Cerpen Akhyar Fuadi (Suara Merdeka, 5 Mei 2013)

Peluru ilustrasi Hery Purnomo

GURUKU memulai ceritanya: tahun-tahun itu merupakan masa-masa suram kampung kita. PRRI meletus. Dalam waktu singkat api pergolakan berkobar. Pengikut dan pendukung pergolakan kian hari kian bertambah. Kami menyebut mereka Tentara Luar. Mereka melakukan perlawanan dengan bergerilya ke hutan-hutan yang jauh. Dan tentara yang dikirim untuk menumpas mereka kami sebut Tentara Dalam.

Ketakutan menjalar cepat seperti wabah penyakit menular. Banyak penduduk yang mengungsi ke kota menghindari kemelut dan letusan bedil sepanjang kampung-kampung yang dekat ke hutan. Sawah ladang banyak yang terbengkalai. Di antara para lelaki dewasa, ada yang menggabungkan diri dengan Tentara Luar dan ikut bergerilya. Tidak sedikit pula yang berpihak pada Tentara Dalam.

Di tengah hiruk-pikuk dan kecemasan itulah aku tumbuh dan menjalani masa remaja bersama kawan-kawan putus sekolah lainnya. Sepanjang hari kami banyak menghabiskan waktu dengan bermain dan berhura-hura. Kami tak hirau dengan dengan kisruh pergolakan itu. Hingga suatu hari, Uda Hasan, seorang pemuda alumnus surau yang terkenal simpatik itu bercerita banyak.

“Kalau kalian masih berhura-hura dan berkumpul-kumpul tak tentu arah seperti ini di dangau-dangau ladang atau di simpang-simpang, sedikit hari lagi kalian akan disangka gerombolan oleh Tentara Dalam.”

Kami mengirik.

“Hidup kalian tidak akan aman. Kalian bakal ditangkap. Kalian sudah dengar nasib orang-orang yang dicurigai sebagai mata-mata atau komplotan Tentara Luar, bukan?” Pernyataan sekaligus pertanyaannya membuat kami bergidik.

***

“BETUL engkau mau mengajak kawan engkau ini belajar mengaji kitab? Jangan-jangan ini akal engkau pula untuk bisa membawa kawan engkau ini ke luar. Kalian ini sudah acap membuat orang tua susah. Payah ditegur, kerjanya main saja dari hari ke hari,” cerocos Umi malam itu ketika teman karibku Nasrul datang untuk mengajakku pergi belajar mengaji kitab.

“Tenang, Umi, tenang. Saya bersungguh-sungguh mau mengajak Izam belajar ngaji kitab. Kawan-kawan yang lain juga banyak yang ikut. Kami sekarang ingin ganti haluan.”

Sekilas, Umi melirikku tajam.

“Iya, Umi. Tadi siang kami sudah bermufakat dengan kawan-kawan yang lain untuk pergi mengaji,” aku yang menyahut.

“Engkau juga banyak ulah. Entah sudah berapa puluh kali Umi engkau bohongi!”

“Sekarang tidak lagi, Umi. Uda Hasan siang tadi menasihati dan menyarankan kami untuk belajar mengaji,” jawab Nasrul.

“Bagus kalau kalian cepat sadar. Ke surau siapa kalian akan mengaji?”

“Ke surau tempat Uda Hasan mengaji, Umi,” Nasrul yang menjawab.

“Oo, di surau Mak Pakiah?” tanya Umi memastikan.

“Iya, Umi,” jawab kami hampir berbarengan.

“Makanlah kalian dulu sebelum pergi. Nanti kalian masuk angin. Besok, biar Umi datang ke surau Mak Pakiah menemui ia untuk mengantarkan kalian secara resmi sambil mengantarkan rotan, Quran, kain sarung, serta uang ala kadarnya.”

Usai makan, kami segera berkemas, kemudian pamit.

“Kami berangkat, Mi,” ucap kami hampir berbarengan sambil berebut menyalami dan mencium tangan Umi.

“Hati-hati di jalan dan jangan pulang terlalu larut. Kalau selesai mengajinya larut malam, menginap sajalah di sana. Umi khawatir,” pesan Umi, sambil membelai kepala kami.

***

NYIAK Pakiah berperawakan sedang. Masih berdegap dan sehat di usianya yang sudah condong ke barat. Telinganya pun masih awas. Ia membacakan kitab-kitab gundul kepada kami tanpa kacamata. Suara tuanya masih keras dan berapi-api sewaktu menerangkan kaji. Kumis dan jenggotnya yang sudah putih semua.

Orang-orang memanggilnya Inyiak atau Nyiak Pakiah, karena ia memang seorang Faqih atau ahli fikih. Suraunya terletak di ujung kampung berdampingan dengan kincir padi merangkap rumah yang juga kepunyaannya. Ia hanya dikaruniai seorang putra, agak idiot, Tandin namanya. Nek Malah, yang juga sering dipanggil Umi oleh beberapa orang muridnya, istri yang telah mendampinginya selama puluhan tahun.

Guru kami terkenal di kampung kami bukan hanya karena ia alim ilmu agama, lebih dari itu, ia terkenal karena kedermawanan dan kelapangan hatinya menghadapi masalah apa pun. Tidak ada yang pulang dengan tangan hampa saat datang ke kincir padinya meminjam beras atau uang, bahkan tak jarang, yang datang meminjam malah diberi secara cuma-cuma. Kalaupun misalnya ia kehabisan beras atau uang, ia tidak ragu-ragu untuk menyerahkan ayam peliharaan istrinya agak satu atau dua ekor.

Umi Malah dan Tandin juga ketularan penyakit pemurah Nyiak Pakiah. Mereka selalu senyum lebar dan sumringah ketika memberi kepada siapa pun. Apapun yang bisa mereka pinjamkan atau berikan, pasti akan mereka serahkan tanpa ragu. Sebuah keluarga yang luar biasa!

Nyiak Pakiah selalu berprasangka baik menilai banyak hal. Bicaranya tak pernah menyinggung dan membahayakan orang lain. Ketika satu kali kutanyakan, kenapa ia selalu berbaik sangka menanggapi persoalan apapun, ia menjawab enteng, “Amal terbesar hamba di saat sakaratul maut adalah berbaik sangka pada Tuhannya. Nah, baik sangka itu tentu tidak lahir begitu saja. Harus dibiasakan dari sekarang, Buyung.”

Karena kealiman dan sikap hidup, serta kedermawanannya itu, ia tak pernah terseret pada pergolakan menahun yang menghantui kampung kami. Ia tidak pernah terpanggil dan terseret-seret dalam pengaduan mata-mata pihak mana pun. Tentara Luar ataupun beberapa orang Tentara Dalam yang mengenalnya menaruh rasa segan dan hormat. Ketika pertempuran pecah di pinggir kampung, orang-orang pada ijok, ia tenang-tenang saja. Ketika ada penggeledahan, ia tidak gemetar ketakutan sebagaimana kami, Tandin dan Umi Malah.

“Kita ijok saja, Nyiak,” saran seorang murid ia beberapa saat sebelum Tentara Dalam datang melakukan penggeledahan.

“Kami khawatir, kalau pertempuran pecah di dekat sini, jangan-jangan kita ikut pula diterjang peluru yang tak mempunyai mata.”

“Eeii, Nak, jauh sebelum peluru itu diciptakan, Allah sudah merencanakan ke mana takdir peluru itu akan bersarang nanti.” Kami semua terdiam.

***

PADA suatu senja yang gerimis menjelang magrib: lima orang berkedok dan bersenjata api datang dari keremangan hutan. Beberapa saat kemudian mereka sudah berada di kincir Nyiak Pakiah.

Magrib akhirnya berlabuh. Kami mulai berdatangan. Kegelapan mulai menyungkup, tapi kami masih melihat beberapa bayangan samar manusia lenyap ke arah hutan sambil menggotong dua karung besar yang penuh. Usai shalat, bertasbih, berdoa, dan shalat sunat, sambil menunggu waktu Isya, kami duduk berdesakan dalam formasi setengah lingkaran menghadap Nyiak Pakiah yang bersandar enak ke dinding.

“Apakah yang ke sini tadi itu adalah Tentara Luar, Nyiak,” tanyaku kali pertama.

“Kalau iya, kenapa, Buyung?”

“Mereka pasti datang minta beras, Nyiak,” sahut yang lain.

“Kalau iya, kenapa?”

“Kenapa Inyiak berikan?”

“Menurut yang saya dengar, banyak orang-orang yang ikut gerombolan itu hanya memancing di air keruh saja,” Umi Malah tiba-tiba angkat bicara.

“Huss, engkau tahu apa, Mi?” tegurnya pada Umi Malah.

“Siapa yang membakar rumah-rumah di kampung kita? Siapa yang meminta bekal setengah memaksa kepada masyarakat kita? Siapa menembaki kerabat-kerabat kita yang dicurigai sebagai mata-mata Tentara Dalam? Mereka, Nyiak, mereka! Sudah bukan rahasia lagi, Nyiak,” seorang remaja yang berusia dua atau tiga tahun di atasku bernama Badar juga ikut bicara. Ruangan surau berisik. Kawan-kawan yang lain berceloteh ramai.

Jawaban yang tiba-tiba diberikan Inyiak Pakiah setelah celoteh kami mereda membuat ruangan surau menjadi senyap sesenyap-senyapnya.

“Mereka juga orang Islam, bukan? Dan mungkin pula ada di antara mereka yang berasal dari kampung kita. Muslim itu saudara, bukan? Makanya kuberi mereka beras dua karung. Bukankah tidak sempurna iman kita kalau kita tidak cinta untuk saudara kita apa yang juga kita cintai untuk diri kita sendiri?”

Malam menanjak pelan. Waktu Isya sudah hampir masuk. Mendadak serentet tembakan terdengar dari arah kampung dan dibalas dengan tak kalah gencarnya dari arah utara. Tidak berapa lama, kami mendengar derap sepatu banyak sekali. Tiba-tiba pintu surau digedor kencang dari luar. Tergopoh-gopoh Nyiak Pakiah membukakan pintu.

“Nyiak, bawa Umi dan anak-anak ini ke tempat berlindung yang aman!” seorang berseragam tentara berucap setengah berteriak.

“Tiarap…!” Di luar terdengar aba-aba.

“Cepat berlindung…!” teriak prajurit tadi.

“Semuanya merunduk, dan merangkak keluar. Tandin, ayo papah umimu!” perintah Nyiak Pakiah.

Kami merunduk ketakutan dan beringsut keluar bersama Umi Malah, dan Tandin. Tidak lama kemudian, Nyiak Pakiah menyusul di belakang. Kami merayap dan mendekam berdesakan di bandar saluran air ke surau. Tiba-tiba rentetan tembakan kembali bergema dari arah hutan. Seorang prajurit terpekik roboh diterjang peluru. Melihat prajurit itu menggeliat berlumuran darah, tanpa pikir panjang Nyiak Pakiah segera berlari memburunya.

***

DARI arah hutan belasan sosok berkedok mengendap-endap merayap ke arah surau. Percikan bunga api dari arah belakang mereka meledak keluar dari moncong senapan melindungi belasan sosok berkedok itu. Puluhan Tentara Luar yang datang dari arah kampung terdesak mundur ketika mendapat perlawanan sengit dari Tentara dalam. Sosok yang merayap paling depan melihat seorang Tentara Luar roboh. Dari arah surau tiba-tiba ia ihat sosok bayangan lain berlari mengejar prajurit terluka itu. Tanpa pikir panjang ia arahkan senapannya ke sosok itu. Senapannya menyalak. Sosok itu terjengkang.

“Nyiaaak…!”

Sosok hitam yang melepaskan tembakan itu terkejut dan menggigil. Berbagai perasaan berkecamuk hebat di batinnya. Secepat kilat, bayangan kejadian senja tadi berkelebat di kepalanya. Seorang lelaki tua pemurah dan dihormati di kampung itu menyambut mereka ramah dan memberikan beras dua karung penuh. Sebutir peluru yang muntah dari senapannya telah menemui takdirnya ke mana peluru itu harus bersarang.

Guruku menutup cerita mengenai gurunya, peluru, juga tentang lelaki bertopeng hitam yang telah meledakkan senapan mengakhiri riwayat Nyiak Pakiah, sambil tersenguk mengusap air mata. Malam ini cucu lelaki bertopeng itu mendengarkan, dan menuliskan kisah tragis itu dengan kepala tertunduk. Dadanya terasa begitu sakit. (*)

 

 

Lasi, 2011-2013

 

Ijok: bersembunyi di lubang-lubang persembunyian menunggu situasi aman.

 

Akhyar Fuadi, lahir di Nagari Lasi Kecamatan Canduang Kabupaten Agam, Sumatera Barat, 18 April 1984. Beberapa sajaknya termuat antara lain dalam antologi Sebilah Sayap Bidadari: Memerobilia 7,9 SR (2010), Epitaf Arau (2011), Seratus Puisi Ibu se-Indonesia: Karena Aku Tak lahir Dari Batu (2011).

Advertisements