Cerpen Rilda A.Oe. Taneko (Suara Merdeka, 20 Januari 2013)

Satu Jam Menuju Manchester ilustrasi Hery Purnomo

MENIT PERTAMA.Seorang pria kulit putih berjaket hitam, butiran ketombe jatuh di dekat kerah. Seorang nenek kulit putih, rambutnya masai, mungkin seminggu lebih tak pernah dicuci. Seorang pria kulit hitam, berjaket biru, memegang payung hitam bergagang kulit bermerek Zara, jemari tangannya bersih, panjang, dan lentik. Seorang pemuda kulit putih, hidungnya mancung berujung lancip, mengenakan tas bertali panjang ala tukang pos, sebelah tali sepatu ketsnya terlepas. Seorang pria paruh baya berkulit putih, berperut buncit, berkepala botak, mengenakan sweater hijau kumal.

Dan ia terjejal bersama mereka.

Ia menyapu pandang ke penumpang gerbong yang ia tumpangi. Hanya pria dengan payung Zara dan dirinya yang berkulit berwarna. Ia mulai memerhatikan satu per satu mereka, seperti tadi. Seorang wanita berdahi lebar, berambut jagung, bermata biru menonjol, menggigiti kuku. Seorang wanita berambut panjang sebelah berwarna merah, mengenakan earphone tali putih menjuntai, tertawa dan bicara pada Iphonenya.

“Ha ha ha dia pikir aku tidak tahu… dia memintaku menjemputnya di bandara.”

Dua pria, keduanya mengenakan sepatu bot bermerek sama: Doctor Martens, yang satu hijau, lainnya kuning, sedang bekerja, memerogram entah apa di laptop mereka. Ia juga membawa laptopnya, dan berencana akan bekerja. Kenyataannya, jangankan bekerja, sekadar berdiri tanpa khawatir jatuh, menginjak atau terinjak sepatu orang pun rasanya susah. Ia mulai mengumpat: gerbong yang pendek di jam-jam padat penumpang, dasar kapitalis pengeruk keuntungan, sudah bayar mahal tak duduk pula!

Seorang pemuda berambut serupa Einstein, mengenakan kaca mata lensa kotak berbingkai hitam, berbicara dengan gadis di sampingnya, yang berambut pirang panjang, duduk menyamping, menghadap ke arahnya, dan membelakangi jendela kereta.

“Apa bedanya MA dan MPhil?”

“MPhil itu seperti kuliah doktoral tapi hanya dua tahun, lebih ke penelitian, sementara MA, menurutku, seperti kuliah strata satu namun lebih tinggi.”

Dan mereka duduk dengan santai.

 

MENIT KELIMA BELAS. Kereta berhenti di Stasiun Preston. Harapannya punah, tak ada penumpang yang turun. Alih-alih ia dapat tempat duduk, penumpang yang naik turut menyesaki kereta: seorang kakek dan nenek dengan bocah lelaki, sepertinya cucu mereka, lalu seorang ibu hamil dengan putrinya yang masih kecil, mungkin empat tahun. Tidak ada yang memberi mereka tempat duduk. Tidak ada yang memberi mereka tempat duduk!

Ia tergeser ke dekat pintu kereta. Pada pintu itu ia membaca: ‘Smile –you’re on CCTV’, tapi ia tidak tersenyum.

Dan kereta kembali melaju, kali ini menuju Chorley.

Ia memandangi penumpang yang duduk dengan santai. Ia membayangkan rencananya semula: duduk di kursi yang empuk, menggelar laptop dan beberapa buku rujukan di atas meja, menyeruput teh hangat yang ia beli dari penjaja minuman dan makanan ringan di kereta, dan menulis, terus menulis, hingga tiba di tujuan. Ia mendengus. Angannya lenyap sudah.

Bocah lelaki di dekatnya mulai mengentak-entakkan kaki, yang mungkin pegal. Bocah itu menggendong boneka kuda nil berwarna unggu. Anak perempuan tertarik dengan boneka itu, mengulurkan tangannya, yang penuh remah-remah kue jahe; anak lelaki berusaha menghindar, menabrak kakeknya, membuat kakek itu terhuyung ke arahnya, dan ia terdorong lebih rapat ke pintu. Anak perempuan menangis, mengadu pada ibunya; ibunya tersenyum kepada kakek dan nenek, meminta maaf. Bocah perempuan mengelap ingusnya dengan lengan jaket.

“Mengapa menyukai sastra?” gadis yang membelakangi jendela bertanya pada Einstein.

“Sejak kecil aku suka membaca fiksi. Ibuku selalu mendidikku untuk membaca.”

“Di sekolah dulu, sastra membosankan bagiku. Kami habiskan waktu berjam-jam hanya untuk mendiskusikan definisi plot.”

“Plot itu penting bagi cerita, yang menggerakkan cerita.”

“Aku pernah membaca di buku. Plot adalah petak tanah, yang bisa digunakan untuk apa saja, bercocok tanam, membangun rumah, termasuk mengubur penulis,” gadis pirang itu tertawa.

Einstein tidak ikut tertawa, rupanya ia tidak suka seseorang mencandai arti plot.

 

MENIT KETIGA PULUH. Kereta sampai di Chorley. Pria berketombe turun. Pria berperut buncit turun. Wanita yang sedari tadi menggigiti kukunya turun. Ketika melewati si Einstein, wanita itu tak sengaja menyenggol pundaknya. Einstein mengebas pundaknya, terlihat tak suka. Akhirnya, ibu hamil dengan putrinya bisa duduk, berpangkuan. Kakek-nenek dan cucunya bergerak ke lorong antar tempat duduk, memberikan ruang untuk penumpang dari Chorley masuk; ia mengikuti mereka, berdiri di dekat tempat penyimpanan koper, yang hari itu penuh. Ia berpegangan pada tiang di dekat kaca antar tempat koper dengan pintu, di sisi Einstein dan gadis pirang duduk.

Seorang bocah perempuan, berusia kira-kira lima tahun, naik dengan ayahnya. Bocah itu bernyanyi kecil,“Hey sexy lady! Woop Woop…!” sambil mengentak-entakkan kakinya, sebelah tangannya berputar-putar di udara, seperti naik kuda sambil akan melempar laso.

Kereta kembali berjalan. Ia melihat bocah itu dan menggelengkan kepala. Ayah si bocah, yang melihat gelengan kepalanya, menyuruh anaknya diam.

“Ayo kita main tebak-tebak binatang,” kata si ayah.

Si bocah terlihat senang dan mulai menebak, “Apa binatang itu berkaki empat?”

Si ayah mengangguk.

“Berwarna cokelat?”

Si ayah menggeleng, “Coba tanya apakah binatang itu mamalia.”

“Apakah binatang itu mamalia?”

“Aku suka belajar kritik sastra. Tentu ini bagian yang tak mudah.” Nada suara Einstein yang sombong kembali mengusik perhatiannya.

“Mengapa?”

“Seorang kritikus adalah penjaga kualitas sastra. Peran terpenting dalam kemajuan sastra dan budaya.”

Ia menoleh ke arah Einstein yang sedang mengeluarkan kotak jus dari tasnya, lalu empat keping pizza margherita yang dibungkus pelastik biru transparan. Ia memerhatikan kotak jus itu: jus apel murah yang tinggi kadar gulanya. Ia memerhatikan pizza, yang dikeluarkan Einstein dari pelastiknya. Pizza itu terlalu tebal dan kurang matang. Einstein mulai mengunyah, tanpa menawarkan ke gadis pirang di sampingnya. Gadis itu pun terlihat tidak tertarik pada pizza si Einstein. Ia lebih tertarik pada pita biru yang diikat di pegangan tas Einstein.

“Pita apa itu?”

Einstein mengunyah pizza dimulutnya sampai habis sebelum menjawab, memegang pita yang ditanyakan, “Ini tanda dari ibuku, agar aku bisa membedakan tasku dengan tas lain.”

Tasnya itu berwarna hijau, disudutnya ada bercak tinta. Melihat kondisi tas itu, ia menduga, tak hanya pita, tas itu pun pemberian ibunya. Tas seperti itu, tanpa pita sekali pun, tentu tak susah membedakannya dari yang lain, pikirnya.

“Wah, ibumu perhatian sekali ya,” kata gadis pirang, terlihat terkesan.

“Ya, ibuku sangat perhatian. Pizza ini juga ia yang bawakan. Dan baju yang aku kenakan hasil rajutannya.” Einstein menepikan jaketnya yang terbuka, memerlihatkan baju wol biru yang ia kenakan, dengan bangga. Baju itu terlalu besar di tubuhnya yang kurus. Einstein menyesap jus apelnya hingga kotak jus mengempis.

“Wah, hebat sekali ibumu.”

“Ya, dan bahkan ia juga yang memperbaiki jinsku.”

Einstein menunjukkan celana jinsnya, yang ditambal dengan tidak rapi di bagian dengkul. Ia membayangkan seorang kritikus sastra yang mengidap Oedipus-complex.

Bocah perempuan di dekatnya terlihat bosan menebak binatang. Bocah itu menempelkan hidungnya ke kaca, serupa hidung babi, membuat ia tersenyum.

Ayah si bocah, yang melihat senyumannya, mencoba mengalihkan kedekatan anaknya dengan kaca, “I spy with my little eye, something beginning with T.”

Si bocah menjauh dari kaca dan terlihat berpikir. “Train?”

 

MENIT KEEMPAT PULUH LIMA. Stasiun Bolton. Pria dengan payung Zara turun. Juga nenek berambut masai. Ia berharap ada dari penumpang yang duduk turun, namun harapannya menguap. Malah penumpang makin padat. Seorang pria, koper kecil pipih di tangan kiri dan gelas, mungkin berisi teh atau kopi panas, di tangan kanan. Serombongan remaja naik, membawa koper-koper besar dan terlihat berat. Sepertinya pagi itu semua orang menuju Manchester Airport.

Kakek di depannya menggeleng-gelengkan kepala, “Silly train.” Istrinya setuju. Pintu kereta menutup dan kereta kembali berjalan. Cucu mereka mulai resah, sepertinya sudah lelah berdiri, terseguk pelan. Kakek dan nenek berusaha menghibur.

Ia pun lelah berdiri, laptop dan buku-buku di tas ranselnya terasa berat sekali. Ia pun tak bisa menerima mimpinya untuk duduk dan menikmati perjalanan tak bisa ia capai. Menikmati perjalanan di kereta adalah kebahagiaan baginya. Dan si Einstein masih saja duduk dengan santai, membangga-banggakan ibunya. Gadis pirang di sebelahnya, juga duduk dengan santai, terus saja terlihat terkesan.

Dan ia benar-benar geram.

“Aku sangat hormat pada ibuku, dan selalu mencoba menuruti perkataannya.”

Ia beranjak ke arah mereka, meletakkan tangannya di meja dan mendesis, tepat di depan muka Einstein, “Dan apakah ibumu itu tidak pernah mengajarimu untuk memberi tempat duduk pada orang tua dan anak-anak?!”

Einstein terkejut, mengerutkan tubuh ke sudut kursi, melebarkan mata padanya: seorang pria Asia, berambut hitam pendek, berkaca-mata, memelihara jambang, membelalakan matanya yang sipit, dan berkata demikian padanya. Seorang asing!

Einstein gegas berdiri, membawa tas dan pizzanya. Gadis pirang berkali-kali meminta maaf, memersilahkan kakek-nenek dengan cucu mereka untuk duduk.

SATU JAM. Guncangan kereta menyadarkan ia dari lamunan. Kereta tiba di Stasiun Manchester Oxford Road. Ia masih berdiri di tempat yang sama, tidak juga berani beranjak. Einstein tetap duduk dengan santai, masih membangga-banggakan ibunya, dan gadis pirang di sebelahnya tetap saja terkesan. Kakek-nenek dengan cucu mereka, yang sekarang menangis, masih terus berdiri.

Arus penumpang yang naik membuat ia tersudut, menjauh dari Einstein, kembali merapat dekat pintu kereta. Ia membaca kalimat yang sama: ‘Smile –you’re on CCTV’, tapi ia tidak tersenyum sama sekali. (*)

 

 

Lancaster, Januari 2013

Advertisements