Cerpen Jean Genet (Koran Tempo, 23 Juni 2013)

Lapar ilustrasi Yuyun Nurrachman
Lapar ilustrasi Yuyun Nurrachman/Koran Tempo

TELAH lama ia menderita karena lapar dan siksaan dingin di sebuah kamar sempit yang tunggakan sewanya belum terlunasi. Satu malam ia tak tahan lagi. Kelaparan menggerakkannya. Dirasanya pedih itu di lambungnya— sesuatu yang terus meremas-remas alat pencernaannya. Rasa masam naik dari lambungnya ke mulut, lenyap, menelanjangi diri sebagai sebuah hasrat. Ia berbalik di ranjangnya dan memikirkan Paulo yang telah memberinya dasi berbahan lembut yang digantungkannya pada sebuah paku di dinding. Persahabatan tak mencegahnya berpikir untuk menjual gombal sutra usang itu demi mendapatkan uang sekadar pembeli roti. Kepada siapa ia bisa menjualnya? Itu cendera mata, tapi Paulo akan mengerti jika dasinya digunakan untuk mengenyahkan kelaparan seorang kawan.

“Jika kakiku terluka, ia tak akan keberatan aku menghentikan perdarahan dengan dasinya biarpun dasi itu akan rusak karenanya.”

Satu pertanda muncul di tubuhnya, sesuatu serasa jika sesosok tangan lembut melipat ususnya. Ia bangkit. Kamar itu mungil, sekejap saja ia telah sampai di pintu dan beranjak ke luar. Dengan sedikit gerakan yang dibuatnya untuk menuruni tangga, terlupakanlah rasa laparnya. Namun, begitu ia sampai di tepi jalan, bimbang hendak berbelok ke kiri atau kanan, rasa lapar itu kembali mengentaknya dengan kecepatan seekor kuda yang berpacu. Ia merasa seakan terempas ke bumi diterkam seekor binatang perkasa yang telah menaklukkannya hingga akhir masa. Ia berbelok ke kanan. Jalanan itu tampak muram. Pepohonan seakan hidup dengan keriangan yang mengerikan. Ia harus menggantungkan diri pada keajaiban. Di pelataran sebuah rumah, di kisi sebuah jendela—itu kamar si penjaga rumah—ia melihat seekor kucing.

Riton berhenti dan, tanpa membelainya, merengkuh binatang itu. Si kucing diam dalam pelukannya. Rasa senang memberi Riton sepasang sayap yang mempercepat langkahnya, ditingkahi harapan dan perut yang seolah telah kenyang. Kucing jantan itu besar dan gemuk. Membantai ia pasti akan sangat sengit.

Mula-mula Riton mencoba membunuhnya dengan palu.

Merasa ganjil karena ia sebagai pembunuh merasa tak terlalu bersalah saat pukulannya meleset dan upaya sia-sia berikutnya untuk membunuh binatang itu membuatnya merasa sebagai pesakitan, ia melemparkan palu itu. Hanya kulit si kucing yang tersentuh lemparan palu. Binatang itu bersembunyi di kolong ranjang. Namun, sempitnya kamar itu membuat Riton dapat segera menangkapnya. Tertawan, binatang itu mencoba mencakarnya. Kucing itu melawan. Riton membalut tangan kirinya dengan handuk dan mencengkeram buntut si kucing. Tangan kanannya menggaplok kepala si kucing dengan palu, tapi meleset. Kucing itu hanya terkena punggung palu dan menyerang balik dengan gerakan seekor ular terdesak. Binatang itu mengeong marah. Dirasanya maut telah dekat. Makhluk itu tahu kematian tak terhindarkan lagi. Riton kembali menyerang. Tapi luput. Palu itu membentur udara kosong. Ia menyerang lagi. Tapi lagi-lagi gagal.

“Jahanam!”

Adegan menjadi sunyi dari awal hingga akhir. Riton berjuang dalam sunyi melawan kesunyian itu sendiri, orang-orang dengan kejahatan kanak-kanak dan pikiran putus asa, serta ketakutan si kucing—yang baginya menjelma musuh karena kebandelan untuk tetap hidup terlepas dari segala kesakitan yang dialaminya, karena keterampilan tubuhnya menghindari hantaman, karena kulit pelindungnya yang lembut dan sekaligus menyentuh hati Riton. Hatinya dilimpahi lautan melankoli, yang bunyi gelombangnya memekakkan telinga Riton.

Sesungguhnya ia ingin membelai lembut kucing besar berbulu kelabu itu. Bisa dibayangkannya seorang bocah memanggul kucing itu, si kucing memanjat bahunya, dan di situ ia duduk muram dekat wajah si bocah, mengeong senang.

Bersamaan dengan munculnya gagasan membunuh kucing itu dengan palu, tebersit pula gagasan mencekiknya yang kini kian pasti. Namun Riton tak mau meninggalkan ia demi mencari seutas tali. Ia membuka pasak sabuknya, melepaskannya dari lubang sabuk celananya, dan dengan satu tangan membuat jerat dari sabuk itu. Si kucing menunggu dengan hening.

Dengan kaki menjejak kepala mungil itu, Riton menarik ujung sabuknya, tapi ia tak mencekik binatang itu, yang masih segar-bugar seperti sedia kala. Riton terombang-ambing dalam kelembutan yang mematahhatikan serupa mimpi. Ia memasang sabuk itu di sebuah paku yang terpasang di dinding dan menggantung si kucing. Kucing itu berupaya membebaskan diri, mencakar dinding, mencoba memanjat naik. Sekonyong-konyong tubuh Riton menggigil gemetar saat selintas pikiran menyergapnya bahwa para tetangganya mengintip di balik pintu, menguping upaya pembunuhan itu dari balik dinding. Bukan karena mereka mendengar pekikan, erangan, rintihan si korban, melainkan karena tindakan pembunuhan itu sendiri telah memenuhi ruangan dengan kelembutan yang menembus dinding lebih dahsyat daripada sinar roentgen.

Lalu, Riton menyadari keganjilan pikirannya dan ia melanjutkan menyerang korbannya bersenjatakan palu dengan satu tangan, sementara tangan yang lain memegangi celananya yang melorot. Kucing itu makin beringas akibat tersudut oleh bahaya, kesakitan, dan rasa takut. Masih tak ada darah tumpah, tapi Riton telah letih. Lalu ia dirasuki rasa takut bahwa binatang ini sesungguhnya sesosok setan yang berubah wujud menjadi kucing agar dapat merasuki jiwa manusia dengan lebih mudah.

“Jika dia setan, mampuslah aku!”

Ia menimbang untuk menurunkan si kucing, tapi ia takut bahwa setan itu—yang bisa berdiri dengan dua kaki—akan merobek perutnya dengan sekali sabetan tongkat trisulanya. Kisah-kisah yang didengarnya bercerita betapa tiga tetes air suci yang dikibaskan pada seekor kucing jejadian cukup untuk mengembalikan wujud setannya ke dalam bentuk serupa manusia. Tak ada air suci di kamar itu, atau ranting kayu salib, atau bahkan lukisan komuni pertama. Bagaimana jika ia membuat tanda salib?

Setan itu masih terus menggantung. Saat berubah wujud serupa manusia mungkin dia akan tetap seukuran kucing. Apa yang bisa dilakukannya dengan mayat setan seukuran kucing?

Riton tak berani bergerak sebab takut secara tak sengaja membuat tanda salib ke arah si kucing setan. Letih, kuyup peluh, pucat pasi, saat ia akhirnya melepaskan ikatan kucing itu dan memasukkannya ke dalam kantong terpal yang lalu ditutupnya, ia menghantamkan palu sekuat-kuatnya pada makhluk misterius yang mengerikan dan terus merintih itu. Si kucing masih hidup.

Saat Riton yakin kepala mungil itu telah remuk, ia mengeluarkan binatang itu yang ternyata masih menggeliat-geliat sekarat. Akhirnya, ia memancangkan jasad itu pada paku di dinding dan mengulitinya. Pekerjaan itu memakan waktu lama.

Rasa lapar, yang sempat lenyap tiba-tiba, kini mendadak kembali ke perut Riton. Kucing itu masih hangat, meruapkan asap, saat ia memotong kedua pahanya dan merebusnya di dalam panci. Duduk berhadapan dengan onggokan sisa tubuh binatang itu, dengan kulit serupa sarung tangan berlumur darah, Riton melahap potongan daging yang nyaris masih mentah, terasa hambar, sebab ia tak punya garam.

Sejak hari itu, Riton menyadari kehadiran seekor kucing menandai tubuhnya—tepatnya, perutnya, serupa bordiran lukisan binatang dalam brokat emas pada gaun kaum perempuan di masa silam. Entah sebab kucing itu memang sedang sakit atau terjangkit mala selama penyiksaannya—dan juga murka—atau dagingnya belum cukup dingin, atau perkelahian mereka meletihkannya, malam itu Riton merasa kesakitan dari ujung kepala hingga kaki. Ia yakin tubuhnya telah keracunan dan ia mencoba berdoa khusyuk untuk kucing itu.

Esoknya Riton mendaftar masuk milisi. Betapa menyenangkan bagiku mengetahui ia telah menandai daging terdalam inti tubuhnya dengan cap kemuliaan yang diperoleh dari rasa lapar. (*)

 

Jean Genet (1910-1986) adalah penulis Prancis. Cerita di atas diindonesiakan oleh Anton Kurnia dari versi Inggris William Barrett.

 

Advertisements