Cerpen Rio Johan (Suara Merdeka, 23 Juni 2013)

 Lucas ilustrasi Putut Wahyu Widodo

AKU selalu merasa Lucas lebih dari sekadar kakakku. Lucas bahkan lebih penting daripada Papa atau Mama. Aku tidak bisa menemukan sebutan yang tepat buat Lucas, yang jelas aku selalu merasa Lucas lebih dari sekadar kakakku.

Tentu saja aku tidak sedang beromong kosong tentang Lucas. Sepanjang ingatanku yang belum genap 10 tahun, Lucas seorang diri yang senantiasa mengasuh dan mengurusiku, bukan Mama apalagi Papa. Lucas selalu ada buatku. Ketika aku mengompol tengah malam, Lucas sudi menolongku membersihkan badan dan tempat tidur kami -di rumah sempit dan kumuh kami, aku tidur sekamar dan seranjang dengan Lucas. Sesungguhnya aku malu, terlebih karena aku laki-laki dan badanku juga sudah mulai tinggi. Untungnya Lucas tidak pernah murka, bahkan ketika basah pipisku merembesi celana tidurnya. Dia cuma akan memberiku nasihat, lantas kami tidur lagi. 

Lucas juga yang senantiasa menutupi telingaku setiap kali teriakan-teriakan Papa-Mama menembusi dinding kamar. Kadang-kadang dia mengembusi ubun-ubun kepalaku, dan aku akan segera lelap, membawa harapan agar mimpiku tak membawa ompol lagi, sekalipun teriakan Papa-Mama belum juga surut.

Alih-alih membaik, situasi Papa-Mama semakin kacau. Ketika itu aku duduk di kelas lima dan Lucas sudah siswa senior di sekolah, Papa sudah lama kabur tanpa kabar dan Mama cuma sibuk mabuk dengan botol-botol birnya. Mau tidak mau, Lucas harus mengorbankan hari libur dan jam sorenya untuk kerja. Hasil kerja Lucas yang jadi penopang kebutuhan kami berdua. Pernah Lucas menyatakan niatnya berhenti sekolah dan serius kerja saja. Dia bahkan pernah bolos seminggu demi kerja ekstra. Kerjanya keras dan kasar. Ketika pulang dia selalu lelah dan berpeluh. Aku sangat kasihan pada Lucas. Pernah kukatakan aku mau membantu, tetapi Lucas menolak. Kata Lucas: ”Kamu rajin-rajin sekolah saja.” Aku menurut tapi tetap sedih karena tidak bisa membantu.

***

Setiap pagi, kalau tidak menceracau sambil mendekap botol bir, Mama pasti sudah teler di sofa. Isi rumah pun seperti tak mau kalah mawut: baju-baju Mama bersebaran di mana-mana, tumpahan birnya menyeruak bercampur dengan bau pesing badannya sendiri, dan aku pernah menyaksikan aksi Mama menenggak bir sambil mengencingi lantai. Aku malah pernah menyaksikan Mama terkapar di lantai cuma dengan celana dalamnya. Aku tidak pernah tahu dari mana Mama mendapat uang untuk botol-botol birnya yang sudah berhamburan, sebab sudah setahun lebih Mama dipecat dari pekerjaannya. Lucas pun tak pernah mau menjawab bila kutanyakan. Barangkali Mama menjual barang-barang, atau barangkali Mama memang punya duit simpanan, atau barangkali Mama diam-diam punya penghasilan sendiri. Salah satu bocah di kelasku pernah menuduhku ”anak jalang urakan” dan aku spontan meninju hidungnya sampai patah. Sesungguhnya aku kesal karena bahkan di sekolah pun aku tetap menanggung petingkahan Mama, bukan karena Mama telah dihina. Pernah Mama menyembah-nyembah kemurahan hati Lucas karena sudah kehabisan stok birnya. Kadang-kadang Lucas tak peduli dan Mama akan mengumpat macam-macam. Tapi pernah pula Lucas luluh dan Mama akan gembira menyambut bakti putranya. Lucas juga yang dengan sabar akan mengurusi Mama kalau perempuan itu sudah terkapar berantakan, membersihkan ampas kencing dan muntahannya walau sebetulnya percuma juga. Aku tidak pernah tahu dan tidak pernah bisa mengerti kenapa Lucas masih punya perhatian atau rasa kasihan pada Mama. Aku sendiri malah membayangkan Mama tersedak botol birnya dan kami pun akan hidup nyaman selama-lamanya. Barangkali ada semacam perasaan sayang di dasar hati Lucas untuk Mama yang kurasa tidak kumiliki sama sekali. Sesungguhnya aku sering merasa iri pada Mama yang tetap mendapat perhatian Lucas.

Walau bagaimanapun kamar kami tak akan pernah bisa dijamah Mama. Kamar kami tertutup buat Mama. Pintunya selalu terkunci, dan cuma aku dan Lucas yang punya kuncinya. Mama pernah menggedor-gedor pintu kamar tengah malam dan tahu-tahu saja paginya sudah terkapar di depan pintu, menghalangi kami yang mau buru-buru keluar. Untungnya Lucas tak pernah membiarkan Mama masuk kamar. Apa boleh buat, dia tidak mau tiba-tiba Mama teler di kamar dan bekas muntahan sudah berserakan di mana-mana. Setidak-tidaknya kamar kami steril dari jejak mabuk Mama, meskipun belum bisa bebas dari ompolanku.

Aku sangat menikmati saat-saatku berdua bersama Lucas. Terlebih ketika dia mendekapku, menenangkanku dengan segala kepedulian dan perhatiannya. Aku yakin Lucas mengerti diriku, barangkali dia punya insting kekakakan yang tajam. Lucas seperti selalu tahu kegelisahanku tanpa perlu kuutarakan padanya sekalipun. Dia akan mendekapku, menenangkanku, bahkan mengecup dahiku, dan gelisah apapun yang sebelumnya mengangguku akan lenyap begitu saja. Dan aku pun akan terlelap, dibuai mimpi indah yang sialannya pasti berujung pada ompol.

***

Yang kutakut-takutkan datang juga: kepergiaan Lucas. Rasanya belum lama dia jadi siswa senior dan tahu-tahu sudah hari kelulusan. Tentu saja Lucas lulus, nilai-nilainya lumayan. Aku juga naik ke kelas enam, dan beberapa tahun lagi akan jadi siswa senior-pasti aku akan sama tinggi dengan Lucas (dan semoga saja tidak diganggu ompol lagi). Aku sudah tahu suatu hari nanti Lucas akan pergi, dan aku harus menyikapi kepergiaan dengan gagah dan dewasa –begitu kata Lucas, apapun artinya- tetapi aku tetap tidak bisa menerima kepergian Lucas yang tahu-tahu sudah tinggal hitungan hari. Apa jadinya nasibku kalau Lucas meninggalkanku sendirian di rumah ini bersama Mama?

Lucas memutuskan untuk ikut militer. Dia mendaftar ujian masuk angkatan darat. Semua persyaratan sudah dia urus, dan tibalah malam terakhir sebelum dia berangkat. Kutanyakan pada Lucas, ”Kenapa tidak melanjutkan kerjamu di sini saja?”

”Kita tidak bisa terus-terusan melarat begini. Aku cuma mau hidup yang lebih baik saja. Mustahil aku mendaftar perguruan tinggi, jadi inilah satu-satunya peluangku.”

Aku nyaris menangis karena tidak tahu harus bicara apa lagi. Seperti biasa, Lucas selalu tahu kegelisahanku, dan dia pun menghiburku dengan lelucon-lelucon konyolnya. Di atas kasur sempit, kami juga bermain tarung-tarungan juga gulat-gulatan, dan Lucas selalu mengalah pada jurus-jurusku. Kami menghabiskan waktu berdua sampai malam, nyaris tengah malam. Ketika lelah, kami kembali berbaring bersamping-sampingan.

”Ada duit tabunganku kusembunyikan di bawah kasur, buat keperluan sekolah, mendadak, selama aku tidak ada,” ucapnya serius. Lucas menunjukkan posisinya: tersembunyi di bawah bagian sudut kasur yang merapat ke dinding, tepat di balik seprai yang sudah sering kuompoli. Lalu Lucas kembali menatapku serius, meyakinkanku agar tidak boros dan hati-hati, terutama Mama. ”Jangan sampai Mama tahu tentang duit itu,” kata Lucas.

***

Lucas pergi dan tinggallah aku berdua dengan Mama. Tentu saja Lucas lolos ujian masuk tentara, dan selama setahun penuh dia menjalani pelatihan di tempat yang bermil-mil jaraknya dari rumah. Sepanjang itu cuma beberapa kali Lucas pulang, dan tentu saja itulah saat-saat yang paling menyenangkan. Ketika pulang rambut gondrong Lucas sudah cepak, nyaris botak. Aku tertawa-tawa melihat rambutnya, dia tak terima, dan kami pun bergulat-gulat di kamar, persis seperti dulu lagi.

Sesuai dengan pesan Lucas, aku berhemat. Makanan sehari-hariku cuma roti gandum atau sereal jagung murahan. Kalau sedang kepingin, sesekali aku akan membeli sup krim instan, mi instan, atau pasta instan. Tabungan Lucas masih tersisa lumayan, itupun sudah dikurangi bayaran sekolah dan keperluan lainnya. Entah untuk apa sisa duit itu belum terpikirkan olehku. Sebetulnya uang tabungan Lucas cukup untuk memesan pizza tiga kali seminggu, apalagi Lucas selalu memberikan uang tambahan ketika dia pulang, tetapi aku sudah telanjur berniat berhemat-karena Lucas berpesan begitu. Belakangan aku malah mencoba-coba bekerja seperti yang dilakukan Lucas dulu, tetapi tak banyak yang mau memperkerjakan bocah kecil seumuranku -dan tak besar pula gaji yang kudapat. Aku bahkan pernah ngotot, begitu ngotot sampai mandornya kesal dan tak bisa menolak, jadi kuli angkut toko. Malam harinya badanku langsung pegal-pegal semua, padahal yang kuangkat cuma seperempat beban kuli dewasa. Aku langsung kapok jadi kuli.

Kebiasaan mabuk Mama tambah parah. Sekarang aku seorang diri yang harus menghadapi Mama, tanpa Lucas. Mama pernah terkapar di depan pintu tetangga, pagi-pagi pria pemilik rumah mengomel-omel padaku, dan mau tidak mau aku pun harus menyeret badan teler Mama. Aku juga yang harus susah-payah membersihkan bekas kencing, muntahan, atau tumpahan bir di sepanjang lantai. Termasuk juga menyediakan sarapan pagi buat Mama, sekalipun seringnya terabaikan sebab Mama lebih suka mabuk daripada makan. Tapi aku bukan Lucas yang bisa bertahun-tahun sabar mengurusi semua polah-tingkah Mama. Lama-lama aku semakin kesal, dan kubiarkan saja lantai rumah pesing karena jejak-jejak mabuknya, atau kubiarkan saja dia teler di trotoar atau halaman tetangga karena toh bakal bangun juga ketika sadar-walaupun pasti ada saja yang mengomel padaku (kukira begitulah tabiat orang-orang di daerah kumuh begini). Tentu saja tak kuceritakan semua itu ketika Lucas pulang. Dengan Lucas, aku cuma mau bersenang-senang. Sehari sebelum kepulangannya, aku akan membersihkan seluruh isi rumah, setiap sudut lantai akan kupel sampai licin, dan khusus untuk hari itu juga aku sengaja membeli pewangi ruangan mahal, meskipun, yah, pasti muncul lagi ampas mabuk Mama.

Aku juga berjuang mati-matian melawan kebiasaan ompolku, selain karena malu dan mau pamer pada Lucas ketika dia pulang, juga karena aku capai mencuci dan mengganti seprai nyaris tiap malam -aku cuma punya dua persediaan seprai. Mula-mula aku memutuskan mengurangi jatah minumku, bahkan pernah sampai taraf kritis dan kulit bibirku jadi pecah-pecah. Tapi aku tidak sanggup, apalagi karena jatah makanku hemat dan minum alternatifnya biar tidak lapar. Maka, kuakali dengan banyak-banyak minum pada siang hari tapi sedikit minum pada malam hari. Tapi hasilnya tidak terlalu ampuh juga. Maka kuperkuat rencanaku dengan banyak-banyak kencing, apalagi malam. Aku bahkan rela menunggu sejam di depan kloset cuma untuk kencing. Yang penting aku kencing sebelum tidur, bukan ketika bangun tidur. Dan, sebagai tambahan, tiap malam aku berdoa pada Tuhan agar dijauhkan dari ompolan ketika tidur. Pelan-pelan aku berhasil mengatasi kebiasaan ompolku, dan ketika Lucas pulang aku siap pamer padanya. Sialnya, aku malah mengompol ketika tidur berdua lagi bersama Lucas. Menurut Lucas itu bukan ompol dan dia pun menjelaskan sambil kegelian. Ketika kukatakan itu pengalaman pertamaku, Lucas malah terbahak-bahak dan aku pun jadi malu.

Aku senang, pada libur pertama Lucas dari pelatihan, dia langsung merangkulku dan bercanda-canda denganku. Tapi selanjutnya dia langsung bertanya tentang Mama, dan aku agak cemburu. Aku juga merasa kesal ketika Mama tiba-tiba saja muncul dan menganggu waktu berduaku bersama Lucas. Dan, demi Tuhan, kemunculan Mama tidak lain dan tidak bukan cuma untuk minta duit buat mabuk-mabukan! Sialnya Lucas juga masih seperti dulu: gampang luluh oleh Mama. Kalau sudah luluh, rela atau tidak, Mama akan langsung kegirangan meraup botol-botol bir segar. Aku cuma melongo saja. Aku tidak mau bertanya, sebab aku cuma mau bersenang-senang bersama Lucas.

Kepulangan terakhir Lucas tepat pada Hari Natal -walaupun kami tak bisa merayakan secara besar-besaran. Pada malam Natal itu juga Lucas menyatakan kalau dia akan ditempatkan di daerah perang. ”Di Timur Tengah,” katanya. ”Gajinya lumayan besar.” Lalu Lucas menambahkan kalau sewaktu pulang, dengan gajinya yang lumayan besar itu, dia akan langsung memboyongku pergi dari rumah sial ini. Kalau perlu, dia juga akan membiayai rehabilitasi Mama. Lalu Lucas bicara panjang tentang kompensasi, tentang kemampuan menembaknya yang dipuji-puji (beberapa kali pelurunya yang jitu menancap nyaris pada pusat papan sasaran), lalu peluru-peluru (aku malah membayangkan bunyi desingnya yang saling beradu, mengerikan), lalu asuransi jiwa dan jaminan keluarga. Astaga!

”Sepulangnya nanti, kita malah bisa buka usaha kecil-kecilan. Toko, mungkin,” kata Lucas. Tapi aku sudah tidak sudi mendengar lagi.

***

Berita itu datang dalam surat bersama mabuk Mama. Aku nyaris tidak percaya –atau bodohnya aku yang nyaris tidak percaya bahkan Mama membaca surat yang dibawa seorang lelaki berseragam itu dalam keadaan mabuk. Mama membaca berita kematian putranya sendiri sambil mabuk! Kalau aku harus adil, tentu bukan sepenuhnya salah Mama yang memang masih mabuk ketika membuka ketukan pintu, tetapi aku tetap saja tidak bisa terima.

Seharian aku mengurung diri di kamar –apalagi yang bisa kulakukan? Mulanya, dengan segala keputusasaan aku mengendusi jejak-jejak Lucas di kasur. Ingatan tentang Lucas pun segera saja berkelebatan. Terbayang pula desing-desing peluru, atau granat, atau ranjau, atau apalah yang berkemungkinan telah merobek nyawa Lucas. Tapi itu semua malah membuatku semakin murung, padahal tanpa semua itu pun keadaanku sudah teramat murung. Aku tidak menangis, sungguh! Tapi aku tidak juga mampu menahan bayangan-bayangan Lucas yang tiba-tiba menjajahi kamar. Aku tidak menangis, tetapi aku juga tidak bisa terima situasi ini.

Malam itu aku tidak mengompol, sebab semalam suntuk aku tidak tidur. Dari balik dinding terdengar raungan-raungan Mama, entah serupa apa lagi petingkahanya –mabuk pasti salah satunya.

Kupikir-pikir lagi, setelah berhari-hari tetap tidak mampu menerima kematian Lucas, petingkahan Mama yang semakin terlihat memuakkan bagiku. Sebetulnya tak ada perubahan yang berarti, tingkah Mama tetap sama. Tapi ada kemuakan yang muncul lebih dari biasanya. Aku juga menyimpulkan bahwa Mama salah satu penyebab Lucas jadi tentara, dan dengan begitu dikirim ke medan perang sialan, lantas tewas. Andai petingkahan Mama sehat dan wajar, sebagaimana mama-mama normal lainnya, pastilah kehidupan kami tak akan seperti ini -barangkali tidak makmur, tetapi setidaknya tidak sekacau ini. Andai begitu, Lucas tak akan merasa punya tanggung jawab amat besar pada kami -aku dan Mama dan lantas jadi tentara. Semakin hari aku melihat petingkahan Mama, semakin aku meyakini kesimpulanku itu benar adanya.

Tapi apa yang bisa kuperbuat? Pertanyaan itu yang justru malah mengganjali kepalaku. Aku pernah membabat muka bocah yang dulu menuduhku ”anak jalang urakan” sampai babak belur. Bocah itu tidak salah, kali ini dia tidak mengejekku, aku cuma ingin meninjunya sebab dia mengingatkanku pada petingkahan Mama. Hasilnya aku diomeli habis-habisan oleh guru. Tapi tak apalah, aku agak puas walau masih membara-bara. Aku juga pernah membanting-banting botol-botol bir Mama, baik yang sudah kosong maupun yang masih penuh. Pada akhirnya, aku pulalah yang harus membersihkan semua pecahan beling dari lantai rumah. Yang paling parah: aku pernah mengisi salah satu botol bir Mama dengan air kencingku sampai separuh penuh, lalu botol itu kubiarkan begitu saja di dekat bak cuci piring. Tak lama setelah itu kusaksikan Mama menenggak bir, entah bir betulan atau bir kencingku aku tak tahu (warna kuningnya nyaris sama!). Aku berharap itu botol bir yang isinya kencingku. Aku mendapatkan kepuasan melalui aksi-aksiku itu, tetapi bukan kepuasan yang tuntas, sebab Mama tetap saja mabuk, dan aku akan merasa muak lagi-begitu saja berulang-ulang.

***

Aku terlambat tahu bahwa Mama ternyata telah mengelabui petugas asuransi. Tentu saja asuransi yang kumaksud asuransi yang mengurusi Lucas -kematian Lucas! Pantas saja sejak kematian Lucas Mama selalu lancar mendapatkan botol-botol birnya.

Mama telah mendatangi kantor asuransi itu tanpa sepengetahuanku. Aku tidak tahu persisnya bagaimana proses pengurusan atau pengambilan asuransi, tetapi bagaimana mungkin para petugasnya bisa segampang itu menyerahkan duit asuransi -kompensasi kematian Lucas!- pada Mama. Maksudku, tidakkah mereka mempertimbangkan petingkahan-petingkahan Mama? Kuduga Mama telah menyamar, atau tepatnya sedikit bersandiwara, dengan bedak dan gincunya untuk mengelabui para petugas asuransi. Dan kalau-kalau ketahuan, Mama bisa saja berkilah, misalnya:

”Saya memang beberapa kali minum belakangan ini. Maklumlah, apa lagi yang bisa saya lakukan? Bukankah wajar membendung sedih dengan minum?” Dan terkecohlah para petugas yang pastilah kurang peka dan sensitif (bagaimana mungkin mereka tidak bisa membedakan ”mabuk sedih” dan ”mabuk pemabuk”).

Apapun trik Mama, rasa muakku sudah memuncak, nyaris meledak, membayangkan Mama telah seenaknya memanfaatkan kematian Lucas untuk mabuk-mabukan. Bukan cuma telah membunuh, Mama telah menarik keuntungan dari pembunuhan putranya sendiri. Tidakkah itu biadab?

Aku juga teringat pada uang tabungan Lucas yang masih lumayan banyak. Bukan tidak mungkin kelak Mama bakal menemukan dan menuntut uang itu, padahal Lucas telah mempercayakannya padaku.

Dari luar kamar kudengar suara botol-botol berdenting ramai, bercampur dengan langkah terseret-seret. Pelan-pelan aku keluar kamar dan bunyi-bunyi itu makin terdengar jelas di telingaku. Di atas sofa kulihat Mama menenggak sebotol bir, di dekatnya ada sekantung penuh botol-botol bir. Kantung plastiknya masih segar dan baru. Spontan tanganku menyambar sebilah pisau dari dapur. (62)

 

 

Surakarta, 11-3-2013

Rio Johan, mahasiswa penyuka sastra dan film, dan aktif di Komunitas Pawon, SurakaIta

Advertisements