Klub Solidaritas Suami Hilang


Cerpen Intan Paramaditha (Kompas, 31Maret 2013)

Klub Solidaritas Suami Hilang ilustrasi Bambang Heras

BERBAJU hitam, semua orang termasuk dirimu duduk membentuk lingkaran. Kau mulai menghafal beberapa nama: Carmencita dari Meksiko, Soonyi dari Korea Selatan, dan Andy yang lahir di Boston.

Dona Manuela, perempuan Argentina tinggi gempal berumur enam puluh lima, adalah pendiri perkumpulan. Ia terus mendengarkan sambil mengelap bingkai foto, kotak musik, atau koleksi miniatur rumahnya. Kecuali dirimu, seluruh anggota bermukim di Los Angeles. Namun, di ruang tamu Dona Manuela, perbatasan mesti dilewati demi perjalanan ke belakang. Menelusuri ingatan dari Tijuana hingga Laut Cina Timur, Klub Solidaritas Suami Hilang adalah sebuah klub internasional.

Kau tak mengira kota dengan sistem transportasi umum yang buruk bisa mengantarmu ke sana. Namun, bukan pada Los Angeles kau berutang, melainkan sebuah toilet di kantor polisi.

Seorang polisi perempuan mencatat perihal kehilangan suamimu. Alisnya berkerut saat kau sebutkan beberapa ciri (62 tahun, kulit putih, gemuk, menderita asma). Matanya memindai halaman depan paspormu, seperti berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa usiamu belum genap tiga puluh, dan sesekali ia mencuri pandang ke arah syalmu yang cantik. Selayaknya pelayan masyarakat yang terpuji, ia menyelesaikan laporannya dan berkata hangat, “Kami akan berusaha sebaik mungkin.”

Di toilet kau berpapasan dengan perempuan lain. Rambutnya kelabu, berpotongan bob. Usianya mungkin sekitar delapan puluh. Ia tersenyum ramah, lalu menegurmu dalam bahasa yang sedikit kaku, “Dari Indonesia, ya?”

Setelah meninggalkan Malang di tahun 60-an, ia tak pernah pulang lagi. Bertahun-tahun ia tinggal di Den Haag sebelum pindah ke California.

Dengan jujur kau mengaku baru saja membuat laporan kehilangan suami. Di New York, kau dan suamimu merencanakan bulan madu. Kau terbang lebih dulu ke Los Angeles karena ia harus menghadiri konferensi di Eropa, tetapi setelah lewat tiga hari ia belum menyusulmu. Seluruh alat komunikasi tak berfungsi.

Ibu itu mengangguk, tampak bersiaga ketimbang bersimpati. Ia merogoh tas tangannya dan menyodorkan selembar kartu nama. Sementara ia mencuci tangan, kau mengamati nama aneh yang tertera di sana.

“Dulu saya aktif di perkumpulan. Siapa tahu berguna buat Anda. Bilang saja dengar dari saya, Yunita.”

“Bu Yunita datang kemari… juga karena kehilangan suami?”

“Oh, bukan! Saya kehilangan dompet,” ia menutup keran air. “Sudah empat puluh tahun lebih suami saya mati.”

Ibu Yunita membolak-balikkan tangan keriputnya di bawah mesin pengering. Ucapan maafmu tertelan deru mesin. Ia sempat menengok cermin untuk merapikan rambut pendeknya.

“Yuk, saya duluan. Mudah-mudahan suami Anda ketemu.”

***

Klub Solidaritas Suami Hilang tak menemukan yang hilang, tetapi menghidupi kehilangan. Meski demikian, Doña Manuela selalu siap membagi kontaknya—polisi, detektif swasta, jaringan aktivis—serta membahas kiat-kiat berhadapan dengan aparat negara. Jangan sampai kita jadi korban dua kali, begitu prinsipnya. Ia aktif di beberapa kelompok yang menuntut keadilan untuk korban Perang Kotor di Argentina. Mertuanya adalah anggota Asosiasi Ibu Plaza de Mayo.

“Ada beberapa foto yang belum kuperlihatkan.”

Itu adalah suara serak-serak basah Carmencita. Ia membuka laptop Dell mungil berbungkus ungu, siap memamerkan sejumlah foto.

Carmencita dan suaminya pergi ke Paris tiga tahun lalu, tepatnya di musim semi 2005, untuk membuat foto-foto pra-pernikahan. Mereka menautkan gembok bertuliskan “Carmencita & Pablo” pada jembatan cinta legendaris Pont des Arts. Seorang kawan fotografer mengabadikan Carmencita, dalam pelukan Pablo, dengan gaun putih yang pendek di depan tetapi menjuntai di belakang. Ia mirip bintang telenovela.

Pablo pamit ke supermarket Walmart di suatu sore tanpa pernah kembali. Sampai kini pakaiannya masih tersimpan rapi di lemari.

“Gembok itu akan di sana selamanya, seperti cinta kami.”

Di sebelah Carmencita, Andy Horowitz memutar bola matanya ke atas.

“Aih, romantis! Semoga tak ada orang gila mengamuk dan membakar jembatan, ya.”

“Jahat sekali!”

“Menurutku, menurutku lho,” Andy berucap manis, “cuma orang bodoh yang menggantung gembok cinta.”

“Aku kenal pasangan pengarang dari Guadalajara yang melakukannya!” tukas Carmencita.

Andy tak percaya banyak hal, termasuk pernikahan, setidaknya sampai ia mengalami kecelakaan parah dan harus dioperasi. Karena Greg, pasangannya selama satu dekade, tidak dianggap keluarga sungguhan, Ibu Andy terbang dari Boston untuk menandatangani surat persetujuan. Setelah sembuh, Andy banyak berpikir tentang hukum. Jika ia koma berbulan-bulan, ia memilih disuntik mati. Ia ingin Greglah yang membuat keputusan medis terakhir untuknya. Tapi sebelum eutanasia memisahkan keduanya, Greg menghilang. Terakhir kali ia menelepon Andy saat hendak menyeberangi Selat Hekate yang rawan badai dan cuaca buruk.

Di Klub Solidaritas Suami Hilang, kita mengingat yang tak hadir lewat cerita berulang. Kita bisa berangkat dari titik mana pun, baik secara linear— dari awal pertemuan sampai hilangnya suami—maupun dengan alur mundur. Sebagian memilih teknik in medias res.

Perenungan tentang masa tua memicu keputusan Andy menikah di Toronto (di tahun 2006 ini belum dimungkinkan di California). Cerita Andy kemudian bergerak ke belakang, ke galeri seni tempat ia dan Greg bertemu. Ia seorang editor film, bekerja di ruang tertutup, sedangkan Greg seorang fotografer pencinta alam.

Ketika tiba kesempatanmu bicara, kau merunut kronologi kehilangan seperti di kantor polisi. Carmencita, terlihat lebih sendu darimu, bertanya, “Apa yang paling kau ingat tentang suamimu?”

Kau menatap sekeliling sambil berusaha mengingat-ingat. Sedikit gugup, kau balas bertanya, “Bisa kuceritakan lain kali?”

Rekan-rekanmu mengangguk meski tampak kebingungan. Lalu terdengar suara Soonyi, pelan dan ringkih, persis gerak-gerik tubuhnya. Wajahnya manis, meski tentu ia lebih tua dari Doña Manuela.

“Tidak apa-apa. Aku juga tak punya banyak kenangan tentang suamiku.”

Ada yang tercecer setelah Perang Korea usai dan Amerika menarik mundur tentaranya. Hal besar seperti perang kerap meninggalkan serpihan kecil, tak berguna dan jorok, seperti sifilis dan bayi.

Di umur 17, Soonyi melahirkan anak berkulit hitam dari seorang tentara yang ia sebut suami meski upacara pernikahan tak pernah ada.

“Laki-laki itu tak pernah menghubungiku. Bahkan alamatnya palsu,” kata Soonyi, masih bersuara pelan. “Tapi tak ada ingatan yang lebih nyata dari Jihoon, putraku. Karena dia aku menjadi sundal. Karena dia tidak berbapak dan kulitnya hitam.”

Para peserta memilih diam. Entah bagaimana kau tahu inilah yang selalu terjadi. Sebagian cerita selalu menikam, tak pernah tumpul meski diulang-ulang.

Suara Doña Manuela memecah hening,

“Selanjutnya?”

***

Kau mulai paham bagaimana para anggota mengakrabi kehilangan. Ingatan menjadi kuil yang mesti dilap hingga berkilat, seperti tiap sudut bingkai foto yang dibersihkan Doña Manuela dengan saksama. Beberapa perempuan sibuk merajut. Carmencita memilih mengecat kuku. Soonyi selalu memasak bibimbap (yang menurutmu mirip nasi campur gado-gado) untuk dimakan bersama. Hanya Andy sang editor yang merasa tak butuh prakarya, sebab setiap hari ia sudah melakukannya: menggunting, memindahkan, dan merekat cerita.

Di hari-hari tertentu rajutan dibongkar paksa dan cat kuku luber di kulit.

Di hari macam itulah kau datang lebih awal dan berpapasan dengan Soonyi di pintu. Tampak kurang sehat, ia bergegas pulang. Tak lama kemudian kau temukan sesuatu di lantai kamar mandi. Seseorang telah meludah seenaknya.

“Kau melihatnya?” Doña Manuela menghampirimu. “Maaf. Itu pasti Soonyi.”

“Dia sakit?”

“Jantungnya lemah, ya. Tapi soal meludah, sudah lama dia berhenti,” kata Doña Manuela. “Dulu dia kecanduan. Dia melakukannya di tempat-tempat yang dijaga ketat, seperti kantor pemerintah dan perpustakaan kota.”

Kau tak tahu pasti apa rasanya punya anak haram berkulit hitam di Korea sesudah perang.

Soonyi bertekad kabur. Lewat sebuah perkawinan singkat, ia akhirnya menjejakkan kaki di Amerika pada tahun 1975. Sejak itulah ia kerap dilanda hasrat menggebu-gebu untuk meludahi fasilitas publik. Ia pernah ditangkap satpam, tapi kemudian dibebaskan karena dianggap sedang sakit. Lagi pula, wajahnya manis tanpa dosa.

Kau teringat mencicipi bibimbap. Setelah Soonyi meludah, mulutmu terasa jorok.

Saat membantu membersihkan kamar mandi, kau tak hanya mendengar lebih banyak tentang Soonyi, tetapi juga Doña Manuela, yang kehilangan suami semasa rezim militer di akhir 1970-an.

“Jelas dia sudah mati. Tapi dengan cara apa, aku tidak tahu,” ujarnya. “Mungkin tak jauh beda dengan suami Yunita.”

Deru mesin pengering tangan di toilet kantor polisi kembali terngiang.

Yunita, kata Doña Manuela, tak pernah tahu apakah suaminya ditembak atau disembelih.

“Apakah suaminya mati di Jawa atau Bali, dia juga tak tahu pasti.”

Tak ada mesin, dan tenggorokanmu kering.

Di tempatku orang dihilangkan dengan beragam cara, lanjutnya. Ia bisa ditelanjangi dan dilempar ke sungai yang dingin, atau dipaksa terjun dari helikopter. Setiap hari kami memilih khayalan sendiri.

Di kamar mandi itu kau mengharapkan bising. Tapi kau hanya menemukan gelondongan tisu, bersih dan bisu, tak menyelamatkanmu.

“Anda pasti sangat mencintai suami Anda, Doña.”

“Apa itu penting?”

Ia bertanya apa kau mencintai suamimu. Kau tak menjawab.

“Yang jelas negara telah menzalimiku,” ia seperti bersabda. Kini suaranya lambat dan ganjil, “Dalam kitab disebutkan: barang siapa menumpahkan darah manusia, oleh manusia darahnya akan tertumpah.”

Doña Manuela, kokoh dan teduh, terlihat seperti gunung api yang memampatkan murka lewat pekerjaan-pekerjaan kecil, telaten, sepele. Perihal kapan ia akan meletus, tak berani kau bayangkan.

Kau sudah tak datang lagi ke klub ketika Soonyi pergi. Kau terbang ke Los Angeles hanya untuk menghadiri pemakamannya. Untuk terakhir kali kau lihat, di gereja, jenazahnya cantik bagai peri dalam peti. Carmencita periasnya.

Kau ingat pernah merasa jijik dengan bibimbap, tetapi suatu hari di klub mengubah semuanya. Sejak itu, bibimbap yang dibawa Soonyi selalu habis. Bahkan ketika kesehatan Soonyi memburuk, Doña Manuela datang ke rumahnya hanya untuk membantunya memasak.

Hari itu Carmencita dan Andy bertengkar. “Suami Hilang” perlu definisi ulang, kata Andy, sebab itu tak berlaku buat Carmencita. Ternyata suaminya tidak hilang, tapi kabur.

“Oh bangunlah, Carmencita. Kita semua tahu apa yang terjadi. Suamimu masih di LA, tinggal bersama pacar barunya!”

Mendengar ucapan sinis Andy, Carmencita menangis histeris. Doña Manuela menatap Andy tajam.

“Maaf,” Andy terlihat sedikit menyesal. “Kupikir kita semua perlu ditampar oleh kenyataan.”

“Orang kemari bukan untuk ditampar,” tegas Doña Manuela.

Di saat itulah Soonyi, yang sebelumnya bungkam, membuka mulutnya.

“Andy benar. Kita butuh tamparan,” katanya. “Suamiku… aku sudah bertemu dengannya, tahun 1980.”

Semua mata tertuju pada perempuan mungil itu. Doña Manuela mengatupkan rahangnya kuat-kuat. Bahunya yang lebar turun naik. Fakta baru yang tiba-tiba muncul—setahun setelah Soonyi bergabung di klub—membuatnya seperti binatang yang dikhianati.

“Sungguh menarik, Soonyi,” suara Doña Manuela sedingin es. “Setelah sekian lama, kami baru tahu bahwa suamimu tidak hilang.”

Soonyi tertunduk lama. Kemudian kau dengar suaranya begitu tenang,

“Dia tidak hilang. Aku menghilangkannya.”

Hari itu kita semua diingatkan: seorang pencerita adalah juga seorang penghapus.

Di tahun 1953, ayah bayi Soonyi kembali dari Korea dan menikahi perempuan Amerika. Ketika Soonyi akhirnya menemukan lelaki itu, ia telah ditinggal mati istrinya. Ia bersumpah tak tahu kalau punya anak di Korea, lalu mengajak Soonyi menikah dan melupakan penderitaan yang sudah lewat.

Dua hari setelah pernikahan mereka, Soonyi memasukkan sebuah koper ke dalam bagasi mobilnya. Ia menyetir jauh sekali.

“Aku merindukannya. Kadang, setelah puluhan tahun, aku merasa ia masih berbaring di sampingku.”

Soonyi menyeka matanya yang basah.

“Barangkali yang kusimpan di dalam koper itu,” ia berhenti sesaat. “Bukan dia.”

Setelah itu: sunyi.

Dona Manuela beranjak dan mengedarkan bibimbap.

Berbaju hitam, kau dan kawan-kawanmu pergi ke restoran Korea seusai pemakaman. Suamimu belum ditemukan. Barangkali kau tidak mencintainya, tapi itu tak penting. Hilang dan kehilangan adalah lekuk yang lain, pelik sekaligus licin. Kadang keduanya terhubungkan dengan cara yang ajaib, sebagaimana yang kau pelajari dari Doña Manuela, Soonyi, dan Klub Solidaritas Suami Hilang. (*)

 

 

7 Responses

  1. Bingung, membaca cerita ini.

    Like

    • Sama

      Like

  2. Unik!

    Like

  3. Cerpen kompas lebih banyak menguras otak.

    Like

  4. Cerpennya mba Intan selalu menarik dan punya latar yang berbeda

    Like

  5. dunia sepertinya ada didalam cerpen ini

    Like

  6. Gak paham

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: