Cerpen Mo Yan (Jawa Pos, 12 Mei 2013)

Obat Mujarab ilustrasi Bagus Hariadi - Jawa Pos
Obat Mujarab ilustrasi Bagus Hariadi/Jawa Pos

 

SENJA itu orang-orang bersenjata menuliskan pengumuman di dinding berlabur putih rumah Ma Kuisan yang menghadap jalanan. Disebutkan, esok pagi akan ada pelaksanaan hukuman mati di tempat biasa: ujung selatan jembatan Sungai Jiao. Seluruh penduduk desa diwajibkan hadir untuk tujuan pendidikan. Ada begitu banyak hukuman mati tahun itu sehingga penduduk tak tertarik lagi menyaksikan. Maka, agar orang-orang mau berkumpul, perlu ada perintah khusus.

Ruangan itu masih gelap pekat saat ayah terjaga lalu menyalakan lampu minyak. Setelah mengenakan jaket, ia membangunkanku dan menyuruhku bangkit dari ranjang. Saat itu dingin sekali dan aku masih ingin meringkuk di balik selimut hangat—yang ditarik ayah dari tubuhku. “Bangun,” ujarnya. “Orang-orang bersenjata itu ingin urusan mereka cepat selesai. Jika kita terlambat, kita akan kehilangan kesempatan.”

Aku mengekor ayah keluar pintu. Langit timur mulai terang. Jalanan beku dan lengang. Angin barat daya telah menyapu bersih debu jalanan sepanjang malam sehingga permukaan jalan yang kelabu tampak jelas. Jemari tangan dan kakiku begitu dingin menusuk sehingga terasa seakan tengah dikunyah kucing. Ketika kami melintasi pelataran keluarga Ma, tempat sepasukan milisi bermarkas, kami melihat seberkas cahaya di jendela dan mendengar suara teriakan. Ayah berkata lirih, “Jangan hiraukan. Mereka sedang sarapan.”

Ayah menyeretku ke atas tepian sungai. Dari sana kami bisa melihat bayangan kelam batu jembatan dan potongan es di bantaran sungai. Aku bertanya, “di mana kita akan bersembunyi?”

“Di kolong jembatan.”

Bagian bawah jembatan itu sepi dan gelap, juga dingin membekukan. Kulit kepalaku terasa gatal. Kutanya ayahku, “kenapa kulit kepalaku gatal?”

“Kulit kepalaku juga,” sahutnya. “Mereka menembak begitu banyak orang di sini, sehingga ada banyak hantu penasaran bergentayangan di bawah sini.”

Aku menangkap gerakan makhluk-makhluk aneh dalam kegelapan di kolong jembatan. “Itu mereka!” pekikku.

“Mereka bukan hantu penasaran,” tukas ayah. “Itu anjing-anjing kelaparan.”

Aku terjajar mundur hingga membentur tiang pancang jembatan yang dingin. Terlintas bayangan nenek yang matanya berkabut oleh selaput katarak sehingga tak dapat lagi melihat. Langit akan sepenuhnya terang begitu tiga bintang selatan tampak selintas dari kolong jembatan. Ayah menyalakan pipa rokoknya; aroma tembakau segera menyelimuti kami. Bibirku kebas. “Ayah, bolehkah aku berjalan-jalan? Aku kedinginan.”

Ayah menukas, “gertakkan saja gigimu. Mereka menembak tawanan mereka saat fajar masih merah.”

“Siapa yang mereka tembak pagi ini?”

“Aku tak tahu,” sahut ayah. “Tapi kita akan segera tahu. Kuharap mereka menembak yang masih muda.”

“Kenapa?”

“Orang muda punya tubuh yang lebih segar. Itu lebih baik buat kita.”

Ada yang ingin kutanyakan lagi, tapi ayah sudah kehabisan kesabaran. “Jangan banyak tanya lagi. Segala yang kita katakan bisa terdengar di atas sana.”

Saat kami bercakap-cakap, langit mulai memutih sewarna perut ikan. Anjing-anjing kampung menggonggong nyaring. Namun, suara mereka tak mampu menyamarkan suara ratapan para perempuan. Ayah bangkit dari tempat persembunyian dan berdiri sejenak di tepi sungai, memasang telinga ke arah desa. Kini aku gugup. Anjing-anjing liar yang berkeliaran di kolong jembatan memelototiku seakan-akan hendak mencabik-cabik tubuhku. Aku tak tahu apa yang mencegahku minggat dari tempat itu selekas-lekasnya. Ayah kembali merunduk. Kulihat bibirnya gemetar dalam cahaya remang fajar, entah karena dingin atau takut. “Ayah mendengar sesuatu?” tanyaku.

“Diamlah,” bisik ayah. “Mereka akan segera tiba. Aku bisa mendengar mereka mengikat para tawanan.”

***

Aku bergeser merapat ke arah ayahku dan duduk di atas segerumbul rumput liar. Dengan menyimak saksama, aku bisa mendengar bunyi genta dari arah desa, bercampur suara parau seorang lelaki, “saudara-saudara, pergilah ke ujung selatan jembatan untuk menyaksikan hukuman mati, tembak tuan tanah, Ma Kuisan, istrinya, kepala desa boneka Luan Fengshan. Perintah komandan pasukan bersenjata, Komandan Zhang, mereka yang tidak hadir akan dihukum sebagai kaki tangan setan desa.”

Kudengar ayahku menggerundel, “mengapa mereka melakukan itu terhadap Ma Kuisan? Untuk apa menembaknya? Dia orang terakhir yang patut ditembak?”

Aku ingin bertanya kepada ayahku mengapa mereka menembak Ma Kuisan, tapi sebelum aku sempat membuka mulut, kudengar suara bedil dikokang dan sebutir peluru mendesing di kejauhan, meletus di langit entah sebelah mana. Lalu muncul suara derap kaki kuda menuju arah kami, terus ke ujung jembatan. Ketika menjejak permukaan jembatan, suara itu berdetak-detak riuh seperti pusaran angin. Ayah dan aku meringkuk mundur, menatap nanar berkas-berkas cahaya samar matahari yang menyelinap melalui celah di antara bebatuan. Kami berdua ketakutan dan tak tahu pasti apa yang tengah terjadi. Tak lama kemudian, sekitar separuh waktu sepenghisapan pipa cangklong, kami mendengar orang-orang berdatangan ke arah kami, berteriak-teriak dan mencarut-carut. Mereka berhenti. Terdengar suara seorang lelaki yang serupa bunyi bebek meleter, “biarkan saja dia pergi. Kita tak mungkin bisa menangkapnya.”

Terdengar suara beberapa kali letusan ke arah derap kuda tadi menuju. Bunyi tembakan bergema di dinding kolong jembatan tempat kami bersembunyi. Telingaku berdenging dan tercium bau tajam mesiu.

Terdengar suara beberapa kali suara si bebek, “apa yang kau tembak, Bedebah? Kini dia sudah sampai ke desa sebelah.”

“Tak kuduga dia akan melakukan hal serupa itu,” kata seorang lain. “Komandan Zhang, orang itu pasti petani.”

“Dia anjing bayaran tuan tanah,” sergah si bebek.

Seorang berjalan ke arah pagar jembatan dan kencing ke sisi jembatan. Baunya pesing dan menyengat.

“Ayo kembali,” ujar si bebek. “Kita harus melakukan eksekusi.”

Ayah berbisik kepadaku bahwa lelaki yang bersuara serupa bebek itu komandan pasukan milisi yang diberi wewenang oleh penguasa untuk mengeksekusi pengkhianat partai. Dialah Komandan Zhang.

***

Langit mulai bersemu merah jambu di cakrawala timur. Di sana awan yang menggantung tipis perlahan mulai tampak. Tak lama lagi awan itu pun akan menjadi merah jambu. Kini sudah cukup terang untuk bisa melihat dengan jelas berapa ekor anjing buduk yang meringkuk kedinginan di tanah dekat tempat kami bersembunyi, juga onggokan pakaian compang-camping, segumpal rambut, dan sebongkah tengkorak manusia yang telah dimamah. Begitu menjijikkan pemandangan itu sehingga aku terpaksa memalingkan wajah. Bantaran sungai itu sekering tulang, kecuali beberapa genangan berselimut es di beberapa tempat. Gerumbul-gerumbul rumput berlapis embun tampak menyemak di tepian yang landai. Angin utara telah mati. Pepohonan di tepi sungai berdiri kaku tak bergerak dalam udara yang membeku. Aku menoleh ke arah ayah. Bisa kulihat uap napasnya. Waktu seakan diam. Lalu ayah berkata, “mereka datang.”

Kedatangan rombongan eksekusi di ujung jembatan diumumkan oleh pukulan genta hingar-bingar dan jejak-jejak kaki tanpa suara. Lalu terdengar sebuah suara cempreng, “Komandan Zhang, seumur hidupku aku telah menjadi orang baik….”

Ayah berbisik, “itu Ma Kuisan.”

Suara lain, datar dan penuh emosi terdengar, “Komandan Zhang, kasihanilah aku. Kami mengundi siapa yang akan menjadi kepala desa. Aku tak menginginkan jabatan ini… menjadi kepala desa. Aku mendapatkan jerami terpendek… dasar sial…. Komandan Zhang, kasihanilah, izinkanlah aku melanjutkan hidupku yang brengsek ini…. Aku punya ibu berumur delapan puluh tahun yang harus kurawat.”

Ayah berbisik lagi, “Luan Fengshan.”

Setelah itu, terdengar suara melengking. “Komandan Zhang, ketika kau pindah ke rumah kami, aku menjamumu dengan baik dan menyajikan untukmu anggur terbaik yang kami punya. Aku bahkan mengizinkan anak gadisku yang baru berumur delapan belas tahun untuk melayanimu. Komandan Zhang, hatimu tak terbuat dari baja, bukan?”

Ayah berkata lirih, “itu istri Ma Kuisan.”

Akhirnya, aku mendengar lenguhan seorang wanita, “ah-uh-ih-uh….”

Ayah berbisik, “istri Luan Fengshan, si gagu.”

Dengan suara tenang, seakan-akan tak ada hal yang perlu dicemaskan, Komandan Zhang angkat bicara, “kami akan menembak kalian, tak peduli kalian membantah atau tidak. Jadi sebaiknya tutup mulut kalian. Semua orang pasti akan mati suatu waktu.  Kalian harus pasrah menerimanya agar terlahir kembali sebagai manusia.”

Saat itulah Ma Kuisan berseru nyaring ke arah kerumunan khalayak, “kalian semua, tua dan muda, aku, Ma Kuisan, tak pernah berbuat jahat kepada kalian. Kini kuminta kalian membelaku.”

Beberapa orang menjatuhkan diri dengan ribut, berlutut, lalu memohon-mohon dan menatap dengan putus asa, “kasihanilah mereka, Komandan Zhang. Biarkan mereka hidup. Mereka semua orang jujur.”

Seorang lelaki muda berteriak mengatasi suara ribut khalayak, “Komandan Zhang, kuusulkan agar keempat anjing sialan ini kita suruh bersimpuh dan menjura seratus kali kepada kita di atas jembatan ini. Lalu kita kembalikan kehidupan mereka yang brengsek itu. Bagaimana?”

“Ide bagus, Gao Renshan!” Komandan Zhang menyahut sinis. “Jadi, menurutmu, aku, Komandan Zhang, adalah monster yang suka membalas dendam, begitu? Seakan-akan kau sudah berpengalaman menjadi komandan milisi! Kawan-kawan penduduk desa, bangunlah! Terlalu dingin berlutut seperti itu. Kebijakannya sudah jelas. Tak seorang pun dapat menyelamatkan mereka sekarang. Bangun semuanya!”

“Penduduk desa, berbicaralah untukku,” ratap Ma Kuisan.

“Tak perlu banyak cincong,” sela Komandan Zhang. “Sekarang saatnya.”

“Minggir, beri jalan!” Beberapa pemuda di ujung jembatan, jelaslah mereka anggota milisi, mengosongkan jembatan dari orang-orang yang berlutut.

Ma Kuisan yang putus asa melayangkan protes ke langit, “lelaki tua di langit, apakah kau buta? Apakah aku, Ma Kuisan, harus membayar perbuatan baik seumur hidupku dengan ditembus sebutir peluru? Zhang Qude, kau bajingan biadab, kau tak akan mati tenang di atas ranjang…. Lihatlah saja nanti! Kau bedebah.”

“Cukup!” Komandan Zhang menghardik. “Atau kalian senang mendengar si tua ini memuntahkan racun.”

Terdengar derap kaki berlarian melewati jembatan di atas kami. Melalui celah di antara bebatuan, kulihat sekilas orang-orang melintas.

“Berlutut!” Seseorang di ujung selatan jembatan berseru.

“Minggir semua!” Terdengar teriakan dari ujung utara.

Dor… dor… dor! Tiga letusan membahana.

Suara tembakan itu memekakkan, serasa mengoyak gendang telinga. Sejenak kukira aku akan menjadi tuli. Saat itu matahari mulai naik di cakrawala, dibingkai cahaya kemerahan yang menyebar ke gumpalan awan seperti kanopi pohon raksasa. Sesosok tubuh besar tersungkur dari jembatan di atas kami. Seakan melayang perlahan. Namun, ketika membentur tanah berlapis es di bawah, tubuh itu membentur nyaring lalu teronggok tak bergerak. Aliran darah mengkristal membanjir dari kepala.

Terdengar suara panik dan gerakan kacau-balau di ujung utara—tampaknya itu penduduk desa dipaksa menjadi saksi hukuman mati dan kini lintang-pukang melarikan diri karena ngeri. Tak terdengar orang-orang bersenjata itu mengejar penduduk desa yang minggat.

Sekali lagi, derap kaki bergegas melintasi jembatan dari utara ke selatan diikui teriakan “Berlutut!” di ujung selatan jembatan dan “Minggir!” di utara. Lalu bunyi tiga letusan. Tubuh Luan Fengshan, tanpa topi dan mengenakan mantel compang-camping, tumbang dengan kepala di bawah ke tepi sungai, mula-mula menumbuk jasad Mo Kuisan lalu terhumbalang ke sampingnya.

Setelahnya, semuanya seakan berjalan teratur. Bunyi tembakan terdengar diikuti jatuhnya dua sosok mayat perempuan dengan lengan dan kaki terpentang, menumbuk dua jenazah terdahulu.

Aku mencengkeram erat lengan ayah. Sesuatu yang hangat dan basah mengaliri celanaku yang telah usang.

Setidaknya setengah lusin orang berdiri di pinggiran jembatan. Bobot tubuh mereka seakan melesakkan bebatuan di atas kami. Teriakan mereka memekakkan telinga. “Komandan Zhang, perlukah kami memeriksa mereka?”

“Untuk apa? Cairan otak mereka sudah muncrat ke mana-mana. Jika Kaisar Langit turun sekalipun, dia tidak akan mampu menyelamatkan mereka.”

“Ayo kita pergi! Istri tua Guo sudah menyiapkan arak untuk kita.”

Mereka melintasi jembatan, menuju utara. Jejak langkah mereka terdengar seperti dentuman. Bebatuan berderak dan bergoyang, seakan-akan hendak runtuh. Setidaknya, itulah yang kurasakan.

Kini sunyi kembali menerpa.

Ayah mendorongku perlahan. “Jangan berdiri bengong seperti orang bego. Ayo lakukan.”

Aku menatap sekitar, nanar. Bahkan ayahku sendiri tampak begitu baur dalam pandanganku walau terasa amat dekat.

“Hah?” Cuma itu yang bisa kukatakan.

“Kau sudah lupa, ya? Kita kemari untuk mencari obat untuk nenekmu. Kita harus bergerak cepat sebelum pengambil mayat datang.”

Kata-kata itu masih terngiang di telingaku saat kulihat tujuh atau delapan ekor anjing liar, beraneka warna, beranjak dari tempat mereka semula di tepi sungai menuju arah kami. Polah mereka mengancam. Sempat terlintas dalam benakku bagaimana tadi mereka berlari tunggang-langgang seraya menyalak ketakutan saat mendengar suara tembakan.

Aku menyaksikan ayah menyepak lepas beberapa bongkahan batu bata dan melemparkannya ke arah anjing-anjing yang mendekat. Mereka berlari menjauh. Ayah mengeluarkan belati dari balik jaketnya dan menggoyang-goyangkannya di udara untuk menakut-nakuti anjing-anjing liar itu. Lengkung cahaya indah keperakan berkilat di seputar siluet gelap tubuh ayah. Anjing-anjing itu menjaga jarak. Ayah mengencangkan ikat pinggangnya dan menggulung lengan baju. “Awasi aku,” ujarnya.

Laksana elang mengerkah mangsa, ayah menyeret mayat kedua perempuan lalu membalikkan jasad Ma Kuisan sehingga dia telentang. Kemudian ayah berlutut dan menjura ke arah jenazah itu. “Tuan Ma,” ujarnya lembut. “Kesetiaan ada batasnya. Aku benci harus melakukan ini kepadamu.”

Aku seakan-akan melihat Ma Kuisan menjulurkan tangan dan menyeka wajahnya yang berlumur darah. “Zhang Qude,” ujarnya dengan seulas senyum tipis. “Kau tak akan mati di atas ranjang.”

Ayah berusaha membuka kancing mantel kulit Ma Kuisan dengan satu tangan, tapi terlalu gemetar untuk bisa melakukannya. “Hei, Nak, bantu aku,” ujarnya. “Pegangkan belati ini.”

Aku ingat aku menjulurkan tangan untuk meraih belati itu, tapi dia sudah terlebih dahulu mencekalnya dengan gigi-giginya seraya bergulat membuka kancing kuning bulat di dada Ma Kuisan. Tak sabar, ayah merenggut kancing mantel itu. Di baliknya tampak semacam rompi berbahan satin yang juga berkancing. Ayah merobeknya pula. Setelah rompi, di baliknya masih ada kemeja sutra merah. Kudengar ayah mendengus marah. Kuakui aku takjub melihat pakaian lelaki tua itu—umurnya sudah lebih dari lima puluh—yang berlapis-lapis. Ayah merobek lapisan baju terakhir itu. Akhirnya perut buncit dan dada rata Ma Kuisan terpampang. Ayah menjulurkan tangannya, tapi lalu terlonjak bangkit. Wajahnya pucat sekuning emas. “Nak, periksa apakah jantungnya masih berdetak,” ujarnya kepadaku.

Kuingat aku menunduk dan menaruh tanganku di dada jasad itu. Walau lemah, kudengar jantungnya masih berdenyut.

“Tuan Ma, otakmu sudah muncrat ke mana-mana. Bahkan Kaisar Langit pun tak akan mampu menyelamatkanmu kini. Jadi, bantulah aku untuk menjadi anak angkatmu, ya?” bujuk ayah.

Ayah mencekal belatinya dan menggerakkannya naik turun di sekitar wilayah dada si mayat, mencoba mencari-cari tempat yang tepat untuk disayat. Kulihat dia menekan belatinya, tapi kulit itu tidak terluka, alot seperti karet. Ayah menusukkan lagi dengan belatinya, tapi hasilnya sama. Ayah berlutut. “Tuan Ma, aku tahu kau tak pantas mati, tapi Komandan Zhang yang pantas kau balas, bukan aku. Aku hanya mencoba menjadi anak angkatmu.”

Ayah mencoba menusukkan belatinya hanya dua kali, tapi seluruh wajahnya telah bermandi peluh. Anjng-anjing liar sialan itu mulai mendekat lagi ke arah kami—mata mereka merah membara, bulu-bulu leher mereka meremang siaga, seperti duri landak, dan cakar mereka setajam silet mencuat mengancam. Aku menoleh ke ayahku. “Cepatlah, anjing-anjing itu kian dekat.”

Ayah bangkit, menggoyang-goyangkan belati di atas kepalanya, dan mengancam anjing-anjing itu seperti orang gila, mengusir mereka sehingga menjauh sejarak seanak panah. Lalu ia kembali, terengah-engah dan berkata lantang. “Tuan Ma, jika aku tak menyayatmu, anjing-anjing itulah yang akan mengoyakmu dengan taring-taring mereka. Kurasa, lebih baik aku yang melakukannya daripada mereka.”

Rahang ayah menegang, matanya mendelik. Dengan penuh tenaga, ia menghujamkan belatinya ke dada Ma Kuisan dengan bunyi nyaring. Disentakkannya belati itu ke samping. Darah kehitaman mengalir. Namun, belulang iga menghentikan gerakannya. “Aku kehilangan akal,” ujarnya saat menarik lepas belati itu, menyekanya dengan mantel kulit Ma Kuisan. Seraya mencekal gagang belati erat-erat, ia mengoyak terbuka dada Ma Kuisan.

Aku mendengar bunyi menggeluguk dan menyaksikan belati itu mengiris jaringan usus kekuningan yang tampak berdenyur; seperti ular, serupa belut. Tercium bau tajam meruap.

Ayah tampak seperti orang kesurupan. Ia mengacak-acak isi perut mayat itu. Tangannya mengobok-obok, mencari-cari sesuatu. Ia mengutuk-ngutuk. Akhirnya, kebingungan, ia melepaskan jasad itu dengan perut bolong, seluruh ususnya terburai ke luar.

“Apa yang ayah cari?” Aku ingat aku bertanya dengan cemas.

“Kantong empedu. Di manakah letak kantong empedunya?”

Ayah memotong diafragma dan mencari-cari di dalam sana hingga tangannya mencekal jantung—tampak indah dan merah. Lalu ia mengorek paru-paru. Akhirnya, di dekat hati, ia menemukan kantong empedu seukuran telur. Dengan sangat hati-hati, ia memotongnya dari hati dengan ujung belati, lalu ditaruhnya di atas telapak tangannya. Dia mengamati benda itu. Basah dan licin. Dalam terpaan cahaya matahari, tampak selaput yang lembut menyelubunginya. Benda yang dicarinya itu mirip segumpal permata ungu yang indah.

Ayah menggenggamkan kantong empedu itu kepadaku. “Pegang ini hati-hati. Aku akan mengambil kantong empedu Luan Fengshan.”

Kali ini ayah bertingkah seperti seorang ahli bedah berpengalaman: dingin, cepat, akurat. Pertama, ia memotong tali rafia yang digunakan Luan Fengshan sebagai sabuk. Lalu ia membuka mantel rudin lelaki miskin itu dan menahan dada kurus Luan Fengshan dengan kakinya seraya membuat empat atau lima sayatan ringan. Setelahnya, ia membereskan segala yang menghalanginya, melesakkan tangan, dan memotong kantong empedu Luan seakan-akan itu sebutir aprikot.

“Ayo kita pergi,” ujar ayah.

Kami berlari di tepi sungai, sementara anjing-anjing liar itu berkelahi memperebutkan jeroan yang terburai. Hanya selarik pulas kemerahan yang tersisa di tepi matahari. Cahayanya yang menyilaukan menerpa segala benda terbuka di kolong langit.

***

Nenekku menderita penyakit katarak kronis, menurut Luo Dasham, sang tabib desa. Konon, sumber penyakitnya adalah hawa panas yang menyeruap dari dalam rongga tubuhnya. Obat mujarab untuk penyakit itu haruslah sesuatu yang amat dingin dan sangat pahit.

Sang tabib menyingsingkan lengan mantel panjangnya dan beringsut ke arah pintu rumah kami ketika ayah memohon kepadanya untuk memberinya resep obat mujarab untuk ibunya.

Hmm, obat mujarab,” Tabib Luo menyuruh ayah mencari empedu babi. Perasan cairannya bisa digunakan untuk sedikit membersihkan mata ibunya dari selaput katarak.

“Bagaimana kalau empedu kambing?” tanya ayah.

“Boleh,” ujar sang tabib. “Bisa juga pakai empedu beruang. Tapi kalau kau bisa mendapatkan empedu manusia… ha, ha, ha… jangan kaget kalau ibumu dapat melihat lagi dengan normal seperti sediakala. (*)

 

Mo Yan adalah pengarang China terkemuka yang memenangkan hadiah nobel sastra 2012. Dia lahir pada 1955 dalam keluarga petani di China Utara dengan nama asli Guan Moye. Nama Mo Yan adalah nama pena yang bermakna “Jangan Bicara”. Novel adikaryanya, Big Breast and Wide Hips, telah diterbitkan dalam edisi bahasa Indonesia oleh penerbit Serambi pada 2011. Cerpen di atas terjemahan Anton Kurnia dari “The Cure”, hasil terjemahan Howard Goldblatt dari bahasa Mandarin, termuat dalam antologi Chairman Mao Who Not Amused: Fictions from Today’s China, Groove Press, London, 1996, susunan Howard Goldblatt.

Advertisements