Cerpen Ilham Q Moehiddin (Suara Merdeka, 9 Juni 2013)

Ordinem Paremto ilustrasi Farid S Madjid

(1)

DI kota ini, 10 orang adalah hukum tak tertulis. Dua orang adalah kekalahan masa lalu. Satu orang adalah kerumitan yang lahir dari matinya ketertiban. Kota ini hanya perlu menunggu datangnya satu orang lain untuk mengubah keadaan. Mungkin dua orang.

Saat kota ini gagal memulihkan ketertiban, kelompok penyamun bermunculan. Mereka bergiliran menanam teror pada warga kota. Laku mereka adalah hukum. Tetapi, tidak ada yang lebih patut mereka cemaskan, seperti patutnya menghindari seorang lelaki berbelati. Lelaki kesepian yang menjalankan hukumnya sendiri. Bekas luka di wajahnya membuatnya sukar dikenali. Di pinggangnya setia sebilah belati besar yang tetap terjaga saat dia terlelap sekalipun. Belati yang menemani ke mana dia pergi dan singgah. 

Lelaki berbelati yang kesepian itu tidak peduli kerumitan lain di sekelilingnya, sebab dia punya kerumitannya sendiri. Tidak peduli pada semua penyamun dengan hukum mereka masing-masing. Baginya, para penyamun itu hanya mampu melakukan kejahatan atas nama kegagahan di dada mereka, kecuali pada seorang gadis berambut wangi yang masa lalunya lebih hitam dari semua perempuan di kota ini. Gadis yang sejak berusia 10 tahun, telah membarakan gelora, meluruhkan tiap kebencian jadi kesenangan, juga menuntaskan tiap kesepian.

Para penyamun itu, lelaki berbelati itu, dan gadis berambut wangi itu, tidak pernah tahu, atau sekadar ingin menduga, bahwa segala kemungkinan bisa datang dari tempat-tempat yang tak terduga: datang dari riol kotor di bawah kota, dari kekumuhan di empat sisi kota, atau dari dua orang pendiam dalam oplet tua yang sedang merayap menuju kota. Kota ini sedang menunggu satu orang yang benar-benar pendiam. Mungkin, dua orang.

(2)

DI dalam oplet tua yang merayap bak kura-kura itu, seorang pemuda pendiam berambut kelabu duduk di bangku ketiga pada deretan kanan. Matanya melepas kenangan-kenangan yang berlarian di luar jendela. Hanya kemeja, celana, dan jas tua melekati tubuhnya. Bekalnya cuma pisau lipat kecil di saku jasnya. Dia mencintai dirinya, merasa aman dengan bau tubuhnya sendiri di antara puluhan aroma tubuh lain di dalam bus kota. Lewat kaca depan oplet tua, kota itu seperti merayap ke arahnya.

Di deret kiri di bangku pertama, juga di dalam oplet yang sama, duduk seorang pendiam lain. Gadis bermata bulat indah. Kecuali telinganya yang tetap waspada, maka ingatannya diam, matanya diam. Di pangkuannya, buntalan kain berisi lima potong cawat dan dua kutang bersih, juga beberapa tangkup roti selai kacang bekal dari neneknya.

Oplet tua merayap, memasuki terminal kota yang sibuk, tempat di mana ketertiban pertama kali terbunuh. Dua orang pendiam itu turun melalui pintu berbeda, untuk tujuan berbeda. Lelaki berambut kelabu langsung masuk bar dekat terminal dan berencana mabuk sampai malam. Gadis bermata bulat segera mencari rumah kakak perempuannya.

Sedikit sekali hal sederhana di kota yang memimpikan ketertiban. Kesederhanaan hanyalah lawakan di panggung dalam kedai kopi, panggung yang mementaskan moralitas untuk ditertawakan. Kota yang serius selalu lahir dari panggung-panggung seperti ini. Oleh orang-orang yang mendramakan kerumitan di balik topeng kertas mereka.

(3)

LELAKI berbelati adalah klimaks di setiap kerumitan di kota ini. Dia kerap hadir tiba-tiba, dan dramatis: dari bayangan lampu, dari hembusan angin, di antara refrein musik yang melodis. Tidak pernah banyak bicara dalam topi tua yang membungkus kepalanya. Kilatan matanya baru berhenti saat belatinya menembus dada tiap sasarannya, sebelum dia pergi sedramatis caranya datang.

Kerumitan tidak hanya lahir spontan, namun juga sukar diklaim. Para penyamun juga paham bahwa lelaki berbelati itu selalu bertindak bagi hukumnya sendiri. Para penyamun hanyalah impetus dari hukum yang dibangun lelaki berbelati. Model hukum yang dapat mereka unggah dengan bebas, lalu mereka patuhi. Kecuali bagi seorang gadis berambut wangi.

Bagi semua perempuan di kota ini, gadis berambut wangi itu adalah tindakan yang tidak tertulis. Kemarahannya adalah perlawanan perempuan di sini. Tangisannya adalah perkabungan perempuan di sini. Perangnya sudah dimulai saat usianya genap 10 tahun, pada masa awal para penyamun membunuh ketertiban. Ibunya dilucuti, lalu rintihannya terdengar di sela tawa para durjana di halaman belakang. Ayahnya disalibkan di tiang telepon, dibiarkan menyaksikan kebejatan terhadap istri dan anak-anaknya. Kakak lelakinya diikat di belakang truk lalu diseret entah ke mana. Beruntung, adik perempuannya sudah dibawa pergi neneknya lebih dulu.

Gadis berambut wangi itu bahkan tak bisa menceritakan kengerian saat enam durjana mengepungnya. Kengerian itu sudah membunuh kata-kata di lidahnya. Biadab, adalah kata yang akhirnya dia pilih kendati dalam intonasi yang datar.

Deritanya saat membasahi gurun setiap durjana itu, adalah napasnya hari ini. Napas yang dihimpun di setiap lubang porinya demi melihat kembali wajah adik perempuannya yang berhasil selamat. Demi melihat lagi mata bulatnya yang cerlang. Gadis berambut wangi yang kini digunjing sering mendapat kunjungan, sekaligus membasahi sepi si lelaki berbelati.

Cerita pendek ini memang rumit. Kerumitan inilah yang membuat setiap karakter dalam cerita ini tetap bertahan. Kerumitan yang juga jadi pondasi setiap hasrat paling purba warga kotanya. Kerumitan ini akan tetap berlangsung sampai seseorang muncul di waktu yang tak disangka-sangka. Butuh satu orang untuk mengubah kota ini. Mungkin dua orang.

(4)

GADIS bermata bulat itu memandangi rumah yang 12 tahun ditinggalkannya. “Di mana kau, Marsinah?” Gumamnya.

“Kecuali wangi dari rambutnya, kau tak akan menemukannya di sini,” sebuah suara membuat gadis bermata bulat itu menoleh. Ada lelaki tua buta tegak di belakangnya.

“Ada apa dengannya?”

“Satu koin perak, atau sedikit makanan. Hanya itu yang kubutuhkan.”

Gadis bermata bulat setuju. Setangkup roti selai kacang segera berpindah ke tangan lelaki tua buta. “Seorang lelaki berbelati telah membawanya pergi,” ujar lelaki tua itu dengan mulut penuh.

“Di mana lelaki berbelati bisa kutemukan?”

“Sebarkanlah gosip bahwa kau mencarinya, maka dia akan mendatangimu.”

Lelaki tua buta itu pergi setelah menandaskan roti selai kacang. Gadis bermata bulat lalu menetapkan sebuah rencana.

Di sisi lain kota ini, sebuah kerumitan lain sedang terjadi.

“Aku adalah hukumku sendiri!” teriak lelaki berambut kelabu sambil melipat pisau kecilnya. Dia baru saja merobek leher seorang bartender, hanya gara-gara orang itu menagih harga minumannya. Orang-orang tercagun, betapa mudahnya pembunuhan terjadi, betapa sebuah hukum baru saja lahir di depan mata mereka.

Kejadian ini segera merambati telinga setiap ketua penyamun di kota itu, membuat mereka ingin segera menjajal si lelaki berambut kelabu. Lelaki itu telah menghancurkan keyakinan mereka tentang kemustahilan datangnya hukum baru. Namun, justru satu demi satu kelompok penyamun itu dilucuti si lelaki berambut kelabu, membuatnya seketika menjadi simbol bagi tumbangnya dominasi hukum lama.

Demikian cepatnya pertikaian mengubah keadaan. Begitu mudahnya kerumitan menciptakan ketergantungan terhadap hukum-hukum. Tersiar kabar, bahwa lelaki berbelati telah menyekap si gadis berambut wangi.

Kabar itu menerbitkan kerumitan baru. Sebab gadis bermata bulat juga menyebarkan ancaman pada lelaki berbelati. “Dia harus hadir untuk menerima lahirnya hukum baru.” Dan kini, gadis bermata bulat tinggal menunggu datangnya lelaki berbelati.

(5)

LELAKI berbelati itu akhirnya datang menemui dua orang pendiam yang dirapun dendam, secara dramatis, dari keremangan lampu bar, saat dua orang pendiam yang tak saling kenal sedang duduk menghadapi meja masing-masing. Bagi lelaki berambut kelabu, ini adalah kesempatan untuk tegaknya hukum baru. Dan, gadis bermata bulat itu harus membebaskan kakak perempuannya.

“Inikah yang patut aku dapatkan untuk setiap kerumitanku?” tanya lelaki berbelati.

Pertanyaan yang tak butuh jawaban. Dua orang pendiam seketika menerjang lelaki berbelati dari kursinya masing-masing. Pedang gadis bermata bulat meliuk indah di dekat kepala si lelaki berbelati, membuka peluang lelaki berambut kelabu untuk menari dengan pisau lipat kecilnya. Dua orang pendiam itu mengurung rapat lelaki berbelati, sebelum membunuhnya tepat di sudut remang bar di mana tadi dia muncul.

Kematian lelaki berbelati, membuat gadis berambut wangi berduka, sekaligus mengejutkan gadis bermata bulat. Sesungguhnya kerumitan telah memakan mereka. Gadis bermata bulat tidak mengenali bahwa lelaki berbelati adalah kakak lelakinya yang dulu hilang diseret truk. Menyandang belati, dia kembali ke kota ini menegakkan hukumnya sendiri.

Betapa, kerumitan telah melahirkan hukum baru, dan menggantikan hukum lama. (62)

 

Molenvliet, Februari 2013

Catatan:

Cerpen ini berhutang gagasan dari filsafat negara Thomas Hobbes.

 

Ilham Q Moehiddin, penggemar satiris Ambrose Bierce Gwinnett ini menulis cerpen yang diterbitkan di beberapa media lokal dan nasional.

Advertisements