Sepasang Pengendus Kematian


Cerpen Triyanto Triwikromo (Koran Tempo, 6 Januari 2013)

Sepasang Pengendus Kematian ilustrasi Yuyun Nurrachman

Sesaat sebelum peluru itu menembus lambungnya, sebelum para pembunuh menjerat lehernya dengan kawat, dan mayatnya di seret ke makam keramat, Ahmad telah mengapur seluruh dinding luar masjid dengan warna kafan. Serba putih. Tanpa noda.

IA juga sudah membubuhkan kata dan angka Makkah, 570+1+urip+9-6+4×15:9 di bawah kaligrafi Allah. “Semua sudah rampung, Gusti, besok kami akan shalat Id di sini,” desis lelaki penunggu masjid itu sambil menatap bangau yang terbang rendah dan menghilang di gerumbul pohon bakau.

Karena telah membuat dunia lebih muda dan segar, Ahmad merasa mempunyai waktu untuk mengenang saat-saat kali pertama ia datang ke kampung kumuh yang nyaris tanpa penghuni ini. Waktu itu ia hanya melihat enam rumah panggung dengan fondasi yang menghujam di tanah yang digenangi air laut, masjid yang alasnya terkubur lumpur, ular-ular kecil, kepiting-kepiting, lintah-lintah, serta ikan-ikan terbang busuk yang bertebaran di sekitar mihrab.

Telah lama warga tidak bersembahyang di masjid itu. Ketimbang bersusah payah mengeruk lumpur dan merasakan pagutan lintah, mereka memlih sembahyang di rumah. Karena itu masjid terbengkalai. Burung-burung bangau dibiarkan menyusp, mengepak-ngepakkan sayap hingga ke mihrab dan dinding-dinding dibiarkan melumut hijau muda. Saat itu suasana di dalam masjid seperti sebuah dunia yang diciptakan tidak sempurna: kotor, bau, penuh bangkai dan hewan melata. “Hanya setan yang mau menghuni tempat ini,” pikir Ahmad, “tetapi aku akan aman di sini.”

Lalu tak ada cara lain, Ahmad pun mengeruk lumpur dari masjid berhari-hari, berminggu-minggu. Sendiri. Tak mungkin meminta pertolongan dari para nelayan yang merasa bisa shalat di perahu. Tak mungkin meminta pertolongan dari orang-orang yang kesulitan shalat berjamaah karena lebih sering hidup di laut ketimbang di daratan.

Pada akhirnya, lumpur-lumpur itu bisa dihilangkan. Akan tetapi tetap saja rob tak bisa dihalau. Karena itu tetap saja masjid tergenang air. Agar bisa shalat, ia membangun semacam panggung di mihrab ketika lantai sujud sudah dilahap oleh air laut yang rakus itu. Mungkin cara Ahmad shalat seperti saat Nabi Nuh dihantam banjir. Bagi Ahmad, Nabi Nuh—ketika air laut menyusup ke perahu yang sedikit bocor—juga nangkring semacam itu.

“Aku tak akan pernah meninggalkan masjid ini sampai kapan pun….”

LALU sejak saat itu warga di tanjung menganggap telah ada orang gila yang menyusup ke kampung. Meskipun begitu mereka kerap menghanyutkan makanan ke masjid agar Ahmad tidak mati kelaparan. Kadang-kadang anak-anak—yang tidak pernah menganggap siapa pun gila—memberi ikan bakar jatah mereka sehingga Ahmad yang bersumpah hanya akan menyantap makanan yang dihanyutkan oleh Allah ke dalam masjid, tak pernah rakus melahap apa pun yang berkeliaran di luar sana.

Akan tetapi menjelang subuh Ahmad seperti melihat sepasang malaikat turun dari langit dengan mata menyala dan pedang yang siap dihunuskan ke lambung. Dia begitu ketakutan berhadapan dengan mereka. Dia merasa sebentar lagi mereka akan menjelma ular besar yang akan melilit leher dan meremukkan kehidupannya. “Allah! Allah! Apakah hidupku akan Kaurampungkan saat gerimis menjelang subuh tiba?”

 

SAAT itu, beberapa bulan sebelum 1983 yang penuh bangkai setelah 532 pria dan perempuan dianggap busuk tewas. Munawar berbisik kepada Ahmad, “Aku tahu tak lama lagi kau akan mati!”

Munawar bukanlah malaikat serbatahu, tetapi di hadapan Ahmad, dia selalu bertingkah sebagai pengendus kematian. Dia bahkan membual, bisa mengendus bau kematian hanya dengan menghirup bekas keringat yang menempel di baju yang pernah dikenakan seseorang. “Aku sudah melihat sepasang malaikat menguntitmu. Kemarin saat kau hendak wudu di sumur, mereka sesungguhnya sudah akan menusuk lambungmu dengan pedang surga. Lehermu juga akan dijerat dengan kawat dan kau tidak akan sanggup melawan kehendak-Nya.”

Ahmad setengah tertegun setengah jengkel mendengar bisikan teman sepermainan waktu kecil itu. Akan tetapi, meskipun menganggap Munawar sedang bercanda, dia keder juga. Memandang lama-lama mata Munawar, dia seperti melihat sebuah peluru menembus lambung seorang laki-laki yang sepenuhnya mirip dengan dirinya. Dia juga melihat serdadu menjerat dengan kawat dan menyeret dirinya ke makam keramat.

“Aku tak akan mati hanya karena kau menginginkan aku mati….”

“Aku tak menginginkan engkau mati. Aku memberi tahu: pada sebuah subuh yang basah kau akan mati.”

Ahmad sama sekali tidak marah mendengar tujuman yang lebih mirip sebagai guyonan parikena dari sahabatnya itu. Dia justru memeluk Munawar dan bilang, “Aku akan menolak kematianku. Aku akan membunuh siapa pun yang hendak menghabisiku….”

 

MESKIPUN tidak gigrik mendengarkan guyonan dari Munawar, setiap kali melihat polisi atau serdadu yang melintas di jalanan becek yang mengepung kampung, Ahmad merasa waswas juga. Dan rasa waswas kian berlipat setiap dalam pandangan yang samar, dia memergoki bayangan tiga sampai empat orang menyetroni rumahnya.

Tak perlu menganggap Ahmad sebagai laki-laki pengecut. Saat itu, bramacorah paling digdaya pun keder pada pembunuh-pembunuh gelap yang menyusup ke kampung-kampung. Dan Ahmad hanyalah maling kecil, bandit cepethe yang sok merasa jagoan di hadapan Munawar. Karena itu ketika melihat di jalan-jalan dan di got-got kian banyak mayat pria dan perempuan bertato bergelimpangan dengan leher dijerat kawat, dia memutuskan untuk melawan.

“Sebelum dibunuh, aku akan membunuh mereka.”

Tetapi membunuh bayangan—kelak kau menyebutnya sebagai penembak misterius—bukan pekerjaan mudah. Ahmad tidak mungkin menangkap siapa pun yang lewat di depan rumah sebagai bajingan-bajingan busuk yang lehernya layak ditebas dengan parang. Karena itu, dia terpaksa memercayai Munawar. Dia terpaksa bertanya kepada sahabatnya itu, siapa saja yang akan mati, siapa saja yang bisa lolos dari sakratul maut.

“Hari ini akan ada pencopet yang mati dan seorang polisi tertebas tangan kanannya,” kata Munawar.

Dan benar saja: Badrun dan Soleh—bandit-bandit alit, di kampung itu—terkapar di kuburan menjelang subuh.

Adapun di luar dugaan, pada saat sama, Ahmad menebas tangan kanan seorang lelaki yang sejak fajar menyusup ke rumahnya. Tangan itu masih menggenggam pistol saat dimutilasi. Tangan itu masih memiliki hasrat untuk menggerakkan pelatuk, masih berhasrat untuk membunuh Ahmad.

Esok hari, dia menemui Munawar lagi, “Mengapa kau tak mengatakan bahwa aku akan menebas tangan pembunuh tengik itu?”

“Karena sebetulnya memang bukan kau yang akan menebas tangannya. Karena justru sebetulnya lambungmulah yang akan merasakan tembusan pelurunya.”

Saat itu Ahmad ingin sekali menempeleng Munawar. Dia merasa dipermainkan.

“Bersyukurlah sekarang kau masih bisa lolos dari intaian mereka. Tetapi, percayalah padaku: pada sebuah subuh saat gerimis tiba, mereka akan bisa membunuhmu. Saat itu kau tidak akan bisa menghindar dari amuk maut. Saat itu kau baru akan percaya aku bisa mengendus kematianmu.”

Ahmad terdiam. Berhadapan dengan Munawar, dia seperti berurusan dengan malaikat yang tersesat.

“Masih banyak lagi bramocorah yang terbunuh. Masih banyak lagi tangan berpistol yang bakal kautebas. Dan masih kulihat sepasang malaikat pencabut nyawa menguntitmu.”

Ahmad mematung. Ia membayangkan puluhan tangan kanan berpistol yang telah dimutilasi berhasrat menarik pelatuk. Berhasrat membunuhnya.

“Sekarang kau tidak perlu takut. Kau tak akan mati di sini.”

Ahmad menggigil. Dia kian melihat Munawar sebagai malaikat yang bakal mencabut nyawanya.

“Aku harus segera bersembunyi,” kata Ahmad dalam hati, “Aku juga harus meninggalkan pengendus kematian sialan ini.”

 

MUNAWAR bukanlah pencabut nyawa. Munawar tak pernah ingin membunuh sahabatnya. Pada 1983, juga tak ada malaikat yang ingin membunuh Ahmad yang bersembunyi di sebuah tanjung, di sebuah masjid yang sunyi. Karena itu untuk sementara waktu Ahmad tak merisaukan kematian. Dan karena merasa tidak dikuntit kematian, Ahmad sepanjang hari hanya karib dengan zikir dan shalawat. Karib dengan ular-ular kecil, kepiting-kepiting, lintah-lintah, serta ikan-ikan terbang busuk yang bertebaran di sekitar mihrab.

Sesekali dia mendengarkan percakapan anak-anak tentang makam keramat dan kesaktian Syeh Muso. Sesekali dia juga mendengarkan kisah Azwar yang senantiasa dianggap sebagai pembela para pemuja partai palu arit oleh para serdadu kota yang sebulan sekali menyusup ke tanjung sunyi ini. Ia juga kerap mendengar anak-anak mempercakapkan Siti, putra Azwar yang kini sedang belajar ngaji dan ilmu surat ke Kota Bisri. Tapi karena memang sudah tak ingin berurusan dengan siapa pun, Ahmad sepanjang hari hanya berusaha menyingkirkan lumpur yang mengubur lantai, menghapus lumut di dinding, menghalau ular-ular kecil di mihrab, hingga akhirnya dia berani bergumam, “Malaikat pun akan mampir ke sini. Malaikat pun akan sujud syukur di masjid ini.”

Akan tetapi pada subuh segalanya menjadi lain. Ia merasa akan bertemu Munawar. Hanya, kali ini dia tidak perlu bertanya kapan dia akan mati. Karena sepanjang hari hanya karib dengan zikir dan shalawat, ia kini bisa mengendus kapan malaikat datang kapan malaikat pergi. Ia juga paham beberapa saat lagi Munawar akan datang bersama para pembunuh dan berkata, “Kini kau tak bisa menghindar dari kematian, Kawan. Gerimis hampir tiba dan para pembunuh akan menyeretmu ke makam.”

Ahmad tersenyum. Ia berharap bisa segera memeluk Munawar dan berbisik, “Ya, akhirnya gerimis subuh datang juga.”

Ahmad tahu Munawarlah yang dipaksa menunjukkan persembunyiannya di tanjung itu oleh para pembunuh busuk dari kota. Akan tetapi Ahmad tak tahu betapa setelah menghabisi dirinya, para pembunuh juga menghajar Munawar, sehingga tak seorang pun menjadi saksi pembunuhan terhadap dirinya. Ahmad tak tahu betapa kekejaman tanpa batas bisa tumbuh di bumi dan tak pandang bulu membantai siapa pun.

Lalu gerimis pun turun dan tak peduli pada sepasang laki-lai yang pada subuh itu tewas dengan lambung tertembus peluru, leher terjerat kawat dan tumbuh terseret ke makam tanpa suara.

Tanpa suara…. (*)

 

 

Triyanto Triwikromo, memperoleh Penghargaan Sastra Pusat Bahasa untuk kumpulan cerpen “Ular di Mangkuk Nabi” (2009). Ia tinggal di Semarang.

 

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: