Cerpen Wi Noya (Jawa Pos, 17 Februari 2013)

Dihyang ilustrasi Budiono

Mugi

Percaya tidak, jika kukatakan bahwa istriku, yang tersohor dengan kecantikannya itu punya dua sisi. Banyak yang terkecoh dengan paras ayu, sikap lugu, dan lenggoknya yang kemayu. Tetapi sekali lagi aku bilang, istriku berkepribadian ganda.

Awal perjumpaanku dengannya adalah saat pesta rakyat digelar setengah dasawarsa silam. Masa kegemilanganku sebagai seorang penari lengger. Kala itu, ia menghampiriku usai pentas tahunan.

“Oh… jadi ini to rupa Raden Panji Asmoro Bangun tanpa topeng.”

Bagaikan adegan sinetron, mataku nyaris tak berkedip, ekspresiku barangkali mirip keledai dungu. Sebatang rokok yang sudah menampang di bibir jatuh seketika.

“Jatuh Mas, rokoknya.” Ia membuatku tergeragap ketika jemari lentiknya menyodorkan lintingan tembakau yang jatuh barusan.

Sungguh, aku bukan orang yang pandai menutupi rasa kagum. Aku juga terbiasa beradu pandang dengan para penari rupawan. Tetapi belum pernah aku merasa sekelu ini berhadapan dengan seorang perempuan. Konyolnya, aku malah memastikan itu benar rokokku sambil merogoh saku dan meraba bibir.

“Ah… iya. Rokokku, ya? Matur nuwun, Mbak….”

“Sekar.”

“Eh?” Aku mengernyitkan dahi. “Sekartaji? Sekararum? Sekarang?”

Ia memamerkan gingsul dan lesung pipinya. “Sekar Savitri.”

***

Di tepi Telaga Warna, kuhimpun nyali untuk melamar Sekar. Berbekal bunga di tangan, kuutarakan niatku mempersunting bidadari yang sudah tiga bulan kuincar. Siapa sangka, gadis kota yang semula hanya berlibur dan mengunjungi sanak di tanah kelahiran, malah bertemu jodohnya. Aku sukses memboyongnya ke gubukku di negeri para dewa.

Tahun pertama, tiada kata lain yang mewakili pernikahan kami kecuali ‘manis’. Sesiapa yang memandang kemesraan kami, pasti iri bukan kepalang. Menggandeng Sekar ibarat mendampingi dewi kahyangan. Sayang, romantisme itu hangus dalam kobaran emosi. Lambat laun watak sejati sang bidadari tersingkap.

Sekar yang kukenal anggun lenyap seketika, berganti sesosok algojo saat ia terbakar cemburu. Puncaknya, kejadian yang menyebabkan aku pisah ranjang dan nyaris bercerai dengannya. Aku bertemu Dewi, mantan kekasihku ketika masa putih abu-abu. Tak sengaja, tanpa terencana, ia menjadi pendampingku dalam sebuah pagelaran tari budaya. Jujur kuakui, Dewi kalah cantik ketimbang Sekar, tapi ia jauh lebih memikat dengan karisma dan kesederhanaan. Betapa bersemangat ia menceritakan keluarga kecilnya, seorang suami dan sepasang anak kembar.

Duh Gusti, sepulang dari reuni singkat itu, Sekar menyambutku dengan sebuah tembikar. Asbak bundar tersebut tepat membentur dada kiriku. Nyeri luar biasa langsung menjalari jantungku. Belum sempat kutanyakan musabab kebrutalannya, ia mendaratkan tangannya yang halus ke pipiku. Tamparan. Pukulan. Cakaran. Aku hanya bisa menatap lekat retinanya yang berderai airmata. Sungguh, tak terbersit secuil pun hasrat untuk membalasnya.

Entah bisikan apa yang mampir ke telinga istriku hingga ia menjelma sebengis siluman. Semalaman Sekar hanya menangis sambil mengoyak pakaianku. Aku semakin tak tahan dengan sikap temperamennya. Esok paginya, kata cerai betul-betul kulontarkan. Usai berkemas, aku meninggalkannya berkalang duka mendalam. Ini bukan semata ganjaran untuknya, melainkan kegagalanku membina seorang istri sebagaimana mestinya. Ternyata cinta saja tak cukup menjaga keutuhan bahtera kami.

Oh, nasib baik tak berpihak padaku. Aku mengutuki kebodohanku yang tergesa mengambil langkah. Begitu mendengar berita kehamilan Sekar, segala upaya kekerahkan untuk memohon maafnya. Sungguh terlalu, ia langsung menyodorkanku buah simalakama, aku dipaksanya memilih jadi seorang ayah atau lengger. Dengan berat hati, aku rela menanggalkan ‘gelar’ kebangsawananku. Belum lagi acara ngidamnya yang mesti kuturuti, termasuk satu permintaan aneh untuk si jabang bayi.

***

Sekar

Siapa tak kenal suamiku, Mugi alias Raden Panji Asmoro Bangun. Semua warga dataran tinggi ini tahu lakon lengger lanang itu. Tak di pentas, tak di alas, ke mana-mana selalu memburu dewi-dewi. Menebar panah asmara, menjala galuh kirana. Aku curiga, ia mempersuntingku hanya karena namaku persis lawan mainnya, Dewi Sekartaji.

Kutanggalkan status lajang di tempat yang kusebut nirwana. Aku jatuh cinta pada kawah dan telaga, hortensia, serta sang arjuna. Ia melamarku dengan sebuket hortensia dan randa tapak. Terdengar murahan, tetapi caranya bersimpuh seraya mengidungkan syair membuatku tak kuasa menolak. Alasan mengapa kuterima pinangannya tak lain karena wajahnya yang tampan. Ia diwarisi bibir manis nan pandai merayu berikut hidup yang cukup mapan.

Dengan bangga kusanggupi ajakannya menetap di perkampungan yang konon dijuluki negeri atas awan. Sepenuh jiwa raga kuabdikan hayatku untuk sang suami. Namun agaknya aku keliru, tak jauh berbeda dengan drama pewayangan, Raden Panji Asmoro Bangun memang bukan milik Sekartaji seorang.

Suamiku memang berbakat meliukkan tubuh, namun ia lebih gemar bersilat lidah. Meski kerap mengelak, aku yakin ia ada sesuatu dengan mantan kekasihnya sesama penari. Maka kuputuskan untuk memberinya pelajaran. Sebulan setelah ia menjatuhkan talak, baru kusadari bahwa dalam perutku bersemayam sepenggal nyawa. Kesempatan itu kugunakan untuk menjeratnya kembali ke pelukan. Setelah ia bertekuk lutut, aku ajukan beberapa syarat yang mutlak dipenuhi. Salah satunya, kelak bila anak ini lahir, aku berhak menamainya Dihyang.

***

Menginjak tahun ketiga, Dihyang mulai sakit-sakitan. Berbagai pengobatan, mulai dari alternatif, dokter hingga mantri telah ditempuh, namun tak jua membuahkan hasil. Ia kerap mengigau dalam tidurnya. Terkadang ia terserang demam tinggi. Seluruh tubuhnya mengejang. Bola matanya mendelik ke atas. Giginya gemeletuk. Jemarinya mengepal kuat. Bintik-bintik kecil mulai merambati kepalanya, berangsur-angsur tumbuh seperti bisul. Ibu mana yang tak cemas menyaksikan anaknya menderita separah itu. Anehnya, ketika kami pasrah dan hampir menyerah, Dihyang justru pulih dengan sendirinya.

Agaknya aku mulai mengerti pertanda ini. Terbukti, benjolan sebesar pelor di kepalanya kian menggumpal serupa rambut yang dipilin. Dugaanku tepat. Lambat laun rambut gimbal Dihyang sempurna dan memanjang hingga sebahu. Tiap kali ditanya kapan bocah lucuku ingin dipangkas rambutnya, jawabannya selalu sama, gelengan kepala disertai muka cemberut.

“Mas, kita langsung potong saja rambutnya.” Suatu hari kucetuskan sebuah ide.

“Hush. Ngawur kamu. Percuma, pasti bakal tumbuh lagi. Kamu mau Dihyang tambah parah sakitnya?” sanggah suamiku.

Sebetulnya aku tahu, rambut gimbal dadakan itu pantang dicukur paksa. Namun aku hanya ingin Dihyang menjadi anak sewajarnya. Tak dapat kubayangkan jika ia bernasib sama seperti warga dukuh sebelah yang gila karena gimbalnya tak jua dipangkas hingga dewasa.

Aku hanya bisa pasrah menerima takdir, menanti kerelaan Dihyang kehilangan gimbalnya. Entah mengapa leluhur menitiskan rambut tersebut pada anak semata wayangku. Memiliki keturunan berambut gimbal berarti siap untuk menjalani tradisi ruwat dan mengabulkan keinginan apa pun yang bakal dimintanya.

***

BAGI Mugi, rambut gimbal Dihyang merupakan anugerah yang patut disyukuri. Tidak sembarang anak memiliki keunikan demikian. Sayang, Sekar tak sepaham dengannya. Istrinya masih menganggap itu sebuah petaka sampai Dihyang bersedia melakukan ruwat. Pasalnya, belakangan Dihyang makin tenar karena kenakalannya. Ia gemar menjahili teman sebayanya. Parahnya lagi, tanaman kesayangan ibunya dirusak tanpa ampun ketika ia dimarahi.

“Betul kan aku bilang? Anak kita kena kutukan.”

“Kutukan? Ngawur kamu! Hati-hati kalau bicara.” Mugi bangkit dari kursi, menatap nanar wajah masam istrinya. “Rambut itu berkah, ngerti kamu?!”

“Anak nakal kamu bilang berkah?” tampik Sekar.

“Salah siapa kamu kasih nama aneh. Kalau bukan karena kasihan dan tanggung jawabku, sudah aku tinggal dari dulu.”

“Terus kenapa mau rujuk lagi sama aku? Aku bisa urus Dihyang sendiri. Sana cari sekar lain sesukamu!”

Sekonyong-konyong Sekar berlari ke arah dapur.

Praang!

Dua buah piring dipaksa menemui ajalnya di tangan Sekar. Serpihan belingnya berserak usai menghantam tembok.

“Pecahkan semua! Ini!” Mugi meraih cangkir kopinya yang baru setengah surut. Ia mengempaskannya jauh ke belakang agar tak melukai istrinya. “Ayo, kamu mau banting apa lagi?! Sekalian lempar aku. Kamu tidak puas kalau belum menghajarku, kan?!”

Sekar mengepalkan kedua tangannya. Wajahnya semakin memanas. Ia menggigit bibirnya yang bergetar.

Samar-samar terdengar suara ketuk dan salam dari luar pintu. Percekcokan hebat sepasang suami istri terhenti seketika. Mereka segera menenangkan diri, berlagak seolah tak terjadi apa-apa.

Rupanya tamu sore itu adalah Mbah Yono, seorang pemangku adat yang telah sepuh. Kehadirannya lumrah dan dinanti anak-anak gimbal yang belum diruwat. Mugi lekas mempersilakan tetua kampung tersebut masuk. Sekar menyusul sesaat di belakangnya. Keduanya langsung paham, mungkin tahun ini giliran anak mereka yang akan disertakan dalam tradisi ruwat bocah gimbal.

***

Gembele njaluk opo toh, Le?” Sekali lagi Mbah Yono bertanya. Pertanyaan yang sebetulnya ditujukan pada makhluk tak kasat mata yang konon menyertai tiap bocah gimbal.

Dihyang membisu. Mata bulatnya bergantian menatap wajah Mugi dan Mbah Yono. Mulutnya tampak sibuk menggigiti ujung kuku yang baru tumbuh. Ia turut melirik Sekar yang duduk di sampingnya. Ketiga orang dewasa yang tengah memandanginya semakin penasaran dengan permintaan bocah enam tahun itu. Sekar mulai gelisah. Sempat didengarnya anak gimbal tetangga sebelah meminta mahar yang sulit, yaitu tujuh ekor kambing jantan hitam.

“Aku mau…,” Dihyang menunduk, memandangi kausnya yang merah beranang. Tangan mungilnya mulai menarik-narik tepi kaus. “Tiga mangkuk mi ongklok,” sambungnya kemudian.

Mbah Yono menganggukkan kepala seraya mengelus janggut putihnya. Mugi menghela napas, merasa lega. Sekar mengusap pipi kenyal anak kesayangannya, pun rambut kaku yang seperti tak pernah dikeramas. Semuanya tampak sumringah mendengar mahar yang Dihyang ajukan.

Tiba-tiba si gimbal mendongak. “Aku mau tiga mangkuk mi ongklok dan adik perempuan.”

Kontan raut kedua orangtua Dihyang berubah pasi. Empat pasang mata mereka terbelalak menatap anak polos yang hendak dicukur itu. Mbah Yono mengerjapkan matanya yang telah lamur berulang kali. Sementara, dengan wajah tanpa dosa, Dihyang asyik ongkang-ongkang kaki sembari menjulurkan lidahnya. (*)

 

 

Wi Noya, lahir di Jakarta 14 November 1988. Juara 1 Lomba Menulis Cerpen FLP Wilayah Jakarta Raya (2011). Salah satu penulis antologi cerpen Banten; Suatu Ketika (2012).

 

Catatan :

Dihyang: berasal dari bahasa Kawi, Di artinya gunung, sedang Hyang artinya dewa.

Lengger: tari topeng Dieng

Randa tapak: bunga dandelion

Gembele njaluk opo toh, Le?: Gimbalnya minta apa sih, Nak?

 

 

Advertisements