Trilogi


Cerpen A Muttaqin (Kompas, 2 Juni 2013)

Trilogi ilustrasi Ipong Purnomo Sidhi

1/ Dan salah satu tanda kebesaran Tuhan adalah diciptakan ihwal lucu, sekaligus ambigu. Seperti peristiwa ajaib yang tiba-tiba muncul di sumur itu.

Perlu kau tahu, ia adalah sumur tertua kota ini. Orang-orang percaya, seperti sumur Zam-zam yang melahirkan kota di tengah padang buas dan ganas yang bernama Makkah, sumur itulah yang melahirkan kota ini. Tak ada yang tahu pasti asal-usul sang sumur. Warga kota yakin, sumur itu termasuk sumur tiban. Sumur yang tak dikeduk tangan manusia. Namun Uripan, satu-satunya dukun yang masih bertahan di kota ini ngotot, bahwa sumur itu sesungguhnya adalah jelmaan kemaluan seorang perawan yang memilih mati daripada diperkosa burung besar dan kasar, sejenis unggas tua yang menurut mulut Uripan, persis seperti wujud burung zaman purba.

Adalah Miro, satu-satunya gadis kasib—sebab tak ada yang sudi memperistrinya sampai usia senja—yang percaya pada bualan Uripan. Tak ada yang tahu pasti, mengapa Miro begitu bernafsu meyakinkan warga, bahwa sumur yang airnya sebulan sekali jadi kemerahan adalah petanda bahwa sang sumur memang jelmaan kemaluan. Memang betul, bahwa sumur itu sebulan sekali mengeluarkan air yang kemerahan, seperti siklus menstruasi pada perempuan kebanyakan. Namun warga tetap tak percaya. Bagi warga yang telanjur mensakralkan sumur itu, air sang sumur adalah sejenis banyu kehidupan, teramat keramat dan suci untuk dipadakan dengan darah menstruasi. Adalah edan jika percaya begitu saja bahwa air sumur yang menjadi sumber berkah secara turun-temurun itu jelmaan kemaluan.

Suatu sore, ketika burung-burung terbang pulang, ketika kawanan kelelawar mulai bubar keluar sarang, ketika senja tampak tersangkut di pucuk pohon jangkang, seperti pemandangan yang dijepret fotografer amatir, entah bagaimana mulanya, ternyata Miro menemukan bayi mati di sumur itu. Ia segera menyebar kabar, bahwa sang sumur telah melakukan aborsi. Mbah Kartaji langsung mengasah pisau. Ia bersumpah akan menggorok si Miro jika ia tak menghentikan kosong omongnya. Tapi dukun Uripan balik mengancam Mbah Kartaji. Seperti tukang sihir Fir’aun, ia mengancam akan menyelundupkan ular klisi ke perut Mbah Kartaji jika dia berani menyentuh kulit Miro.

Begitulah. Tapi sebelum kedua orang tua pengkuh itu saling melaksanakan ancamannya, warga digegerkan dengan keluarnya seekor burung aneh terbang dari sumur itu. Koarannya seperti bledek pecah di siang bolong. Dua anak kambing yang baru dilahirkan spontan mati karena koarnya. Dua pengantin baru yang sedang duel langsung mandeg karena tiba-tiba penis si lelaki jadi lunglai. Perempuan yang hamil langsung keguguran. Sementara kembang kamboja di kuburan pada gugur bersama pentil buah mangga yang masih muda. Aku sempat melihat wujud burung itu, dan aku berani bersaksi demi langit dan bumi, itulah burung paling mengerikan yang pernah kutemui. Bulunya lebat, kasar dan bau. Matanya merah marong seperti mata iblis. Dan paruhnya tumpul, bergerigi, dan jika kau melihatnya dengan seksama, kau akan berkata bahwa itu bukan paruh, sebab lebih menyerupai bentuk mulut buaya.

”Lihat, hai Kartaji, zakar telah keluar dari farji. Sembah sumur itu, sembahlah, sampai tiba banjir besar, ha ha ha…” teriak Uripan yang santer bersaing dengan koar keras burung angker itu.

2/

Dan salah satu tanda kebesaran Tuhan adalah diciptakan beberapa kejadian aneh. Termasuk kejadian aneh yang masih simpang siur, tentang seorang gadis kecil yang mulutnya memancarkan air bening, sebab mulut itu tak lain dahulunya adalah sebuah sumur. Tapi, biarpun cerita berkembang secara simpang-siur, akulah sesungguhnya yang tahu persis tentang kebenaran cerita itu. Bagaimana ini terjadi, aku yakin kau tak akan percaya kalau kuceritakan yang sebenarnya. Tapi biarlah kau akan menuduhku tukang kibul. Akan kuceritakan, peristiwa aneh itu sebagai tambahan tuturan yang sudah turun-temurun ditularkan Kasban.

Mula-mula, Kasban yang biasa dikenal suka omong besar, menceritakan kalau mulut si gadis itu memancarkan air, air bening, dan bukan air jenis ludah, sebagaimana yang keluar dari mulut kebanyakan. Itu betul. Sungguh betul. Namun, harap kau tahu, jika Kasban betul-betul tak tahu, jika sebelum dia datang, seorang lelaki berkerudung cadar hijau, berjubah serba hijau telah memeluntir leher gadis itu. Waktu itu, si gadis, yang belakangan kuketahui bernama Munira, sedang bermain hujan-hujanan. Anehnya, seperti anak angsa, tubuh Munira tak kunjung basah. Lalu seorang perempuan bongkok yang sebenarnya adalah jelmaan setan, membujuknya berenang di sebatang got. Perempuan bongkok itu menyulap bangkai tikus, tai, dan softex yang mengambang di got itu, menjadi gelembung-gelembung aneka warna. Dan Munira tergoda. Ia mendatangi got itu, seperti bocah yang sedang gembira memasuki arena mandi bola. Dan ketika Munira hanya berjarak sedepa darinya, si perempuan bongkok langsung mencengkram got, yang entah mengapa, jadi liat seperti permen karet dan menyambung ke mulut Munira. Bersamaan dengan itu, petir datang. Membawa turun 10 malaikat dengan iringan bledeg paling jelek. Tapi si malaikat yang datang sedikit terlambat tak bisa berkutik, sebab got telah menyatu dengan batang leher Munira.

Kau tahu, lelaki misterius berkerudung hijau, berjubah serba hijau, tak tega jika warga kota yang sudah hampir modar akibat kemiskinan yang merajalela, bertambah susah tersebab wabah yang keluar dari mulut Munira. Dalam keadaan terkulai—aku tak tahu persis gadis itu pingsan atau mati—si lelaki serba hijau membawa Munira berjalan sejauh 9 KM untuk mendatangi sebuah sumur. Dengan tongkatnya yang gothang, si lelaki serba hijau menggertak burung besar dan kasar penunggu sumur itu. Burung itu terbang menyamping, sebab sayap si burung ternyata lebar sebelah. Namun si burung seperti sengaja meninggalkan cakar dan paru di sumur itu entah untuk apa.

Perlu juga kau tahu, sumur itu sama misteriusnya dengan lelaki berjubah. Tak ada yang tahu persis kedalaman sumur itu. Warga hanya tahu, sebenarnya, pada awalnya sumur itu bukan sumur tapi hanya lubang yang tak seberapa besar, namun sangat mengganggu dengan bau yang amat busuk. Warga yang penasaran dan tak tahan dengan bau itu akhirnya menggali lubang itu. Sebagian orang mendapat bocoran, bahwa lubang bau itu isinya adalah tujuh manusia berseragam. Dan ketika dikeduk, warga hanya mendapati dua orang aneh yang mati dengan cara paling mengerikan. Yang satu dada terbuka dan telah kosong isi perutnya. Yang satu lagi, mulutnya menganga dan ketika ia diangkat, seekor ular kuno keluar dari mulut mayat itu. Oleh warga, dua mayat asing itu telah dikubur di tempat yang aman. Tapi bau busuk yang ditinggalkan di sumur itu makin menusuk membuat warga semakin penasaran dan menggali sang sumur lebih dalam lagi untuk memastikan apakah benar ada tujuh orang berseragam terpendam. Proses penggalian berjalan gampang. Tak ada batu keras yang merintangi, sebab mereka sebenarnya hanya menggali tilas sumur yang telah diuruk.

Bau busuk masih menusuk. Tapi tak ada lagi mayat ditemukan ketika lubang sumur digali sampai kedalaman 9 meter. Warga jadi tambah penasaran. Dikeduknya lubang itu makin dalam, dan di kedalaman 19 meter, muncratlah cairan merah yang menyerupai darah. Amis merebak. Sengak menyeruak. Tapi itu tak lama. Sejam kemudian, air yang merah jadi bening, dan tawar, lebih bening dari sumur kebanyakan. Lambat laun, sumur itu bahkan seperti lambang kesuburan. Sebab tiga perempuan yang divonis mandul, tiba-tiba dengan mudah hamil setelah dinaiki suaminya lagi.

Bunyi ”plung” dari cakar dan paruh burung besar dan mengerikan yang nyemplung ke sumur masih menggaung ketika lelaki berjubah hijau menatap kedalaman sumur yang suwung itu. Ia berdiri khusuk, tepat di mulut sumur. Diangkatlah kedua tangan lelaki berjubah dengan posisi sama dan terbuka. Dari ujung tangan lelaki berjubah, bulu-bulu burung membumbung ke langit. Lalu 10 malaikat keluar dari lubang langit dengan iringan irama lembut, dan mendarat tepat di ujung jemari si lelaki berjubah. 10 malaikat itu menyatu dengan 10 jemarinya. Angin seperti berhenti. Dan ketika lelaki berjubah memasukkan tangannya ke lengkung sumur, sumur itu mengkerut, terus mengkerut, menyusut dan memadat, menjadi batangan bening, seperti batangan es batu. Pelan-pelan, dimasukkan batangan bening itu ke mulut sang gadis. Dari mulut gadis itu, 10 malaikat seperti terjingkat, lalu mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi. Satu di antara mereka bahkan sempat bersabda: ”Inilah sumur yang terberkahi…” Namun, itu tulah awal kota ini kehilangan sumur satu-satunya. Untungnya wali kota setempat, yang kebetulan penganut kelenik lokal dan memelihara sepasang jin, segera mendapatkan bisikan gaib dan mengganti sumur itu dengan selang-selang yang menyedot mata air rahasia untuk disebar ke setiap rumah.

3/

Dan salah satu tanda kebesaran Tuhan adalah diciptakan beberapa orang baik hati di muka bumi. Dengan alasan itulah Tuhan menciptakan nabi dan para wali. Dan di akhir zaman ini, setelah nabi dan para wali seperti punah di bumi, Tuhan pun masih berbaik hati dengan menciptakan Ngataji. Ngataji adalah guru ngaji yang unik. Selain penyayang, sabar dan rendah hati, ia penganut ”vegetarian liberal”. Maksudku, ia tetap makan daging, namun hanya daging ikan dan hewan berkaki dua. Alhasil, ia puasa pada hewan berkaki empat. Mengapa demikian, tentu hanya Ngataji yang tahu persis. Tapi ketika ihwal ini kutanyakan, dengan enteng ia menjawab, ”Lha iya, tanganku ini bisa-bisa jadi kaki kalau aku makan daging kaki empat. Enggak, ah, aku belum siap melenguh dan berjalan mberangkang, hehe….”

Suatu ketika, seperti biasa, sebagai guru ngaji yang memiliki banyak waktu luang, Ngataji berjalan tanpa tujuan. Tapi ia berhenti ketika tiba-tiba seekor kelinci melompat dari gerumbul anggrek. Ngataji suka mengamati kelinci, yang menurutnya dulu berjalan dengan dua kaki. Tapi setelah kelinci melihat kera telah melakukannya, ia jadi tahu diri dan hanya melompat untuk membikin jalannya lebih cepat. Kau tahu, Ngataji bahkan pernah kudebat, saat dengan entengnya dia bilang ”Bapak para tikus sebenarnya adalah babi. Sedang bapak para babi adalah gajah.” Aku menyangkal. Kudebat ia dengan teori evolusi. Kukatakan argumennya tak pernah kudapati dalam buku biologi. Tapi ia malah terkekeh, sambil menegaskan dengan lagak paling meyakinkan, ”Kalau tak percaya, lihat bangsa ini, dari bangsa gajah, turun derajat jadi bangsa babi, kemudian turun lagi jadi bangsa tikus, ya toh?” katanya, sambil ngeloyor pergi.

Begitulah Ngataji. Orang-orang bahkan percaya bahwa ia satu-satunya sufi yang masih tinggal di bumi. Maka makin hari, semakin kudapati ia berlaku semakin cuek dan santai. Pakaiannya kumal. Rambutnya kumal. Dan tak akan kau dapati ia memakai sandal, kendati ia pergi (walaupun amat jarang) ke masjid. Tingkahnya sering tampak semakin kekanak-kanakan. Dan satu yang kadang membuat aku kesal, ia seperti sengaja hanya mau bergaul dengan anak-anak. Ia amat mencintai anak-anak. Dan begitu juga sebaliknya, anak-anak juga sangat mencintai Ngataji. Sampai suatu ketika, entah bagaimana ini bermula, Ngataji bertemu dengan 5 bocah aneh yang melompat ke dalam sumur. Bocah pertama melompat ke mulut sumur sambil berteriak, ”Ngaaataajiiii!”, byuuurrr….

Seperti terjun ke kasur-karet, dengan cukup ajaib, bocah itu terlempar kembali ke tanah, ke posisi berdirinya semula tanpa kurang suatu apa. Bocah kedua melompat dan seperti bocah pertama, ia juga berteriak, ”Ngataajiii!!”, dan ia pun kembali ke posisi semula, tanpa kurang suatu apa, seperti bocah pertama. Bocah ketiga melompat dan berteriak lebih keras ”Ngaataaajiiiiiiii!!!”, dan ia pun terlempar kembali dengan selamat seperti bocah pertama dan kedua. Begitu juga bocah keempat dan kelima.

Ngataji tertawa melihat ulah kelima bocah itu. Ia tertawa, sebab namanya diteriakkan anak-anak seperti jimat untuk melompat ke sumur. Apa yang terjadi selanjutnya gampang ditebak. Ngataji yang terbiasa bermain dengan anak-anak, tentu segera turut berpartisipasi. Ia pun meminta kelima bocah itu minggir. Dan dengan kaki ringan ia berlari dan melompat menyemplung sumur itu sambil berteriak dengan perasaan aneh karena akan memanggil nama sendiri, ”Ngataajiii!!”

Anak-anak bertepuk dan bersorak. Terdengar bunyi ”Byurrr..” menggaung di selingkar sumur. Tapi Ngataji tak kembali. Tak pernah kembali. (*)

(Surabaya, 2012)

*Cerita ini adalah versi penulis atas beberapa cerita lisan.

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: