Cerpen Sunging Raga (Jawa Pos, 7 April 2013)

Hipotenusa ilustrasi Budiono

OXYMORA, pemuda setengah manusia setengah iblis itu, sedang duduk termenung di warung kopi, ia masih ragu, apakah harus mengikuti nalurinya sebagai iblis, atau tetap menjadi manusia sebagaimana nasihat Isara, perempuan yang telah membuatnya jatuh cinta.

“Berhentilah menjadi iblis, itu bukan pilihan yang baik. Sudah terlalu banyak iblis di dunia ini.” Kata Isara.

Kata-kata semacam itu sebenarnya sudah sering didengar Oxymora dari ibunya, “Sudah terlalu banyak iblis. Bahkan banyak manusia yang lebih jahat dari iblis. Manusia yang rela mengorbankan orang lain demi mencapai tujuannya.”

Oxymora masih termenung. Hatinya kosong, seperti musim gugur yang sudah tua dan tak lagi menyisakan apa-apa. Pemuda itu mungkin menyesali takdirnya, mengapa ia harus lahir dari perkawinan seorang wanita manusia dan lelaki iblis. Kehidupan ibu dan ayahnya seperti dua garis tegak lurus, dan Oxymora adalah hipotenusa dari keduanya. Namun sejak kecil, Oxymora telah diajari untuk menjadi manusia, meski ia tahu tak akan mudah menghilangkan sifat iblis dalam dirinya.

“Kau tak boleh menjadi iblis seperti ayahmu, mengganggu manusia, membuat orang-orang celaka, menjadi penunggu sungai Serayu….”

“Tapi, Bu, apa orang-orang bisa menerimaku sebagai manusia?”

“Kalau kau bersikap baik, lama-kelamaan semua orang akan menerimamu dan tak mempermasalahkan darah iblis dalam tubuhmu.”

Begitulah Oxymora selalu belajar untuk menjadi manusia seutuhnya, sejak kecil ia bergaul dengan bocah-bocah yang sebaya; bermain kelereng, gobak sodor, sampai playstation, ia pun tumbuh menjadi seorang pemuda gagah. Meski di dahinya muncul sepasang tanduk kecil berwarna merah sebagai ciri khas iblis, Oxymora tetap berperilaku sama seperti pemuda lainnya, ia suka ikut duduk di pos ronda, bermain gitar sambil menggoda gadis desa yang pulang dari pengajian, atau main kartu sampai larut malam. Ternyata benar ucapan ibunya, orang-orang tak lagi memedulikan tanduk yang ada di dahinya. Oxymora terus berusaha mendapatkan simpati penduduk desa dengan rajin kerja bakti membersihkan jalan, membangun gapura, dan ikut menyumbang ketika ada acara adat.

Sang ibu tampak senang dengan pertumbuhan anaknya dan caranya bersosialisasi. Oxymora tidak tergambarkan sebagai pemuda aneh yang memiliki kekuatan super seperti Spiderman, ia tumbuh benar-benar seperti manusia biasa, seakan telah perlahan meninggalkan identitas keiblisannya. “Kalau semua iblis mau bersikap seperti anakku, pasti kejahatan akan hilang dari dunia ini.” Begitu pikir ibu Oxymora, ia mengira sumber perbuatan jahat hanya berasal dari iblis semata. Wanita itu pun merasa telah menebus kesalahannya di masa lalu, ketika dengan rela ia menyerahkan tubuhnya pada ayah Oxymora yang notabene adalah iblis paling senior di bantaran Serayu.

Tatkala itu, ibu Oxymora adalah seorang penari yang suka menari saweran, banyak mengisi di setiap hajatan desa. Namun suatu malam ia dikejar-kejar warga setelah ketahuan membunuh kiyai sepuh yang hendak menjadikannya istri ketujuh. Ia lari sampai ke tepi sungai Serayu, saat itulah iblis penunggu Serayu muncul dan menawarkan bantuan, “Kalau kau mau menikah denganku, akan kubuat orang-orang yang mengejarmu itu lupa segalanya.”

Dalam keadaan panik, ibu Oxymora langsung menyetujuinya, dan benarlah, setelah menuruti keinginan iblis di dalam sungai semalaman, keesokan paginya warga sudah melupakan kejadian itu.

Namun ketika kehamilan terjadi, wanita itu menyadari kesalahannya, karena itulah sekarang ia ingin anaknya tetap hidup sebagai manusia, demi menghapus masa lalunya.

Meski begitu, ada saja yang tidak suka pada cara hidup Oxymora, terutama sang ayah, ia yang pernah berjasa pada ibu Oxymora, tak terima dengan keadaan yang nyaris irasional ini.

“Padahal aku ingin menjadikannya sebagai penerus kekuasaanku.”

“Carilah penerus yang lain!”

Begitu ibu dan ayah Oxymora sering bertengkar.

Kekuasaan ayah Oxymora memang diakui di sepanjang sungai Serayu, tapi sebagaimana takdir, segala kekuasaan di dunia ini pasti memiliki akhir, dan biasanya menyedihkan….

Pada suatu musim gugur, ada iblis pendatang dari London yang bermigrasi ke Banyumas, iblis itu berniat menguasai Serayu sebagai lahan jajahan baru. Untuk memudahkan tujuannya, iblis London itu menghasut seorang dukun yang dikenal menyukai ilmu sihir untuk membunuh ayah Oxymora. Ia mengajari dukun itu ilmu modern yang tak dipunyai iblis-iblis lokal. Sang dukun yang awalnya hanya memiliki ilmu sebatas mencari barang hilang, dengan polesan iblis London, kini menjelma sebagai Dukun Voodoo.

“Kau tahu artinya Voodoo?” Tanya iblis London.

“Tidak tahu. Apa?” Sang dukun balik bertanya.

“Carilah di wikipedia. Aku tak ada waktu menjelaskannya. Sekarang lakukan tugasmu, kau harus membunuh iblis tua Serayu.”

Tragedi itu pun terjadi. Suatu malam, ayah Oxymora menemukan kekuatan jahat terpancar dari sebuah rumah, kekuatan yang tak pernah ia lihat selama berkuasa di sini. Segera ia mendekati kekuatan itu, yang ternyata berasal dari seorang dukun yang sedang merapal mantera.

“Aku menantangmu!” Kata sang dukun.

“Tanggung sendiri akibatnya!” Jawab iblis tua.

Sementara itu, iblis London sedang duduk santai di depan televisi, ia sepertinya yakin bahwa dukun didikannya akan menang dengan mudah.

Terjadilah perkelahian ghaib antara dukun dan ayah Oxymora. Pertarungan itu ternyata memang berlangsung singkat dengan kekalahan telak bagi sang iblis tua. Dukun Voodoo berhasil menjebaknya ke dalam sangkar imajiner, kemudian membakarnya sampai hangus dengan mantra penghabisan.

Oxymora yang saat itu sedang bermain bulu tangkis di pendopo kecamatan, tak merasakan firasat apa-apa, justru ibu Oxymora yang tiba-tiba tangannya terkena ujung pisau.

“Aduh! Biasanya ini pertanda buruk.”

Ternyata benar. Tak lama kemudian datang seorang iblis muda berpakaian hitam, sambil menahan tangis, mengabarkan kematian ayah Oxymora. Wanita itu terkejut, ia bingung apakah harus bahagia atau menangis, sampai akhirnya ia pun menangis bahagia.

“Di mana Oxymora?” Tanya iblis muda itu.

“Sedang main bulutangkis.”

“Kita harus balas dendam, nyawa dibayar nyawa, iblis dibayar iblis.”

Saat itulah, Oxymora yang sedang istirahat ditemani Isara—gadis cantik anak penjual pecel, didatangi tamu tak diundang.

“Oxymora. Ayahmu mati, kau malah asyik pacaran.”

“Mati?”

“Ya. Dukun Voodoo baru saja membunuhnya. Dia punya kekuatan membunuh bangsa kita. Dia mendapat bantuan dari iblis London.”

“Lalu apa hubungannya denganku?”

“Hei. Iblis macam apa kau ini. Tentu saja kau harus membalas dendam. Jika kau tidak membunuhnya, maka dukun itu pun akan membunuhmu karena tahu kau adalah keturunan iblis. Biar bagaimana pun, iblis itu adalah ayahmu, kau harus jadi anak yang berbakti.”

Panggilan semacam itu datang silih berganti. Setiap hari, dari pagi sampai malam, kawan-kawannya dari dunia iblis berkunjung ke kamar Oxymora hanya untuk menghasutnya. Tergambarlah keadaan sang ayah yang mengenaskan, bagaimana ayahnya terbakar oleh sihir si dukun Voodo. Semuanya diilustrasikan dengan baik oleh iblis-iblis itu.

“Kukira iblis tidak pernah mati.” Gumam Oxymora. Ia merinding melihat jasad ayahnya ditenggelamkan di dalam sungai Serayu.

“Kau anak durhaka, Oxymora, kau lebih iblis dari kita-kita ini.” Begitu ejekan yang sering didengarnya dari sesama iblis. Oxymora lantas bertanya pada ibunya.

“Benarkah aku anak durhaka? Benarkah aku lebih jahat daripada iblis lainnya?”

“Jangan dengarkan, Nak. Iblis memang selalu begitu, mereka suka menghasut dan melancarkan tipu daya.”

“Jadi merekalah yang jahat?”

Ibu Oxymora bingung. Ia juga ragu siapa yang jahat sebenarnya.

“Apa aku harus membalas dendam atas kematian ayah? Apa aku harus kembali menjadi iblis dan kubunuh dukun Voodo serta iblis London itu?”

Ibunya semakin bingung, sepertinya ia sedang menyesal, kalau saja iblis London itu datang lebih awal, mungkin ibu Oxymora lebih memilih iblis London yang tentu lebih modis daripada sang iblis tua yang hanya bisa bergentayangan di sungai.

“Ah… Oxymora, tanyakan pada hati kecilmu. Apa selama ini kau mencintai ayahmu?”

Pemuda itu pun menunduk, airmatanya mulai menetes.

***

Pukul lima sore, langit menampilkan hipotenusa senja, cakrawala memerah, udara berembus ringan, daun-daun yang berguguran selalu menjadi figuran tetap dalam deskripsi cerita pendek.

Di warung kopi itu, Oxymora masih mengenang sang ayah, membayangkan wajah dukun Voodoo, sementara Isara masih setia di sampingnya. Sesekali Oxymora memandang kecantikan wajah Isara yang tak tertandingi oleh iblis perempuan mana pun. Kemudian pemuda itu berdiri dari kursinya, sepasang tangannya mengepal. Ia telah menentukan pilihan terbaik.

“Kau benar, Isara, sudah terlalu banyak iblis di dunia ini.” Katanya.

Saat itu, Isara belum juga mengerti, apa tujuan Oxymora mengulang kalimat itu.  (*)

 

 

Advertisements