Cerpen Adi Zamzam (Suara Merdeka, 21 April 2013)

Kabut ilustrasi Putut Wahyu Widodo

KABUT tiba-tiba saja memperpendek jarak pandang. Wono merasa telah begitu jauh meninggalkan pantai, meninggalkan mata bening yang melepasnya dengan aroma cemas tadi pagi. Namun jaringnya masih belum mendapatkan hasil yang melegakan. Hanya setengah ember ikan kuning dan ikan selar. Ikan-ikan seperti tengah bersembunyi entah di mana.

Wono berniat putar perahu meski hasil yang ia dapat masih jauh dari harapan. Tapi ia kehilangan arah. Benar-benar kehilangan arah. Cahaya menghilang di balik kabut. Semua tertutup kabut yang tiba-tiba itu, seolah perahu Wono telah ditelannya bulat-bulat.

Namun aneh, Wono justru mendengar suara-suara di balik kabut itu. Suara riuh orang-orang, bercampur deru kapal, benturan benda keras entah apa, derit jaring yang ditarik, dan samar-samar tangisan Turi.

“Turii…,” teriaknya memanggil sang istri.

Sesaat ia merasa seperti orang gila karena hanya ombak yang menyahut. Sadar ia tengah terombang-ambing sendirian di tengah laut dikepung kabut.

Setengah putus asa, Wono membaringkan tubuhnya di badan perahu. Membiarkan suara-suara bising itu menggoda telinganya. Menunggu kabut sirna membukakan jalan pulang untuknya.

***

DI sinilah Turi sekarang. Dalam lamunan seorang diri pada rembang petang.

Cahaya masih mengintip malu-malu di ufuk timur. Jelaga belum sepenuhnya terhapus dari langit. Gelap juga belum sempurna terusir dari pantai itu. Tapi sosok Wono sudah tampak sibuk mempersiapkan semua keperluannya melaut.

Seorang perempuan yang perutnya menggunung terlihat mendekatinya. “Jangan terlalu jauh, Kang. Musimnya sedang tak bagus,” suaranya terdengar seperti keluhan.

“Doakan saja nanti aku dapat ikan yang banyak,” sahut lelaki itu.

Dan perempuan itu memang lebih banyak berdoa sekarang. Seharian ia banyak memandangi laut dengan sedikit cemas. Laut mengganas setiap angin barat mulai mengganti musim. Ia sudah menasihati lelakinya agar jangan terlampau jauh mengayuh perahu. Meski ia tahu beberapa tahun terakhir ikan-ikan seperti telah meninggalkan tempat ini.

Pantai yang semasa kecilnya amat kaya kini merana karena gempuran sampah dari sungai-sungai yang berhilir kepadanya. Setiap memasuki musim hujan begini, botol air mineral, bungkus plastik, kardus, konde, bahkan bangkai, akan mudah dijumpai di sana sini.

“Terumbu karangnya banyak yang mati, rumput laut juga tak mau hidup lagi di tempat ini. Kalau mau mancing ban bekas atau tas plastik malah gampang,” cerita lelakinya sepulang dari membersihkan sampah bersama banyak orang ketika itu.

Dan keluhan-keluhan kecil semacam itu berjalan hari semakin bertambah.

“Kau lihat itu. Apakah kita harus berperang melawan mereka?” sambil  menunjuk sebuah kapal besar yang tengah menurunkan jaring trawl-nya.

Lamunan perempuan itu terhenti ketika melihat seorang perempuan yang amat ia kenal tampak terhuyung dipapah beberapa orang. Ia segera menghampirinya.

“Ada apa ini?” tanyanya.

“Bani hilang setelah menyelam tadi pagi. Kami sudah mencarinya ke mana-mana, tapi belum juga ketemu.”

Perempuan itu menjerit dan meronta hingga terpaksa harus diseret ke rumahnya. Sementara pencarian terhadap lelaki pencari terumbu karang itu dilanjutkan kemudian.

Ada nyeri dalam dada Turi yang kemudian merambat ke bawah. Sepertinya calon anak pertamanya juga turut mencium kecemasan yang dirasakannya.

***

WONO seperti mendengar panggilan istrinya dari balik kabut itu. Ia segera mengayuh perahunya menuju sumber suara. Mungkin itu petunjuk menuju pantai. Mungkin itu adalah pintu yang akan membawanya keluar dari selimut kabut.

Namun alangkah terkejutnya ketika sosok itu tiba-tiba meluncur deras tak jauh di hadapannya. Tabrakan membuatnya terpental jatuh. Dengus sosok raksasa itu sempat membuatnya jantungan. Serasa remuk sudah semuanya. Untunglah ia segera dapat menguasai diri. Lalu ia mendengar bunyi tambang ditarik. Samar-samar ia melihat gelepar ikan terangkat dari laut. Dan riuh suara-suara orang dalam kabut.

Wono kemudian menyadarinya. Jika selama ini hanya melihatnya dari kejauhan, kini ia bisa melihatnya dari dekat. Sebuah kapal besar berbendera negara asing. Ia bisa memastikan terumbu karang di dasarnya pun ikut terkeruk. “Hei… jangan beroperasi dekat rumpon kami…,” teriak Wono, mengayuh perahu menuju samping kapal.

Namun tak ada yang mendengar teriakannya. Hanya terdengar tawa mereka di atas sana. Seperti sedang merayakan sesuatu. Kemudian terlihat jaring diturunkan lagi.

Wono mencari cara agar bisa naik ke atas. Tapi kapal itu melaju saat tangannya berhasil meraih lambung kapal. Hampir saja ia terpeleset saat perahunya oleng.

Ia berusaha mengejar. Tapi kemudian merasa sia-sia karena kapal itu cepat sekali tertelan kabut dan tak terdengar bunyinya lagi.

Hening. Lalu hanya suara ombak yang kembali menemani. Wono benar-benar heran dengan kabut misterius ini. Seumur hidupnya memasrahkan diri sebagai nelayan, belum pernah ia mendengar kisah seseorang yang tak bisa pulang karena tersekap kabut.

***

DARI tempatnya berdiri, Turi bisa melihat kabut itu. Kelabu di ujung laut, bergerak dari sisi kiri menuju sisi kanan cakrawala. Langit tampak muram menaunginya.

“Lihat, Pak, lihat. Itu kabutnya! Aku yakin Kang Wono pasti terjebak di sana!” tuding Turi seraya menoleh ke seorang lelaki yang menungguinya dengan raut prihatin.

“Mungkin itu badai,” ujar pendek lelaki itu, yang kemudian disambung helaan napas.

“Bapak bilang begitu karena Bapak takut aku suruh menjemput ke sana, kan? Iya, kan? Aku melihat sebuah kapal keluar dari kabut itu, Pak. Sepertinya ia baru saja berhasil membebaskan diri. Dan Kang Wono….”

“Hari sudah berangsur gelap. Ayo, masuklah,” ujar si lelaki seraya meraih pundak Turi.

“Kang Wono terjebak di dalam kabut itu, Pak.”

“Sudah tiga hari tiga malam orang-orang mencarinya di laut. Polisi juga sudah diberi tahu. Kamu harus bersabar, demi anakmu. Ayo masuklah. Angin magrib tak baik untuk janinmu.”

Menolak tangan bapaknya. Dia mulai terisak.

“Aku sangat yakin, Pak. Coba lihatlah sekali lagi. Kang Wono pasti terjebak di sana.”

***

KADANG terlintas penyesalan dalam benak Wono, kenapa ia bisa begitu betah memasrahkan diri sebagai nelayan. Padahal telah jelas sekali kondisi laut di kampung halamannya saat ini. Kabut ini membuatnya bisa berpikir lebih panjang tentang pilihan hidup itu. Saat di rumah, kesibukan tak pernah memberinya jeda waktu untuk sekadar menghitung-hitung apa yang sudah ia dapat.

Dan, apa yang sudah didapatnya sekarang? Beruntung sekali rasanya ia mendapatkan perempuan seperti Turi, yang mau memahami keadaannya meski serba berkekurangan.

Wono mengayuh pelan perahunya. Terus mengayuh dan menghalau rasa bosan. Ia yakin akan berhasil keluar dari kabut ini nanti. Hingga suatu ketika….

“Bau apa ini?” batinnya, ketika mencium busuk yang teramat sangat. Keningnya semakin berkerut saat semakin dekat dengan sumber bau tak sedap itu.

“Mayat!” pekiknya tertahan ketika melihat sesuatu yang mengambang di tengah laut. Ia tahu, percuma berteriak. Jadi ia dekati saja jasad yang terapung-apung itu.

“Bani?” terkejut setengah mati.

Ketika ia mengatur posisi agar lebih mudah menarik mayat yang telah melembung itu, matanya tanpa sengaja menemukan puing-puing kayu perahu. Semula ia mengabaikannya. Namun ketika ia merasa kenal betul dengan puing-puing itu dan kemudian melihat sesosok jasad lagi yang juga terapung-apung dipermainkan ombak, jantungya serasa berhenti berdetak.

Ia dahulukan jasad yang terakhir dilihatnya. Sepertinya ia juga amat mengenali jasad itu. Kaus dan celananya mirip sekali dengan yang dikenakan Wono sekarang. Dan ketika ia membalikkan jasad yang telungkup menghadap dasar laut itu….

Kilasan-kilasan setahunnya bersama Turi langsung memenuhi mata. Terjatuh di badan perahu. Tak sanggup bangkit. Kini ia tahu, ia tak akan pernah bisa keluar dari kabut ini. (*)

 

 

Kalinyamatan, Jepara, 2012-2013.

Adi Zamzam adalah nama pena Nur Hadi, cerpenis yang tinggal di Kalinyamatan, Jepara.

 

 

Advertisements