Cerpen Etgar Keret (Suara Merdeka, 12 Mei 2013)

Ludwing dan Aku Membunuh Hitler Tanpa Alasan ilustrasi Putut Wahyu Widodo

“TAMBAH lagi pepperoninya?” usul Ludwig.

“Terima kasih, aku sudah kenyang.” Kutepuk-tepuk perutku.

“Kenyang,” seolah terpesona, Ludwig mengulang kata itu, “Lama sekali aku baru dengar kata itu lagi.”

Dia menatap tajam-tajam pada pengaduk pepperoni di meja yang terbuka seolah-olah tengah menatap seorang kawan lama yang mengingatkan dirinya pada kenangan indah masa kanak-kanak. Dia seperti tercekam oleh kenangan itu. Saat itu, selama beberapa waktu selalu terdengar bunyi ledakan dari luar, dan jika kau menekankan wajah pada kaca jendela, kau akan melihat Gereja Prancis yang terbakar, dan tiang-tiang lampu di tepian jalan ambruk bagaikan para penjaga yang tertidur saat bertugas. Ludwig berlalu dari jendela dan pada kaca tertinggal jejak minyak dari hidungnya.

“Tentara Rusia bangsat itu tak akan berhenti hingga tak ada lagi yang bisa dihancurkan di Berlin ini,” desisnya dengan geram. Pandangannya mengitari ruangan seakan-akan ingin mencari sesuatu yang bisa dia hancurkan. Tapi tak ada apa pun selain sebuah meja dan dua kursi, dan di atas meja itu hanya ada pepperoni. Ludwig mendekatkan mukanya ke pepperoni itu, dan membauinya. “Setelah pepperoni, yang kita butuhkan itu bir,” gumamnya pada diri sendiri, “Tapi tak akan kita temukan di sini.”

Dia mengedikkan bahu.

“Bagaimana kalau kita jalan-jalan saja?” ajak Ludwig. “Bagus untuk pencernaan kita.”

Kami saling mengangsurkan jaket masing-masing. Ludwig menghilang ke ruang sebelah dan kembali dengan membawa senapan berburu.

“Aku dapat ini dari Opa Gunther untuk hadiah ulang tahunku ketujuhbelas,” ujarnya dengan mata bersinar-sinar, “Yah mungkin kita bisa menukarnya dengan sebotol anggur atau beberapa botol bir.”

Kami keluar dan seolah-olah kami terlempar ke suatu tempat yang belum pernah sekali pun kami datangi. Jalanan begitu jelek untuk ukuran Berlin, dan cuacanya begitu dingin pada akhir April seperti sekarang. Ludwig mengapit senapan ketika dia memakai sepasang sarung tangan wol yang sudah sobek-sobek.

“Jalan-jalan ini bisa menghangatkan tubuh kita,” bisiknya.

***

KAMI menyusuri bulevar. Ludwig terus-menerus meniup tangannya agar tetap hangat seolah-olah uapnya mampu menyelusup ke sobekan sarung tangannya. Sedikit lampu jalan yang masih tegak tak lagi menyala, tapi gedung-gedung yang terbakar di sekitar kami memberikan cahaya yang cukup. Ludwig berhenti di dekat sebuah poster bergambar Der Fuhrer. Dia menunjuk dan berkata dengan bangga, “Dia dan aku belajar di sekolah yang sama di Linz. Dia dua tingkat di bawahku.”

Ludwig memandangi kembali senapannya seolah-olah lupa senapan itu ada dalam kempitannya. Sekali lagi, matanya menyiratkan bahwa dirinya tengah mengenang sesuatu.

“Pada tahun terakhir aku di Linz itulah Opa Gunther memberiku senapan ini. Aku kemudian bersama Anna, gadis pertama yang benar-benar kusentuh,” tambahnya sembari meneliti jari-jemarinya yang mempermainkan untaian benang dari sobekan sarung tangan. “Adolf jatuh cinta padanya. Dia bawakan Anna bunga, permen, dan lukisan karyanya. Aku kasihan pada lelaki kecil itu. Dia begitu pendek. Setinggi pipi Anna.” Ludwig meletakkan tangan kirinya sejajar dengan pipinya. “Lagi pula, dia lebih muda dari kami berdua, lebih tepatnya masih kanak-kanak. Dia belum punya kumisnya yang lucu itu,” ujarnya sembari menunjuk poster.

“Ada hal yang sangat menyedihkan dalam kaitannya dengan Anna, caranya mendapatkan hati Anna, meski gadis itu selalu memperlakukannya dengan sabar dan hormat. Suatu hari Anna datang padaku menunjukkan gambar dirinya yang dibuat Adolf. Dia menjajarkan gambar itu dengan mukanya. Sama sekali tak mirip. Sungguh, Anna itu cantik, tapi figur dalam gambar itu jauh lebih cantik lagi. Figur itu sangat sempurna, bak seorang mahadewi, seperti salah seorang Valkyrie yang kita pelajari dalam kelas sastra. Anna menolak saat aku ingin menyentuh gambar itu. Dia bilang akan meninggalkanku sebab dia jatuh cinta pada Adolf.”

Ludwig mengunjal napas, dan aku terus-menerus memandangi kabut uap yang berkelindan di atasnya. “‘Kau berjiwa besar, Ludwig,’ ujar Anna, ‘Kau juga tak bodoh, kecuali memang kau tak punya imajinasi. Tapi Adolf punya.’ Mata Anna bersinar-sinar, ‘Adolf itu seorang seniman.’ Kulewatkan sore itu di atap dengan senapan baru pemberian Opa sambil membayangkan sekiranya aku membunuh Adolf, membunuh Anna, dan bunuh diri.”

Ludwig mengarahkan senapannya ke sasaran yang tak terlihat. “Dor! Dor!” ujarnya membuat suara tembakan. “Dan dia bilang aku ini tak punya imajinasi,” ujarnya sembari tersenyum sedih padaku.

“Seorang seniman,” rutuknya, “Akan kuceritakan kepadamu sesuatu tentang seni,” tambahnya dengan geram. “Sigfried, saudara lelaki ibuku selalu membuat patung dari keju. Dia bisa berjam-jam membuat patung. Setiap kali bergabung dengan kami untuk makan, dia telah membuat patung: kuda, merpati, atau Sombrero. Ibuku akan menjajarkan patung-patung itu di rak, dan dalam tiga hari pasti baunya sudah tak sedap dan berjamur sehingga kami harus membuangnya.”

Ludwig menendang tiang lampu yang ambruk. Senapannya jatuh dan menimpa lantai jalan. Dengan menunduk dia mengambilnya, dan ketika tegak, matanya bersitatap dengan mataku. “Keju itu dibuat untuk dimakan,” nadanya menyiratkan keacuhan.

***

DI Gerbang Alexanderplatz, kami tersandung sesosok tubuh. Dengan malu-mau Ludwig memutar sosok itu dan mencoba memeriksa nadinya. Tubuh seorang perempuan muda yang gaunnya basah oleh darah. Bahkan sekarang, sudah mati pun mukanya masih menampakkan kesakitan. Ludwig menyandarkan senapan pada pagar salah satu rumah dan mengangkat mayat itu. Tak ada lagi tempat untuk menguburnya. Dengan hati-hati, Ludwig meletakkan jasad perempuan itu di tempat duduk belakang Volkswagen terbuka yang ada di situ. Dia melepas mantelnya untuk menutupi mayat itu. Lalu dia kembali untuk mengambil senapannya sebelum kami kembali berjalan. “Sungguh petang yang aneh,” ujar Ludwig dengan suara bergetar, bersidekap seakan-akan dengan begitu dia mampu menangkal dingin. “Kuberikan jaketku pada perempuan itu, dan aku bahkan tak tahu namanya. Sungguh terkutuk.” Dengan suara masih bergetar dia melanjutkan, “Aku bahkan tak tahu warna matanya.”

Di dekat puing-puing gedung opera, Ludwig menemukan tiga botol minuman dari prem dan seorang pemabuk. Pemabuk itu mengenakan pakaian usang dan botol-botol itu telah kosong.

“Maaf, Tuan-tuan,” ujar si pemabuk sembari menunduk hingga hampir kehilangan keseimbangan. “Punyakah Tuan-tuan sesuatu untuk meredakan rasa sakit laknat yang bersemayam di dalam kepalaku?”

“Yang kupunya hanya sepasang sarung tangan dan senapan,” jawab Ludwig yang terlihat kecewa lantaran botol-botol itu kosong. Si pemabuk mengukur kaliber senapan dengan jarinya.

“Tidak, ini terlalu kecil,” ujarnya sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Kukira itu akan membuatku kesakitan.”

Pemabuk itu menyandarkan punggung pada tiang lampu dan tergelincir ke posisi duduk, dan mencoba memandangi gedung opera dengan tatapan nanar. “Sungguh tak patut bangunan umum di Berlin dirawat dengan buruk akhir-akhir ini.”Tangan kanannya menarik lipatan celanaku.

“Tolong besok ingatkan saya untuk menulis surat protes pada Dewan Kota,” ujar Ludwig. Dia masih mencengkeram botol tapi tanpa minat lagi.

“Sekitar satu jam berputar-putar dan tak satu pun kami jumpai orang yang hidup.” Jelas sekali suaranya yang gemetaran yang mengguncang-guncang tubuhnya lantaran dia masih kepikiran perempuan muda itu.

“Tentu saja tidak,” ujar si pemabuk, “Kau belum menjumpai seorang pun karena mereka semua ada di tempat Konser Simfoni.”

“Apa yang kaubicarakan?” suara Ludwig terasa menyembunyikan kejenuhannya. “Lebih dari dua tahun Konser Simfoni sudah tak dimainkan.”

“Tapi meriam,” ujar si pemabuk sambil menunjuk langit, “Aku yakin mereka memainkan lagi Orkestra Simfoni 1812.”

Merasa frustrasi, Ludwig melempar botol kosong ke tanah dan meremuknya. “Tak ada yang tersisa di kota mati ini,” bisiknya dan memandangku. “Bahkan bila kau itu nyata.” Kuteliti tanganku lewat cahaya dari api yang membakar Gereja Prancis. Ludwig benar.

Ars longa, vita brevis,” ujar pemabuk itu, sedih.

“Maaf?” tanya Ludwig sambil menatap bingung.

“Tidak, tidak,” ujarnya dengan berani, “Bukan aku yang harus minta maaf.”

***

SUARA batuk dari sosok yang membungkuk ke meja kafe membuat kami berdua melompat. Betapa anehnya Berlin yang sunyi setelah kau terbiasa dengan bunyi ledakan. Ketika kami berjalan menuju kafe, Ludwig menyisir rambutnya dengan tangan, seolah-olah akan ke tempat pertemuan penting. Lelaki di meja kafe itu memakai jas hujan kelabu gelap. Mukanya yang licin tampak tidak ramah, dan mata kecilnya menatap lekat pada papan catur di depannya yang masih lengkap bidak-bidaknya. “Menarik, sangat menarik,” gumamnya, “Bagaimana mungkin si Putih bisa membuat sekakmat dalam tiga langkah?”

Ludwig memicingkan mata untuk mengingat-ingat. Sontak senyum lebar terlihat di mukanya dan dengan sangat riang berlari ke arah lelaki berjas hujan itu.

“Adolf, kau kan itu, dan tanpa kumis lucumu, awalnya aku tak mengenalimu,” ujar Ludwig dengan tertawa, menjentikkan jari ke bibir atasnya membuat kumis tiruan.

“Sungguh, Adolf, betapa gembiranya aku bertemu wajah yang tak asing di kota kosong ini. Aku sudah menyusuri jalan lebih dari satu jam tanpa menjumpai orang yang masih bernyawa, seolah-olah seluruh kota bermain petak-umpat denganku.”

Hitler terus menatap tajam pada papan catur. Sebagian besar meja lain telah digulingkan dan bidak-bidaknya berserakan. “Adolf, ini aku, Ludwig dari Linz. Kenapa kau tak menjawabku?” Ludwig bertanya sambil menepuk lembut bahu lelaki itu.

“Ini sungguh masalah rumit,” Hitler berkomat-kamit, masih tampak asyik sendiri, tangan kanannya memijat bagian belakang lehernya.

“Jadi, tak pantaskah kau menjawabku, eh?” Ludwig mendesis geram. “Maka aku tak akan memaksamu bicara, Fuhrer.” Dia memberi tekanan setiap suku kata pada Fuhrer. “Yang kaubutuhkan adalah mendengarkan.”

Ludwig menyandarkan senapannya dan mulai bicara dengan nada menceracau. “Aku punya adik lelaki: Karl. Kau tak kenal dia. Dia lebih berbakat ketimbang aku. Orangtuaku mengirim dia belajar di Wina, tapi saat keluargaku bangkrut, kami pindah ke Jerman. Karl harus menghentikan sekolahnya dan mulai bekerja serabutan. Saat perang pecah, dia segara jadi sukarelawan untuk SS, dan dalam waktu cepat dia menjadi opsir. Sebelum berdinas militer, dia selalu menjadi orang yang riang, suka tersenyum, bersiul, dan bintang dalam pesta-pesta. Tapi sekarang,” Ludwid melanjutkan dengan nada sedih, “Sekarang, ketika dia berada di jalanan, mukanya tanpa ekspresi, kosong seperti zombi. Tiga bulan lalu, dia menembak dirinya dengan senjata dinasnya, dan itu semua karena kau, kau bajingan.” Ada isakan pada suara Ludwig, “Itu semua karena kau!”

“Harus kuakui,” gumam Hitler, “Masalah itu tampak muskil dipecahkan.”

Ludwig menatapnya dingin dan menikam. “Kau bajingan,” desisnya, dan senapan tuanya menyalak.

“Aneh benar,” ujarku pada Ludwig sembari mencermati papan catur. “Bagaimana mungkin kau melakukan sekakmat saat tak ada raja di papannya?”

“Ayo pulang,” bisik Ludwig, “Aku lelah.”

***

KAMI berjalan dengan terdiam. Waktu keluar dari Alexanderplatz, Ludwig menyeka wajah lembabnya dengan punggung tangan. “Aku minta maaf atas adegan memalukan di kafe tadi,” ujarnya sambil menundukkan kepala. “Aku tak tahu apa yang terjadi padaku. Pasti sejenis kegilaan sesaat. Dan sungguh hina. Aku bahkan tak punya saudara lelaki.”

“Dia banyak melakukan hal buruk. Dia pantas mati,” ujarku untuk menenangkannya.

“Mungkin begitu,” balas Ludwig, “tapi bukan itu alasan aku menembaknya.”

Kami berjalan lagi dalam diam di antara bunyi ledakan, dan Ludwig tertawa kecut, mirip suara tersedak. “Aku punya adik lelaki, Karl…,” katanya menirukan suaranya sendiri, “Dan Anna berani bilang aku tak punya imajinasi.”

Ada sebuah poster Der Fuhrer di dinding salah satu dari bangunan-bangunan itu. Aku membandingkan gambar itu dengan lelaki di kafe. “Kau benar, Ludwig,” ujarku, “Dia sungguh tampak lebih bagus tanpa kumis.” (*)

 

 

Catatan:

– Der Fuhrer: Sebutan untuk Adolf Hitler.

Valkyrie: sebutan untuk dewi dalam mitologi Skandinavia yang menentukan serdadu mana yang harus mati dan tetap hidup dalam peperangan.

Sombrero: topi khas Meksiko

Ars longa, vita brevis: Ungkapan Latin yang berarti “Seni berumur panjang, hidup begitu singkat.”

 

 

Etgar Keret, sastrawan Israel kelahiran 20 Agustus 1967 yang dikenal sebagai penulis cerita pendek, novel grafis, dan skenario film dan televisi. Cerpen berbahasa Ibrani ini diterjemahkan Saroni Asikin lewat terjemahan bahasa Inggris oleh Miriam Shlesinger dalam wordswithoutborders.org.

 

 

Advertisements