerti maknanya itu.

Tentu bukan baru kali ini kau seperti berada di kebun binatang atau hutan liar. Seminggu lalu, misalnya, kau harus berperan sebagai Hawa yang dipaksa memahami bahasa ular Edo yang begitu susah payah membaca tulisan “Ini ayam” di papan tulis. Selalu saja Edo mendesis dan bilang, “Ini ular.”

“Ayam, Edo, ayam.”

“Ular!”

“Ayam, Sayang!” kau meragukan suaramu sendiri dan merasa tiada guna mengajar di kelas itu lagi.

“Ular, zzzzzzzzz, ular!” teriak Edo.

“Baiklah, ular, zzzzzz, ular!” katamu lembut.

Saat kau sudah memasuki ceruk bahasa dan dunia Edo, murid yang paling pendiam itu, tak melata di lantai lagi. Dia duduk manis di kursi dan kemudian menggambar apa pun yang berkait dengan ular. Mula-mula dia menggambar putri cantik berambut ular yang digandeng oleh pangeran bertangan ular dan akhirnya melukiskan matahari sebagai lingkaran bersurai cahaya ular.

“Ular-ular itu makan apa, Edo?” kau mendesis lagi sambil menunjuk gambar unggas bersayap cokelat di papan tulis.

“Ayam, Bu Prita, ayam.”

“Jadi, ini apa, Edo?” katamu menunjuk tulisan “Ini ayam.”

Kau tersenyum mendengar jawaban Edo, tetapi pada saat sama, kau berpikir mengapa dia selalu ingin menirukan apa pun yang dilakukan oleh ular. Mungkinkah di rumah dia tinggal dengan seorang ibu yang berprofesi sebagai penari ular? Atau jangan-jangan selepas sekolah Edo hanya bermain-main dengan ular-ular yang dipelihara keluarganya di kebun belakang rumah?

Kau belum bisa menjawab pertanyaan itu. Kau lalu berjanji akan segera mengunjungi keluarga Edo dan secepat mungkin mencari jalan terindah untuk membebaskan bocah ular ini dari belitan pengaruh binatang melata itu.

Belum selesai dengan urusan Edo, tiga hari lalu, saat serangan yang menyerupai epilepsi menghantam otakmu, kau harus merangkak-rangkak seperti kambing mengikuti gerakan Onky. Ongky tidak mau menyanyi sebelum dia mengajakmu bermain adu tanduk. Kau juga harus mengembik keras-keras agar Ongky segera berdiri dan mau menyanyi di depan kelas yang setiap hari berganti-ganti dipenuhi aneka tingkah delapan murid istimewamu itu.

“Ajari aku agar tetap ikhlas memberikan pelajaran apa pun kepada malaikat-malaikat kecilmu yang indah ini ya, Tuhan. Sungguh memandang mereka aku seperti memandang wajah-Mu yang teduh,” kau mencoba mendesiskan doa.

Tuhan, sebagaimana tuhan-tuhan lain pada masa lampau, ingin kau tidak hanya memandang wajah-Nya. Karena itu, Dia mengirim Almira kepadamu. Pagi itu sebelum Almira melolong-lolong, dia membentur-benturkan kepala ke dinding kelas bercat merah marun. Tak hanya itu, cepat sekali dia naik ke bangku, melompat ke meja guru, merebut kacamata yang kau kenakan, dan membantingnya ke lantai keras-keras.

“Apa yang ingin kau ceritakan, Almira? Mimpi apa kau semalam?” kau masih berusaha mengontrol kesabaran meski gagal menghalau aneka peristiwa yang menghambur bersama-sama di otak.

Almira hanya melolong. Sudah beberapa hari dia tak mau berbicara dengan siapa pun.

“Kau bertemu dengan serigala?”

Almira menyeringai. Air liurnya menetes. Matanya menyala buas.

“Ceritakan pada kami segala hal yang kau temui dalam mimpimu, Sayang,” kau berusaha mendekat.

Masih tak ada jawaban. Kelas yang semula riuh jadi hening dan tegang. Edo tidak mendesis. Ongky tidak mengembik. Selma tidak menangis. Safa tidak menggebrak-gebrak meja. Sirna cuma bengong. Kafka dan Juve melongo. Mereka merasa bakal jadi korban gigitan Almira.

“Mendekatlah kepada Ibu, Sayang….,” kau mencoba meredam kemarahan Almira.

Terlambat! Ketika kau mendengarkan apa pun yang berada di kelas berubah menjadi aneka suara di kebun binatang, Almira telanjur mengasah taring dan kali ini sepasang mata liarnya menembus mata Selma. Almira tampak ingin menggigit dan mengoyak-oyak leher Selma.

Merasa jiwanya bakal terancam, Selma menjerit. Jeritan itu begitu cepat beresonansi sehingga membuat seluruh isi kelas ikut menjerit. Kau bingung menyaksikan kegarangan Almira dan ketakutan Selma. Kau tidak mungkin membunuh satu murid untuk menyelamatkan murid lain. Kau berpikir keras agar bersama murid lain tidak menatap taring runcing Almira mengoyak-ngoyak leher ringkih Selma. Kau juga tak ingin Almira melolong-lolong terus-menerus memanggil-manggil serigala-serigala lain untuk menyerbu sekolah yang juga berpagar ringkih. Kau juga tak menginginkan lolongan keras Almira membuat Gesti, pemilik dan kepala sekolah yang bagimu tampak sebagai diktator bengis itu, mengintip apa pun yang kau lakukan bersama murid-muridmu. Kau tak ingin Gesti akan melarang kau mengajar dengan cara-cara yang tidak termaktub dalam metode pengajaran.

Ternyata kesuksesan mengatasi persoalan Edo yang hanya mendesis dan Ongky yang cuma mengembik, tidak bisa digunakan untuk membereskan persoalan Almira. Almira tak hanya tampak sebagai hewan bertulang belakang langka yang dalam sepanjang hidupnya mungkin hidup sekandang dengan serigala. Almira justru berperangai sebagai satwa dari surga yang ingin menggigit apa pun yang tampak sebagai hantu manis. Saat itu, mungkin Selma memang terlihat sebagai domba bantaian yang sangat molek.

Kau bisa saja segera mencekik Almira dan mengancam bocah serigala itu agar tidak mengulangi perbuatan yang membahayakan siapa pun. Akan tetapi kau tidak ingin meniru Gesti yang pernah mengikat tubuh Almira di tiang bendera hanya karena dia menggigit tangan si penguasa sekolah yang lalim itu.

Kau juga tidak ingin membakar Almira di bawah panas terik matahari dan bersungut-sungut, “Matilah kau pemuja serigala. Matilah kau bocah yang tidak bisa menjadi anak manis Allah…”

Sebagai wali kelas malaikat-malaikat kecil yang mungkin dianggap sebagai setan-setan berkebutuhan khusus, kau justru memprotes tindakan Gesti. Tak menggubris keberatan yang kaudesiskan perempuan pemarah itu dengan enteng bilang, “Hanya Dewa Matahari yang bisa mengubah serigala menjadi manusia, biarkan hantu-hantu sialan itu keluar dari tubuhnya.”

Kau tidak melihat hantu di tubuh Almira. Kau justru menyaksikan di bahu bocah serigala itu tumbuh sayap halus. Sayap yang memungkinkan Almira terbang meninggalkan sekolah, meninggalkan siksaan kepala sekolah.

Meskipun demikian dia tidak mau mengepakkan sayap dan kau tidak bisa menolong bocah yang sebenarnya sangat manis itu. Selain tali pengikat yang melilit tubuhnya begitu kencang, kau tidak bisa melawan kepala sekolah yang membayar segala yang kau lakukan di kelas hanya Rp 750 ribu karena kau masih dianggap sebagai guru kencur. Kau baru meletupkan kemarahan ketika Gesti membenamkan kepala Almira di bak mandi sekolah. “Kasihan,” desismu pelan, “kasihan malaikat kecil yang kini sayapnya telah menguncup itu.”

Karena kian tidak tahan menyaksikan pemandangan yang sangat menyiksa, kau memberanikan diri menghalangi Gesti berbuat lebih nekat lagi. Kau merebut Almira dari tangan Gesti dan segera memeluk bocah serigala yang masih menatap Gesti dengan tusukan mata setan.

“Ajar dia dengan cara yang benar. Kalau tidak bisa, keluarlah dan jangan sekali-kali mengajar lagi di sekolah ini!”

Tak ingin membantah, kau menuruti permintaan Gesti. Kau bimbing bocah serigala yang basah kuyup itu ke kelas meskipun kau sesungguhnya juga ketakutan menatap mata Almira. Ya, kau takut setengah mati, tetapi mulai paham untuk mengajar Almira kau harus masuk ke ceruk-meruk dunia Almira. Sejak saat itu ke mana pun Almira mengajakmu, kau akan rela memasuki dunia yang kadang-kadang melampaui batas, tidak rasional, dan mengguncang kesadaranmu.

Karena itu jika sekarang Almira berperangai sebagai serigala lagi dan berusaha menyerang Selma, tak ada cara lain, kau harus berperan sebagai ibu serigala yang melarang putri kesayangan mengoyak-oyak leher satwa lain. Karena kau paham bocah serigala yang haus harus disusui, kau pun mencoba membuka kancing baju agar Almira segera menghampirimu.

Gagal. Almira tak menggubris. Dia tetap ingin menghabisi Selma.

Dalam situasi semacam itu kau ingat betapa serigala-serigala yang kelaparan akan segera melahap daging yang disorongkan ke mulutnya. Akan tetapi di kelas tak ada daging dan darah segar yang terus menetes-netes. Karena itu, kau pun mendesis, “Aku harus berkorban. Ini mungkin cara terakhir menyelamatkan Selma.”

Lalu di luar dugaan para murid, kau melolong keras-keras, dan tiba-tiba menggigit punggung lengan sendiri dengan geram. Mulutmu pun kemudian penuh daging dan belepotan darah segarmu sendiri.

Almira kaget. Dia berpaling ke arahmu. Pelan-pelan ia merangkak. Pelan-pelan dia menghampirimu. Pelan-pelan dia berusaha melahap daging dari mulutmu.

Menjijikkan? Tidak. Tak seorang pun yang menganggap kau dan Almira sebagai satwa gila. Mereka justru merasa menyaksikan sepasang manusia tengah menunjukkan keindahan kasih sayangnya.

Akan tetapi saat itu Gesti bersama petugas dari rumah sakit jiwa ternyata mengintip apa pun yang sedang kaulakukan bersama para malaikat kecilmu. Karena sudah lama menganggapmu gila, mereka kemudian mendobrak pintu dan segera meringkusmu.

Lalu segalanya sunyi diam ketika dari kejauhan –saat mereka menyeretmu keluar dari kelas– kau mendengar Almira memanggil-manggil namamu. “Ibu! Ibu! Mengapa kau tinggalkan aku?”

Kau tidak ingin menjawab pertanyaan itu. Kau hanya ingin menatap tajam-tajam Gesti dan melolong, “Auuuuuuuuuuuuuuuu!” (*)

 

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: