Cerpen Yudhi Herwibowo (Koran Tempo, 7 Juli 2013)

Pintu ilustrasi Yuyun Nurrachman

PINTU itu ada di ujung halaman belakang. Mengusam karena waktu. Tersembunyi di antara pohon-pohon besar yang tak henti membayanginya, seakan sengaja menyatukan kegelapan. Tanaman rambat yang entah berakar di mana kemudian membuatnya semakin sempurna tak terlihat.

Tak mengherankan bila mata gadis kecil itu mendapatinya, ia akan selalu merasa takut. Pintu itu seperti mampu menarik dirinya. Padahal sejak dulu, ia selalu teringat teriakan ayah dan ibunya bila ia muai bermain bersama teman-temannya, “Jangan sampai melewati pintu itu!” Dan ia selalu menurut. 

Pintu itu memang seakan menakutkannya. Menatapnya saja membuat bulu kuduknya berdiri. Bahkan bayang-bayang yang terbentuk dari pohon-pohon di sekitarnya, seperti bisa menghentikan jantungnya untuk beberapa saat.

Namun entah kenapa, perlahan-lahan gadis kecil itu semakin merasa tertarik pada pintu itu. Mungkin karena hanya di dekatnya ia bisa merasakan rasa ingin tahu yang tak biasa. Terlebih semenjak pohon besar di dekat pintu itu rubuh terkena petir, pintu itu semakin mudah tertangkap oleh matanya.

Sejak itulah muncul berulangkali pertanyaan di kepalanya: apa yang ada di balik pintu itu?

Ini memang terasa berlebihan. Saat teman-temannya datang, ia memang akan melupakan sejenak pertanyaan itu. Ketika teman-temannya itu pulang, ia akan kembali lagi mengalihkan pandangannya ke arah pintu itu.

Pernah suatu kali, gadis kecil itu bertanya pada Bi Ijah, pembantu di keluarganya yang asli orang desa. Bi Ijah hanya mengangkat bahu dengan enggan, “Kata orang-orang, di situ rumah para lelembut. Ada peri-peri jahat yang suka menculik anak-anak!”

Gadis itu terkesiap. Peri-peri? Entah kenapa begitu saja terbayang olehnya makhluk-makhluk kecil bersayap rapuh yang kerap dilihatnya di film-film. Sosok-sosok yang beterbangan dengan jejak cahaya.

Tapi tentu saja ia tak puas dengan jawaban itu. Ia pikir para peri tak akan membuatnya ketakutan. Maka ia kemudian menanyakan pada ayah salah satu temannya, yang kebetulan rumahnya bersebelahan dengan rumahnya.

Konon, puluhan tahun lalu, tepat di belakang rumah ini adalah sebuah kuburan tua. Itulah yang membuat pemilik rumah sebelumnya membangun tembok tinggi untuk menghalangi pandangan para penghuninya ke arah situ.

Ini jawaban yang lebih masuk akal bagi otaknya yang masih terlalu belia. Ketakutannya selama ini pada pintu itu pun jadi beralasan.

Maka ia tak lagi bertanya-tanya soal pintu itu dan apa yang ada di baliknya. Ia akan bermain saja di teras belakang. Bila teman-teman belum datang, ia akan bermain sendiri tanpa memperhatikan pintu itu.

Seperti hari ini. Gadis kecil itu masih menunggu teman-temannya datang sambil memainkan bola bekelnya sendiri. Ia memantulkan, meraup, menangkap, memantulkan lagi, meraup lagi, menangkap bola itu lagi. Tapi hari ini ada sekali ia luput menangkap bola bekel itu.

Bola itu memantul jauh.

Gadis kecil itu mencoba mengejarnya. Namun bola bekel itu terus memantul dengan sempurna di batu-batu di halaman belakang rumah ini. Arahnya menjadi tak menentu. Semakin jauh, dan begitu saja mengarah pada pintu itu.

Lalu bola bekel itu hilang ke salah satu celah pintu itu!

Gadis itu terkesiap. Tiba-tiba saja ia mendapati dirinya sudah berdiri di depan pintu itu sedemikian dekat. Ia menelan ludah. Ia pastilah sempat berpikir kalau ia harus pergi saja. Ayah dan ibunya tentu bisa membelikannya bola bekel yang baru. Tapi entah mengapa, ia seperti tak rela kehilangan miliknya.

Maka dengan tangan gemetar ia meraih gagang pintu itu.

 ***

Aku lebih baik mati di sini!

Kebosanan telah sampai pada puncaknya. Tak ada artinya lagi hidup di sini. Kesepian telah merasuk ke dalam diriku dari tahun ke tahun.

Telah ratusan tahun aku hidup di sini. Telah sepanjang hidup, aku menemani tubuh-tubuh yang dikuburkan di sini.

Ya, tanah ini awalnya memang penuh dengan tubuh-tubuh yang pergi dengan doa dan tangisan. Namun itu dulu. Dulu sekali. Sebelum tanah ini ditinggalkan. Sekian lama kurasakan kesendirian, tak terusik selama puluhan tahun. Kesendirian yang mengundang burung-burung untuk bersarang di pucuk-pucuk ranting, juga ular-ular berbisa di liang-liang akar.

Kupikir aku akan mati dalam suasana seperti itu. Tua dan terlupakan. Namun ternyata beberapa tahun lalu, semuanya berubah. Ini diawali dengan datangnya beberapa orang yang membuat sebuah lubang besar di sini. Mereka bekerja hampir sehari penuh, seperti mengusir burung-burung dan ular-ular itu.

Kau tahu, sebuah lubang biasanya berarti awal kehidupan. Aku ingat ketika orang-orang menanam pohon-pohon di sini. Mereka mengawalinya dengan membuat lubang-lubang di hamparan tanah ini. Aku pun menebak bahwa lubang itu pun sebuah awal kehidupan. Tentu aku tak berpikir bahwa mereka akan menanam sebuah pohon raksasa. Tidak. Yang kubayangkan, mereka akan membuat sebuah kolam besar yang nantinya penuh dengan ikan-ikan beraneka rupa.

Tapi dugaanku salah! Beberapa hari kemudian, segerombolan orang kembali datang dalam dua truk besar. Satu kelompok yang berseragam dan memegang senjata, tampak memerintah kelompok lainnya yang terikat tangannya. Mereka dijejerkan di pinggir lubang. Lalu tanpa banyak bicara, seseorang yang tampaknya pemimpin kelompok berseragam itu menembaki mereka satu demi satu.

Tubuh-tubuh itu langsung jatung ke dalam lubang.

Sejak itulah, suasana di sini menjadi berbeda. Entahlah, telah puluhan tahun aku berakar di sini, di atas tubuh-tubuh manusia yang mati, namun baru kali ini aku mendengar suara-suara dari dalam tanah. Raungan menyayat. Teriakan minta tolong. Ratapan berkepanjangan. Sepanjang hari. Sepanjang bulan. Sepanjang tahun. Tempat ini benar-benar tumbuh menjadi lebih mengerikan daripada sebelumnya.

Namun itu belum selesai.

Beberapa tahun kemudian, ada sekelompok laki-laki menarik seorang gadis kecil ke sini. Mereka orang-orang tak bertuhan, sehingga mereka mengabaikan keberatan kami. Deru angin yang mengencang, guguran daun yang menerpa wajah mereka, desis ular dari dalam tanah, semuanya mereka sepelekan.

Mereka menyumpal mulut gadis kecil itu dan melucuti bajunya dan bergiliran mengerjainya. Lalu, setelah semuanya selesai, salah satu dari mereka mencekik leher gadis itu hingga ajal menjemputnya. Jenazah gadis kecil itu mereka tinggalkan begitu saja.

Gadis kecil itu menangis di sampingku. Memandangi tubuhnya yang tergeletak tak lagi bergerak. Mula-mula air matanya hanyalah air mata biasa.

Namun, sewaktu ia melihat tubuhnya semakin membusuk dan hancur, air matanya pun bercampur dengan tetesan darah.

Aku mencoba menghiburnya. Mengatakan padanya bahwa banyak sekali musibah terjadi tiba-tiba tanpa terelakkan. Ia tak mau mendengar ucapanku. Untunglah, waktu selalu bisa menyembuhkan luka. Beberapa tahun kemudian, aku mulai mendengar suara senandungnya. Aku tahu, sebenarnya ia gadis periang. Awalnya ia hanya menyanyikan lagu-lagu sedih. Namun, setelah ia tahu kami semua mendengarkannya di sini, ia mulai menyanyikan lagu-lagu riang.

Aku suka suaranya. Dan ternyata, tak hanya aku yang menyukainya. Rusa, ular, kera, dan beberapa binatang lainnya mulai berdatangan padanya. Ini membuatnya semakin gembira. Ia kini tak hanya sekadar menyanyi, ia juga menari. Tampaknya ia telah dapat melupakan apa yang terjadi padanya.

Namun itu tak berlangsung lama. Sewaktu orang-orang dari desa menemukan tubuhnya dan membacakan doa untuknya, sosoknya lenyap dari sisiku, menyatu dengan udara.

Sungguh, aku terus berharap ia muncul kembali. Ia telah membuat suasana hutan belukar ini menjadi lebih gembira. Tapi inilah yang kemudian terjadi: sebuah rumah besar dibangun di tanah yang terbentang di depan kami. Sebuah tembok bata yang sisi luarnya tak disemen didirikan menutupi wilayah kami.

Sejak itu aku tak lagi bisa melihat ke depan. Hanya sebuah pintu berwarna kusam di dinding itu yang selalu memunculkan harapan bagiku. Namun itu pun ternyata harapan yang sia-sia. Sampai bertahun-tahun, pintu itu tak pernah terbuka.

Aku sungguh tak habis pikir, bagaimana mungkin sebuah pintu dibuat tanpa pernah dibuka?

Hingga akhirnya aku benar-benar merasa lelah. Kesendirian ini membuatku ingin mati saja. Namun di puncak keinginan inilah tiba-tiba saja dari sebuah celah pintu itu sesuatu memantul ke arah kami. Sebuah bola karet kecil.

Kulihat gagang pintu mulai bergerak pelan.

Napasku seakan berhenti. Angin menepi. Daun-daun berhenti bergerak. Kicau burung dan desis ular lenyap. Suara-suara teriakan itu pun tak terdengar. Semua mendadak senyap.

Lalu seorang gadis kecil kulihat muncul dari balik pintu. Sungguh, ia begitu mirip dengan gadis kecil yang dulu pernah datang ke mari. Wajahnya cantik, dengan mata berbinar dan rambut panjang yang terkuncir dua.

Aku tahu wajahnya penuh ketakutan saat memandangi kami semua. Tapi bola karet kecil yang tak berhenti memantul itu seakan membuat ketakutannya lenyap.

Ah, gadis kecil, kemarilah! Jangan takut!

Sungguh, aku dan semua yang ada di sini telah siap menyambutmu di langkah pertamamu di tanah kami.(*)

 

 

Yudhi Herwibowo giat di buletin sastra Pawon, Solo.


Advertisements