Archive for June, 2013

Kota yang Ditinggalkan
June 30, 2013


Cerpen Yudhi Herwibowo (Media Indonesia, 30 Juni 2013)

Kota yang Ditinggalkan ilustrasi Pata Areadi

SAAT kota ini tercipta, tanah seperti retak. Di situlah peri-peri bersayap rapuh muncul dari langit, menaburkan benih-benih tanaman. Satu per satu tumbuh. Di ujung-ujung daun dan ranting paling ranum, mereka meletakkan dua janin berbeda kelamin di tempat yang berjauhan, setelah sebelumnya mengganti hati keduanya. Kelak keduanya akan mencari hati masing-masing.

Kau dengar? Itu satu kisah tentang kota ini yang paling kerap dikisahkan, terlebih bila kau tengah duduk di taman itu, taman cinta, tempat semuaorang akan mengungkapkan cinta.  (more…)

Orang-orang yang Setia
June 30, 2013


Cerpen Ardy Kresna Crenata (Koran Tempo, 30 Juni 2013)

Orang-Orang yang Setia ilustrasi Imam Yunni

SEPERTI biasa, ia tak menoleh ketika aku menggeliat mengeluarkan suara manja. Aku pun bangkit. Kubiarkan selimut yang semula menempel di dada akhirnya terjatuh. Dingin memang. Tapi itu justru memberiku cukup alasan untuk bersegera merangkak mendekatinya dan menekankan payudaraku ke punggungnya. “Sudah terbangun cukup lama?” tanyaku. Ia masih saja tak menghiraukanku dan tampak bersungguh-sungguh menatap layar laptopnya yang penuh sesak oleh kata-kata.  (more…)

Penyair yang Bersembunyi
June 30, 2013


Cerpen Muhammad Ferdiansyah (Suara Merdeka, 30 Juni 2013)

Penyair yang Bersembunyi ilustrasi Hery Purnomo

“SIAPA yang membaca puisi di zaman sekarang ini?” kata perempuan berambut pendek dengan nada teatrikal.

Perempuan berambut ungu menatap perempuan berambut pendek dengan geli, lalu dia seperti akan mengatakan sesuatu, tapi akhirnya membatalkan niatnya sendiri. Mereka berdua duduk di suatu tempat di city walk, di bawah pendar lampu jalanan yang suram dan serangga-serangga yang berputar-putar. Malam itu dingin dan pakaian yang mereka kenakan sepertinya tidak cukup hangat. Namun sepertinya mereka tidak berniat untuk meninggalkan tempat itu. Tidak banyak pejalan kaki yang lewat, apalagi sudah lewat tengah malam. Kalaupun ada seseorang yang lewat, perempuan berambut pendek tetap akan bicara dengan melantangkan suaranya. Tidak peduli apabila ada yang terganggu dan menganggap mereka sebagai dua pelacur gila yang sedang mabuk. Dan apabila ada laki-laki iseng yang memperlakukan mereka seperti pelacur, perempuan berambut pendek akan menerjangnya dan mencakarnya seperti kucing gila. Selama ada perempuan berambut pendek, tidak ada yang berani mendekat. Kini perempuan berambut ungu juga tidak peduli pada apa pun. Dia terlalu terpesona pada kepribadian perempuan berambut pendek dan terus mengagumi matanya yang berkilauan. Sementara perempuan berambut pendek tetap menatap lurus ke depan dan melanjutkan ocehannya.  (more…)

Peristiwa Jumat
June 30, 2013


Cerpen Tjak S Parlan (Republika, 30 Juni 2013)

Peristiwa Jumat ilustrasi Rendra Purnama

SUDAH tiga kali Jumat aku tidak bisa berkunjung ke rumah nenek. Kukatakan pada ibu bahwa aku begitu sibuk. Jadi kukirimkan saja salamku lewat ibu, seraya menambahkan sebuah kesediaan: Jumat depan aku akan ke sana bersama ibu.

”Salam untuk yang lainnya ya, Bu,“ kataku di akhir pembicaraan.  (more…)

Mata Seruni
June 30, 2013


Cerpen Anggun Prameswari  (Kompas, 30 Juni 2013)

Mata Seruni ilustrasi Ahdiyat Nur Hartarta

MARWAN tak henti melirik jam dinding. Detiknya berirama. Jika didengarkan seksama, terdengar bersahutan dengan degup jantungnya sendiri. Jam sepuluh lewat. Makin jarum panjangnya bergeser, makin morat-marit batinnya. Selarut ini, Seruni belum pulang juga. Ke mana dia? Sudah enam jam sejak ia pamit keluar sebentar, tanpa bilang hendak ke mana.

Tak lagi sanggup Marwan menghitung batang rokok yang ia isap. Peduli apa umurnya memendek karena napas yang tersumpal asap. Gemuruh di batinnya perlu ditenangkan dari bayangan buruk berkelebatan silih berganti menghuni benaknya yang sempit.  (more…)

Hujan Mawar di Lempuyangan
June 23, 2013


Cerpen Teguh Afandi (Media Indonesia, 23 Juni 2013)

Hujan Mawar di Lempuyangan ilustrasi Pata Areadi

AKU hendak menanam biji mawar di bibir wanita yang kutemui di bawah Jembatan Lempuyangan. Bibir merekah dan setengah terbuka. Akan kusemai biji mawar di kekenyalan bibirnya. Kupasang kawat berduri agar tak dipungut penjual gulali di utara palang kereta. Kukancing rapat, agar tak tercerabut saat tertawa.

Bibir-bibir wanita di bawah Jembatan Lempuyangan adalah bibir paling pas untuk ditanami biji bunga. Tidak tercemar narkoba. Tidak ditiduri nikotin dan ganja. Hanya sesekali asap timbal dan karbon monoksida menerpa. Membuatnya layu sebentar, lalu kembali segar dan lebih kebal serangan kuman.  (more…)