Cerpen Noviana Kusumawardhani (Kompas, 24 Maret 2013)

Kota Tanpa Kata dan Airmata ilustrasi Polenk Rediasa

AWAN bergerak dengan pola yang tak beraturan. Kota ini seperti tidak asing. Warna-warna perak yang terpantul di ujung-ujung genting seperti menyisakan ingatan dari sebuah masa.

Warna perak dengan ukiran pujian para malaikat untuk yang Maha Indah secara acak berganti-ganti dengan kepul asal kendaraan deru pikuk berteriak tentang banyak hati yang sepi. Aneh. Seperti amat sangat mengenal kesunyian yang berbicara atas nama sepi dan terus berbaur bersama udara, seperti senja yang begitu akrab melahirkan ketakutan akan sunyi, dan dari jendela kereta yang baru saja berhenti tepat menjelang matahari lenyap di batas hari, kubaca lagi alasan mengapa aku begitu saja mau datang ke kota ini.

“Babe, kalau kamu di sini, mungkin hanya kamu yang tahu betapa kesunyian ini sangat seperti detak jantung para penunggu ajal ketika mereka sekarat tetapi tidak tahu kapan sang pembebas itu datang untuk memisahkan rohku dari jiwa yang kerontang. Datanglah ya.”

Teks dari lelaki yang pernah menjadi udara dalam ruang-ruang hatiku masih kusimpan dan kuyakini bahwa setan penggoda Hawa juga ada di dalamnya untuk menyeretku mendatanginya. Aku pun tidak tahu apakah ini panggilan dari sebuah kerinduan yang pekat atau hanya ingin sekadar luapan keinginan untuk sekadar bercakap pada kenangan yang kadang tertinggal di antara gerak-gerak awan di suatu pagi. Sihirnya membuatku memenuhi panggilannya untuk sekadar bercakap beberapa patah rasa, dan pastinya adalah penjajah hati bernama rindu.

Pada senja yang gelisah, kujejakkan kaki di stasiun kotanya tempat dia dulu selalu menjemputku. Ah, peron yang tetap sama. Aku selalu suka kereta api karena aku mencintai setiap stasiun yang aku lewati. Di setiap stasiun, selalu kuamati gurat-gurat para penunggu peronnya, bangku-bangku kusam, sisa asap sigaret, penjual asongan yang renta, lalu-lalang orang dengan wajah yang perih, kecewa berkarat dengan sakit pecah di dada, petugas tiket yang meronta atas kemonotonan hidupnya. Entah, bagiku stasiun seperti sebuah fase terakhir dari setiap penantian dan awal dari sebuah harapan.

Ah, seperti harapanku dia akan menjemputku dan membawakan lagi sebuah romantisme usang berupa usapan tangannya yang kurindukan, bau tubuhnya menyentuh pipiku. Tapi harapan itu memang seperti istana pasir yang begitu rapuh ketika disentuh angin. Sampai senja yang menyisakan lolongan sunyi aku masih berdiri di sini. Dalam suatu ruang tunggu yang entah tiba-tiba menyeruak pekat. Dia belum datang, meskipun jarum berbunyi tik-tok ke sana kemari seperti celoteh burung kenari yang tak pernah berhenti. Stasiun dengan sunyi yang sekarat. Ketika sebuah batas tentang kesabaran hampir saja meloncat dari ruang-ruang dadaku, seorang perempuan renta seumuran nenekku menarik perhatianku. Baju gamis dengan gemerlap keemasan bersulam bunga mawar seperti sangat mengerti tentang arti kata sepi. Dia duduk sendirian dengan guratan sisa-sisa wajah mudanya yang pastinya dulu selalu mampu membuat jakun para lelaki begitu sulit untuk bergerak itu tampak memeluk sunyi. Sebuah ruang kosong yang getas juga yang begitu akrab itu tiba-tiba juga begitu ramah menyapaku. Aku pun menghampirinya. Seulas senyum indah di antara matanya yang penuh luka di dalam hatinya berkejap hidup. Tanda yang sangat.

“Kemarilah, Nak. Siapa yang kamu tunggu? Kenangankah?”

Dada ini seperti dirobek oleh pisau jagal penghukum mati. Semua cerita tentang robekan-robekan mimpi yang begitu rapat aku sembunyikan bahkan nafasku sendiri pun tak mampu menemukannya. Telanjang dalam sekejap. Sebuah desah mengalir untuk berlomba bersama air di sudut mataku seperti sebuah cap jempol kepasrahan para petani buta huruf yang tanahnya dibeli dengan harga semurah air mata hanya untuk sekadar membeli segala kemewahan ala manusia kota. Aku pun mengangguk dalam diam.

“Saya kemari dan setiap hari duduk di sini tidak menunggu siapa pun atau mau pergi ke suatu tempat. Tempat ini membuat saya merasa masih manusia. Saya ingin bercakap dengan manusia. Di sinilah saya masih mendengar suara manusia. Paling tidak suara pengumuman dari petugas ketika setiap kereta mau datang dan pergi. Ayolah, Nak, kita bercakap tentang apa saja, dengan suara dan dengan mata.”

Seperti membaca pikiranku yang sibuk dengan tanda tanya, nenek itu seperti haus akan kata-kata, bercakap seperti air bah. Seperti ribuan tahun tidak ada satu getar pun di rongga suaranya, dimuntahkannya semua kata-kata yang pastinya sudah begitu lama mengendap dalam pita suaranya yang sangat parau itu.

“Kapan kamu terakhir ke sini, Nak?”

“Lima belas tahun yang lalu, saat putik-putik kamboja di kampungku mulai berbunga, dan rembulan menjadi dua kali lebih besar dari biasanya.”

Sebuah tawa yang sengau dari suaranya yang parau membuatku sesaat tersedak. Satu getir yang pasti ada di antara gelaknya.

“Hahahaha…saat itu saya pun masih bercakap dan menyapa satu-satunya anak lelakiku dan suamiku juga masih setiap hari menyapaku dengan suaranya. Tapi mata dan suara sekarang lenyap dari kota ini. Bahkan teks pengganti suara itu pun sudah merenggut orang-orang yang aku cintai. Aku ada di depan mereka, tetapi aku tidak ada. Aku akan ada justru ketika aku tidak ada di depan mereka. Teks mereka akan mencariku. Pulanglah. Kalau yang kamu cari adalah hati yang mencintamu dan itu keluar dari sebuah suara dan mata, lupakanlah. Sudah lenyap di kota ini mata dan suara yang akan menyapamu hanya untuk sekadar mengucap salam “selamat pagi” atau “apa kabar”.

Ah, aku kasihan dengannya. Dia pasti sangat merindukan orang-orang itu. Bahkan, sekejap aku mulai meragukan kewarasan otaknya. Tetapi sebuah kenangan atas sebuah ingatan memperjelas jejak di hatiku, tetapi mungkin aku juga ingin tahu seperti apa kota tempat lelaki itu tinggal. Perempuan itu seperti tak henti mencoba menahanku untuk keluar dari stasiun ini, tetapi entah, tiba-tiba aku seperti harus membela diri tentang alasanku ke kota ini. Kota yang sungguh menyihir dengan kilaunya.

“Kalau kamu keluar dari stasiun ini, kamu akan menyesal, karena kamu akan mendengar detak jantung yang tersunyi dan lolongan kesedihan tanpa suara berdenyut di setiap nadi orang-orang yang kamu temui. Hidup dengan kelelahan yang sakit. Hidup tanpa suara apa-apa. Suara dan mata telah lama hilang dari kerongkongan dan hati. Sudahlah, Nak, jangan buang setiap detik kesempatan untuk bersuara dengan manusia hanya untuk pergi ke luar stasiun ini dan menyapa senyap di luar sana.”

Saat lonceng stasiun berdentang, aku mulai yakin dia hanya perempuan tua yang kesepian dan pikun. Aku pun pamit karena lelaki itu menyapaku di telepon genggamku, memintaku datang di sebuah restoran di sebuah mal. Masih meeting katanya. Darahku tak mampu membuatku berkompromi lagi dengan detakku.

“Aku menunggumu di sini, Nak. Aku yakin kamu akan memilih kembali menemuiku daripada harus berhadapan dengan hati-hati yang sunyi dan mata-mata yang penat di luar sana,” suara itu hanya sayup karena langkahku sudah jauh darinya.

***

Kota yang megah. Warna senja yang keemasan masih mampu memberi gambaran orang-orang yang berada di dalam kota ini. Halte-halte menjadi penuh. Klakson mobil dan deru motor bertalu-talu. Entah karena harapan yang menempel di awan yang makin membesar atau keriangan masa kanak-kanakku timbul lagi, aku begitu gembira sepanjang jalan menuju mal tempat hati kami akan merapat. Bis kota yang lumayan teratur mendesakku menemuinya. Setelah beberapa saat aku baru sadar, tidak ada suara di dalam bis, semua menunduk dan menggerak-gerakkan jari-jemarinya di sebuah serupa telepon genggam bermain bersama burung yang marah.

Semua mengetik, tersenyum sendiri. Sebagian orang menyumbat kupingnya dengan earphone dan mengangguk-angguk sendiri mengikuti dentam musiknya. Aku mencoba tersenyum ke beberapa tapi dengan pandangan aneh, mereka membuatku merasa yang kulakukan itu salah. Ternyata, pemandangan ini pun kutemui di mal tempat kami bertemu. Dari pintu masuk hingga lokasi kami berjanji pemandangan yang sama. Orang menunduk menggerakkan jari jemari di telepon genggam mereka, orang-orang dengan punggung bungkuk dan orang-orang dengan kuping tersumpal dan mengangguk-angguk. Benar-benar tanpa suara manusia. Hanya musik-musik penghiburan yang memberi suara tentang grup band terkini. Entah meski baru sesaat aku mulai merindukan suara manusia yang bercakap. Aku mulai cemas memikirkan kata-kata perempuan itu, bagaimana kalau itu semua benar?

Senyum lelaki itu segera membuyarkan semut-semut ketakutanku. Mata itu tetap seperti dulu. Mata yang gelisah. Mata yang aku ingin kecup dan kubiarkan terpejam bersama damai yang dihembuskan sebuah pagi. Kami duduk di sebuah restoran dengan mata saling diam tanpa ada yang berani memulai kata. Aku mulai memintal harapan. Kusediakan hati untuk kabar tentang semua petualangannya, tentang semua negeri-negeri yang disinggahinya. Aku tunggu cerita tentang mekarnya bunga daffodil di negeri Balkan. Tapi begitulah, setiap harapan adalah ibu yang melahirkan kekecewaan. Tak lama dia menunduk, digerak-gerakkan jari jemarinya di atas telepon genggam. Persis orang-orang yang aku temui di sepanjang jalan dari stasiun. Aku mensunyi. Tanpa sadar aku tengok restoran itu, semua orang melakukan hal yang sama, termasuk para pelayan. Di sudut ruangan, sebuah keluarga besar yang pastinya memesan tempat itu untuk sebuah kebersamaan bernama hati juga melakukan hal yang sama: kepala menunduk, jari-jari bergerak. Istri entah berbicara dengan siapa dengan teksnya, suami mungkin mencumbu kekasih gelapnya di depan istrinya juga lewat teks. Anak-anaknya yang lebih besar sibuk membolak-balik komputer datar dengan jari-jarinya. Tidak ada satu pun suara di antara mereka juga. Bahkan, anak terkecilnya mengompol dan meronta termasuk dalam paket gaji besar para baby sitter yang jelas terlihat bahwa separuh dari konsetrasi para perempuan lugu dengan baju seragam bak rumah sakit itu juga ada di jari-jari mereka yang bergerak-gerak dengan keyakinan itu adalah identitas modern. Seperti air bah dengan berton-ton liter kesunyian menyengapku. Meskipun hanya dalam hitungan menit bersama lelaki itu, suara tiba-tiba menjadi senyap dan lenyap. Tidak ada lagi pancaran mata penuh rasa seperti dalam teks-teksnya yang menemani malam-malam pekat di antara geliat yang meruah di antara rinduku. Padahal dulu kami pernah menjelajahi rerumputan itu pada suatu malam yang sepi di mana suara malam sesekali berlalu lalang, lalu peluh yang masih mengalir harus sejenak berhenti, tetapi hati kami seperti dua kanak-kanak yang riuh berebut gulali yang kuyakini mewakili suara yang berdetak riuh dengan gembira. Detak jantung kami pun bergoresan mimpi. Sekarang detak itu berhenti. Diam. Mimpi pun pecah.

Ketika harapan mati, hati seperti porselin pecah tanpa suara. Retak dan melolong. Segera kutinggalkan lelaki dan mimpiku itu dengan airmata yang kupunguti satu persatu agar tidak berceceran di udara. Di mana rindu menjadi komoditas kata untuk dikirimkan lewat jajaran bunga di dalam teks? Aku baru-baru benar melihat bahwa hampir seluruh mal, dan seluruh kota ini sudah dikuasai oleh teks. Perempuan tua itu benar, orang-orang sudah tidak bisa lagi mengeluarkan suara. Pita suara mereka melekat menjadi satu karena lama tidak digunakan. Suara telah tergantikan teks. Ada berjuta-juta sistem messengger yang berlomba menawarkan kehebatannya masing-masing. Kota yang sudah dirajai teks. Bahkan lelaki itu pun mencariku dengan sebuah teks. Aku sekarang mengerti mengapa perempuan itu begitu parau suaranya karena pastinya dia selalu berusaha berperang melawan teks dengan suara. Sungguh suatu kesia-siaan. Aku berlari sekencang-kencangnya, dengan sebuah kerinduan maha dahsyat akan suara perempuan tua itu. Suara paraunya mendadak menjadi sangat merdu. Kota ini begitu sunyi. Banyak hati kering. Rapuh, tanpa suara tanpa tatapan mata. Tanpa air mata. Karena hanya tatapan mata yang mampu melahirkan air mata. Bumi yang paling subur adalah bumi yang menyimpan banyak air dan dikeluarkan menjadi mata air. Jiwa yang kerontang adalah jiwa yang tak mampu mengeluarkan air mata. Semua hal di kota ini harus mempunyai fungsi. Semua yang fungsional selalu diperintah otak, tanpa otak, hati hanya sebuah kesiaan-siaan. Mungkin begitulah syarat untuk menjadi penduduk kota ini. Perempuan tua itu masih di sana bercakap gembira dengan seorang penunggu kereta di bangku peron itu. Sesekali aku lihat matanya mengeluarkan suara melebihi suaranya yang tersengal parau. Mata yang bahagia karena menemukan suara untuk berbagi semua hati yang ada di mata.

“Ah, kesinilah…bergabung bersama kami. Kita bisa saling bicara tentang bunga rumput yang selalu kuat menyimpan kemarau, atau sekedar bicara tentang apa warna mimpimu nanti malam. Bicara apa saja tidak jadi soal, asal dengan suara dan mata.”

Demikianlah sampai ufuk menjelang kami saling bercerita apa saja, tentang mimpi-mimpi yang terjaga sebelum waktunya, tentang matahari yang mungkin berwarna ungu. Bicara apa saja. Berhari-hari kami masih saling bicara. Kami pun saling berjanji untuk selalu bertemu di waktu-waktu tertentu hanya untuk saling bicara tentang mata tentang suara yang kini semakin lancar mengalir dari hati. Bahkan sampai hari kematian perempuan tua itu, kami masih saling bicara banyak hal. Tentu saja dengan suara dan dengan mata. Karena tanpa tatapan mata, suara tidak akan bisa terdengar oleh hati dan tanpa suara maka kejernihan hati tidak bisa dilihat oleh jiwa. Suara hati adalah mata dari hidup ini. (*)

 

 

Ubud, 2012

Sebuah catatan tentang crepe peach dan secangkir chai tea.

Advertisements