Solat


Cerpen Fandrik Ahmad (Republika, 7 April 2013)

 

SEPULANG dari tanah suci, Haji Kamil kerap terlihat di Masjid. Tak sulit mencarinya bila tidak ada di rumah. Cari saja di masjid, pasti ketemu!

Usai menyempurnakan rukun Islam, Haji Kamil tampak berbeda. Setiap azan solat berkumandang, ia sudah berada masjid mendahului Sohib, takmir yang bertugas sebagai muadzin. Kalau Sohib terlambat, Haji Kamil bisa menjadi muazin sehingga keberadaannya di masjid cukup meringankan pekerjaan muazin.

Selain Haji Kamil, tak ada orang yang datang lebih awal daripada muazin. Orang-orang yang ingin solat berjemaah baru datang ketika ikamah berkumandang. Itupun yang datang dapat dihitung dengan jari. Masjid itu mendapat jemaah paling banyak dua saf pada waktu Magrib. Isya, saf sudah berkurang. Bila ingin melihat saf sampai ke belakang, harus menunggu tanggal biru alias jumatan.

Haji Kamil menjelma sebagai sosok haji teladan. Namanya kerap dibawa ketika penduduk kampung tengah bersilaturrahiem ke tetangga yang baru datang berhaji. Saat berjabat tangan dan saling rangkul, mereka kerap mengatakan, “Semoga menjadi haji mambur seperti Haji Kamil.”

Sebelum mendapat gelar “pak haji”, di masjid, Haji Kamil hanya tampak pada waktu solat Magrib dan Isya. Kini, berjemaah solat lima waktu benar-benar dijaganya.

Selesai ikamah, tanpa banyak pertimbangan, ia akan maju ke depan. Membaca takbiratul ihram [1] yang kemudian diikuti saf di belakangnya. Sejatinya, ilmu tajwid tak begitu dikuasainya. Tetapi, kehajiannya merupakan putusan yang tak dapat ditawar-tawar.

Dalam sebuah obrolan kecil, Haji Kamil kerap mengatakan baru sadar—bukan baru tahu—kalau solat berjemaah itu memang lebih baik daripada solat sendirian. Pahala solat berjemaah itu lebih tinggi dua puluh tujuh derajat dari pada shalat sendiri. Dengan terus menjaga solat berjemaah, jalan menuju surga akan terhampar luas, katanya. Tak ada yang lebih indah di hari tua kecuali memohon pertaubatan dan mengharapkan surga.

Bukan hanya itu, Haji Kamil kerap bercerita perihal pengalamannya ketika berada di tanah suci. Dengan nada sumpah, Haji Kamil melihat betapa umat Islam dari seluruh penjuru dunia yang datang ke tempat itu menitikkan air mata dalam kubangan dosa memohon pertaubatan. Kendati tubuh mereka dililit oleh selembar kain putih, lambang kesucian, mereka tetap merasa diri seorang hamba yang kotor. Lebih kotor dari kain ihram yang membungkus tubuh mereka yang mungkin tak ada sebercak noda yang menempel.

“Mereka menangis. Memohon ampun. Mengharapkan pertaubatan agar mendapat hidayah dan masuk surga,” cerita Haji Kamil menggebu-gebu.

Sebagai seorang yang pernah naik haji, Haji Kamil tak lepas dari peci putih. Jarang sekali penduduk kampung mendapati dirinya mengenakan peci warna lain, apalagi hitam. Gamis selalu dikenakannya saat melaksanakan solat, ditambah dengan janggut yang sengaja dibiarkan memanjang membuat dirinya tampak ke arab-araban.

“Sunnah nabi,” katanya.

Kepada anak-anak yang mengaji di masjid itu, Haji Kamil juga menjadi juru cerita yang baik. Cerita-cerita tentang kehidupan abadi setelah dunia: akhirat, surga, dan neraka, selalu didengung-dengungkan.

***

Ramadan tinggal menunggu waktu. Hampir setahun lebih Haji Kamil berstatus haji. Hampir setahun pula Ridho, anak semata wayang, menimba ilmu di sebuah pesantren tersohor di Jawa Timur. Kini, anak yang kerap disebut lebih mirip istrinya ketimbang Haji Kamil, pulang kampung karena libur panjang bulan Ramadhan.

Sebagai kepala keluarga, Haji Kamil menjaga betul solat anak dan istrinya dan diusahakan untuk selalu solat berjemaah. Urusan solat menjadi perhatian utamanya.

“Ramadan adalah bulan yang penuh berkah,” kata Haji Kamil kepada Ridho di perjalanan pulan usai solat Isya. “Sudah kau jalankan pesanku, Nak?”

Serasa jantung Ridho berdegup lain. “Sudah,” pungkasnya singkat.

Alhamdulillah, Baguslah. Abah memondokkanmu supaya kamu menjadi orang yang benar. Solat dengan benar, karena solat itu mencegah manusia dari perbuatan keji dan mungkar,” sesungging senyum beraroma bangga lepas pada anaknya.

Ridho tak bermaksud berbohong. Akan tetapi pertanyaan Haji Kamil yang datang tiba-tiba membuat dirinya reflek mengatakan sudah. Tak apalah, ini urusan sepele. Bagaimana mungkin bisa menjaga solat lima waktu berjemaah, sedangkan kegiatan pondok sangat padat. Lagipula program pesantren hanya mewajibkan santrinya solat berjemaah hanya waktu Magrib, Isya, dan Subuh. Sedangkan Zuhur dan Asar dihukumi mubah, pikirnya.

Berjemaah Solat Zuhur, tak mungkin. Sekolah pulang jam satu siang, sedangkan Kiai Sholeh mengimami di masjid 30 menit lebih awal. Berjamaah solat Asar sering alpa tersebab tidur siang. Kalau sudah bangun kerap tergesa-gesa karena usai Jemaah Asar, pengurus pesantren langsung memburu para santri untuk mengikuti ajian kitab turats [2]. Alasan nakal itulah yang termaktub di pikirannya, kendati solat berjemaah tidak harus di masjid atau bermakmum pada kiai.

Pertanyaan Haji Kamil menjebaknya pada solat berjemaah yang dihukumi wajib dengan yang dihukumi mubah oleh program pesantren. Sejatinya solat lima waktu semua hukumnya wajib. Tetapi pembagian dua hukum itu membuatnya merasa lebih enteng menunaikan solat yang dihukumi mubah daripada yang dihukumi wajib.

Seandainya solat tidak wajib, apakah manusia masih menunaikan solat? Cepat-cepat hati Ridho berseru istigfar.

Bohlam di pelataran rumah sudah tampak. Serangga malam yang kecil-kecil mengerubungi cahaya 5 watt itu. Haji Kamil menyapa Parman yang kebetulan lewat tepat ketika pagar rumah disentuhnya. Akunya, Parman baru datang kondangan. Sementara Ridho tengah terjebak pada pertanyaannya sendiri. Ia berusaha tak memikirkan pertanyaan konyol itu.

“Ada apa, Nak?”

Ah, tidak apa-apa, Bah.”

Gamitan hangat mendarat di bahu Ridho.

***

Hanya berumur sehari, betapa pertanyaan itu menghimpit kepala Ridho. Usai tasyakuran kecil menyambut hari pertama Bulan Ramadan, Ridho tak tahan ingin mengutarakan keingintahuannya. Apakah Abah akan marah, lalu memarahiku atau bisa saja menamparku? Ketakutan mengurungkan niatnya.

Ketika ia coba menjawab sendiri pertanyaan itu, malah yang muncul adalah pertanyaan turunan: kalau solat hukumnya wajib, berarti ada paksaan untuk melaksanakan solat. Ah, kenapa ketika berurusan dengan yang wajib serasa menjadi seorang pemberontak?

Bulan tampak separuh. Desir angin melengkungkan tubuh lelaki tua yang kepalanya dililit sorban. Sebuah tepukan keras di udara menyiratkan kegalakan nyamuk-nyamuk di musim hujan. Gemeretak gigi berpacu dengan denyit lincak yang menyangga tubuhnya. Ia tengah menyaksikan panggung rakyat di televisi.

Ridho berusahan mendekat. Perasaan bimbang menggetarkan bibirnya.

“Belum tidur?”

“Belum ngantuk.”

“Sini. Duduk. Ada tayangan seru.”

Ridho berusaha bersikap tenang. Kedua matanya terus disorongkan kepada Haji Kamil. Mencari celah kecil untuk kesempatan besar.

“Abah.”

“Ya,” jawab Haji Kamil tanpa menoleh. Tayangan di televisi sepertinya lebih menarik ketimbang menatap wajah anaknya. Nafas Ridho tambah berat.

“Kenapa kita harus melakukan solat?” tanyanya pelan. Secara reflek punggung Haji Kamil bergerak sedikit ke belakang sebelum berganti memalingkan muka. Membaca kening abahnya yang mengerut, bara ketakutan mengelabui pikirannya.

“Kenapa bertanya seperti itu?”

“Tidak apa-apa. Sekedar ingin tahu, Bah,” Haji Kamil menahan pandanganya.

“Kita ini ‘abdun, Nak. Abdi. Hamba. Budak. Sudah seharusnya menjalankan apa yang diperintah oleh tuannya dan menjauhi apa yang dilarangan oleh tuannya. Solat adalah salah satu bentuk ketundukan seorang hamba kepada tuan-Nya.”

“Cuma itu, Bah?” tanyanya datar.

Haji Kamil tak mengerti isi kepala anaknya. Apakah aku memondokkan anakku di tempat yang salah, pikirnya. Tidak mungkin. Pesantren Kiai Sholeh adalah pesantren salaf, mana mungkin anakku diajarkan hal yang bukan-bukan. Dua pikiran membingungkan Haji Kamil. Pikiran anaknya dan pikiran dirinya sendiri.

Kiai Sholeh sendiri dikenalnya sebagai sosok ulama yang hati-hati dalam pesoalan fikih dan akidah. Sebagai alumni, Haji Kamil masih ingat, Kiyai Sholeh muda kerap terlibat diskusi dengan pakar-pakar agama yang bercorak liberal. Argumentasi yang dikeluarkan sudah cukup menjadi penilaian bahwa Kiai Sholeh memang pentolan shalafus shaleh.

“Allah sudah berjanji, barangsiapa yang selalu menegakkan solat, maka ia akan diselamatkan dari siksaan akhirat dan akan berada di tempat yang layak, yakni surga. Solat itu tak bisa ditawar-tawar lagi. Hukumnya wajib. Orang yang sakit sekarat saja tidak boleh tidak harus tetap solat.”

“Itu dia, Bah.” Haji Kamil mengernyitkan dahi. “Seandainya solat itu tidak wajib, apakah kita tetap melakukan solat?”

Astaghfirullah! Istigfar, Nak. Istigfar!” Hampir saja Haji Kamil melayangkan tangannya ke muka Ridho jika saja tak segera mengontrol emosinya. Ridho ketakutan, air mukanya berubah keruh.

“Maafkan aku, Bah. Aku bukan bermaksud mempertanyakan perkara solat itu wajib atau tidak. Cuma, sebagai manusia, aku merasa melaksanakan solat karena perkara kewajibannya, semacam ada tuntutan melakukan solat,” serak suara Ridho dari sisa keberaniannya.

“Kau tahu apa urusan solat?”

“Ada semacam ketidakikhlasan tersebab harapan ketika melakukan solat, apalagi tidak melakukannya. Termasuk aku. Harapan masuk surga, ketakutan masuk neraka. Padahal, surga dan neraka itu kekal karena dikekalkan. Bagaimana bila nanti Allah, dengan sifat kuasa-Nya meniadakan Surga dan neraka. Kun fayakun.”

“Kau terlalu berandai-andai, Nak. Jangan menuhankan akal.”

“Aku tidak menuhankan akal. Aku merasa solatku masih sekedar kewajiban, bukan menjadi kebutuhan. Seandainya solat itu tak wajib, aku tak menjamin terus menjaga keutuhan solat. Aku ingin menjadikan solat sebagai kebutuhan, bukan kewajiban.”

Haji Kamil terpaku. Bagaimana mungkin anaknya berpikir sejauh itu. Dirinya saja, yang sudah sampai ke Baitullah tak bisa menjangkau terlampau jauh.

“Sudah larut malam. Tidurlah. Nanti kau terlambat untuk sahur,” tukas Haji Kamil.

Ridho menghilang di balik pintu dengan kepala menunduk.

Senyap ruangan membuat jam dinding yang tepat di atas Haji Kamil seperti lebih nyaring berdetak. Televisi bercakap-cakap tanpa suara. Haji Kamil menatap kosong. Air jatuh dari sorot matanya yang mulai memudar, tak disadari.

Betapa perkataan Ridho sebelum menyelot pintu kamar menyayat hatinya.

“Aku ingin solat seperti solatnya Abah.” (*)

 

 

Jember, 27 Mei 2013

Fandrik Ahmad, nama pena dari Fandrik HS Putra, lahir di Jember, 29 Juli 1990. Alumni Ponpes Annuqayah, Madura-Guluk. Kini mengajar ilmu keagamaan di Ponpes Fathul Mu’ien, Jember. Karya-karyanya pernah dimuat di pelbaga surat kabar, antara lain: Majalah Kuntum, Majalah Sabili, Radar Madura, Radar Jember, Radar Surabaya, Minggu Pagi, Bangka Pos, Annida, Sumut Post, Sumatera Ekpress, Jurnal Medan, Suara Pembaruan, Lampung Post, Merapi, Tribun Jabar, Suara Merdeka, Tabloid Nova, Jurnal Nasional dan Jawa Pos. Antologi Cerpen Panggil Aku Haura (CMA: 2012).

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: