Tiga Pasang Mata Marinda


Cerpen Yetti A.KA (Jawa Pos, 14 April 2013)

 

TERAKHIR kali Marinda datang dalam mimpiku, ia berkata, Aku urung pulang, Kawan. Bisakah kau pinjami aku pisau. [*]

***

Lama setelah itu, aku tidak lagi bermimpi tentang Marinda. Kadang aku begitu merindukan segala yang ada dalam dirinya—dari matanya yang basah hingga cerita menyedihkan yang menyesaki tubuhnya. Ini tentu saja kerinduan yang tidak masuk akal mengingat mimpi tentang Marinda sebenarnya sesuatu yang bisa membuat sinting. Namun, sungguh, sekarang aku menginginkan kedatangan Marinda. Juga anak-anak yang serupa boneka kayu itu. Seperti apakah mereka sekarang? Apakah makin mirip boneka kayu saja? Mereka tumbuh kaku dengan perasaan yang tak mampu berdesir. Mereka hidup dengan hati yang tak berdebar. Hanya perasaan datar. Dan tak seorang pun mampu memasuki perasaan yang seperti itu.

Marinda, Marinda, nasib apa yang tengah kaupaksakan pada anak-anak itu?

Aku sama sekali tidak tahu di mana Marinda bersembunyi dari kekalahan demi kekalahan. Bermalam-malam aku merancang mimpi agar bisa bertemu kembali dengan Marinda. Aku ingin melihat tubuhnya yang merah. Mata yang marah, membara. Juga cerita-ceritanya. Tidak. Ia tidak pernah datang lagi. Mimpi yang kurancang justru menjadi mimpi indah yang lama-lama membuatku gusar.

***

Tapi suatu pagi, tanpa kuduga sama sekali dan terasa seperti permainan belaka (namun kapan pula hidup Marinda tanpa permainan?) aku menemukan Marinda di teras rumah. Aku terpana lama. Benarkah itu Marinda? Apa ini mimpi? Ah, mestinya aku tidak peduli tentang itu. Bukankah nyata atau mimpi, bagiku, kehadiran Marinda terasa sama saja.

Marinda duduk di salah satu kursi. Diam. Tidak bergerak. Saat aku berdiri di depannya pun ia juga tidak mengeluarkan ekspresi lebih. Cuma tersenyum. Itupun sekilas. Dan barangkali bukan pula tersenyum padaku, melainkan pada dirinya sendiri. Tubuhnya terlihat berbeda dari yang kuingat saat ia datang terakhir kali dalam mimpiku. Ia semakin terlihat buruk. Hanya cara menatapnya yang tidak berubah. Mata itu boleh membusuk dan ditumbuhi bintil-bintil menjijikkan hingga Marinda lebih mirip makhluk air yang kekeringan dan menderita parah, akan tetapi ketajaman dan sisa keliaran yang khas itu milik Marinda. Tidak pernah kulihat ada pada orang lain. Aku ingin sekali memeluknya. Meski kemudian aku hanya bertanya, Kau kemana saja sih? Kau senang sekali hilang tiba-tiba dan muncul lagi dengan cara yang sama.

Marinda mengangkat wajahnya. Air memancar dari ceruk mata itu. Mirip mata air yang terjebak dalam bola kaca. Seketika aku merasa hanyut. Lalu lucup.

Bisakah satu kali saja kau datang padaku tidak dengan kesedihan, Marinda? pintaku. Aku ingin kau selalu tertawa hingga aku menemukan buah berwarna merah di pipimu. Aku akan memetik buah itu, menjadi kenangan indah setelah sekian lama ini kau memberiku kenangan yang melulu tentang kesedihan.

Aku barangkali memang tercipta dari kesedihan, Rianti, Marinda berkata. Aku tidak bisa lari. Seperti juga kau tidak bisa menghindar dariku.

Kalimat Marinda membuatku bergidik.

Marinda tersenyum aneh. Kau ketakutan? tanyanya mengejek.

Tidak, bantahku, aku mencemaskanmu.

Marinda menahan tawa, pundaknya sedikit terguncang, Kau tidak berubah. Selalu mencemaskan sesuatu yang tidak semestinya kaulakukan. Kau terlalu sering berlebihan padaku.

Aku memikirkan anak-anakmu, kilahku.

Mereka sudah menjadi sepasang boneka kayu yang cantik dan tampan. Suatu hari kauboleh melihat atau membawanya pulang ke rumahmu. Kauboleh memajangnya di salah satu sudut ruang tamumu atau menjualnya pada seorang kolektor yang beminat. Aku tidak peduli pada mereka. Aku bosan berpura-pura mencintai padahal sejak awal aku sibuk memikirkan diriku sendiri.

Marinda! pekikku. Aku hampir menangis menyadari betapa memilukannya perkataan semacam itu. Ia yang tidak lagi memiliki apa-apa dalam ruang dadanya. Waktu dan kemalangan telah merebutnya—segala sesuatu yang dulu pernah membuatku begitu cemburu. Membuatku sering kali berpikir ingin mencuri satu saja dari kesempurnaan Marinda saat ia tertidur pulas di sampingku. Yang paling kuinginkan mencongkel kedua matanya yang indah lengkap dengan bulu-bulu mata panjangnya. Namun saat hampir saja kulakukan, kedua mata Marinda terbuka lebar, dan aku menjerit ngeri melihat hidup yang gelap di dalamnya. Setelah kejadian itu aku tidak pernah lagi menginginkan sesuatu dari Marinda.

Aku hanya tidak tahu apa yang harus kukatakan, desah Marinda berkarat, membuatku ngilu mendengarnya. Aku selalu kebingungan, tidak tahu lagi cara berbahagia, tambahnya.

Aku mengerti perasaanmu, Kawan. Cuma aku yang bisa mengerti.

Benarkah? Marinda mendadak hidup. Ia persis Marinda yang pernah kukenal dengan api yang menyala kecil (dan nanti tentu terus membesar) di lorong matanya. Aku tercengang-cengang menatap Marinda yang bisa berubah seketika. Kukerjapkan mata berkali-kali karena tidak percaya Marinda yang dulu seolah baru saja kutemukan lagi. Marinda yang liar dan tidak terbendung.

Itu benar, kataku tergagap.

Kalau begitu, ikutlah bersamaku ke masa lalu.

Kau mau bermain-main lagi, Marinda?

Ini terakhir kali, Rianti. Aku mau menemui lelaki pematung kayu. Satu-satunya lelaki yang berjanji mencintaiku sampai mati. Aku ingin tahu apa ia benar-benar lelaki yang berbeda atau malah sama saja dengan lelaki pembual kebanyakan.

Tubuhku sedingin pagi musim penghujan saat aku ingat lelaki pematung kayu itu; anak-anaknya yang manis, istrinya yang juga manis.

Tidak, Marinda. Jangan lakukan. Jangan. Kaupasti terpanggang. Hangus.

***

Nanti kami akan memiliki bocah yang tampan, Rianti. Anak lelaki yang kami beri nama Lalang, kata Marinda terkikik sambil melemparkan batu kecil ke kolam di depan kami. Ikan-ikan segera berlari, terbirit-birit, sembuyi di bawah daun teratai berbunga putih.

Waktu itu cinta memang masih mampu membuat Marinda banyak tertawa. Membuat ia melupakan betapa sebenarnya dari kecil hidupnya sudah berlubang-lubang.

Aku tidak ikut tertawa. Aku sedang tidak jatuh cinta. Tapi kata Marinda, ah, memangnya kapan kaupernah jatuh cinta?

Aku mencubiti lengan Marinda. Marinda menjerit dan kami bergelut di atas rumput seperti dua anak kecil. Setelah lelah, kami rebah telentang di atas rumput, memandang langit dengan awan perak yang berkilau. Aku jadi ingat kata-kata kakek saat aku kecil, jangan sembarangan tidur di alam terbuka, bisa-bisa burung pincang terbang di atasmu, dan kau pun akan memiliki kaki pincang setelah itu.

Marinda terbahak ketika aku katakan tentang itu. Namun tawanya langsung lenyap begitu bayang-bayang seekor burung besar, hitam, tinggi menjulang, jatuh di atas tubuh kami.

Lelaki pematung kayu datang dengan cara menakutkan, bisikku pada Marinda, dan aku buru-buru pergi sebelum Marinda sempat balas mencubitku. Atau sebelum lelaki yang datang dalam wujud bayangan itu menangkap Marinda bulat-bulat di depan mataku dan itu membuatku mual.

***

Aku terus-menerus teringat pada rencana Marinda pergi ke masa lalu. Aku sendiri tidak tahu bagaimana caranya ia pergi ke sana sebab, menurut Marinda, ia bukan menuju ke suatu tempat, melainkan waktu di mana ia bersama lelaki pematung kayu pernah bersama. Itu berarti Marinda akan berada dalam waktu puluhan tahun di belakang. Mungkin saja ia akan masuk lewat sebuah pintu, entah di mana.

Maka aku sering berada di halaman rumah, pagi sebelum berangkat kerja atau sore sepulangnya. Kadang aku sengaja melongokkan kepala berkali-kali ke ujung jalan. Aku tahu Marinda pasti datang lagi sebelum ia melakukan perjalanan. Ia tentu akan meminjam sesuatu dariku. Mungkin bukan pisau, tapi kedua tanganku yang akan menggengam erat tangannya beberapa saat sebelum ia berangkat ke tempat yang entah—aku tak mampu membayangkannya—sebagai tanda kalau kami tetap dua orang kawan yang kadang mencintai dengan cara terbaik dan saat lain amat buruk, akan tetapi apa pun itu tetap saja bernama cinta, bukan?

Benar. Marinda datang setelah sekian hari aku menunggu. Perasaanku meriap. Aku sudah melihatnya di ujung jalan. Mula-mula ia mirip satu titik hitam yang besar. Tapi kemudian aku melihat titik-titik besar yang lain, dalam warna yang berbeda-beda. Mereka makin dekat, sampai Marinda melambaikan tangannya dan senyumnya mengembang.

Aku pergi, Rianti, katanya riang.

(Aku melihat buah merah muda di kedua pipi Marinda, dan aku langsung memetiknya diam-diam).

Siapa mereka? tanyaku.

Aduh, Rianti. Apa kau tidak tahu ada banyak sekali orang yang ingin pergi ke masa lalu? Banyak sekali. Orang-orang yang tidak bahagia. Mereka yang tidak tahan berpura-pura. Kaulihat perempuan yang pakai baju hijau itu. Ia mengaku salah seorang teman kantormu.

Aku terdiam dan hampir jatuh kalau saja Marinda tidak cepat-cepat memegang bahuku. Meja kerja perempuan itu persis berada di samping kananku. Kami memang tidak terlalu akrab, tapi aku tahu ia perempuan paling bahagia di kantor kami. Ia memiliki satu orang anak laki-laki dan suami romantis yang terlalu sering memberinya kejutan. Ia acapkali membawa berbagai oleh-oleh kala mereka pulang liburan yang nyaris dilakukan tiap akhir pekan. Ia tidak pernah murung atau menangis seperti beberapa teman kantor yang tidak tahan menyimpan rasa sedih sehabis bertengkar dengan pasangan.

“Sayang sekali kau tidak bisa ikut,” sesal Marinda. Ia menggenggam kedua tanganku yang beku, lalu berjanji akan datang lagi menemuiku setelah ia kembali dari masa lalu. Aku tidak benar-benar mendengar kalimat Marinda yang agak panjang itu.

***

Lama sekali setelah Marinda pamit pergi ke masa lalu—malah aku hampir-hampir melupakannya karena aku menyibukkan diri dengan berbagai pekerjaan (sebenarnya aku melupakannya bukan semata-mata karena sibuk, tapi karena aku tahu melupakan Marinda cara terbaik agar aku bisa melanjutkan hidup)—pagi-pagi sekali, langit masih berwarna buram, ketika aku menerima kedatangan dua orang anak serupa boneka kayu di muka pintu. Salah seorang dari anak itu kemudian kuketahui menggendong bayi dalam balutan selimut yang tebal.

Kutatap lekat mata ketiga anak itu, secara bergantian. Tiga pasang mata kayu yang keras. Mata Marinda. Sesuatu segera meluap di dadaku. Penuh. Kurasakan napasku sedikit sesak dan aku susah payah mengaturnya agar tidak tercekik.

Samar-samar aku mendengar suara Marinda: Aku benar-benar pergi, Kawan. Aku menyerah dengan rasa bahagia. Kukirimkan mereka, tiga pasang mata kayu, sebagai kenang-kenangan. (*)

 

 

Jalan Enam Mei, 2013

[*] dikutip dari cerpen Mata Marinda yang Basah

One Response

  1. maknanya apa y?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: