Cerpen Bunda Zara (Republika, 30 Desember 2012)

Ibuku Bukan Malaikat ilustrasi Rendra Purnama

AKU benci hari ini! Berada dalam ruang dan acara yang tak kumengerti. Andai aku tahu acara apa yang aku ikuti ini, tentu akan aku tolak ajakan Kak Melin. Sayangnya, aku tak kuasa menolaknya. Kak Melin sangat baik. Dia rajin menyambangi rumah singgah yang kudiami. Dia juga memberi dan mengajarkan kami banyak hal.

Aku merasa tak nyaman. Mungkin karena aku tak terbiasa dengan suasana seperti ini. Bertemu dengan ratusan gadis cantik dan kaya. Pakaian dan kerudung mereka serasi dan elok dilihat. Berbeda denganku yang hanya memakai baju sederhana pemberian Kak Melin. Celana dan baju terbaik yang pernah aku punya. Aku merasa jadi wanita terjelek dan termerana di dunia!

Banyak orang mengatakan aku cantik. Tapi, aku tak percaya omongan mereka. Karena, ibu sering mengatakan, aku anak yang jelek dan nakal. Apalagi, kalau aku tak membawa uang sepulang mengamen atau berjualan koran. Atau, kalau aku salah melipat baju para langganan cuci gosok ibuku.  Dengan penuh emosi, beliau tak segan mencubit pahaku.

Bahkan, terakhir, karena lalai menjaga adik bungsuku yang sakit, ibu marah besar dan aku dihukumnya. Begini katanya, “Dasar anak tak tahu diri! Ibunya kerja banting tulang, kamu malah enak-enakan main! Lihat adikmu, sampai kejang begini! Kamu tega ya!” Tangan berkuku tajam miliknya menghujam pahaku. Aku hanya bisa meringis kesakitan. Pasti ibu akan lebih ganas lagi mencubit andai aku terisak. Tapi, sungguh, perih dan sakit sekali rasanya cubitan itu. Air mataku tak tahan untuk tidak menetes. Jatuh bercucuran di antara jemari ibu dan darah dari paha yang tertancap kukunya.

Hhh… sudah, sana! Kalau tak bisa jaga adik, pergi sana cari uang! Jangan pulang sampai kamu dapat obat adikmu!” Ibu melepas cengkeraman tangannya, lalu menendang tubuhku menjauh. Tanpa berkata-kata lagi aku berlari ke luar. Berlari dan terus berlari. Menerobos tatapan heran orang-orang yang melihatku berlari sambil terisak. Aku tak peduli. Lagi pula, siapa yang mau peduli padaku, si gadis jelek dan nakal ini? Ibuku saja, perempuan yang seharusnya menyayangi dan melindungi malah menendang dan mengusir pergi? Lalu, aku akan memohon perlindungan pada siapa?

Pada ayah? Sudah lama tak kulihat batang hidungnya. Dia pergi meninggalkan rumah pada hari pertama seharusnya aku masuk sekolah dasar, gembira memakai seragam merah putih dan menggendong tas baruku.  Saat itu, sempat kulihat kegembiraan dan kebahagiaan ibuku. Kegembiraan terakhir yang pernah aku lihat dari wajahnya. Karena, hari itu bersamaan dengan melangkahnya kakiku dalam gandengan tangan ibu menuju sekolah, seorang perempuan cantik yang perutnya terlihat buncit mendatangi dan membawa ayah pergi.

Sejak saat itu, dunia kami meredup. Seakan mendung hitam kelam melingkupi keluarga kecil kami. Ayah tak pernah lagi kembali. Ibu yang biasanya mengurus dan merawat kami dengan riang berubah menjadi pendiam dan mudah marah. Caci, maki, hinaan, dan amarah seakan tak henti ditujukannya padaku. Kepergian ayah dengan cara seperti itu tak hanya telah menghancurkan ibu, tapi juga telah merampas dan menghancurkan indahnya dunia masa kanakku. Duhai  langit, bumi, tolong jawab aku! Pada siapa aku harus berlindung?

Aku terus berlari. Napasku serasa hendak berhenti. Rasa lelah, kesal, amarah, dan kecewa bercampur aduk. Bergumul seru di dada. Ada sesuatu yang ingin meledak rasanya. Aghhhr…! Aku benci hidupku. Aku benci ayah yang tega membiarkan kami melarat seperti ini. Hingga, sampai sebesar ini, hidupku selalu penuh derita. Membantu ibu mencuci dan menyeterika baju langganannya, mengamen, bahkan aku masih harus menjadi loper koran dan menjualnya di perempatan lampu merah. Aku malu, ibu sering menghukum dan memukulku, padahal aku sudah berlaku baik dan menurut padanya. Ini tak adil.

Aku memutuskan untuk kabur. Biar saja! Biar ibu bingung mencariku. Aku sudah terbiasa hidup di jalan. Aku bisa tidur di mana pun aku suka. Aku sudah bisa cari uang sendiri. Aku juga cukup banyak punya teman di jalanan. Biarlah langit menjadi atap rumahku dan bumi menjadi alas tidurku.  Aku tak peduli!

Mataku mengerjap basah. Luka hati lima tahun lalu menerbitkan air mataku kembali. Gelap. Lampu dalam ruang acara rupanya sengaja dimatikan.  Hanya sebuah cahaya di depan sana, menyorot lurus layar putih yang terpasang di dinding. Seorang bayi mungil muncul di layar putih itu. Tersenyum menatap kami. Suara musik lembut mengiringi kalimat demi kalimat yang diucapkan sang narator. Mataku mulai terfokus penuh kini.  Kepolosan bayi itu seperti sebuah kekuatan yang mampu menyedot perhatianku. Kusimak dialog dalam film singkat itu.

Saat seorang bayi hendak dilahirkan ke dunia, dia bertanya kepada Tuhan: “Para malaikat di sini mengatakan bahwa Engkau akan mengirimku ke dunia. Tetapi, bagaimana cara aku hidup di sana, aku begitu kecil dan lemah.”

Tuhan menjawab, “Aku telah memilih satu malaikat untukmu. Ia akan menjaga dan mengasihimu.”

“Tetapi, di surga, apa yang aku lakukan hanyalah bernyanyi dan tertawa. Ini cukup bagiku untuk bahagia.”

“Malaikatmu akan bernyanyi dan tersenyum untukmu setiap hari dan kamu akan merasakan kehangatan cintanya.”

“Dan, apa yang dapat aku lakukan saat aku ingin berbicara kepada-Mu?”

“Malaikatmu akan mengajarkan bagaimana cara kamu berdoa.”

Si bayi masih belum puas, ia bertanya lagi, “Aku mendengar bahwa di bumi banyak orang jahat. Siapa yang akan melindungi aku?” Dengan penuh kesabaran, Tuhan pun menjawab, “Malaikatmu akan melindungimu, dengan taruhan jiwanya sekali pun.”

Si bayi pun tetap belum puas dan melanjutkan pertanyaannya, “Tapi, aku akan bersedih karena tidak melihat Engkau lagi.”

“Malaikatmu akan menceritakan padamu bagaimana agar kamu bisa kembali pada-Ku. Walaupun sesungguhnya Aku selalu ada sisimu.”

Saat itu surga begitu tenangnya sehingga suara dari bumi dapat terdengar dan sang anak dengan suara lirih bertanya, “Tuhan, jika aku harus pergi sekarang. Bisakah Engkau memberitahuku, siapa nama malaikat di rumahku nanti?”

Tuhan pun menjawab, “Kamu dapat memanggil malaikatmu, ibu….”

I-b-u?! Serasa ada tombak menusuk dada. Sakit. I-b-u? Jadi, malaikat para bayi yang turun ke bumi itu bernama ibu? Bukankah dulu aku juga bayi yang diturunkan Tuhan ke bumi? Tak salahkah yang kudengar? Kalau begitu, bagaimana dengan malaikat yang Tuhan berikan untuk aku? Ibukah itu?

Tidak! Tuhan bilang, malaikat bernama ibu itu akan menjaga dan mengasihiku. Tapi, ibuku tidak seperti itu. Aku malah dijadikan sapi perah untuk mencari nafkah bagi keluarga. Kata Tuhan, malaikat bernama ibu itu selalu bernyanyi dan tersenyum untukku, tapi nyatanya? Omelan, cacian, dan amarah adalah nyanyian yang selalu terdengar di telingaku. Tak ada kalimat lembut atau senyum yang meneduhkan hati saat aku berada di dekatnya. Kata Tuhan, ibu akan mengajarkanku cara berdoa. Yang  kudengar adalah cara mencuci, menyeterika, atau melipat baju yang benar.  Kata Tuhan, malaikat bernama ibu itu akan melindungi dan menjagaku walau dengan taruhan jiwanya sekali pun. Tapi, ibu memukulku, mencubit, menendang, bahkan mengusirku pergi. Mengusirku, Tuhan…. Apakah itu malaikat yang Kau turunkan untukku?

Demi apa pun di dunia ini! Sungguh ini sebuah ketidakadilan yang nyata! Aku bangkit dan melangkah pergi. Aku muak mendengar kanan-kiriku terdengar suara tangis. Menyebut lirih kata-kata ibu dengan suara memelas dan penuh haru. “Ibu… ibu, maafkan aku.”

Tuhan pasti tidak salah. Ini salah ibuku. Aku harus menuntut balas darinya.  Lima tahun hidup dalam penindasan dan kesengsaraan. Lima tahun berikutnya sengaja membiarkan anak telantar dan terlunta-lunta. Tak pernah ibu mencari di mana keberadaanku. Padahal, aku sangat ingin dirindukan dan diminta untuk pulang.

Rasa marah dan kecewa memacu langkahku menjauh dari ruang acara.  Suara sedu-sedan tangis ratusan remaja putri itu semakin menyayat. Air mataku pun ikut membasahi pipi. Sakit dan perih. Ibuku bukan malaikat!  Aku benci padanya! Tapi, hari ini, tiba-tiba aku merindukannya….

Aku berdiri mematung di depan rumah ini lagi. “Cari siapa, Mbak?”  seorang anak laki-laki menyambutku. Menatapku tak berkedip. Tubuhnya kurus tak terurus. Yanto, adikku.

“Yan, ini Mbak! Kamu sudah lupa?” ragu aku mendekat. “Mbak Yanti?” adikku tampak terkejut.

“Ibu di mana?” tanyaku bergetar.  Rindu dan sisa-sisa amarah masih menggunung.

“Ibu ada di dalam, Mbak.” Ragu Yanto mengajakku masuk. “Bu, Mbak Yanti pulang.” Tak ada nada girang atau rindu seperti yang kubayangkan.  Sepi. Ibu, di mana?

Tuk tok tuk tok. Suara tongkat mengetuk lantai rumah. Pintu kamar terkuak perlahan. Bunyi deritnya mengejutkanku. Namun, sosok yang berjalan tertatih keluar dari kamar itu lebih membuatku terkejut. Perempuan tua, hampir separuh rambutnya kini memutih. Keriput di wajahnya lebih cepat tiba dari waktu yang seharusnya. Langkah kaki yang lima tahun lalu masih tegak dan kokoh kini harus dibantu tongkat penyangga. Ibu.

Tak ada yang berani memulai. Hening. Hanya tatap mata kami beradu dalam rasa yang bercampur tak keruan. Sudah lebih dari seribu hari aku tak bertemu ibu. Wanita yang pernah mengandung dan melindungi aku selama sembilan bulan dalam rahimnya.

“Ibu, kenapa ibu tak pernah mencariku?” Tersendat suaraku di antara isak yang tertahan. “Terlalu burukkah aku untukmu?”

Tak ada jawaban. Namun, ada rindu dari sorot matanya yang memudar.  Perlahan dan tertatih ibu mendekatku. Butiran air mata mengalir di pipinya.  Tuhan, aku tak tega. Sumpah serapah dan segudang cacian yang ingin aku hamburkan menguap entah ke mana. Namun, aku masih tegak berdiri.  Amarah dan egoku mencegah untuk berlari dan berlutut di kakinya.

“Maafkan ibu, Nak.” Ibu membisikan kalimat yang aku nantikan ribuan hari yang lalu.

Pertahananku runtuh. Amarahku luruh. Tubuhku lungkrah. Bersamaan dengan sebuah ketukan keras di pintu.

Dug-dug-dug!

“Buka pintu!” Suara garang penagih uang kontrak rumah. Brak! Pintu yang memang tidak terkunci itu ditendang dari luar. Tiga orang berdiri kokoh di depan pintu. Pemilik rumah dan dua algojonya.

He! Sudah lima bulan kamu tidak membayar kontrakan. Tidak ada kata maaf lagi! Kalian harus pergi dari sini!”

“Maaf, Tuan. Tolong beri saya kesempatan lagi. Saya tidak bisa bekerja beberapa bulan ini. Jadi, maklumilah….” Ibuku memelas.

“Sudah cukup sabar aku mengasihanimu. Aku bukan dewa, heh!”

“”uan, jangan usir ibu dan adik saya. Beri saya kesempatan untuk mencari uang.” Sigap aku berdiri.

Heh, memangnya kamu punya uang, apa?” pemilik rumah melunak.  Matanya mengerlingku nakal. Dia mendekati tempatku berdiri. Matanya jelalatan mengamati hampir setiap bagian tubuhku. Ketakutan seketika menyergap. Kutatap mata ibu galau.

“Jangan tuan, tolong jangan diganggu. Tolong tuan.” Tertatih ibu menghampiriku. Wajahnya begitu ketakutan. Terpaku aku pada sorot matanya.

“Diam! Harusnya kamu bangga punya anak gadis cantik. Manfaatkan. Biar utang-utangmu lunas.” Tangannya menepis tubuh ibuku kasar. Membuat ibuku limbung dan jatuh terjerembap di lantai. “Din, Sro… bawa gadis ini.  Cepat!” perintahnya.

Secepat itu pula dua laki-laki kekar itu memegangiku. Menggiringku ke luar pintu. Aku meronta. Ibu menjerit tercekat memanggil namaku. Adikku hanya bisa menangis di sudut  ruang.

“Ibu….” Aku berusaha melepaskan diri.

“Jangan, jangan bawa anak saya, Tuan. Tolonglah!” Merangkak ibu mengejar. Kucoba menahan kaki sekuat mungkin. Namun, tangan kedua algojo itu semakin kuat menyeretku keluar.

Hingga entah kekuatan dari mana, ibu bangkit. Penuh amarah diserangnya pemilik rumah. Jeritan melengking membelah bumi. Sebuah pisau menancap di dadanya. Darah segar membasahi tangan ibu. Aku terpana dalam ketakjuban.

Ibu! Wahai penduduk langit dan bumi, saksikan! Ibuku memang bukan malaikat. Tapi, hari ini beliau membayar lunas utangnya: mengorbankan jiwa dan raganya, untuk aku, anaknya! (*)

 

 

Bekasi, 17 Desember 2012. Untuk ibu, di mana pun kau berada…. Terima kasih atas pengorbanan, kasih sayang, dan doamu.

Penulis adalah seorang guru yang hobi menulis. Beberapa tulisannya, baik artikel maupun fiksi, pernah dimuat di sejumlah majalah. Ia juga telah menerbitkan sebuah buku berjudul Aku Bangga Menjadi Guru.

Advertisements