Cerpen Sanie B. Kuncoro (Jawa Pos, 26 Mei 2013)

Kolong Meja ilustrasi Budiono

RUMAHMU hening. Hening itu seakan menempatkanmu pada sebuah lorong panjang tak berpangkal, entah berujung. Menumbuhkan kesendirian yang senyap dalam dirimu. Tidak ada ragam suara yang kerap membuatmu merasa bising. Kau sadari kini bahwa suara itu tidak sekadar membawa berisik sebenarnya, melainkan penanda kehidupan. Bahwa kau tidak sendirian melainkan ada sesuatu atau seseorang yang berada dekat dan menemanimu.

Pesawat televisi di sudut itu, yang sering kau kutuk dalam keluhan perlahan, oleh karena tak berhenti menyala dan menyita terlalu banyak perhatian seluruh penghuni rumah sehingga seolah membuatmu terabaikan, kini bisu sama sekali. Bisu semacam itu hanya mungkin terjadi kalau ada pemadaman listrik, yang saat datangnya tidak selalu seperti keinginanmu. Aliran listrik tidak padam hari itu. Namun bisunya televisi tidak ingin kau syukuri, meskipun sungguh kau tahu bahwa itu demi untukmu. Demi membuatmu “tenteram”. Lebih tepatnya tidak menambah gelisah hati dan pikiranmu. Kau hela napasmu. Berat terasa di dada saat udara terembus. Bukan, bukan karena paru-parumu mulai rapuh, bukan pula karena pekatnya polusi udara di sekitar, melainkan karena risau dan kesedihan yang mengubah banyak hal menjadi beban pada pikiranmu. 

Hatimu sunyi. Gamang langkahmu. Entah hendak berarah maju ataukah bergerak mundur. Sementara diam di tempat semula tidak juga mendamaikan benakmu. Dingin lantai menyentuh telapak kaki yang telanjang, merambat perlahan menuju hatimu. Semilir angin di teras rumah seolah membawa damai bergerak menjauh. Dari rumahmu, dari hatimu.

Lalu kau berpikiran ke mana bungsumu pergi? Ada berapa arah menuju. Utara, selatan, barat, timur. Ataukah tenggara, barat daya, timur laut? Gerangan mana yang terpilih oleh langkah kakinya? Kau tak tahu, tak juga mampu menduga. Hendak kau bertanya pada sulungmu. Si sulung itu, selayaknya dia tahu di mana adiknya berada. Bukankah kesulungan tidak hanya memberikan lebihnya garam tercecap, melainkan pula tambahan kuasa dan kewajiban menjaga yang muda? Atau tidak lagi berlaku kelayakan itu saat si bungsu telah membentuk keluarga barunya dan menjadi kepala keluarga?

Baiklah, berarti pertanyaan akan beralih pada menantumu. Selayaknya dia menyimpan jawab terhadap suaminya. Marilah menuju menantu termudamu itu. Namun gerakmu urung. Entah bagaimana kau berpikiran bahwa bukan jawaban yang kau peroleh, melainkan justru pertanyaanmu akan menambah kecemasan baru. Bukankah itu sebabnya pesawat televisi itu mati meskipun aliran listrik tidak padam. Demi tidak menambah cemasmu. Bahkan radio pun telah terambil dari meja kecilmu, meskipun berulang kau yakinkan bahwa bukan siaran berita yang ingin kau dengar, melainkan siaran keroncong yang irama cengkoknya laras menentramkan hati. Namun sulungmu bergeming menolak.

“Sudahlah, Ayah,” katanya pelan dengan nada yang lebih serupa permohonan padamu untuk berhenti mendesak.

Miris hatimu mendengarnya, apalagi menatap matanya yang berkabut menyiratkan cemas dan sesuatu yang tak terjelaskan. Namun gelisah di dalam dirimu tak hendak diam seperti kau inginkan. Demikianlah, perasaan manusia tidak terkonfigurasi serupa daya kerja alat elektronik yang sistematikanya tergantung arahan tombol hidup mati. Rasa hati acapkali berkelana menyimpang dari tombol kendali kehendak pemiliknya. Patuh bibirmu terkatup demi diam yang kau inginkan, tapi gelisah mengembara membawamu pada pertanyaan-pertanyaan. Ada di manakah bungsumu? Terlindungkah dia dari banyak hal berbahaya? Cukupkah makanan tersedia untuknya? Gerangan di mana anak itu menetapkan tempat sembunyinya?

Ingin kau nyalakan televisi. Sungguh kau tahu dari padanya akan kau dapatkan banyak cerita tentang bungsumu. Tidak hanya tentang hal-hal yang tersimpan dalam kenangan, namun lebih banyak yang menghadapkanmu pada terkejut dan gamang yang menyudutkan entah mana bagian yang akan kau percaya, entah pula yang layak digugat. Bongkaran cerita dari berbagai pihak yang ingin menemukan bungsumu, seolah mereka melakukan napak tilas labirin sejarah anak-anak. Sejarah darah dagingmu yang pada beberapa bagian justru serupa cerita asing bagimu.

Ah, si bungsu. Dialah buah hatimu. Kau ingat selalu mudah menemukan anak itu. Bertahun silam, setiap sore dia berada di beranda menunggumu, sembari mengharap sesuatu. Tidak selalu kau bawa buah tangan, lebih sering berupa cerita perjalanan yang selalu disimaknya dengan mata bercahaya. Pijar mata yang sama di matamu saat mendengarnya berkisah tentang teman-teman sepermainannya. Bungsumu yang baik hati, yang selalu berbagi dengan siapa pun. Hanya sesekali nakalnya muncul. Kau tersenyum kecil teringat sejarah lalu.

Adalah kebiasaan istrimu menaruh sisa uang belanja di laci lemari buku. Kadang terjadi uang tak seberapa itu hilang tiba-tiba. Dan saat dia mengeluhkan kehilangan itu sembari mengedipkan mata isyaratnya kepadamu saat si bungsu melintas, maka uang itu akan segera kembali utuh di tempatnya semula. Kalian tahu si bungsu telah mengurungkan niatnya. Selalu begitu. Betapa pun sisa receh itu menggodanya, tidak tega hatinya oleh keluhan sang ibu. Lalu kau akan menemukannya bergelung di bawah meja. Pada kolong redup cahaya itu bungsumu diam entah berapa lama. Kau tahu, itulah cara bungsumu meredakan rasa bersalahnya. Kolong meja berlaci tunggal itu seolah menjadi ruang refleksi baginya.

Itulah kenangan sejarah yang tersimpan dalam ingatanmu, yang acap kali kau kisahkan pada cucu-cucumu saat kau kau kunjungi rumah bungsumu. Selalu mereka tergelak-gelak demi mendapati ayahnya tersipu mengenang kisah lalu itu. Mereka pun mencari kolong meja demi menemukan sensasi keping sejarah yang sama. Namun tidak ada meja berlaci tunggal di rumah itu. Yang ditemukan adalah lemari dan meja besar dengan laci berlapis-lapis. Tidak tersisa sedikit ruang di bawahnya untuk kolong merenung. Susunan laci yang menumbuhkan heranmu.

“Untuk menyimpan berbagai hal, Ayah,” jawab si bungsu meminta pemaklumanmu.

Entah apa berbagai hal itu sehingga diperlukan sedemikian banyak laci dan meja penyimpan. Tapi bungsumu selalu berpaling demi menghindar dari tatap mata tersiratmu. Kau pun tak hendak mendesak, melainkan memilih menyediakan pemakluman-pemakluman.

“Zaman sudah berkembang sedemikian rupa,” gumam hatimu. “Lebih banyak yang diperlukan sehingga beragam hal harus dimiliki. Lemari dan laci-laci itu untuk menyimpan semuanya agar terjaga dengan rapi.”

Lagipula bungsumu wakil rakyat, tentu tak sedikit titipan rakyat yang diterima dan harus disimpannya. Itulah ragam amanah yang harus dijaga. Sementara dulu kau hanyalah guru desa. Tidak ada rakyat yang menitipkan sesuatu padamu kecuali lembaran kerangka pikir anak-anaknya untuk kau isi dengan pelajaran berharga tentang nilai kehidupan untuk menata dan menjalani masa depan. Meja berlaci tunggal cukup untuk mendukungmu melaksanakan amanah itu. Di mana meja itu sekarang? Seingatmu kau meninggalkannya di rumah ibu di desa. Masihkah tersimpan di sana?

Terhela napasmu, terhirup udara berpartikel debu di sekitarmu. Partikel debu nan halus lembut sehingga tak terlihat. Akankah persembunyian sanggup mengamankan dan membuat bungsumu tak terlihat? Mungkin. Tapi apa yang ditemukan pada pembongkaran laci dan meja bungsumu, dengan kamuflase apa pun tidak akan menjadikannya tersamar serupa partikel debu. Nyaris tak ada amanah rakyat yang tersimpan di sana melainkan justru jarahan, yang kini aroma bangkainya menguar ke segara arah mata angin.

Angin berhembus, deras dengan gerak seolah berputar. Di kejauhan kau melihat debu berterbangan bersama gugur dedaunan. Saat yang sama berguguran pula kebanggaan dalam dirimu. Sesuatu telah jatuh, itulah martabat dan harga diri. Hening kemudian, mengantarmu pada sebuah renungan panjang. Lalu sesudah itu kakimu melangkah mencari sulungmu.

“Segera bersiplah, antarkan Ayah ke rumah nenek di desa,” katamu tanpa bimbang. Suaramu bergetar meski tak ada gentar di benak.

Sulungmu terkejut. Tatap matanya bertanya menyiratkan sesuatu. Kau balas tatap mata itu dengan hati teguh. Kepalamu mengangguk sepenuh keyakinan yang tak goyah.

“Lalu temuilah pihak berwenang. Ajukanlah permohonan untuk mengizinkan adikmu membawa meja berlaci tunggal itu saat di penjara nanti. Hanya kolong meja itu yang akan menjernihkan pikiran dan menentramkan hatinya, demi mengungkapkan kebenaran.”

“Ayah,” sulungmu tercekat.

“Benar si bungsu telah menjatuhkan harga diri keluarga yang terjaga sejauh ini. Namun, tidak berarti martabat itu tak terbangun lagi selamanya. Maka inilah langkah awal untuk mendirikannya kembali, dengan taat hukum.”

Lalu kau dengar hela napas. Oksigen memenuhi paru-paru memberi kelegaan. Saat terembus seakan terlepas suatu beban. Itulah napasmu. Kau berharap akan menemukan kelegaan yang sama pada napas bungsumu saat menjemputnya nanti. Pada sebuah kolong meja berlaci tunggal di rumah ibumu. (*)

 

Sanie B. Kuncoro, cerpenis yang berumah di Solo.

Advertisements