Cerpen Jujur Prananto (Kompas, 12 Mei 2013)

 

 

“BANG! Bangun, Bang! Ada berita dari rimah sakit!”

Chaerul seketika terjaga dari tidurnya yang tak nyenyak, dan spontan melihat ke arah jam dinding yang jarum pendeknya menunjuk angka tiga. “Berita apa?”

“Om Sur….” Istrinya tak kuasa melanjutkan ucapannya.

“Innalilaahi….”

“Ssst! Bukan meninggal…!”

“Lho..???”

“Kata perawat, jam dua seperempat dini hari tadi Om Sur membuka mata. Siuman. Mulutnya bergerak seperti mau bicara, tapi tidak keluar suara.”

Chaerul terdiam. Seketika ia jengah. Perasaannya terlalu kacau untuk mengambil sikap dalam menanggapi kejadian ini: bersyukur ataukah berduka. Ialah kekacauan yang sebetulnya sudah dirasakannya sejak tiga bulan lalu, saat ia menerima kabar dari Jakarta perihal dirawatnya Om Sur di rumah sakit setelah terjatuh di kamar mandi akibat stroke yang menderanya. Waktu itu ia buru-buru ke bandara untuk mengejar penerbangan terakhir ke Jakarta. Dari bandara Soekarno-Hatta ia langsung ke rumah sakit Pondok Indah, bergabung dengan keluarga besar Om Sur yang sudah berkumpul di ruang tunggu ICU. Semua wajah menyiratkan duka. Tak sedikit yang matanya basah.

Pada saat Arifin keluar dari ruang ICU dengan wajah beku, serentaklah mereka berdiri dan tertib mengantre untuk menyalami putra Om Sur ini, mengungkapkan simpati dan keprihatinan. Siratan wajah duka berubah jadi duka mendalam. Air mata yang menetes berubah jadi bercucuran. Isak-isak tertahan berubah jadi raungan tangis. Dan Arifin menanggapinya dengan wajah dingin, nyaris tanpa perubahan ekspresi.

Chaerul sendiri mendapat giliran terakhir menyalami Arifin, dan Chaerul melihat wajah adik sepupunya ini sedikit berubah. Arifin lalu mengajak Chaerul menjauhi keramaian untuk bicara empat mata.

“Apa kata dokter, Rif?” tanya Chaerul.

“Aku khawatir Papa terlalu banyak memendam perasaan,” jawab Arifin lirih.

“Memang ada persoalan apa?”

“Tak banyak yang tahu kalau Papa sebetulnya sudah tidak punya apa-apa. Usaha batu baranya miss-management, sudah beralih kepemilikan ke orang lain. Pabrik metanolnya sudah hampir enam bulan berhenti beroperasi karena bahan bakunya sudah habis. Sahamnya di garmen juga bisa dibilang sudah enggak ada nilainya karena pabriknya collapse setelah hampir setahun vakum gara-gara demo buruh yang enggak habis-habis.”

Arifin sejenak berhenti bicara, lurus-lurus menatap Chaerul dan berbisik dengan suara sangat dalam. “Sebulan terakhir ini Papa beberapa kali bicara soal piutang-piutangnya.”

Chaerul serasa mendengar petir menggelegar di telinganya, yang sekonyong-konyong memanaskan ruangan yang begitu dingin. Ia langsung merasa dirinya bagaikan seorang terdakwa.

Chaerul memang banyak berutang pada Om Sur sejak usaha-usaha pamannya ini meningkat pesat lima tahun terakhir ini. Pada saat yang sama Chaerul justru sedang merangkak memulai usaha baru. Tak berani berhubungan dengan bank untuk mendapatkan modal usaha, Chaerul menemui Om Sur untuk minta bantuan. Chaerul ingat betul waktu itu Om Sur langsung mengeluarkan buku cek dari laci mejanya dan bertanya Chaerul perlu berapa. Chaerul tergagap-gagap menyebut angka ratusan juta, dan Om Sur langsung menuliskan angka itu di kolom isian pada lembaran cek di hadapannya.

Dengan modal dari Om Sur itu Chaerul menyewa sebuah ruko di salah satu kawasan niaga di Jakarta Selatan untuk membuka kantor baru. Namun usahanya di bidang jasa konsultasi keuangan dan perbankan ini hanya bertahan kurang dari enam bulan karena modalnya habis untuk biaya overhead kantor dan gaji sepuluh staf berikut karyawan yang semuanya sarjana, kecuali office boy.

“Usaha kamu kurang komersiil,” kata istrinya.

“Tapi bidang ini sesuai dengan pendidikanku,” kata Chaerul.

“Lupakan pendidikanmu. Cari usaha yang lebih konkret.”

Chaerul pun menghadap Om Sur lagi.

Ia mengaku usahanya telah gagal, dan ingin membuka usaha baru yang lebih menjanjikan, “…agar bisa segera mengembalikan pinjaman saya yang terdahulu.” Waktu itu Om Sur spontan mengatakan, “Jangan pikirkan dulu urusan pinjaman. Kamu fokus saja ke usaha kamu. Kalau sudah running well, baru kamu pikirkan urusan utang-piutang di antara kita.”

Chaerul sangat bersyukur dan mengucap beribu terima kasih.

“Mau bikin apa kamu sekarang?”

“Kafe, Om. Saya sudah melakukan survei kecil-kecilan dan hasilnya positif. Bisnis kafe yang saya pilih ini sangat prospektif.”

“Sudah ada modal?”

“Ehm… itu dia, Om… Mohon maaf….”

Chaerul membuka kafe bersama beberapa mantan teman satu almamater. Bertempat di lingkungan perkantoran, kafe ini langsung kebanjiran pengunjung. Sebagian terbesar tamu ialah mantan teman-teman kuliah Chaerul yang berkantor di sekitar lokasi kafe, maupun yang sama-sekali tak berkantor, dan memanfaatkan kafe ini untuk pertemuan-pertemuan bisnis mereka. Kebanyakan dari mereka datang seusai jam makan siang—yang artinya jarang ada yang memesan hidangan makan siang—dan pulang menjelang maghrib—yang artinya jarang ada yang memesan hidangan dinner. Sebagian terbesar cukup memesan secangkir teh atau kopi untuk bertahan duduk selama tiga-empat jam. Lagi-lagi, usahanya ambruk sebelum sempat berkembang.

“Masih ada sisa modal dari Om Sur,” kata Chaerul menenangkan diri.

“Jangan pakai buat bikin usaha lagi,” kata istrinya. “Mending kamu nyari kerja yang bener. Minta tolong sama teman-temanmu yang suka pada nongkrong di kafe itu.”

Istri Chaerul benar. Salah-satu teman Chaerul bekerja di sebuah imperium bisnis yang bergerak di bidang properti. Chaerul diajak bergabung dan kebagian tanggung-jawab urusan pembebasan tanah. Jabatan ini membuat kehidupan Chaerul berubah. Lewat kelihaiannya melakukan pendekatan dan negosiasi, dengan anggaran miliaran dari perusahaan ia sanggup membebaskan luasan lahan dengan ganti rugi hanya ratusan juta.

Tapi kondisi ini pun tak berlangsung lama. Audit besar-besaran yang dilakukan perusahaan sehubungan dengan penurunan laba tahunan yang begitu drastis menguak praktik manipulasi yang dilakukan Chaerul. Chaerul dipecat secara tidak terhormat dan diperintahkan untuk membayar semua kerugian perusahaan yang diakibatkan oleh kesalahannya.

Setelah itu Chaerul tak tahu mau berbuat apa lagi.

“Masih ada sisa pinjaman dari Om Sur,” kata Chaerul untuk menenangkan istrinya yang terpanik-panik menghadapi perkembangan situasi ini.

“Sekarang aku minta kasihkan sisa uang kamu ke aku! Kali ini aku yang buka usaha! Kamu diam di rumah!”

Giliran istri Chaerul yang membuka usaha yang sudah lama diimpikannya, dan sangat sesuai dengan pendidikan dan keahliannya, yaitu klinik perawatan gigi. Usaha ini berkembang lumayan bagus, dan untuk sementara kehidupan rumah-tangga Chaerul bisa terselamatkan.

Namun istri Chaerul tak pernah merasa tenang, sebab bagaimanapun Chaerul masih memiliki banyak utang pada Om Sur, yang total jumlahnya mencapai hampir semiliar. Chaerul selalu berusaha menenangkan istrinya dengan mengatakan bahwa pada kenyataannya Om Sur tak pernah menagih piutangnya.

“Tapi sampai kapan pun utang tetap utang,” kata istrinya.

“Tapi kamu sendiri tahu sampai kapan pun aku atau kita tak akan pernah mampu membayarnya!”

“Jadi kita harus bagaimana???”

“Tenang. Kamu harus belajar menghadapi persoalan ini dengan tenang. Masalah ini akan terselesaikan oleh berjalannya waktu.”

“Maksudmu?”

Dengan suara berbisik, seperti takut ada orang lain yang mendengar—padahal di ruangan ini tak ada siapa-siapa kecuali mereka berdua—Chaerul menjawab, “Cepat atau lambat Om Sur akan meninggal dunia. Begitu meninggal dunia urusan utang-piutang dengan beliau aku yakin akan sirna dengan sendirinya….”

Kenyataannya tiga bulan setelah terkena stroke Om Sur justru dikabarkan meningkat kesadarannya…!

“Tadi siapa yang menelepon?”

“Perawat rumah-sakit di Jakarta. Kamu kan ngasih nomor kita ke perawat di sana supaya sewaktu-waktu bisa menelepon kita.”

Chaerul pun menelepon balik. Penjelasan yang diterimanya membuat seluruh tubuhnya gemetar. Perawat itu bercerita bahwa meski tak bisa bicara, Om Sur bisa menulis dengan tulisan yang kacau tapi tetap bisa terbaca. Dan kata-kata yang berulang-kali ditulisnya ialah “Piutang… piutang… piutang….”

***

“TERNYATA benar dugaanku,” kata Arifin, yang sebelumnya secara khusus meminta agar Chaerul segera datang ke Jakarta. “Seperti pernah aku bilang, menjelang terkena stroke Papa sering bicara masalah piutang, dan ternyata setelah tiga bulan tak sadar pun, Papa siuman lagi hanya untuk mengatakan yang sama. Jelas ini suatu pertanda, bahwa Papa akan merasa tenang hanya setelah semua urusan piutang bisa diselesaikan.”

Chaerul merasa keringat dingin membasahi seluruh badannya.

“Bang Amri kemarin mengembalikan tiga lukisan Papa yang selama ini dipajang di rumahnya. Mbak Rosa mengembalikan dua almari antik kesayangan Papa. Vina transfer dua puluh juta buat membayar utangnya waktu dia perlu membiayai operasi usus buntu anaknya. Tinggal Bang Chaerul yang belum. Pembayaran utang Abang benar-benar ditunggu karena kami mulai kekurangan dana untuk menutup biaya rumah-sakit.”

Chaerul pulang ke Lampung dalam kondisi lemah-lunglai. Setelah lebih dari empat jam berdiskusi dengan istrinya dalam suasana yang sangat panas dan keras, akhirnya mereka sepakat menjual rumah mereka yang besar dan berlantai dua berikut tanah seluas dua ribu meter untuk membeli rumah yang jauh lebih kecil. Begitu selesai menerima pembayaran Chaerul langsung mentransfer dana tersebut ke Arifin. Dan Arifin langsung pula mentransfernya ke rumah sakit untuk menutup semua tagihan. Semua pihak merasa lega, dan berharap Om Sur menjadi lebih tenang di masa akhir hayatnya.

Di luar dugaan, kondisi Om Sur makin membaik. Tatapan matanya bersinar lagi dan bahkan mulutnya yang suka bergerak-gerak mulai mengeluarkan suara. Suara-suara itu berangsur makin jelas dan para pembezuk bisa menangkap yang beliau ucapkan: “Chaerul… Chaerul… Chaerul….”

Chaerul terpaksa balik ke Jakarta lagi.

“Memang Om Sur belum tahu kalau aku sudah melunasi semua utangku?”

Arifin menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku sudah membisikkan semuanya ke Papa, tapi tak ada yang tahu persis Papa sebenarnya tahu atau tidak apa yang aku bisikkan. Kenyataannya dia terus-menerus menyebut nama Abang, dan itu berarti Papa benar-benar ingin bertemu Abang.”

Chaerul pun masuk ruang ICU dengan perasaan berdebar. Ia mendekatkan mulutnya ke dekat telinga Om Sur dan berbisik, “Om… ini Chaerul, Om.”

Om Sur membuka matanya. Senyum tipis membayang di wajahnya.

“Chae… rul….”

“Ya, Om.”

“Om… tak akan… tenang… kalau belum… bicara sama… kamu….”

“Ada apa, Om?”

“Om ingin… menganggap lunas semua utangmu…. Dengan nama Allah, Om bersumpah… tak ada lagi… utang-piutang… di antara kita…. Lailaha ilalaah…..”

Terdengar suara alarm panjang pertanda terhentinya detak jantung. Dokter dan para perawat berdatangan. Mereka sempat bingung, mana yang harus mereka tangani lebih dulu. Almarhum Om Sur, atau Chaerul, yang tergolek lemah di lantai dengan mulutnya yang berubah bentuk. (*)

 

 

Advertisements