Cerpen Azwar R Syafrudin (Suara Merdeka, 28 April 2013)

Gorong-Gorong Rahasia ilustrasi Toto

1

SETELAH merapikan kerah bajuku, membetulkan sedikit letak dasi kupu-kupuku, dan menyisir miring rambut tipisku, Ibu bertanya kepadaku apakah aku mau dia antar pergi ke sekolah atau tidak. Seperti biasa aku hanya menggelengkan kepalaku dan tersenyum kecil kepadanya. Ibu tersenyum kepadaku kemudian mencium lembut keningku dan mengusap lembut kedua pipiku. Aku senang melihat mata Ibu yang semakin indah saat berkaca-kaca. Kurasa Ibu mengerti bahwa aku hanya tidak ingin merepotkannya.

“Hati-hati di jalan ya, Nak. Jangan lupa sampaikan salam Ibu kepada Pak Soleh.”

Ibu masih terus berdiri di depan rumah saat aku mulai melangkahkan kaki-kaki kecilku. Ibu selalu mengawasi langkahku sampai tubuhku mulai mengecil, menjadi semakin kecil, hingga akhirnya menjadi sebuah titik hitam, dan menghilang dari jangkauan matanya. Jarak antara rumahku dengan TK tempat aku belajar sebenarnya tidak terlalu jauh. Hanya saja nanti akan kutemui sebuah jalan besar panjang seperti ular yang harus kuseberangi untuk sampai ke sekolahku. Padahal setiap pagi, jalan itu selalu ramai oleh kendaraan-kendaraan bermotor yang banyak memuntahkan asap hitam tebal dan sering membuatku batuk-batuk. Maka, aku membutuhkan pertolongan Pak Soleh.

 

2

AKU sering membayangkan Pak Soleh memakai baju biru ketat, terusan celana ketat yang juga berwarna biru dengan sayap merah dan celana dalam merah yang dipakai di luar. Ada huruf “S” yang tertulis besar di dadanya. “S” bukan untuk Superman melainkan untuk Solehman. Aku rasa Pak Soleh bukanlah seorang tukang becak biasa. Mungkin ia memiliki kekuatan super atau mungkin ia sebenarnya adalah superhero yang sedang menyamar menjadi seorang tukang becak. Begitulah yang sering aku lihat di telivisi, kebanyakan superhero memang hobi menyamar sebagai orang biasa. Ah, aku tidak tahu bagaimana pastinya. Tapi yang jelas Pak Soleh adalah pahlawanku karena tanpa dia tentu saja aku takkan mungkin bisa menyeberangi jalan besar itu.

Tiap pagi Pak Soleh selalu menungguku di pinggir jalan itu. Ia bahkan rela untuk tidak menerima penumpang hanya karena ingin menolongku menyebrang jalan. Biasanya ia menungguku sambil mengisi buku-buku TTS yang sampulnya bergambar wanita-wanita cantik. Aku sering melihat tangan Pak Soleh menyelinap ke dalam celananya saat sedang melamun memperhatikan gambar-gambar itu. Aku tak mengerti apa yang sedang ia lakukan dan aku pun enggan bertanya. Saat menyeberangkanku, Pak Soleh selalu melepas caping di kepalanya, mengibas-ngibaskannya ke depan agar kendaraan-kendaraan memperlambat lajunya. Sampai di seberang jalan, seperti biasa aku mencium punggung tangan Pak Soleh. Tangan yang selalu ia masukkan ke dalam celana saat melihat gambar-gambar wanita cantik itu. Saat-saat seperti itu seekor naga raksasa yang melingkar di sepanjang tangan kanannya terlihat begitu jelas. Matanya menyala, seakan-akan ingin menggigitku. Setelah itu aku tidak pernah lupa mengucapkan banyak terima kasih kepada Pak Soleh. Aku juga tidak pernah lupa untuk mengingatkannya agar tidak memberitahu siapa pun mengenai gorong-gorong rahasiaku.

 

3

DI rumah tua yang berwarna merah itu konon tinggal seorang nenek sihir jahat yang suka menculik anak-anak kecil yang lewat di depan rumahnya. Katanya ia sering menyamar menjadi seorang wanita cantik yang menawarkan permen-permen kecil yang berwarna-warni dan berbentuk indah supaya anak-anak kecil yang lewat mau diajak masuk ke dalam rumahnya.

“Hai anak manis, kalau kau ingin permen yang lebih banyak masuklah ke rumahku. Aku masih punya banyak permen di dalam. Aku juga punya banyak mainan yang bisa kau bawa pulang sesuka hatimu.” Begitulah ia biasa merayu anak-anak kecil itu.

Jika kau bertemu dengannya, jangan pernah sekali-sekali kau berani menatap matanya terlalu lama. Karena saat kau menatap matanya, matanya akan bersinar merah dan kau tak akan bisa lagi menolak ajakannya untuk masuk ke dalam rumahnya. Itu tandanya kau sudah terjebak dalam kekuatan sihirnya. Dan jika kau tertangkap, kau akan dimasukkanya ke dalam sebuah kamar, bersama dengan anak-anak kecil lainnya yang terus menangis sepanjang hari. Tiap malam jumat ia akan menyembelih seorang anak yang suara tangisnya paling kencang. Tapi ia tidak akan memakannya, hanya meminum darahnya untuk menambah kekuatan sihirnya. Kepala anak yang sudah disembelih itu biasanya diberikan kepada anjing raksasa peliharaannya yang bernama Bahar, sedangkan tubuhnya diawetkan untuk dijadikan koleksi pribadinya.

Kata Pak Soleh cerita itu tidaklah benar. Di rumah itu tidak ada nenek sihir jahat yang suka menculik anak kecil. Tetapi aku tetap saja takut. Saat berangkat sekolah—ketika aku harus melewati rumah itu—aku selalu menunggu orang lewat supaya aku bisa berjalan di sampingnya. Kadang aku merasa takut dan curiga bahwa jangan-jangan orang yang lewat dan berjalan bersamaku itu adalah nenek sihir jahat yang sedang menyamar.

Siang hari ketika pulang sekolah aku jarang menemui orang lewat yang bisa aku ajak pulang bersama. Mungkin itu adalah waktu saat semua orang sibuk bekerja. Kalau sudah seperti itu terpaksa aku beranikan diri, mencoba pulang sendiri. Sampai di dekat rumah itu aku berhenti. Aku sempat berpikir untuk lari tapi mungkin itu bakal percuma jika si nenek sihir mengejarku dengan sapu terbangnya. Dia pasti akan dengan mudah menangkapku. Setelah berpikir cukup lama akhirnya aku menemukan jalan keluarnya. Saat itulah untuk kali pertama aku menemukan gorong-gorong rahasiaku.

 

4

GORONG-GORONG rahasiaku begitu panjang seperti ular, seperti jalan besar yang biasa aku seberangi bersama Pak Soleh. Aku tidak tahu seberapa panjang gorong-gorongku, di mana ujung dan pangkalnya, sama seperti aku tidak tahu seberapa panjang jalan besar itu. Yang jelas gorong-gorong itu memanjang dari tempat dimana Pak Soleh meninggalkanku—setelah menyeberangkanku—sampai di depan sekolahku. Gorong-gorong itu lebih tinggi dua jengkal dari kepalaku, sehingga jika aku masuk ke dalamnya tidak akan ada orang—kuharap nenek sihir itu juga—yang bisa melihatku. Gorong-gorong itu tidak dialiri air seperti gorong-gorong yang lainnya. Di dalamnya hanya ada daun-daun kering, bungkus-bungkus makanan kecil, juga kotoran-kotoran tikus yang memaksaku menutup hidungku dengan kerah baju. Sesampainya di rumah aku selalu dimarahi Ibu karena bajuku menjadi begitu kotor setelah keluar dari gorong-gorong itu. Jika ditanya ibu mengapa aku bisa menjadi sekotor itu aku selalu menjawab, “Aku habis bermain bola bersama teman-temanku.”

 

5

HARI ini karena pengambilan rapor aku pergi ke sekolah bersama Ibu. Di dalam kelas Ibu berkumpul dengan orang tua teman-temanku yang lain, menunggu namaku dipanggil wali kelas. Sedangkan aku menunggu di luar sembari bermain bersama teman-temanku. Pulang dari mengambil rapor Ibu mengajakku makan bakso di samping sekolahku. Aku boleh makan bakso sepuasku karena kata Ibu nilai raporku baik. Di sana kami tidak hanya berdua karena ada Roni dan ibunya yang juga ikut makan bersama. Roni adalah sahabatku. Kemarin aku sudah berjanji kepadanya akan mengajaknya bermain di gorong-gorong rahasiaku. Di warung bakso ibuku dan ibunya bercerita tentang mayat-mayat orang bertato. Kata ibu Roni sekarang banyak sekali ditemukan mayat-mayat orang bertato yang terbunuh secara misterius.

“Dengar-dengar kata orang sih mereka memang sengaja dibunuh.”

“Kejam sekali, lalu siapa yang tega membunuh mereka semua?” Terlihat wajah ibuku semakin penasaran.

Belum sempat ibunya menjawab, Roni sudah menyela, “Kenapa orang-orang bertato harus dibunuh, Bu?”

Setelah selesai menguyah bakso, ibunya menjawab, “Mungkin mereka orang-orang jahat.”

“Ah, aku tidak setuju! Pak Soleh tangannya bertato tapi dia baik kepadaku. Buktinya tiap pagi dia mau menyeberangkanku.” Mendengar jawaban seperti itu aku merasakan seluruh darah mengalir dan berkumpul di kepalaku, aku tidak terima, aku berusaha membela pahlawanku.

Ibu merangkulku, mengusap lembut kepalaku, “Sudah-sudah, katanya kamu mau mengajak Roni bermain di tempat rahasiamu? Sana ajak dia bermain.”

Aku dan Roni segera bergegas pergi. Setelah mencari tempat yang sepi dan memastikan tak ada orang yang melihat, kami segera masuk ke dalam goronggorong itu. Di dalam gorong-gorong kami menemukan ranting-ranting kayu yang kami gunakan untuk bermain pedang-pedangan. Di sana kami berlarian, saling berkejar-kejaran, kami bermain polisi-polisian. Roni adalah penjahat yang kabur dari penjara dan aku harus menangkapnya. Dia berlari sangat cepat hingga aku kewalahan mengejarnya. Sampai akhirnya ia tiba-tiba terjatuh karena tersandung sebuah karung yang sangat besar. Karung itu terbuka dan isinya berhamburan. Melihat isi karung itu aku dan Roni menjerit dan kami berlari ke arah yang berlawanan. Ada potongan tangan yang menyembul dari dalam karung itu. Tangan yang sangat aku kenal. Tangan yang setiap pagi menggandengku. Tangan yang dulu terlihat kuat tapi kini terlihat begitu pucat. Mungkin naga di tangannya sudah mengisap darahnya sampai habis. Aku menangis sekencang-kencangnya, berteriak-teriak minta tolong. Tetapi seorang anak kecil yang lewat dan mendengar tangisanku malah ikut menangis dan menjerit, “Aaaaaa, tolooong! Ada hantu anak kecil yang disembelih nenek sihir.” (*)

 

 

Yogyakarta, 12 Juli 2012

Azwar R Syafrudin, lahir di Yogyakarta, 21 Maret 1992. Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNY ini bergiat di Komunitas Sastra Rabu Sore (KRS) dan Malam Perjamuan Sastra (MPS).

Advertisements