Peristiwa Jumat


Cerpen Tjak S Parlan (Republika, 30 Juni 2013)

Peristiwa Jumat ilustrasi Rendra Purnama

SUDAH tiga kali Jumat aku tidak bisa berkunjung ke rumah nenek. Kukatakan pada ibu bahwa aku begitu sibuk. Jadi kukirimkan saja salamku lewat ibu, seraya menambahkan sebuah kesediaan: Jumat depan aku akan ke sana bersama ibu.

”Salam untuk yang lainnya ya, Bu,“ kataku di akhir pembicaraan. 

”Yang namanya kerjaan itu tak akan selesai kecuali kita sakit. Kamu itu tiba-tiba jadi begitu sibuk. Jaga kesehatanmu,“ jawab ibu di seberang.

Sejak kakek meninggal, kami selalu bertemu setiap Jumat di rumah nenek. Selepas turun dari masjid, kami akan bertandang ke sana dari rumah masing-masing. Aku sebagai anak kedua dari tiga bersaudara yang masih tinggal bersama ibu dan si bungsu, Nizam. Kecuali kakakku yang pertama, Kak Inan, rumah kami berjarak tidak terlalu jauh dari rumah nenek. Jadi, biasanya kami tiba di rumah nenek dalam waktu yang hampir bersamaan.

Jika semuanya sudah berkumpul, kami akan lesehan bersantap siang bersama di ruang tengah. Aku, ibu, Nizam, Kak Inan dan keluarganya, Paman Umar dan keluarganya, Bibi Fatma dan keluarganya melingkar menikmati opor ayam buatan ibu yang paling sedap. Tentu saja, kami bisa mengobrol apa saja dengan cara yang paling akrab, seperti layaknya seluruh kedekatan dalam hubungan keluarga yang harmonis.

Tidak cukup sampai di situ, kami juga memiliki saat yang serius. Sehabis makan, kami menuju halaman belakang. Di sebuah sudut kebun milik nenek, tumbuh beberapa pohon kamboja berbunga yang melindungi tiga makam di bawahnya yang saling berdampingan. Mereka adalah Nenek buyut Rokayah, Kakek Sudiro, dan Bibi Umi, orang-orang yang kami sayangi dengan doa-doa sepanjang waktu. Kami akan duduk melingkar, membuka surat Yasin, dan membacanya dengan suara paling khidmat yang kami bisa. Selepas itu, Paman Umar, saudara ibu yang paling tua, akan memberikan beberapa waktunya untuk mutiara hikmah, cerita-cerita inspiratif yang bisa dijadikan tuntunan dalam kehidupan sehari-hari.

Kami akan tinggal hingga sorenya. Bahkan, tidak jarang kami baru akan pulang selepas shalat Maghrib. Jika seperti itu, aku akan menghabiskan waktu bersama Hakim, sepupuku dari Bibi Fatma dan Paman Arya. Aku dan Hakim memancing ikan nila yang gendut-gendut karena setiap hari ditaburi pakan berkualitas oleh Kak Amir, sepupuku dari Paman Umar dan Bibi Ulfa yang tinggal bersama nenek sejak kakek meninggal. Aku tampaknya telah mengikuti jejak Kak Amir yang belum menikah hingga umur 43. Paman Umar dan Bibi Ulfa sering dibuatnya gusar olehnya, begitu juga dengan nenek.

”Mir, tidak perlu repot-repot menjagaku terus. Nenek ini masih kuat, masih bisa menaburkan makanan ikan di kolam ini. Waktu kakekmu masih ada, siapa pula yang melakukannya kalau bukan nenek. Cari jodoh sana dan menikahlah,“ kata nenek suatu hari. Aku tersenyum-senyum mendengarnya, hingga menjadi sasaran empuk berikutnya. ”Kamu juga, Nif,“ kata nenek.  ”Tak usah ikuti kakakmu ini. Sudah tua juga kamu, lihat itu kumis dan jenggotmu sudah penuh. Menikahlah dengan orang baik-baik. Jangan seperti…“ nenek tidak melanjutkan kata-katanya. Dan, aku paham betul dengan apa yang dimaksudkannya.

***

Mendiang ayahku memiliki kehidupannya sendiri. Meskipun kurang ramah pada setiap orang, sebagai seorang aparat ia lumayan bersih. Tak pernah ada desas-desus miring menyoal dirinya dan pekerjaannya. Begitu pula dengan kehidupan keluarganya. Ia menikah dengan seorang perempuan solehah yang pandai memasak dan dikarunia tiga orang anak yang sehat. Salah satu dari anak itu adalah aku yang merupakan anak kedua dari tiga bersaudara yang kesemuanya laki-laki.

Jumat dini hari, tujuh tahun lalu, dering telepon di ruang tamu membangunkan ibu yang baru tidur sebentar setelah menunaikan tahajudnya. Malam ini, ayah akan pulang terlambat. ”Akan ada tangkapan besar-besaran,“ kata ayah di dalam telepon pada sore harinya. Ibu sudah terbiasa dengan hal-hal seperti itu. Ia memahami benar tugas yang diemban suaminya. Biasanya, jika sedang bertugas malam, ayah akan tetap menelepon untuk membangunkan ibu shalat tahajud, meskipun sebelum dibangunkan ibu sudah bangun terlebih dulu. Tapi, telepon pada Jumat dini hari itu ternyata bukan suara ayah. Seseorang menyarankan agar ibu pergi ke rumah sakit berkaitan dengan urusan keluarga. Ibu berusaha menghubungi nomor HP ayah, tapi tidak sejenak pun ayah berusaha mengangkat panggilan itu. Akhirnya, aku dan ibu pergi ke rumah sakit pada dini hari itu.

Di sebuah ruang visum yang belum boleh kami lihat, jenazah ayah sedang diperiksa oleh tim dokter. Di luar ruangan, beberapa petugas berseragam, juga wartawan yang diusir, menatap kami dengan prihatin. Ibu begitu terguncang, tergugu di pangkuanku. Aku sendiri tidak bisa menerjemahkan apa yang kurasakan saat itu. Mataku terasa begitu panas dan rasa-rasanya ingin memaki semua orang yang ada di tempat itu. Ayahku bukan korban baku hantam atau salah tembak sesama aparat, melainkan karena over dosis. Itu menurut hasil visum dokter yang untuk beberapa waktu ditutup-tutupi, tapi akhirnya terbongkar karena kegigihan ibu ingin tahu yang sebenarnya.

Bahkan, malam itu, katanya, ayah ditemukan bersama seorang perempuan dalam sebuah kamar hotel. Perempuan itu masih muda dan tewas jelas-jelas karena OD. Ibu benar-benar terpukul karena kejadian itu, begitupun aku, begitu pun kami, seluruh keluarga besar kami. Kami sebenarnya sudah mengedit sedemikian rupa untuk nenek. Tapi, entahlah firasat perempuan yang kami hormati ini terlalu sulit untuk ditaklukkan.

”Ya, mau apalagi. Sudah terjadi, Nur. Sekarang jaga baik-baik anakmu, jangan sampai ikut-ikutan tersandung hal yang tidak baik seperti bapaknya. Mestinya, dari dulu kamu percaya sama firasat ibu,“ kata nenek sambil memegang pundak ibu, sebulan setelah kepergian ayah.

Bertahun-tahun kemudian, secara tidak sengaja aku tahu apa yang dimaksud dengan ’firasat‘ oleh nenek waktu itu. Ternyata, nenek sebenarnya kurang setuju sewaktu ibu menikah dengan ayah. Tapi, kakek bersikeras meyakinkan kepada nenek bahwa calon menantunya adalah orang yang baik. Sepertinya, nenek memang memiliki firasat lain terhadap mendiang ayah, katanya, ”Rasanya kok ada yang kurang baik dalam dirinya.“ Tapi, toh pernikahan itu terjadi juga. Meski ayah kurang ramah, dan menyimpan sesuatu yang kurang baik seperti yang dikatakan nenek. Tapi, ayah sangat mencintai ibu, demikian juga dengan ibu. Ibu tahu ada sesuatu yang kurang dalam diri calon suaminya, tapi segala sesuatunya tertutup oleh kebaikan-kebaikan laki-laki itu sejak pertama kali mereka bertemu. Dan, semuanya ternyata baik-baik saja. Tentu saja, sebelum dering telepon yang membangunkan ibu pada Jumat dini hari itu.

Namun, ibu tak mau berlarut-larut dalam kesedihannya. Bahkan, ibu tak memilih agar ayah dimakamkan di pemakaman keluarga di belakang rumah nenek. Ibu pasrah saja ketika ayah dimakamkan di pemakaman umum kota. Nenek dan kerabat-kerabatku yang lainnya juga menerima begitu saja. Tak ada yang mengatakan apa-apa tentang pemakaman itu. Pada Jumat yang lainnya, bersama ibu dan Nizam aku juga berkunjung ke makam ayah. Kami membawa sabit, sapu, dan membersihkan rumput-rumput liar serta guguran daun kamboja di sekitar pusara. Kami juga melakukan hal yang sama seperti yang kami lakukan di makam keluarga. Kami duduk membuka surah Yasin dan membacanya dengan suara paling khidmat yang kami bisa. Tapi, kami tak melakukannya sesering yang kami lakukan di rumah nenek. Kata ibu, ”Doakanlah mendiang ayahmu setiap kamu punya kesempatan, dari tempat baik di manapun kamu berada.“

***

Sesuai kesediaanku Jumat lalu, sehabis shalat Jumat kali ini, aku tidak balik ke kantor lagi. Hari ini, aku hanya menulis berita ringan untuk koran harian, tempat di mana aku bekerja. Jadi, aku bisa langsung pulang setelah menyerahkan file-ku ke bagian redaksi. Di rumah, ibu hampir selesai menyiapkan opor ayam yang akan kami bawa ke rumah nenek. Aku tidak melihat Nizam sekaligus sepeda motornya. Bisa jadi, ia sudah berangkat duluan. Aku ke garasi memanaskan mesin mobil tua peninggalan ayah. Sepeninggal ayah, mobil itu jarang kami pakai. Ibu tidak menyetir. Aku dan Nizam lebih suka bepergian naik sepeda motor atau angkutan umum. Tapi, jika Jumat tiba, kami pergi ke rumah nenek dengan mengendarai mobil tua ini.

Saat aku selesai memanaskan mobil, HP-ku berdering. Paman Umar menelepon, mungkin akan menitip sesuatu atau sekadar bertanya apa kami sudah berangkat atau belum. ”Mana ibumu? Tolong berikan cepat ke ibumu, ya?“ kata Paman Umar. Aku segera memberikan HP-ku ke ibu yang rupanya sudah siap untuk berangkat.

”Belum, ini mau berangkat….“ Lalu, jeda dalam beberapa saat. ”Iya… iya… bagaimana? Ya, Allah… kapan? Kok….“ Lalu senyap, jeda lagi beberapa saat. ”Iya… iya. Innalillahi….“ Ibu terduduk begitu saja sambil masih memegangi HP itu. Aku mendekatinya dengan firasat yang tak bisa kukatakan. Ibu memelukku dan air matanya mulai jatuh. Sesuatu telah terjadi pada nenek.

”Nif, yang sabar ya… Nenekmu sudah dipanggil oleh-Nya. Padahal…“ ibu tak bisa melanjutkan kata-katanya. Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Harus kuakui, dibanding cucu-cucu lainnya aku memang tidak begitu dekat dengan nenek. Tapi, menyadari bahwa hari ini nenek meninggal sungguh melukaiku. Aku tahu, sebenarnya aku bisa saja meninggalkan pekerjaanku sebentar, sehingga masih bisa bertemu nenek pada Jumat. Setelah tiga kali Jumat berturut-turut aku tidak bertemu dengannya, ini Jumat terakhir aku akan bertemu jasadnya. Aku tahu alasan utama setiap Jumat kami semua berkumpul adalah karena nenek. Dulu, ketika kakek masih ada, kami hanya datang sekali waktu saja. aku tahu, karena neneklah hubungan keluarga kami jadi semakin akrab. Lantas sekarang, sepeninggal nenek, aku takut membayangkan Jumat-Jumat berikutnya. Apakah kami masih akan berkunjung ke sana, duduk melingkar di pemakaman keluarga, membuka surat Yasin dan membacanya dengan suara paling khidmat yang kami bisa.

”Nif, kita harus cepat ke rumah nenek,“ kata ibu menyadarkanku. (*)

Mataram, 22 Mei 2013

Penulis lahir di Banyuwangi, 10 November 1975. Menyelesaikan studi S-1 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Jurusan Ilmu Administrasi Niaga) Universitas Muhammadiyah Mataram. Cerpen dan puisinya dipublikasikan di berbagai media, seperti Sinar Harapan, Pikiran Rakyat, Bali Post, Padang Ekspres, Haluan Kepri, Metro Riau, Sumut Pos, Ekspresi, Sagang, Lampung Post, Koran Kampung, Harian Lombok, Koran Mataram, Tabloid Shootplus, Buletin Replika.

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: