Cerpen Bre Redana (Media Indonesia, 24 Februari 2013)

Spekulasi tentang Perempuan yang Mati Bunuh Diri ilustrasi Pata Areadi

SEORANG perempuan mati di apartemen De Luca, dan dia meninggalkan surat—katanya, tepatnya warisan—untukku. Tiga lelaki mendatangi rumahku malam-malam. Dua berseragam polisi, satu berpakaian sipil, berjaket kulit hitam. Yang tidak berseragam pasti atasan dua yang berseragam. Ini kelihatan dari gerak-gerik sampai sepatunya yang mengilap—di akademi militer setahuku ada pelajaran khusus menyemir sepatu. Aku agak obsesif terhadap sepatu. Ia mengenalkan diri mewakili semuanya.

“Aparat,” katanya.

Aku mengamati dari atas sampai bawah.

“Bapak yang bernama Bambang Rojo?” Siapa memanggilku dengan nama lama hasil salah kaprah itu?

Begini: di akta kelahiran tertulis namaku Bambang Raga Amirasa. Sampai rapor SD—kalau tak salah sampai kelas lima—namaku masih Bambang Raga Amirasa.

Baru kami sadari belakangan, bahwa di ijazah kelulusan SD, nama itu berubah menjadi Bambang Rojo Amiroso. Kuingat, guru-guru sebelum kelas enam semuanya perempuan. Perempuan lebih teliti. Guru kelas enam namanya Marto Toyibun. Laki-laki, Jawa. Huruf hidup ‘a’ dia ganti ‘o’. Itu pun ada kesalahan pada kata Raga. Kalau sekadar ‘a’ diganti ‘o’ seperti kebiasaan orang Jawa seharusnya jadi Rogo. Ini malah jadi Rojo.

Mungkin waktu itu Marto Toyibun sedang pusing kepala karena kalah judi sabung ayam. Semua murid tahu, Pak Guru gemar sabung ayam.

Tak mungkin ayahku menamaiku Rojo, atau dengan huruf ‘a’, Raja sekalipun. Ayahku berhaluan proletar, tak suka raja-rajaan. Hanya saja, ketika aku lulus SD, ayahku sudah tidak ada. Ibu sibuk membanting tulang menghidupi tiga anak. Siapa yang peduli dengan ‘a’ jadi ‘o’? Karena di kampung aku juga dipanggil Rogo, bukan Raga.

Masuk SMP aku jadi Rojo. Bambang Rojo. Nama itu terbawa sampai periode tertentu, sebelum periode berikut, di mana aku ingin membetulkan kesalahkaprahan, dengan menyebut diri sesuai akta: Amirasa. Istriku memanggilku dengan sebutan khusus: Caca. Sejumlah teman dari periode masa kini ikut-ikutan memanggilku Caca.

Aku menunduk memegang kening.

“Tidak apa-apa,” kata si jaket hitam. “Bapak hanya kami minta datang ke kantor untuk membantu memperjelas siapa perempuan itu.”

Dia mengira aku cemas. Padahal aku sedang melokalisasi ruang dan waktu, siapa kira-kira perempuan ini. Bambang Rojo: siapa saja perempuan pada periode ini….

Kumulai dengan daftar seadanya.

Pertama, perempuan di Pantai Animex. Nama pantai itu sebetulnya bukan Animex. Disebut demikian, karena di situ berkembang resor terkenal bernama Animex yang menyediakan kegiatan waktu senggang modern: hotel, spa, pelangsingan tubuh, meditasi, dan lain-lain. Kawasan ini dinyatakan sebagai kawasan bebas anak-anak. Tak boleh ada anak kecil. Makanya waktu itu aku membawanya ke sana. Aku tidak suka anak-anak.

“Apa yang tidak kamu sukai pada anak-anak?” tanyanya kala itu yang masih kuingat. Kami di pinggir kolam renang. Dia mengenakan bikini, setelah sehari sebelumnya membereskan bulu-bulu di tempat yang tak diinginkan dengan proses waxing. Detailnya aku tidak tahu. Pokoknya dia wanita dengan tubuh sempurna.

“Polah mereka seperti setan. Kalau kita tegur, mereka akan berhenti berulah seperti setan, dan ganti melihat kita seperti menatap setan,” kataku.

Dia tertawa tergelak-gelak. Bibirnya sangat bagus ketika tertawa.

“Lihat, meski punya anak, perutku tetap bagus,” ucapnya.

Apakah dia yang mati di De Luca? Selintas kudengar dari si jaket hitam, perempuan tersebut diduga bunuh diri.

Ah, tidak mungkin. Kalau dia mati, bunuh diri atau mati karena waktunya mati, tidak mungkin ia meninggalkan warisan untukku. Tentunya, warisan akan ditinggalkan untuk anaknya—anak dari perkawinan sebelum aku mengenalnya. Jadi pasti bukan dia. Demikian aku menyimpulkan, begitu di otakku tersangkut kenangan, mengenai anak dalam hubungannya dengan keindahan perutnya. Kalau tidak ingat perut dan anak, mungkin aku setengah berkeyakinan dia yang mati.

Kedua, perempuan di Kereta Senja. Dulu memang ada kereta api yang namanya disesuaikan dengan waktu keberangkatan kereta tersebut, yaitu senja hari. Kereta itu pun bernama Kereta Senja.

Dengan interval beberapa perempuan seusai perempuan Animex, aku berhubungan agak serius dengan dia. Ia ingin mengenalkan diriku dengan orangtuanya di kota kelahirannya. Sebenarnya kami bisa naik pesawat, tapi entah siapa lebih dulu punya ide, kami menentukan naik Kereta Senja. Tas yang dia bawa, dugaanku terbagus di antara seluruh penumpang kereta.

Sampai kota kelahirannya hari masih sangat pagi. Aku tidak ingin bertamu ke rumah yang penghuninya masih tidur, atau baru bangun tidur. Kami menuju hotel terbaik.

Yang kuingat padanya juga perawatan tubuhnya yang luar biasa. Ia selalu wangi. Ketika kupeluk pundaknya dari bagian blouse yang terbuka di bagian itu, terasa bahan pelembap kulit dengan aroma yang aku ingat sampai waktu lama sesudahnya. Selalu aku tergoda untuk menelusuri lebih jauh.

Di mana dia sekarang?

Ia menikah dengan pejabat, kemudian kudengar dia sendiri berbisnis batu bara. Mestinya dia hidup bahagia, dan tak perlu bunuh diri. Ia perempuan sederhana yang mudah bahagia, mudah percaya—andai pasangannya tak terlalu canggih teknik berbohongnya sekalipun.

Tak mungkin dia bunuh diri. Andaikan bunuh diri, mengapa pula hartanya diwariskan padaku? Oh, mungkin karena setelah putus hubungan denganku, hubungan kami tetap baik. Ia sering menanyakan kabarku, keadaanku, keluargaku, dan lain-lain.

Itu dulu. Setelah itu, lama sekali kami tidak berhubungan. Mungkinkah dia?
Mudah-mudahan bukan perempuan baik ini yang mati bunuh diri.

Ketiga, perempuan yang selalu menyelenggarakan kencannya tengah malam, kadang lewat tengah malam. Dibanding yang pertama dan kedua tadi, ini paling misterius (aku bahkan menjulukinya mysterious lady killer). Misterius, karena aku tidak pernah bisa menghubunginya lewat telepon. Kencan bisa terjadi kalau dia menghubungiku. Dia menelepon, lalu kami membuat janji bertemu.

Paling mengagetkan ketika suatu tengah malam, tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, tiba-tiba dia muncul di pintu rumahku. Mobilnya yang bagus dia parkir di pinggir jalan depan rumah.

Aku kaget mendapatinya berdiri di depan pintu, senyum-senyum. Penampilannya sangat segar—sebagaimana biasa penampilan dia. Seperti usai fitness. Ia tak pernah kelihatan lecek. Make up selalu terjaga, termasuk bulu mata palsu berikut lipstick yang terus membuat bibir basah mengundang. Bau minyak wanginya menyergap.

“Kaget ya….” katanya dengan suara khas—agak serak.

Ia mengajakku pergi. Aku masuk mobil. Dia yang menyetir.

Kutanya, apa dia tak pernah merasa khawatir bepergian tengah malam menyetir mobil sendiri. Ia tertawa. Lalu dia mengangsurkan tas tangan di pangkuannya ke pangkuanku.

“Buka,” ucapnya.

Kubuka tas berwarna keemasan itu. Pistol. Aku celingukan. Dia tambah tertawa-tawa.

Hemm, apakah dia menembak diri sendiri? Bisa jadi dia? Kan aku tidak tahu kehidupan sehari-harinya? Apakah dia bosan hidup, lalu menembak diri, setelah sebelumnya menulis wasiat meninggalkan hartanya untukku?

Sial. Ini namanya bukan rezeki, tapi masalah….

Entah mana yang benar, di lain pihak aku sebenarnya tidak memercayai sepenuhnya ingatanku. Sejauh menyangkut ingatan, semua yang kugambarkan tadi belum tentu benar. Maksudnya, kenyataan mereka waktu itu belum tentu serupa gambaranku. Apalagi komitmen mereka, andai mati sampai harus menyebut namaku, meninggalkan sesuatu untukku, seolah aku sebegitu pentingnya.

Lain otak lain kenangan. Bahkan aku belum sempat tanya, bagaimana perempuan tadi mati. Menembak diri, loncat dari jendela apartemen, minum obat, atau bagaimana….

Sambil berjalan menuju mobil, si jaket hitam bicara selintas: overdosis. Oohh….

“Kulit putih,” tambahnya.

“Maksudnya?” tanyaku.

“Orang asing. Bule….” katanya.

Iya kan… Betapa tidak bisa dipercaya memori. Bagaimana aku bisa mereka-reka sejumlah perempuan, tanpa menyertakan satu yang berkategori kulit putih, orang asing, bule? Ada apa dengan otakku?

Kerepotanku mengais-ngais memori ini pasti sama runyamnya dengan penjelasan yang harus kuberikan pada orang lain, terutama istriku—yang saat ini sedang di Singapura.

Bagaimana aku harus menjelaskannya? Menjelaskan konstruksi memoriku?
Menjelaskan konstruksi memorinya—memori perempuan asing yang mati bunuh diri dan meninggalkan warisan untukku?

Aku menarik napas. Tidak semua hal bisa dan perlu dipikirkan. Aku melangkah, mengikuti tiga lelaki itu. (*)

 

 

Bre Redana, menulis cerpen dan novel.

 

 

Advertisements