Lelaki Peniup Seruling


Cerpen S Prasetyo Utomo (Republika, 23 Juni 2013)

Lelaki Peniup Seruling ilustrasi Rendra Purnama

SEORANG lelaki setengah baya meniup seruling di atas batu besar, di bawah pohon rindang, sambil mencelupkan kakinya, direndam bening air sungai. Suara seruling itu meluruhkan angin yang memendam panas siang hari, membawa harum bau jerami dan lumpur sawah usai dibajak. Suara seruling itu seperti mengisahkan perjalanan seorang pengelana yang mencapai puncak perenungannya dan menemukan ketentraman hati.

Di belakang peniup seruling itu ada sebuah surau tua, tak terawat. Jauh lebih ke dalam lagi, rumah-rumah petani berpencar dan sunyi. 

Lelaki setengah baya peniup seruling itu masih duduk di atas batu besar. Batang kailnya disandarkan pada pohon. Dia terus meniup seruling dengan mata terpejam. Sukro melihat lelaki peniup seruling itu menyelesaikan lagunya dan membuka mata. Tersenyum ramah. Belum pernah ia melihat seorang lelaki yang tersenyum sedemikian teduh padanya. Orang cenderung mengusir atau memandanginya dengan jijik.

”Mari, kita bakar kedua ikan ini. Kita makan bersama.“

Lelaki peniup seruling memperlihatkan ikannya. Seekor ikan diikat dengan ilalang pada bagian kepalanya, dan ikan yang seekor lagi ditusuk gagang ilalang itu melalui katup insangnya menembus mulut.

Belum pernah Sukro mendapat perlakuan yang ramah dari orang kampung. Kini ditemukannya seorang lelaki peniup seruling yang ramah dan penuh kelembutan.

Sukro memandangi wajah lelaki peniup seruling yang teduh, penuh kasih. Ia tak pernah menemui wajah seteduh itu. Ia tak pernah melihat wajah ayahnya sejak lahir. Ia selalu mendengar cerita Ibu  yang tak masuk akal mengenai ayahnya. Suatu malam, dalam tidur, ibunya dibawa gendruwo ke dangau tengah sawah. Pingsan. Pagi harinya orang-orang menemukannya.  Di kemudian hari keluarga dan orang-orang desa mengucilkan ibunya lantaran hamil. Diusir dari rumah. Tinggal di gubuk kecil dekat ladang. Semenjak kecil, Sukro tinggal bersama ibunya, jauh dari anak-anak sebaya di desa, yang suka mengejek dan melempari batu.

Berhadapan dengan peniup seruling, Sukro seperti berhadapan dengan telaga yang bening. Ia ingin mencebur ke dalamnya. Ia ingin membersihkan dirinya yang kotor, ingin membasahi jiwanya yang gersang. Tapi ia baru bertemu dengan lelaki peniup seruling itu sekali ini, yang menyebabkannya menahan diri, bimbang.

Dahan dan ranting kayu yang menyala, bergemeretak dihembus angin. Aroma ikan bakar di atas gemeretak api pada siang yang lapar, membangkitkan air liur dalam mulut Sukro. Belum pernah ia merasa berselera makan seperti ini.

Lelaki peniup seruling membuka bekalnya, segumpal nasi dibungkus daun pisang dan sambal terasi. Sukro turut makan bersamanya.

***

Terdiam di dangau, terbiasa lamban, melamun, Sukro—yang tubuhnya tak terurus—masih merasakan kehadiran lelaki peniup seruling di hadapannya. Ia termenung. Mendengar suara azan. Memasuki ashar. Lambat-lambat ia ke surau tua. Ingin mengulang kembali ketenangan bersama lelaki peniup seruling. Ingin dia bertanya pada lelaki peniup seruling itu, ”Benarkah saya lahir dari seorang ibu yang ditiduri gendruwo?”

Dengan berat, Sukro bangkit dari surau, membawa batang kailnya ke rumah. Ia melihat ibunya mencangkul di ladang. Diletakkannya gagang kail, diambilnya cangkul. Ditemaninya perempuan itu mencangkul. Ini pertama kali ia mau melakukannya. Tangannya kaku. Masih berat. Lambat. Lecet telapak tangannya. Nafasnya memburu.

Ibu memandangi Sukro dengan heran. Bagaimana mungkin, pikirnya, seseorang yang selalu berdiam diri, tanpa hasrat, tanpa kemauan, dengan tubuh dan rambut tak terurus, kini mendadak mau bekerja? Ia melihat anak lelakinya terus mencangkul, dan sesekali bergumam, tak jelas benar.

Ketika Sukro pulang dari mencari kayu bakar, Ibu melihat mata suram anak lelakinya mulai bercahaya. Sukro yang selama ini menelantarkan dirinya, mau mandi ke sendang, menyisir rambut dan berganti pakaian. Menyalakan lampu di kamarnya, Sukro tak lagi tidur di kolong amben, seperti malam-malam sebelumnya. Ibu melihat Sukro membaca di bawah lampu minyak. Mengaji? Aneh.

***

Suara seruling dari tepian sungai itu menggugah kembali tenaga Sukro, yang lelah sepulang mengayuh sepeda dari pasar, menjual buah kelapa. Rambutnya yang tak terurus sudah dipangkas rapi. Ia seperti menemukan kegairahan yang lenyap, menemukan diri setelah terkucil, terasing bertahun-tahun. Ia membawa batang kail dengan langkah-langkah yang ringan. Menyusuri pematang sawah, tiba di tanggul sungai. Melihat lelaki peniup seruling bersandar pada batang batang pohon, dengan mata terpejam. Suara seruling itu, di telinga Sukro menyerap kesedihannya yang berlapis-lapis dalam hatinya.

Sukro menunggu mata terpejam lelaki peniup seruling itu terbuka, menampakkan kebeningan telaga. Ingin dilenyapkannya pandangan mata orang-orang yang menikam-nikamnya dengan kebencian, jijik, seolah dirinya segumpal daging busuk, anyir, berbelatung, yang mesti disingkiri.

Ketika mata lelaki peniup seruling itu terbuka, teduh, dan bibirnya mengembangkan senyum, Sukro seperti luruh. Kegeramannya pada orang-orang, kemurkaannya, padam dan mereda.

Sukro menguntit lelaki peniup seruling itu ke surau, shalat dan berzikir. Merasakan kesegaran air wudlu sampai ke dangau, saat mereka membakar ikan, membuka bekal dan makan bersama.

”Apa mungkin seseorang lahir dari Ibu yang disetubuhi gendruwo?“ tanya Sukro, melompat lepas usai makan. ”Ibu selalu cerita, ia dulu ditiduri gendruwo, dan lahirnya saya.“

”Tak ada seseorang yang lahir dari ayah gendruwo atau dhemit,“ balas lelaki peniup seruling, hati-hati.

Terpana, Sukro merasakan kesedihan yang gelap itu memperoleh cahaya dari sepasang mata lelaki peniup seruling.

”Orang-orang menganggap saya anak gendruwo, karena tak berayah sejak lahir.“

Menepuk-nepuk bahu Sukro, pelan, lembut, lelaki peniup seruling itu menukas, juga pelan dan lembut, ”Anggap aku sebagai ayahmu. Datanglah ke surauku. Aku menantimu.“

***

Cahaya obor di tangan Sukro, bau minyak tanah dan asap yang pekat, mengikuti langkahnya di gang sempit yang rimbun. Tercium pula bau tai kerbau yang tercecer di sepanjang jalan, lembab tanah, dan sisa asap dapur dari tungku kayu.

Sukro melewati jalan berumput di antara sawah yang dijelajahi kunang-kunang gemerlapan dan sunyi kabut tipis. Ia meninggalkan desanya, mendekati dusun lelaki peniup seruling. Tak ada kebimbangan sama sekali pada langkah kakinya. Dia merasakan kebimbangan ketika memasuki dusun yang hanya dihuni beberapa rumah, di antara sawah yang baru dibajak. Sukro merasa yakin, surau kecil di depannya itu milik lelaki peniup seruling.

Tapi, aneh, mengapa di surau itu, dari jauh tampak sesosok mayat tersungkup kain, dan para santri membaca tahlil di sekelilingnya? Sukro tersekap kebimbangan. Tubuhnya gemetar. Tak berani mendekat. Lelaki bersarung dan perempuan berkerudung—para pelayat—berdatangan ke surau dan duduk di pelataran rumah di samping surau.

Seorang gadis berkerudung datang dari kesibukan para pelayat, menghampiri Sukro, memintanya masuk ke surau. Tapi, Sukro malah bergegas pergi.

***

Tiap menjelang malam, Sukro membawa obor, mendekati surau yang diyakininya milik lelaki peniup seruling. Berdiri di gelap pelataran, memandangi orang-orang yang mengaji. Tak dilihatnya lelaki peniup seruling di antara orang-orang yang mengaji. Ia tak pernah berani mendekat, memasuki surau, dan bertanya, di manakah lelaki peniup seruling berada?

Lama berdiri, mendengarkan orang-orang mengaji, Sukro menangkap semua yang diajarkan kiai muda di tengah-tengah surau. Di rumah, hingga tengah malam, ia akan mengulang membacanya sendiri.

Seorang gadis berkerudung yang lama memandangi Sukro dari jendela rumah samping surau, mendekat ragu-ragu. Di tangannya tergenggam seruling.

”Kamu Sukro, ya?” suara gadis berkerudung lembut, sangat menyentuh hati. ”Sebelum Ayah meninggal, ia menitipkan seruling ini untukmu. Ayah juga berpesan agar menerimamu di surau ini.”

Takjub dan malu, Sukro tak berani memandangi perangai gadis berkerudung itu.

***

Suara seruling itu kini selalu terdengar dari rumah Sukro. Orang-orang dusun selalu melihat Sukro tiap pagi mengayuh sepeda ke pasar. Menjelang siang ia mencangkul di sawah dan ladang. Sore hari lelaki itu mencari kayu bakar di hutan. Menjelang malam ia membawa obor meninggalkan dusun. Didatanginya surau kecil di dusun tetangga. Tengah malam ia mengaji di rumahnya sendiri.

Usai mengaji, ia meniup seruling. Lewat tengah malam terdengar suara seruling mengapung, mengisahkan pengembaraan seseorang mencari ketentraman hati.

***

Pandana Merdeka, Mei 2013

Penulis lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, IKIP Semarang (Unnes) 1987. Menyelesaikan program pascasarjana Magister Manajemen Pendidikan di Universitas Muhammadiyah Surakarta (2010). Menempuh program doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes. Bekerja sebagai dosen di IKIP PGRI Semarang. Semenjak 1983, ia menulis cerpen, esai sastra, puisi, novel, dan artikel di beberapa media massa.

One Response

  1. dongeng sebelum tidur.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: