Bisikan di Telinga Anjing


Cerpen Akasa Dwipa (Suara Merdeka, 26 Mei 2013)

Bisikan di Telinga Anjing ilustrasi Hery Purnomo

SEPULUH musim terlewati di rumah ini bersama seekor anjing.

Bertahun-tahun lalu aku menemukannya di jalan. Seekor anjing basah kuyup di emperan toko. Tubuhnya kurus dan kotor. Hidung dan kakinya mengeluarkan darah. Ketika aku mendekat, anjing itu ketakutan. Setelah gagal mengangkat tubuhnya sendiri, anjing itu pasrah, mendesakkan tubuhnya ke dinding. Meski tidak pernah memelihara anjing, aku membawanya pulang. Disertai perasaan aneh, sambil jalan aku menenangkannya dalam dekapanku.

Sekarang anjing itu berada di sini, duduk di bawah kakiku, mendengarkan bunyi hujan. Aku ingat kali pertama mendatangi rumah ini.

Malam itu hujan. Aku sempat bertanya berkali-kali sebelum menemukan rumah milik temanku, seorang pedagang sayur. Hujan bercampur angin membuat malam terasa menakutkan. Tidak ada suara petir, namun kencang tiupan angin membuatku khawatir dalam perjalanan menuju rumah yang belum kuketahui keadaannya.

Di jalan aku melihat pohon tumbang menimpa tiang listrik. Ledakan pun terdengar. Seketika keadaan jalan gelap. Warga ramai keluar rumah mengenakan payung, mantel hujan, dan membawa senter. Salah seorang dari mereka memberi tahu, rumah yang aku cari berada tidak jauh dari kerumunan warga itu.

Waktu memasukkan kunci ke gembok yang tergantung di gerbang, aku merasakan keresahan dalam tiupan angin. Sebuah pohon berdiri di halaman rumah. Daunnya berkeresak kian mempermuram suasana hatiku yang memar akibat dikhianati. Aku mendorong gerbang itu, kubuka lebar-lebar, kumasukkan motor dengan lampu tetap menyala. Sorot lampu memantul pada jendela kaca rumah. Aku bisa melihat genangan air hujan berwarna cokelat dan setinggi mata kakiku.

Ketika kubuka pintu rumah, hawa pengap bercampur lembab seketika memasuki penciumanku. Aku tidak bisa melihat apa-apa. Aku nyalakan korek api, menyulut rokokku. Aku angkat api di tanganku untuk menerangi ruangannya. Tidak ada perabotan. Dua kamar terbuka karena memang tidak berpintu dalam ruangan itu juga kosong. Kemudian aku melihat ruangan yang lain: dua kamar di ruang depan. Dapur dan kamar mandi di ruang belakang.

Aku memutuskan menempati rumah itu.

***

Tidak ada yang harus kubawa ke rumah itu selain pakaianku dan sandal-sandal yang aku jual keliling jalan kaki. Aku membersihkan lantai sebelum kutaruh beberapa kardus besar berisi sandal. Aku menggelar tikar di salah satu kamar, kupilih kamar yang jendelanya langsung menghadap ke luar. Karena lelah aku merebahkan tubuh sembari berpikir yang mesti kulakukan selanjutnya.

Meski berpikir keras, aku tidak menemukan sesuatu selain kegelisahan yang dipantulkan langit-langit kamar. Aku ingin lari sejauh-jauhnya dari kejadian pahit bersama kekasihku yang aku kenal di sebuah taman.

Waktu itu matahari hampir tenggelam. Aku berjalan membawa daganganku dalam tas besar. Bukan karena lelah aku berhenti di taman dan duduk di bangkunya. Bukan pula di bangku itu sudah ada perempuan yang menyebabkan aku tidak langsung pulang.

Aku berhenti di taman karena daganganku terjual banyak. Bagiku bersantai di tempat umum sambil merokok dan mengamati pemandangan sungguh menyenangkan. Sayangnya sore itu hanya dipenuhi deru kendaraan. Tidak ada perempuan cantik yang melintas untuk sekadar membuatku berandai-andai memiliki seorang kekasih. Aku tidak peduli dengan perempuan di sampingku karena dia berperut besar. Tidak ada pemandangan yang membuatku tertarik, maka duduk di samping orang asing tidak membuatku nyaman.

“Menunggu siapa?” Kumatikan rokokku.

“Apa yang kamu jual?” perempuan itu balik bertanya.

“Sandal karet, sandal kain.”

Kutarik risleting tasku. Kukeluarkan sandal dan mendekatkan pada kakinya yang mengenakan sepatu kulit.

Matahari sudah tenggelam ketika aku melihat kakinya menelusup pada sandal kain bergambar bunga-bunga. Lampu kota berpendar kuning tua. Sinarnya jatuh pada kaki mungilnya. Lentik jari kakinya bergerak-gerak mempertimbangkan, apakah sandal itu sesuai. Jari-jari mungil itu berpindah di pikiranku karena, dengan tiba-tiba, aku menilainya sebuah keindahan. Perasaan itu lantas memengaruhi hatiku yang seketika menjadi gelisah. Aku tidak lagi berpikir dan berharap perempuan itu akan membeli daganganku.

“Aku tidak tertarik dengan sandal ini,” ujarnya.

Aku tercengang bukan lantaran kecewa atas tolakannya, tapi perempuan itu berparas lembut, rambutnya lebat, ikal seperti gelombang-gelombang air. Kehamilannya, yang semula tidak membuatku tertarik memperhatikannya, kini berbalik. Perut buncitnya tidak mengurangi keindahan sosoknya yang merampas kedamaian jiwaku.

“Kamu tidak harus membelinya,” jawabku. “Kamu boleh memakainya.”

“Kenapa?”

Karena kakimu benar-benar indah, gumamku dalam hati. “Pakailah. Sandal ini cocok untukmu.”

Ia tersenyum, memperkenalkan diri. “Namaku Ayu.”

Aku menjabat tangan yang ia ulurkan. Tangannya lembut dan sehangat tubuh anjingku yang sekarang berkelebat di kakiku.

Kelembutan itu bukan milikku lagi setelah tiga bulan aku hidup bersamanya. Ia menerimaku hadir dalam kehidupannya setelah aku tahu kehamilannya tanpa seorang suami. Aku terpaksa meninggalkannya ketika aku melihatnya bercinta dengan mantan pacarnya. Aku menyaksikan perselingkuhan itu sehabis menjelajahi jalan dengan pundak terasa ingin patah akibat isi dalam tasku tidak satu pun terjual.

***

Anjingku melompat ke atas pangkuanku, ikut memandangi hujan yang semakin deras. Ekornya bergerak patah-patah seakan gembira mendengar suara air hujan, atau bisa jadi anjingku tahu yang sedang kukenang.

Kekasihku meminta maaf. Namun tumpukan kardus dalam kamarku dulu tinggal bersamanya berubah menjadi api. Hatiku terbakar. Bayi berumur dua bulan yang terbaring di sisi kedua manusia telanjang itu menjadi pemandangan menjijikkan. Seharusnya aku menampar kekasihku dengan sandal. Seharusnya aku meninju perut laki-laki itu ketika mengenakan pakaiannya. Namun aku sudah terbakar. Harga diriku terbakar.

Apakah cintaku menjadi abu? Tidak. Cintaku tidak pernah terbakar. Cinta di dada ini menggenang seperti air, tidak bisa terbakar, tidak juga mendidih hanya karena dadaku begitu rapuh oleh kobar api pengkhianatannya. Kiranya pemandangan itu bisa menghancurkan rasa cintaku, belum tentu aku tega membuat merah pipinya, belum pasti aku mampu melukai selingkuhannya.

Pun aku meninggalkannya. Kekasihku menangis, memohon ampunan.

“Ini ketiga kalinya kamu melakukannya,” jawabku. “Aku mengampunimu sekaligus masih mencintaimu tidak berbeda dari cintaku terhadap kakimu di taman dulu. Lupakan kesalahanku yang memasukkanmu dalam kehidupan penjual sandal keliling. Lupakan juga pernikahan yang akan kita lakukan.”

Kekasihku menjawab dengan tatapan mata basahnya seperti dua kejadian sebelumnya.

“Kamu boleh menangisi kenangan kita di kamar ini. Pun aku akan mengingatmu ketika terbaring di ranjang rumah sakit merintih kesakitan, aku memeluk kepalamu yang basah oleh keringat, aku merasakan rintihan sakitmu, aku mendengar tangisan buah hatimu ketika lahir.”

Kekasihku berkata-kata. Aku tidak mau mendengarkannya.

“Sekarang bayi itu telah mendapatkan ayah kandungnya. Aku bukan laki-laki tegar untuk terus membuka dada atas perbuatanmu. Selamat tinggal.”

Hujan turun saat aku mengeluarkan kardus- kardus diiringi tangisan bayi juga tatapan kekasihku dan sikap bisu laki-laki yang dadanya setengah terbuka. Aku bawa daganganku ke rumah temanku dengan menyewa becak. Aku menembus hujan membawa cinta yang terluka.

Di hadapan temanku, aku seperti anjing terluka. Tangannya berbau bawang putih ketika mengacak rambutku sambil mengatakan, aku boleh tinggal di rumah warisan orangtuanya yang selama ini dibiarkan kosong.

Di rumah inilah aku hidup bersama anjingku, mengingat kenangan-kenangan tentang kekasihku. Pun aku selalu ingat ketika anjingku tiba di rumah ini.

Dulu aku kira anjing itu tidak akan selamat. Sesampainya di rumah, aku langsung menghangatkan tubuhnya dengan handuk. Aku menyeka darah di hidung dan kakinya dengan kain lembut. Kakinya pincang ketika mencoba berdiri dan berjalan.

Ketika aku teringat kekasihku, aku selalu memeluk anjingku. Aku membisikkan sesuatu di telinga anjingku, bahwa aku mencintai seseorang bernama Ayu. Namun begitu, aku cukup mencintainya dalam dada, tidak akan mengulang hidup bersamanya. Aku memasukkan Ayu dalam hidupku murni karena cinta. Dan aku menyelamatkan anjing terluka karena perasaan seorang manusia yang tidak seharusnya membiarkan mahluk lain menderita.

Aku duduk memangku anjingku. Di luar, air hujan menerpa pohon mangga dan gerbang rumah. (*)

Akasa Dwipa adalah nama pena Muhammad Zuhri, penulis yang tinggal di Solo. Novelnya Kota Anjing jadi pemenang Lomba Novel Dewan Kesenian Jawa Tengah 2011. Dia aktif dalam pergerakan hak-hak hewan secara mandiri dan berorganisasi dengan menampung anjing-anjing dan kucing-kucing telantar, dan mengampanyekan hidup vegan sebagai wujud cinta universal untuk menuju revolusi radikal bagi semua sistem.

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: