Cerpen Hendra Saputra (Republika, 26 Mei 2013)

Mitosomania ilustrasi Rendra Purnama

MITOS itu memang sudah ada semenjak dahulu kala. Saat Desa Karangraya belum ramai seperti sekarang ini. Cerita tentang kekeramatan Masjid Al-Iman yang selalu saja meminta tumbal orang-orang muda yang pintar agama. Kaum muda yang dengan rela dan jujur mau ngerumati masjid tersebut.

Hal itu pun bukan hanya omong kosong belaka, karena sudah banyak bukti yang mensahihkannya. Seperti cerita meninggalnya si Amir, pemuda yang baru dua bulanan ini selalu mengumandangkan azan dan menjadi khatib di masjid itu. Ia meninggal dengan anehnya. Sebab kepergiannya bukan karena kecelakaan ataupun mengidap penyakit yang dapat didiagnosa. Melainkan, ia terkena penyakit yang belum bisa disembuhkan oleh berbagai dokter di berbagai rumah sakit, baik yang ada di desa maupun di kota. Mereka angkat tangan, dan menyerahkan segalanya kepada Yang Maha Kuasa.

”Tuh kan, mitos Masjid Al-Iman terbukti lagi! Makanya kalau mau ngerumati masjid nunggu sudah tua dulu saja,“ tutur Ilman tatkala menghadiri pemakaman Amir.

”Ah, aku nggak percaya sama tahayul semacam itu. Buktinya Ustaz Salim sama Ustaz Mahmud baik-baik saja sampai sekarang,” balas Badri tak percaya.

“Eh, nggak percaya. Soalnya kata orang tua dahulu, di Masjid Al-Iman itu dulunya ada makam keramat. Di makam itulah, masyarakat desa sini sering meminta-minta, entah minta rezeki, keselamatan, kesehatan, sampai minta nomor togel. Tapi, ketika seorang syekh datang ke sini dan melihat kesyirikan umat itulah. Akhirnya, beliau membangunkan masjid di atas makam tersebut,“ jelas Ilman panjang lebar.

”Ya sudahlah, kita berdoa saja semoga tidak ada kesialan lagi yang menimpa pengurus masjid kita,“ sahut Badri penuh doa.

Sebagaimana perbedaan adalah keniscayaan di dunia. Mitos itu pun juga sama. Tak semua orang seiya sependapat dengan adanya mitos tersebut. Apalagi ustaz-ustaz muda yang menjadi pengurus masjid itu pun tak terkena musibah apa pun. Seperti Ustaz Mahmud, yang menjadi bendahara di kepengurusan Masjid Al-Iman. Ia baik-baik saja sampai kini, meski semenjak lulus pondok pesantren lima tahun yang lalu ia langsung mengabdikan dirinya menjadi pengurus Masjid Al-Iman.

Namun, ada pula yang mempercayainya, bahkan ia sampai tak mau memberikan tausiyah bila tempatnya di Masjid Al-Iman. Seperti Kyai Muda dari desa sebelah, meski ia tahu dan paham betul tentang agama, tapi ia bersikukuh tak mau memberikan ceramah di masjid itu.

”Ibu-ibu, maaf, saya tidak bisa kalau mengisi pengajian di Masjid Al-Iman. Tapi, kalau misalkan disuruh ngisi pengajiannya di rumah-rumah, pasti saya bersedia, bu,“ papar kyai muda itu di suatu kala, saat ia telah mengisi pengajian ibu-ibu di desa tersebut.

***

Masjid Al-Iman yang sudah kokoh berdiri selama puluhan tahun lamanya itu memang menyimpan banyak sekali mitos. Dari mitos orang-orang muda yang akan meninggal bila ngerumati masjid sampai mitos bangunan yang tak boleh diubah. Oleh karena itu, masyarakat pun tak pernah merenovasi besar-besaran. Paling mereka hanya sekadar membenarkan gentingnya kalau bocor, mengganti ternitnya, menambal temboknya yang retak, sampai penambahan tempat wudhu di serambi samping. Tak ada perubahan signifikan, yang bisa menghilangkan bentuk asli dari bangunan masjid itu. Sehingga, bangunan itu pun masih sama seperti sedia kala; memiliki bentuk berundak-undak yang didapat dari akulturasi antara agama Hindu dengan budaya Jawa.

Hingga akhirnya, pada suatu ketika bangunan Masjid Al-Iman benar-benar miring, tak kuat lagi dinding dan tiangnya menahan bangunan berundak-undak itu. Hal itu terjadi setelah hujan lebat disertai angin topan menyapa Desa Karangraya satu minggu lalu. Yang mengakibatkan atap di beberapa rumah hilang dan sebuah pohon besar di pinggir jalan roboh menutupi jalan utama desa. Untung saja, musibah itu tak menelan korban.

Maka dari itu, para tetua dan pengurus masjid bermusyawarah. Hingga menghasilkan keputusan untuk melakukan renovasi besar-besaran terhadap Masjid Al-Iman. Dengan dalih untuk keselamatan para penggunanya, pun supaya masjid bisa terlihat lebih megah dan bisa menampung banyak jamaah bila hari raya tiba.

Ditunjuklah Ustaz Mahmud sebagai bendaharanya, sekaligus yang mengurusi setiap kebutuhan dan perlengkapan apa saja yang dibutuhkan untuk merenovasi masjid. Sementara untuk ketua panitianya ialah Ustaz Salim, yang langsung menyedekahkan uang hasil panen sawahnya sebagai modal awal pembangunan masjid—selain modal dari uang kas yang didapat dari kotak amal masjid.

”Insya Allah, amanah ini akan saya jalankan dengan sebenar-benarnya,“ ungkap Ustaz Salim kepada warga saat rapat pembentukan panitia renovasi Masjid Al-Iman—seusai menjalankan salat Isya berjamaah.

***

Dua bulan setelah meninggalnya Amir. Pergunjingan mengenai mitos itu pun redup, tak banyak lagi orang yang membicarakannya. Begitu pun dengan perasaan Ustaz Mahmud yang pada awalnya juga was-was. Karena bagaimanapun juga, bila mitos itu dipercaya oleh banyak orang, maka mitos itu pun bisa juga menjelma menjadi sebuah doa yang mematikan, bila saja Allah mengijabahnya.

Pembangunan masjid pun berjalan tanpa ada suatu masalah apa pun. Dana yang terkumpul dari warga juga seakan membludak, sehingga dana untuk renovasi masjid berjalan lancar, tanpa adanya alasan kekurangan biaya. Masyarakat pun mulai berpikiran kalau semua mitos mengenai Masjid Al-Iman itu hanyalah isapan jempol belaka, yang sudah seharusnya tak dipercaya.

Namun, mitos itu seakan menguap menjadi awan gelap yang menutupi desa. Tatkala terdengar kabar bahwa Ustaz Salim meninggal tadi pagi. Ia mengalami kecelakaan tunggal saat berangkat dengan motor ke tempat kerjanya, di kantor pengadilan agama yang berada di tingkat kabupaten. Ia meninggal di tempat kejadian perkara saat itu juga.

Orang-orang pun melayat ke rumah duka. Tempat di mana istri Ustaz Salim dan anaknya yang masih berusia dua tahun menangis sejadinya. Ia tak kuasa menahan duka yang membelenggunya. Para warga pun mempersiapkan pemakaman Ustaz Salim yang merupakan imam muda Masjid Al-Iman.

”Man, ternyata mitos itu benar,“ ujar Badri pada Ilman saat menunggu jenazah Ustaz Salim tiba di rumah duka.

”Ya, semoga saja Ustaz Salim adalah orang terakhir yang terkena mitos itu, Dri,“ balas Ilman lemas, merasa kasihan terhadap Ustaz Salim yang merupakan guru ngajinya juga.

”Amin, Man. Tapi, kenapa ya, orang baik itu selalu meninggalnya cepat? Berbeda sama orang-orang jahat yang selalu saja diberi umur panjang,” ungkapnya pada Ilman.

Ilman hanya mengangguk pelan mengiyakannya.

”Eh, nggak boleh percaya sama yang namanya mitos,“ sela Pak Kodir yang ternyata dari tadi mendengar pembicaraan mereka.

Ilman dan Badri pun senyam-senyum salah tingkah. Bingung harus berbuat apa. Apalagi, ternyata di samping Pak Kodir berdiri Ustaz Mahmud yang merupakan pengurus Masjid Al-Iman pula.

”Iya, benar apa kata Pak Kodir. Ustaz Salim itu meninggal karena memang sudah menjadi garis ketetapan Allah Subhanallah Wa Taala, jadi tidak ada sangkut pautnya sama mitos atau tumbal dan lainnya,“ tutur Ustaz Mahmud dengan tenangnya. Meskipun sesungguhnya, hatinya juga berkecamuk, apakah benar kabar tentang mitos itu?

Jika benar, maka orang selanjutnya adalah ia, karena sudah tidak ada lagi orang muda yang menjadi pengurus masjid selain dirinya.

***

Renovasi Masjid Al-Iman terus digenjot, hingga akhirnya pengerjaannya pun sudah mencapai 40 persen dari pembangunannya secara keseluruhan. Uang yang sudah digelontorkan pun tak sedikit pula. Sudah mencapai 150 juta pengeluarannya. Begitulah laporan Ustaz Mahmud, selaku bendahara panitia renovasi masjid.

“Ci, beli semennya buat Masjid Al-Iman sepuluh sak sama pasirnya satu mobil coak, berapa?” ucap Ustaz Mahmud ketika membeli keperluan masjid di toko bangunan milik orang Cina di Desa Karangraya.

Pemilik toko itu pun menghitung-hitung dengan kalkulator di tangannya.

”Tujuh ratus lima puluh ribu, Pak,“ balas pemilik toko itu.

Ustaz Mahmud pun membuka dompetnya. Ia mengeluarkan uang merahan dengan jumlah total delapan ratus ribu sebagai pembayarannya.

“Minta nota kosongnya ya, Ci,” tuturnya ketika si pemilik toko itu menghampiri mejanya untuk mengambil uang kembalian.

Ya, setiap ada waktu dan kesempatan Ustaz Mahmud membeli aneka macam keperluan renovasi masjid. Dia pasti meminta nota kosong yang bisa diisi semaunya. Begitupun dengan barang-barang tadi yang sebenarnya hanya menghabiskan tujuh ratus lima puluh ribu rupiah. Ia menuliskannya di nota dengan harga satu juta. Ia memanipulasi jumlah barang yang dibelinya dengan menulis membeli semennya empat belas buah.

***

Dan mitos Masjid Al-Iman itu pun memang tak terbukti kebenarannya. Begitulah anggapan orang-orang desa, sebab mitos itu tak terbukti pada Ustaz Mahmud. Dengan bukti meski ia  sudah menjadi pengurus masjid selama tiga puluh tahun masa pengabdiannya, ia tetap hidup. Malah, sekarang ia sudah punya dua cucu yang bisa dibawanya untuk salat berjamaah di masjid.

Indrakila, 2013

Penulis lahir di Jakarta, 2 September 1992. Saat ini menimba ilmu di Jurusan Tadris Bahasa Inggris, Fakultas Tarbiyah, IAIN Walisongo, Semarang. Pegiat di Lembaga Pers Mahasiswa [LPM] Edukasi serta di Komunitas Beranda Sastra Edukasi [BSE], Semarang. Tulisan penulis pernah dimuat di berbagai media cetak, baik lokal maupun nasional.

Advertisements