Antara Menteng-Semanggi


Cerpen Marselli Sumarno (Kompas, 16 Juni 2013)

Antara Menteng-Semanggi ilustrasi Yudi Sulistyo

ORANG yang berjalan kaki nampak miskin. Apalagi kalau melangkah di jalanan kota besar macam Jakarta ini. Hebatnya pikiran demikian tidak pernah hinggap di kepala lelaki berusia 80-an tahun itu, yang kini sedang berjalan santai di Jalan Teuku Umar, Menteng.

Namanya Srikaton, yang dalam bahasa Jawa berarti ”terlihat berseri-seri”. Ia cukup kurus kering, tinggi semampai, rambut terpotong pendek, mengenakan rompi warna hijau tentara dan di pundaknya tergantung tas kain yang sudah lusuh. 

Sedari kecil Srikaton memang terbiasa berjalan kaki. Mula-mula karena terpaksa karena harus berjalan sekitar 8 kilometer pergi pulang ke sekolah dasar dari desanya nun di lereng Gunung Merapi. Ia bisa belajar di sekolah lanjutan dengan ikut keluarga pamannya di kota Yogya dan rutinitas jalan kaki tetap menyertainya. Sekolah belum tamat dan ia terbawa oleh arus pusaran perang kemerdekaan di tahun 40-an. Ia ikut bergerilya melawan penjajah Belanda, penjajah Jepang, dan menggelandang dari satu kota ke kota lain bersama pasukan kecilnya.

Indonesia pun merdeka. Srikaton menikahi Arsih, seorang gadis sederhana dari sebuah desa dekat candi Prambanan yang pernah dilalui kawanan Srikaton. Waktu itu Srikaton tersenyum kepada Arsih yang berdiri di balik pagar pekarangan rumahnya. Arsih menyaksikan para pejuang melintas yang nampak kurus-kurus, sebagian besar kumal, namun bersemangat. Arsih membalas senyuman Srikaton. Panah asmara langsung melesat ke titik sasaran. Di zaman kemerdekaan mereka kawin dan hidup bersahaja di pinggiran Jakarta. Arsih berjualan mie ayam di sebuah sekolah dasar dan Srikaton berjualan es dawet. Mereka mampu menyekolahkan kedua anak mereka yang kini sama-sama telah hidup mandiri bersama keluarga masing-masing.

Kebanggaan terbesar Srikaton adalah anugerah bintang gerilya dari pemerintah. Setiap bulan ia mampir ke gedung Veteran di bilangan jembatan Semanggi untuk mengambil uang santunan sebesar beberapa lembar puluhan ribu rupiah, dan bintang gerilya mungil warna keemasan itu pasti sudah tersemat di baju rompinya. Alangkah gagahnya, ia merasa. Di atas itu semua, ia sungguh merasakan nikmat sehat dengan banyak berjalan kaki. Sementara satu per satu temannya berguguran karena dimakan usia lanjut atau karena bermacam penyakit. Sahabatnya yang lebih muda bernama Martin, seorang sastrawan yang juga gemar berjalan kaki, pernah berpesan: ”Ssst… dengan berjalan kaki, imajinasi akan lebih berkeliaran.”

Imajinasi menjadi liar? Srikaton usai menghadiri acara reuni para veteran di kediaman Jenderal Purnawirawan Suhardo di bilangan Menteng. Rekan yang satu ini memang serba beruntung dalam soal kepangkatan militer, rezeki serta jabatan. Seingat Srikaton, di zaman bergerilya dulu Suhardo gemar menembaki binatang seperti burung, monyet, ayam, semata-mata hanya untuk melepaskan keisengannya. Dan di usia tuanya Suhardo terkena stroke, sehingga badannya mati sebelah. Di pesta reuni ia mondar-mandir di rumahnya yang luas dengan kursi roda listrik. Ia pun membagi-bagikan amplop berisi duit kepada rekan-rekan seperjuangan, termasuk Srikaton yang tak kuasa menolak pemberian itu. Namun ketika ia mulai menyuguhkan atraksi sabung ayam jago, Srikaton diam-diam berpamitan kepada tuan rumah.

”Dasar jenderal bajingkrek…,” gerutu Srikaton dalam hati. Ia berhenti melangkah untuk meneguk air dari botol plastiknya di dalam tas. Setelah minum ia baru menyadari telah berada di depan rumah AH Nasution, jenderal yang luput dari tragedi nasional 1965 yang disebut-sebut sebagai Pengkhianatan G30S/PKI. Apa yang sebenarnya terjadi? Tengkuk Srikaton merinding, teringat laporan khusus majalah Tempo tentang pengakuan para algojo 1965. Ya Allah, sungguh mengerikan! Sebelumnya sudah terbetik berita pula bahwa Presiden SBY akan menyampaikan permintaan maaf pemerintah kepada para korban. Tetapi kapan?

Barangkali Presiden SBY masih sangat disibukkan dengan urusan-urusan besar lain, pikir Srikaton. Ia menghirup nafas panjang setelah tiba di taman Suropati yang rindang. Mudah-mudahan saya masih kuat berjalan sampai ke gedung Veteran, batinnya. Jakarta mestinya semakin banyak ditanami pohon. Srikaton ingat, di akhir 2011 Jakarta dilanda angin besar. Banyak pohon roboh, termasuk pohon yang ditanam Presiden SBY di istana. Diberitakan oleh siaran televisi, staf istana segera menegakkan kembali pohon tersebut. Presiden SBY juga menanam ”pohon” lain, yaitu Partai Demokrat yang belakangan diguncang oleh kader-kader partainya yang terlibat dalam perkara tindak korupsi. Akankah ”pohon” istimewa tanaman Presiden SBY ini juga akan roboh?

Di sudut taman Suropati, Srikaton sekilas melihat patung Pangeran Diponegoro naik kuda. Ia lalu berbelok ke kanan ke Jalan Imam Bonjol. Patung itu menampakkan sang pangeran seperti hendak tergelincir dari kudanya. Kenyataannya, sang Pangeran tergelincir oleh tipu daya penjajah Belanda di abad ke-19, kemudian dibuang ke Manado dan akhirnya dipenjarakan di benteng Rotterdam di Makassar hingga akhir hayatnya. Srikaton bersama beberapa teman, atas biaya teman veteran juga yang jadi pengusaha sukses di Makassar, sempat menjenguk makam sang Pangeran bersama sejumlah pengikutnya. Makam tersusun secara berdesakan dalam satu kompleks kecil dan telah terkepung oleh pertokoan di pusat kota. Beginikah cara bangsa besar ini menghormati pahlawannya?

Jalan Imam Bonjol juga rindang, namun lalulintasnya ramai dan membuat Srikaton agak bergegas. Ia melewati museum Perumusan Naskah Proklamasi yang dari dulu tampak sepi pengunjung. Di seberang jalan, terlihat markas Partai Hanura. Setahu Srikaton, partai yang ingin menyuarakan hati nurani rakyat itu dikomandani oleh Jenderal Purnawirawan Wiranto. Kabarnya Wiranto akan maju lagi dalam pencalonan presiden dalam pemilihan umum 2014. Dan oh, karena mempercepat langkahnya, Srikaton menjadi terengah-engah dan berhenti di depan gedung Komisi Pemilihan Umum. Ia bersandar pada sisi dinding pagar gedung, berusaha menenangkan diri dan meneguk lagi air minumnya. Ups, tak terasa tahun 2014 sudah dekat. Pemilu mendatang yang akan diikuti belasan partai politik ini diramalkan bakal seru. Semoga tidak mengakibatkan jatuhnya korban-korban, begitu doa Srikaton dalam hati. Ia kembali melangkah dengan lebih pelan-pelan.

Pekerjaan rumah terberat bagi Indonesia kini adalah mencari pemimpinnya, pikir Srikaton. Negeri indah ini begitu luas, begitu beragam masyarakatnya, demikian pula begitu bermacam persoalannya. Maka dibutuhkan seorang pemimpin yang handal, yang bukan asal presiden. Apakah sosok itu harus dari kalangan militer? Harus didukung oleh koalisi besar partai politik? Ataukah harus datang dari politisi dengan latar belakang pengusaha besar dengan segala kepentingan bisnisnya? Kepala Srikaton menggeleng-geleng atas kicauan pertanyaan di benaknya. Ia jadi kurang waspada dan sewaktu hendak menyeberang ke arah hotel Mandarin, ia hampir terserempet sepeda motor yang berlari kencang. Bajingkrek, ia berdesis lirih.

Langkah Srikaton mengarah ke bundaran Hotel Indonesia. Pandangan mata Srikaton terus tertuju ke bundaran Hotel Indonesia, hasil rancangan presiden pertama negeri ini, Soekarno.

Alhamdulillah, Srikaton bersyukur, pemerintah telah menetapkan dwitunggal proklamator Soekarno-Hatta sebagai pahlawan nasional. Sayangnya, upacara penganugerahan gelar pahlawan nasional tersebut sangat sederhana bagi bapak-bapak pendiri bangsa. Sebab bagi Srikaton, Soekarno adalah idolanya. Ia mengoleksi rekaman pidato Soekarno dan bagian yang paling berkesan baginya adalah petikan pidato yang kira-kira berbunyi: Lebih baik kita berbeda-beda dalam pemikiran, tapi satu kepentingan yaitu demi Indonesia merdeka. Daripada kita sama dalam pemikiran, namun berbeda-beda kepentingannya.

Perjalanan ke Semanggi baru setengah jalan. Srikaton mulai melangkah menuju jembatan Dukuh Atas. Di siang ini tampak kendaraan bermotor padat merayap. Srikaton merasakan lagi kekurangnyamanan di bagian pernafasannya dan astaga, terlihat beberapa anak pelajar dikejar-kejar oleh sekelompok pelajar lain yang lebih banyak. Lalulintas menjadi macet. Srikaton segera menjauh. Bagusnya, banyak orang cepat melerai anak-anak yang kesetanan tersebut. Oh, anak-anak muda yang perlu penyaluran agresivitas mereka! Srikaton ingat obrolannya dengan kenalannya seorang pastor. Katanya, di negeri-negeri Kristen-Katolik ada tradisi membangun sikap disiplin, kerjasama dan termasuk menyalurkan agresivitas manusia lewat permainan sepakbola. Permainan sepakbola menjadi maju dan bermutu. Kenyataannya, lapangan-lapangan sepakbola di Jakarta dan di kota besar lainnya di Tanah Air sangat terbatas. Apalagi organisasi persepakbolaannya. Srikaton terbatuk-batuk lagi. Ia cepat menenggak habis sisa air minumnya.

Langit banyak berawan, namun matahari bersinar terik sehingga terasa gerah. Langkah-langkah kecilnya menapak di jembatan Dukuh Atas yang panjang dan menanjak. Keringat pun membasahi tubuh Srikaton, namun ia terus bersemangat untuk melangkah, karena ia mulai melihat sosok patung Jenderal Sudirman di jalur hijau di tengah jalan. Akhirnya Srikaton sampai di puncak jembatan. Ia berdiri di tempat teduh dan membelakangi stasiun kereta Dukuh Atas. Pandangan matanya tertuju kepada sosok yang melakukan hormat militer itu. Seperti tanpa sadar dan tanpa menarik perhatian orang-orang lain, Srikaton pun membalas hormat kepada patung Jenderal Sudirman.

Bintang gerilya adalah kebanggaan terbesar bagi Srikaton. Kebanggaan lain adalah bahwa selama perang gerilya ia sempat bersalaman dengan Panglima Besar TNI Jenderal Sudirman. Waktu itu Sudirman sedang sakit sehingga perlu ditandu dalam memimpin perang gerilya di jalur selatan Jawa. Di perbatasan kota Ponorogo, Srikaton dan kawan-kawan menyambut pasukan Sudirman. Bergetar jiwa Srikaton sewaktu menjabat tangan jenderal yang senang mengenakan blangkon itu. Tak lama kemudian muncul seorang warok yang menyerahkan jas panjang gaya Belanda kepada Sudirman. Srikaton penasaran dan mendengar bisik-bisik dari si warok. Katanya, ia mencuri dua jas dari tangsi Belanda. Satu jas telah diberikannya kepada sang jenderal, satunya lagi untuk dipakai sendiri. Memang menarik, mengapa Sudirman mengenakan jas panjang gaya Belanda dalam memimpin pasukan gerilya melawan Belanda.

Lalu bagaimanakah masa depan TNI dalam mengawal Republik Indonesia? Aduh, kepala Srikaton mulai pening. Itu urusan pemerintah dan negara, sudah ada yang memikirkannya, demikian ia membujuk dirinya. Ia memilih untuk terus berjalan pelan sambil berzikir. Di hatinya lalu muncul rasa damai, penguasaan diri, kesabaran, juga pelepasan, sebagaimana penggalan puisi Kesabaran yang pernah ditulis Chairil Anwar, penyair kesayangannya: Aku hendak bicara. Suaraku hilang, tenaga terbang. Sudah! Tidak jadi apa-apa. Ini dunia enggan disapa, ambil peduli.

Srikaton tiba di depan Universitas Katolik Atma Jaya. Ia lalu duduk di bawah jembatan penyeberangan. Ia ingat, di atas jembatan penyeberangan inilah ia tiarap semalaman ketika pasukan tentara menembaki kampus dan para mahasiswa. Ia terjebak dalam lautan demonstran sewaktu hendak pulang dari gedung Veteran. Seingatnya peristiwa itu terjadi tanggal 13 November 1998 dan kemudian dikenang dengan sebutan Tragedi Semanggi. Sebelumnya telah meletus Tragedi Trisakti. Keduanya merupakan tragedi berdarah dan memakan banyak korban menjelang kejatuhan Presiden Soeharto. Dada Srikaton lantas bergemuruh. Sontak ia berdiri dan menguatkan diri untuk melangkah ke gedung Veteran yang sudah dekat.

Gedung Veteran telah lama berganti wajah menjadi pusat perbelanjaan plaza Semanggi, lengkap dengan restoran dan kafe. Srikaton tiba di trotoar lapang di depan gedung, lalu ia roboh. Beberapa anak muda yang berpenampilan mahasiswa dan berada di dekatnya segera menolong Srikaton. Salah seorang menyodorkan sebotol air mineral yang tinggal isi separuh. Dengan duduk berselonjor Srikaton meneguk air minum itu. ”Apakah kalian mahasiswa di situ?” ia bertanya sambil menunjuk ke arah kampus Atma Jaya. Para mahasiswa itu mengangguk.

Srikaton mengeluarkan amplop dari dalam tas kainnya. Amplop berisi duit dari Jenderal Suhardo. Ia mengeluarkan beberapa uang kertas seratus ribuan dan disodorkannya kepada mahasiswa yang telah memberinya air minum. Sisa uang dalam amplop ia masukkan kembali ke dalam tas. ”Terimakasih telah menolong saya. Kalian mahasiswa yang baik, generasi penerus bangsa,” ucapnya. ”Boleh uang ini dipakai untuk makan siang bersama.”

Mahasiswa yang menerima uang terpana. Begitu juga dengan teman-temannya. Tanpa menunggu jawaban, Srikaton berusaha bangkit dan melangkah menuju gedung. Ia membawa serta botol air minum yang tadi diteguknya. Para mahasiswa itu pun lantas berdiri dan memandangi kepergiannya. Serempak mereka berteriak: ”Terimakasih pak…!”

”Wajahnya jernih, pertanda orang yang tulus. Siapa sih dia?”

”Saya lihat bintang gerilya menempel di rompinya. Mungkin sekali seorang mantan pejuang. Sepertinya habis jalan jauh dan kehausan. Lihat dia mau masuk ke gedung Veteran!”

”Yang sering saya dengar, veteran itu biasanya nyentrik, loyo atau penyakitan, dan kelihatan miskin-miskin. Bapak itu juga tidak kelihatan kaya, tapi keren yah. Terus berjuang dan menikmatinya.”

”Wow!” mereka serempak berteriak. Srikaton sudah menghilang ke dalam gedung. Para mahasiswa ikut menghambur ke dalam gedung, pastilah mereka mau makan siang.

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: