Cerpen Joko Sudaryanto (Republika, 2 Juni 2013)

Janji Para Lelaki ilustrasi Rendra Purnama

“HAJAR dia! Jangan beri ampun!”

Keributan di luar surau menghentikan pelajaran mengaji kami. Buru-buru kami keluar.

”Ada apa?“ tanyaku pada Alif.

“Anak itu datang lagi, Den Mas,” sahutnya.

”Anak itu? Maksudmu?“

”Anak haram itu! Masak Den Mas tidak tahu.”

Dekat deretan tebu, sesosok tubuh meringkuk. Beberapa orang masih menendanginya. Saat mau mendekat, suara Uwak Guru membuyarkan niatku.

”Ada apa ribut-ribut?“ tanyanya berkharisma.

***

“Kalian tak tahu bedanya jim, ha, kha? Mau belajar tidak!“ Uwak Guru murka.

Kami terdiam. Daripada susah-payah mengeja huruf-huruf aneh itu, lebih asyik bermain di kali. Atau, membuat mainan dari klithikan, bunga tebu yang menjulang kekuningan. Kulihat Uwak Guru menuju pojok surau.

Aih, pasti dapat rotan lagi!

Bak! Buk!

Kami masih kerap salah eja. Hafalan kami memang payah. Jika salah, pasti dapat jatah sabetan rotan. Semakin banyak salah, semakin banyak rona merah. Pedihnya harus kami tanggung semalam. Tak berani tidur telentang!

Aku kerap bertanya, bagaimana kami nyaman belajar mengaji, jika gurunya sekejam itu? Tapi, kami tak berdaya. Bukankah guru harus digugu dan ditiru? Ditaati dan ditiru? Bila kelak jadi guru, kami pun harus rajin mengayunkan rotan. Yang benar saja!

DUARRR!

Aku tergagap. Nyawaku nyaris lepas saat guntur menyambar. Kutengok ke luar jendela. Mendung pekat. Hitam bergumpal-gumpal. Sesosok tubuh tampak mengintip. Siapa dia? Buru-buru aku minta izin keluar.

***

“Aku ingin thalabul ‘ilmi. Menuntut ilmu,” ujarnya pendek.

Ia menunduk. Kutatap ia lekat-lekat. Tubuhnya kecil. Matanya sipit. Kulitnya kuning. Penampilannya dekil. Bajunya dari rami kasar.

“Kenapa tak masuk kalau mau mengaji?“ selidikku.

Ia mendongak. Lirihnya, “Mana berani, Den Mas. Mereka pasti menghajarku lagi.“

”Siapa yang berani menghajarmu?“

Matanya berkaca-kaca. Ia membisu dan berlalu. Saat kusadari papannya tertinggal, ia sudah ditelan tikungan. Siapa dia? Kenapa tak ke surau jika mau belajar? Kenapa mereka menghajarnya? Mereka itu siapa?

Aku berlari kala tetes-tetes hujan jatuh satu demi satu. Di tritisan, papan itu terinjak. Kuamati jeli. Aku tahu coretan-coretan ini. Huruf hijaiah! Tulisannya rapi dan indah.

Beberapa kali, ia belajar dari luar. Menirukan kami mengeja huruf-huruf tajwid. Jika huruf ini dan itu bertemu, kami harus membaca begini atau begitu. Kadang dengan bunyi sengau, memantul, berdengung, atau jelas. Ia sungguh belajar. Walau badai mengamuk dengan lidah halilintar memenuhi langit, ia bergeming.

***

”Den Mas belum tahu?“ sergah Alif saat aku menyelidik.

Aku menggeleng. Tiga teman duduk di depanku. Uwak Guru lagi kenduri di kampung sebelah. Hari ini kami merdeka. Bebas dari rotan dan pusing berkepanjangan.

”Dia anaknya Babah Cina, Den Mas,“ sahut Bejo.

”Babah Cina di pasar itu?“ selidikku.

Mereka mengangguk.

“Kenapa ia sering dihajar?”

Mereka mengangkat bahu.

”Babah Cina kan baik? Kita pasti dapat harga murah jika beli barang di warungnya.“

”Karena Den Mas anak ratu!“ sahut Paimin, masih berkutat dengan ketapelnya. Besok sudah puasa. Biasanya, kami berburu menghabiskan waktu.

”Maksudku, kalau benar ia anak Babah Cina yang baik itu, kenapa orang-orang membencinya?“

”Aduh!“ seru Paimin. Karet ketapelnya terlepas mencium pipinya. Gemuruh tawa mereka menghanyutkan pertanyaanku.

Malam itu, aku tidur di surau. Ibu sudah mengizinkan.

”Besok puasa, Bu. Malam ini tarawih. Nanti kami harus membangunkan warga sahur,“ dalihku sembari menginjak kaki Alif.

Alif seketika mengiyakan. ”Injih. Iya, Gusti. Besok kami nabuh bedug keliling kampung. Kata Uwak Guru, barang siapa membangunkan orang sahur, besar pahalanya.“

Ibu hanya manggut-manggut. Ia kembali tenggelam dalam batiknya. ”Boleh, tapi jangan kelayapan dengan anak yang Ibu ceritakan itu!“

***

Lewat jam dua, aku terbangun. Tiga temanku sudah tak ada. Sial! Mereka meninggalkanku. Setengah berlari aku keluar. Kupasang telinga baik-baik. Dari mana bedug bersuara, di sanalah mereka.

Kususuri jalanan gelap. Oborku cukup menerangi. Aku paling takut bertemu gendruwo, hantu berwujud raksasa dan bersuara besar. Jangan pula bersua wewe. Beberapa kali anak tetangga yang hilang konon diculik hantu perempuan dengan payudara bergelantungan ini. Hiii …

Tapi, gendruwo dan wewe kalah seram dengan harimau. Aku masih bisa lari kalang-kabut bila bertemu hantu. Kalau bertemu harimau lapar? Harimau mampu membekukan calon mangsa dengan mata atau aumannya. Mustahil aku lari. Aih, semoga hantu dan harimau tak kutemui.

Komat-kamit kulafalkan ayat kursi. Hafalanku yang biasanya buruk mendadak lancar. Kutambahi Naas, Falaq dan Ikhlas. Hantu pasti minggat! Sembari merapal, aku masih sempat memegangi kemaluanku. Hantu perempuan paling takut dengan kemaluan lelaki. Cukup pegangi erat-erat dan katakan, “Aku lanang! Aku lanang!“ Begitu pesan Ibuku.

Di satu kelokan ku lewati rumah Babah Cina. Rumah itu sepi. Hanya lampu teplok meliuk dibelai malam. Pelataran rumahnya luas. Ada gardu di depan. Di situ kami kerap merancang rencana-rencana hebat. Kami tak pernah terganggu. Ibu tak pernah bisa mengendus kelicikanku jika sudah menggelar rapat di sana.

Astaghfirullah!“ pekikku tertahan.

Aku jatuh terduduk. Otot-otot kakiku lemas. Aku menggerutu tak karuan. Meriam dadaku menyalak tiba-tiba. Di keremangan, kulihat seonggok bayang di gardu. Kukira hantu. Gugup kucari oborku yang padam. Dari saku surjan, kuambil pemantik api.

Cekrik! Cekrik!

Sial! Kenapa tak lekas menyala?

BLARRR!

Lagi-lagi aku kaget. Oborku mendadak menyala. Jilatan apinya nyaris membutakan mataku. Kenapa malam ini aku apes sekali?

Dengan berjingkat kudekati bayangan itu. Manusia atau hantu? Dadaku berdegup tak menentu. Aku mesti mengintai dari balik rimbun bambu.

Tak salah lagi, bayangan itu anak kemarin. Anak yang kerap dihajar. Anak yang ditolak belajar. Anak yang bibirnya robek tempo hari. Anak yang mengaji dari balik jendela. Kenapa lagi-lagi dia?

”Ya Allah, aku juga ingin belajar. Kata Kanjeng Nabi, barang siapa keluar rumah mencari ilmu ikhlas karena-Mu, Engkau melapangkan jalannya ke surga.“

Aih, ia menangis. Aku kian heran. Tak sekalipun ia menangis saat dipukul dan dicaci. Tapi, di sini airmatanya beranak-sungai.

Perlahan aku mendekat, ”Sudahlah, masak laki-laki menangis.“

Buru-buru ia mengusap pipinya. Berpaling dan tersenyum malu. Saat aku hendak berlalu, ia menggamit surjanku.

”Ada apa lagi?“

”Sudikah Den Mas mengajari saya mengaji?“

Kedua alisku terangkat. Tiba-tiba terlintas wejangan Ibu yang melarangku bergaul dengannya.

”Anak setan! Najis! Tak pantas surau Romomu dia kotori. Jauhi dia!“ napas Ibu memburu.

”Tapi kenapa, Bu?“

Beberapa orang berusaha menenangkan Kanjeng Ibu. Namun, beliau terlanjur marah. ”Kau ingin tahu, Ngger? Dia itu anak haram antek Belanda. Pembunuh Romomu!“

Biasanya, langit hatiku cerah. Kini tersaput kabut tebal. Gigiku beradu. Dadaku bergemuruh.

”Singkirkan tangan najismu dariku!“ bentakku menepis tangannya.

Ia tersentak kaget. Tangannya segera ditarik.

Aku bergegas meninggalkannya. Kenapa juga mesti meladeninya? Aih, aku bersumpah takkan menyusun rencana-rencana hebat itu di gardu Babah Cina lagi! Selamanya! Titik!

***

Aku melangkah lebar-lebar. Hafalanku sudah buyar. Jika ada gendruwo dan wewe mengadang jalanku, pasti kusambit batu. Kalau perlu aku bakar dengan oborku. Sialan!

Namun, amarahku mendadak sirna. Aku tercekat. Dari balik rindang belukar, kulihat dua bola cahaya. Dengan gemetar aku berusaha memastikan. Dan, sebentuk wajah dengan seringai bengis memperlihatkan dua taring tajam. Berkilat memantulkan cahaya obor.

”H..hha..harr..rriimm..maauu.“

Mati aku!

Wajah Romo tiba-tiba terlintas. Romo yang gugur dalam pelukan Dhuha. Juga wajah Ibu. Jelas terbayang menantiku pulang. Kupejamkan mata. Mantra dan doa yang jarang kubaca, berkelebatan bagai bayang-bayang.

Aku tak ingat apa-apa lagi. Terakhir, kurasakan dorongan dahsyat. Tubuhku terhempas di bebatuan. Sebelum kesadaranku lenyap, masih kurasakan dingin menyergap …

***

”Den Mas! Bangun Den Mas!”

Sayup-sayup kudengar suara memanggilku berulang-ulang.

Saat kubuka mata, bayangan harimau besar yang siap menerkam memenuhi mataku.

”Harimau! Harimau!“ pekikku.

Sesosok tubuh memelukku erat. Punggungku ditepuk dan diusap.

“Tenang Den Mas! Tenang! Harimau itu sudah mati!“

Kuberanikan diri membuka mata. Pertama yang kulihat wajah yang teduh bercahaya. Wajah yang tadi dua paritnya mengalir lagi, wajah yang tangannya kutepis dan kucaci.

Singkirkan tangan najismu dariku! Terngiang lagi kalimat itu.

Di bawah cahaya purba bintang dan bulan yang bak tandan mayang, ia kuyup. Bajunya berlumuran darah. Tubuhnya penuh luka. Tak jauh dari tempatku, seekor harimau besar tergeletak. Harimau itu bagai hilang bentuk. Sebuah pedang mencabik-cabik badannya. Diakah pembunuhnya?

”Den Mas tidak apa-apa?“ tanyanya dengan mata gugup.

Aku tak kuasa menjawab. Nyaliku masih kuncup.

Aku batal mengejar teman-temanku. Di gardu kuhimpun nyaliku yang lenyap. Ia masih setia menemani. Bertambah lagi satu rahasianya. Bergumul sendirian melawan harimau. Bagaimana bisa?

Amarahku telah menguap. Aku bukan orang tak tahu diri. Ia telah menyelamatkan nyawaku! Dengan apa aku harus berterima kasih?

Aku tersenyum.

Sudah kutemukan jawaban.

”Masih maukah kau belajar mengaji, Kawan?“ tanyaku lembut.

Kedua matanya membesar. Ia tak percaya.

”Sungguh? Den Mas tidak bercanda?”

”Tidak! Aku tidak bergurau,“ tegasku.

”Tapi bagaimana jika nanti Kanjeng Ibu Den Mas tahu?“

”Itu bisa diatur. Jika mau, aku ingin mengangkatmu sebagai saudara. Bagaimana?“

***

Berhari-hari, kampungku heboh. Kabar aku menghabisi harimau besar seorang diri menyebar. Namaku mendadak tenar. Orang-orang kian rendah membungkuk padaku. Senyum mereka kian lebar.

Sore itu aku kembali mengaji. Di leherku satu taring harimau menghiasi. Aku merasa seperti lelaki sejati. Orang-orang tak lagi menganggapku bocah.

Langkahku tertawan. Kudengar suara riuh-rendah. Langit dipenuhi cacian. Sesosok tubuh melangkah gontai di bawah hujan serapah. Bajunya awut-awutan.

Aku berlari. Mataku panas sekali. Semakin dekat, semakin jelas kulihat. Bibirnya robek lagi. Rahangnya lebam. Matanya bengkak. Wajah dan tangannya penuh codet, bekas pergumulan dengan maut. Dia segera kupeluk erat. Ingin aku berbagi kesedihan dan nestapanya yang tak berkesudahan itu.

Para pencaci itu memandangi kami. Hujan cacian lenyap seketika. Sunyi.

Janji para lelaki takkan pernah mati! Dalam pelukan kedua hati kami menyatu. Bersatu seperti dua taring harimau yang kembali bertemu. []

 

Penulis adalah alumnus Fisip Universitas Sebelas Maret [UNS] Solo. Aktif di berbagai forum sastra dan budaya. Karya-karyanya pernah dimuat di berbagai media.

Advertisements