Cerpen Sungging Raga (Media Indonesia, 19 Mei 2013)

Cartesia ilustrasi Pata Areadi

SIAPAKAH yang berani mengganggu hantu terbang Flying Britishman di Stasiun Kingscote yang sudah tak digunakan sejak puluhan tahun lalu itu?

Suasana remang selalu tampak setiap kali Stasiun Kingscote dipandang dari arah perbukitan Turners Hill. Konon, sudah lama stasiun itu menjadi tempat persemayaman makhluk halus. Dalam radius 2 kilometer dari stasiun, selalu terdengar suara dengung kereta api, hiruk-pikuk penumpang, gelak tawa, obrolan-obrolan dengan bahasa yang tak dimengerti.

Namun ketika kau mendatanginya, tentu saja kau tak akan melihat keramaian penumpang sebagaimana hiruk-pikuk suara yang kau dengar dari kejauhan. Di sana kau hanya akan mendapati sesosok makhluk hitam melayang di langit-langit stasiun. Sosok itu laki-laki, dan ia akan menyambutmu dengan suara menggelegar, “Selamat datang di Kingscote, apakah kau membawa Cartesia padaku?”

***

Sejak diresmikan pada tahun 1882, tepatnya di masa Ratu Victoria, Stasiun Kingscote telah memberikan cerita yang lebih beragam dari stasiun lainnya. Di stasiun itulah terjadi perpisahan Cartesia dan Horde, sepasang kekasih yang kisah cintanya menjadi panutan anak-anak muda daerah Inggris Selatan di akhir tahun 1800-an.

Cartesia adalah gadis tercantik yang kulitnya terbentuk dari aliran air, senyumnya terbalut salju dari Mediterania, dan gaunnya adalah balutan pelangi dengan ornamen daun-daun mapel merah dan kuning yang berguguran pada musim gugur di perbukitan Rusia. Sementara Horde adalah seorang lelaki pendekar pedang, perwira muda di distrik Birmingham, yang kala itu diakui sebagai daerah dengan pertahanan terkuat di wilayah kerajaan Inggris.

Dari ketenaran dan kegagahannya itu, maka tak bisa dimungkiri ketika suatu hari diketahui Horde dan Cartesia menjalin kasih, tak ada lagi pasangan manusia yang lebih sempurna dari mereka berdua.

Namun semuanya berubah ketika ledakan revolusi industri menghasilkan benda bernama kereta, yang dengannya komunikasi dan kehidupan sosial masyarakat Inggris berubah drastis. Rel-rel dipancangkan, lokomotif diperkenalkan, dan stasiun demi stasiun dibangun.

Masyarakat mulai menyenangi perjalanan dengan benda besi itu, termasuk pula Horde, yang asalnya memang memiliki jiwa petualang untuk menjelajahi kota demi kota. Dan sejak Stasiun Kingscote dibangun, keduanya sering berpisah. Cartesia yang masih takut dengan kereta, akhirnya rela membiarkan Horde untuk pergi demi menuruti hobinya berpetualang.

“Aku tak menyangka bisa melakukan perjalanan jauh dengan kendaraan besi,” ucap Horde suatu hari sepulang dari London Utara, melihat gudang senjata terbesar di Inggris.

“Ya. Asalkan perjalanan itu membuatmu semakin merindukanku,” balas Cartesia dengan manja. Awalnya Horde memang hanya pergi tiga hari sampai satu minggu, kemudian kembali lagi pada Cartesia.

Namun selalu tiba saat di mana seseorang tak kembali. Semua itu terjadi saat Horde berkata ingin berkunjung di kota pelabuhan Portsmouth, yang kala itu dikenal sebagai pusat perdagangan.

Satu hari. Empat hari. Enam puluh tiga hari. Lima belas tahun…

Ya. Lima belas tahun sejak kepergian Horde ke Portsmouth, Cartesia mulai cemas akan cintanya. Ia selalu duduk berjam-jam di Stasiun Kingscote sambil menyanyikan kidung-kidung kesunyian, kadang ia lantunkan lagu-lagu tradisional Inggris yang lirik-liriknya magis.

Lama-kelamaan Cartesia pun divonis gila, ia sempat dibawa ke rumah sakit dan diketahui bahwa saraf-saraf otaknya sudah tak bisa kembali seperti semula. Namun kedudukan Cartesia sebagai putri dengan kekayaan orangtua yang melimpah membuatnya mudah untuk kembali ke stasiun, duduk menyendiri di sana, menunggu cintanya.

Sejak saat itu, orang-orang mulai ketakutan untuk naik kereta dari Kingscote, setiap kali terdengar pengumuman kedatangan kereta, Cartesia selalu menjerit-jerit, berharap kereta itu mengembalikan kekasihnya.

Sementara di tempat lain, Horde mengalami jalan hidup berbeda. Ia berkenalan dengan Putri Nalea Mendieta, anak gadis seorang gubernur yang baru diangkat di kota pelabuhan Portsmouth. Horde lalu menikahi gadis itu, gadis yang usianya jauh lebih muda darinya, namun punya kematangan wanita yang sempurna.

Horde tentu tak sadar bahwa sesungguhnya ia sedang diliputi ilmu hitam. Ya, Putri Nalea telah bekerja sama dengan seorang dukun yang tinggal di dekat pelabuhan untuk membuat Horde takluk kepadanya. Sudah lama ia tahu kisah fenomenal percintaan Horde dan Cartesia, karena itu, ia pun meminta dukun itu untuk menghukum Cartesia.

“Buatlah gadis itu sengsara, kirimkanlah sihir ke Stasiun Kingscote. Akan kubayar kau dengan sebuah rumah di Fratton Park.”

Si dukun gembira dan setuju. Maka terjadilah pertarungan puluhan tahun antara cinta yang dibalut ilmu hitam milik Putri Nalea, dengan penantian suci yang rentan kerinduan milik Cartesia. Sejak saat itu, selalu ada kabut berwarna pekat menyelimuti Stasiun Kingscote, yang bagi para penduduk setempat adalah kutukan untuk Cartesia.

Gadis itu pun mulai ditimpa penyakit aneh, kulitnya tiba-tiba melepuh, muncul sisik dan benjolan bernanah di sekujur tubuhnya. Cartesia seperti kehilangan bahasanya, tinggal lengkingannya yang selalu terdengar menyedihkan.

Hanya satu orang yang masih berani mendekati Cartesia, seorang lelaki yang selalu datang ketika pagi dan senja untuk membawakan gadis itu makanan. Konon, ketika Cartesia masih jelita, ia adalah lelaki yang mencintainya namun telah seribu kali ditolaknya. Ia pun pasrah ketika Cartesia lebih memilih Horde. Namun kali ini, lelaki itu membuktikan bahwa cintanya lebih kekal dari ujian sihir yang menyelimuti stasiun tua itu.

Dengan sabar ia belai rambut Cartesia yang mulai kusut, memutih, mengering, dan kemudian rontok satu demi satu. Ia bahkan tetap menyisir sisa rambut gadis itu, tapi ia sendiri merasa buntu dengan apa yang harus dilakukan selanjutnya.

“Cartesia, tak bisa kau lupakan Horde? Aku akan tetap mencintaimu meski kau dalam keadaan begini.” Begitu yang biasa ia bisikkan, tapi yang keluar dari mulut gadis itu hanya lengkingan aneh yang bahkan tak bisa dicatat bentuk kalimatnya.

Karena merasa sia-sia menunggu kesembuhan Cartesia, ditambah ia mendengar desas-desus tentang sihir, lelaki itu pun mencari dukun terbaik di Birmingham. Dan tahulah ia bahwa Cartesia serta bangunan stasiun telah dikuasai sihir pekat dari semenanjung Portsmouth.

“Satu-satunya jalan untuk mengembalikan Cartesia adalah melawan sihir itu dengan sihir pula,” kata sang dukun pada lelaki itu.

“Bagaimana caranya?”

“Hmm, cukup berat, Nak.”

“Bagaimana, katakan saja.”

“Begini. Kau sendirilah yang harus menjadi sihir itu. Kau harus merelakan jiwamu bersemayam di stasiun itu, untuk menolong gadis pujaanmu dari ilmu hitam yang menguasainya.”

Lelaki yang dalam cerita pendek ini tak mau disebutkan namanya pun berpikir sejenak.

“Apa kalau aku bersemayam di Stasiun Kingscote, Cartesia bisa sembuh?”

“Tentu saja bisa, Nak. Gadis itu akan sadar.”

“Ah. Baiklah, aku setuju.”

Maka, sebulan setelah transaksi sihir itu, tepatnya pada suatu senja yang ramah, tiba-tiba Cartesia mulai menemukan kesadarannya. Bahkan suaranya pun kembali. Cartesia bangkit dari duduknya, ia menghadap cermin yang buram di salah stu bekas loket, ia temukan dirinya begitu kurus, kulitnya penuh benjolan hitam bekas luka, wajahnya begitu pucat.

“Apa yang terjadi?” tanyanya sendiri, tetapi ia tak sempat memandangi sosok hantu lelaki yang melayang-layang di atas kepalanya. Gadis itu justru melangkah keluar stasiun, terdengar ketipak kereta kuda yang kemudinya berhiaskan emas berhenti di depan gerbang.

“Horde?”

“Cartesia!”

“Oh, Horde. Aku merindukanmu.”

“Maafkan aku Cartesia, bertahun-tahun aku larut dalam kelalaian akan dirimu. Seorang wanita dari Portsmouth telah menyihirku. Apakah kau masih menerimaku?”

“Tentu saja Horde, aku tahu, ini adalah jalan takdir kita untuk bersatu.”

Maka gadis itu segera menaiki kereta kuda yang disiapkan, mereka pun pergi, melakukan perjalanan sehari semalam ke sebuah bukit asri bernama Old Cleeve.

Cartesia mulai menemukan lagi kecantikannya. Dan akhirnya mereka pun menikah, tinggal di sebuah rumah kecil yang menghadap bukit, hidup bahagia di sana, melanjutkan romansa yang pernah ada.

Sementara itu, Stasiun Kingscote tetap dilindungi kabut pekat, suasana remang dan sayup-sayup terdengar suara peluit kereta serta hiruk-pikuk penumpang yang menakutkan. Semua itu ulah The Flying Britishman, seorang lelaki yang telah merelakan jiwanya bersemayam di sana sambil terus menunggu Cartesia kembali ke stasiun itu.

Namun, sampai kabar wafatnya Cartesia di musim gugur 1959, sekali pun Cartesia tak pernah berkunjung ke stasiun itu lagi. (*)

 

 

Sungging Raga, tinggal di Situbondo, Jawa Timur. Banyak menulis fiksi.

Advertisements