Archive for March, 2013

Ayat Kedelapan
March 31, 2013


Cerpen Budi Hatees (Media Indonesia, 31 Maret 2013)

Ayat Kedelapan ilustrasi Pata Arendi

AKU tak akan menceritakan siapa dirinya karena aku tak mengenalnya. Hanya tahu wajahnya dari gambar yang diberikan Yusuf asistenku—juga santri di pondok pesantrenku.

Tak penting dari mana Yusuf mendapatkannya, yang penting cuma satu: orang itulah yang disuruh membunuhku. Siapa yang menyuruhnya? Yusuf tak tahu. (more…)

Advertisements

Nyonya Malisa
March 31, 2013


Cerpen Aruni Husna (Suara Merdeka, 31 Maret 2013)

Nyonya Malisa ilustrasi Putut Wahyu Widodo

IA bergerak dengan puncak luka. Nyonya Malisa, perempuan menuju senja itu. Tubuhnya hampir-hampir lunglai. Pada jok belakang mobil mewahnya, tubuh itu ia sandarkan. Sedikit nyaman. Tetapi, rasa nyaman itu tak bisa menahan sakit luar biasa. Air liur menetes terus dari mulutnya. Aneh, jika lidahnya dijulur-julurkan, Nyonya Malisa merasa sakit itu hilang.

(Apakah aku mesti menjulur-julurkan lidahku selamanya?) (more…)

Klub Solidaritas Suami Hilang
March 31, 2013


Cerpen Intan Paramaditha (Kompas, 31Maret 2013)

Klub Solidaritas Suami Hilang ilustrasi Bambang Heras

BERBAJU hitam, semua orang termasuk dirimu duduk membentuk lingkaran. Kau mulai menghafal beberapa nama: Carmencita dari Meksiko, Soonyi dari Korea Selatan, dan Andy yang lahir di Boston.

Dona Manuela, perempuan Argentina tinggi gempal berumur enam puluh lima, adalah pendiri perkumpulan. Ia terus mendengarkan sambil mengelap bingkai foto, kotak musik, atau koleksi miniatur rumahnya. Kecuali dirimu, seluruh anggota bermukim di Los Angeles. Namun, di ruang tamu Dona Manuela, perbatasan mesti dilewati demi perjalanan ke belakang. Menelusuri ingatan dari Tijuana hingga Laut Cina Timur, Klub Solidaritas Suami Hilang adalah sebuah klub internasional. (more…)

Syair Duka
March 24, 2013


Cerpen Denny Prabawa (Media Indonesia, 24 Maret 2013)

Syair Duka ilustrasi Pata Areadi

HAI… Di manakah orang sekampung kita? [1] Ayo, berdirilah, lalu kita menuangkan kesedihan kita! Bagai sebuah seruan. Orang-orang masuk ke dalam lingkaran pa’badong [2] di tengah lantang. Saling mengait jari kelingking, mengalirkan duka yang maha. Tubuh-tubuh berbalut kain hitam itu bergerak, ke kanan, ke kiri, ke depan, ke belakang sambil mengayunkan kedua tangan yang terkaitkan. Bergerimit suara merapal syair. Mengenang mendiang yang telah berpulang. Ma’badong [3]. (more…)

Asmodeus
March 24, 2013


Cerpen Bashirah Delmora Anjali (Suara Merdeka, 24 Maret 2013)

Asmodeus ilustrasi Suara Merdeka

AKU telah merencanakannya. Duduk di bangku kafe ini, memandang sekeliling dengan tak acuh. Pelayan kafe itu sesekali memperhatikanku. Rupanya dia mulai akrab dengan wajahku. Sudah beberapa kali aku datang ke kafe ini. Kafe Asmodeus yang tersudut di antara gedung-gedung pusat belanja kota ini. (more…)

Kota Tanpa Kata dan Airmata
March 24, 2013


Cerpen Noviana Kusumawardhani (Kompas, 24 Maret 2013)

Kota Tanpa Kata dan Airmata ilustrasi Polenk Rediasa

AWAN bergerak dengan pola yang tak beraturan. Kota ini seperti tidak asing. Warna-warna perak yang terpantul di ujung-ujung genting seperti menyisakan ingatan dari sebuah masa.

Warna perak dengan ukiran pujian para malaikat untuk yang Maha Indah secara acak berganti-ganti dengan kepul asal kendaraan deru pikuk berteriak tentang banyak hati yang sepi. Aneh. Seperti amat sangat mengenal kesunyian yang berbicara atas nama sepi dan terus berbaur bersama udara, seperti senja yang begitu akrab melahirkan ketakutan akan sunyi, dan dari jendela kereta yang baru saja berhenti tepat menjelang matahari lenyap di batas hari, kubaca lagi alasan mengapa aku begitu saja mau datang ke kota ini. (more…)

Air Akar
March 17, 2013


Cerpen Benny Arnas (Jawa Pos, 17 Maret 2013)

 

 

LANGIT menggelegar, terus menggelegar, seolah seorang raksasa tengah muntab karena sarapan tak kunjung tiba. Rupanya, raksasa itu sudah lapar benar, hingga tak cukup baginya hanya meraung. Ususnya sudah melilit, perutnya sakit tak kepalang. Ia akhirnya menangis, menangis sejadi-jadinya. Jarum-jarum bening bagai berebutan menciumi pucuk-pucuk karet, seolah tahu benar betapa pohon-pohon tua itu meranggas karena kemarau yang memamah beberapa purnama. Daun-daun kering yang menyelimuti hamparan tanah di bawah payungan kanopi karet, kini lindap, basah, lembab, lalu mempersilakan cacing, kalajengking, dan pacat menggeliat, mencari makan ke sana-ke mari. Tak lama, raksasa itu lelah juga. Wajah langit kembali merona biru laut. Di salah satu lembah, dekat Sungai Lubukumbuk, bianglala melengkungkan cahaya tujuh warna. Memang, sebagaimana di kampung lain, penduduk Kampung Nulang yang sebagian besar menyadap karet itu juga percaya bahwa beberapa bidadari kerap singgah di kampung mereka, di lembah yang sejuk oleh semak bambu, perdu, dan pohon-pohon besar tak bernama. Namun, mereka tak pernah tahu bahwa Tuhan telah menurunkan seorang bidadari di tengah-tengah mereka. (more…)