Cerpen Dewi Ria Utari (Kompas, 30 Desember 2012)

Angin Kita ilustrasi Moelyono

KAU bercerita tentang Angin pertama kali saat aku berusia 18 tahun. Kau 19 tahun. Cerita itu kau tuturkan setelah kita lulus SMA. Sebelum kita berpisah.

“Aku ingin menjadi Angin,” katamu sambil menyeruput es kelapa di belakang sekolah.

“Kenapa?”

“Kakekku pernah bercerita tentang Angin yang sering datang ke kampungnya setiap sepuluh tahun sekali. Dan setiap sepuluh tahun sekali itulah penduduk desa bersiap menyambut kedatangannya.”

“Kenapa harus disambut?”

Kamu mengedipkan sebelah matamu, ciri khasmu jika kamu mulai iseng dan bersemangat memberitahu sesuatu yang menurutmu menarik.

“Di kampungnya tidak pernah ada Angin. Semuanya diam. Tak bergerak. Hanya manusia yang bergerak. Bayangkan kehidupan yang semuanya membeku. Meski Angin tak datang, kampung kakekku tetap sejuk. Tapi itu pun tidak mempengaruhi kerinduan warga kampung itu untuk melihat Angin. Karena saat Angin itu datang, semuanya menjadi bergerak. Daun-daun di pepohonan berkesiur, rumput-rumput bergerak kiri kanan depan belakang, dan yang lebih menyenangkan, anak-anak bisa bermain layangan.”

Aku setengah percaya mendengar ceritanya. Namun aku tak bisa menghalangi imajinasiku membayangkan kampung kakeknya. Sebuah kampung yang terletak jauh di pedalaman Sulawesi sana, tempat leluhurnya berada. Rumah-rumah yang terbuat dari kayu, sebagian berbentuk rumah panggung, dengan pohon-pohon kelapa di setiap halaman rumah. Sawah yang masih menguarkan bau lumpur yang lembab. Sesekali ular pohon akan merambat turun mencari tikus. Kehidupan yang selama ini hanya kudengarkan di buku-buku pelajaran sekolah atau lukisan-lukisan realis.

Kemudian kau meneruskan ceritamu, tentang persiapan para penduduk kampung itu. Mereka membersihkan kampung, menyiapkan pakaian terbaik mereka, mengambil beras terbaik dari lumbung desa untuk ditanak di dapur bersama yang terletak di balai desa. Ibu-ibu dan perawan kampung berkumpul di dapur itu, mencuci beras, menanaknya, sambil bertukar cerita tentang keluarga, tentang sawah, gunung yang tak lagi menyemburkan lahar, tentang panen, tentang hantu, roh leluhur, tentang babi hutan yang menyelonong masuk kebun, dan gadis-gadis yang mulai mengenal cinta.

Persiapan telah lengkap. Kini tinggal menunggu Angin. Yang ditunggu pun datang saat pagi belum merekah. Saat gelap belum terpercik warna kuning matahari. Perlahan Angin menyapa rumah pertama. Pelan. Berembus dengan aliran yang tetap. Tak kencang, tak pelan. Satu per satu penduduk keluar dari rumah dan menemui Angin yang telah menunggu di lapangan. Anak-anak menghambur terhuyung-huyung keluar dari rumah dengan mata masih berair dan bertahi di sudutnya. Salah satu dari mereka itu kamu, di usia lima tahun. Perkenalan pertamamu dengan Angin itulah yang kemudian mengantarkanmu pada keinginan untuk menjadi Angin. Kelak. Ketika dewasa.

Di mata bocahmu ketika itu, Angin begitu keren. Begitu memukau. Sosoknya yang tinggi dan gagah dengan pakaian warna putih yang terang, dan seluruh penduduk desa bergantian mencium tangannya. Senyum Angin menyejukkan siapa pun yang memandangnya. Apalagi ketika menyentuhnya, bahkan saat menyentuh pakaiannya sekalipun.

Kharisma Angin menyedot seluruh inderamu. Kau begitu merekam kenangan pertemuan itu hingga bertahun-tahun kemudian. Apalagi ketika Angin mulai memilih perawan tercantik di kampungmu untuk menjadi ibu bagi penerusnya kelak. Ketika usiamu makin bertambah, kau makin bertambah kekagumanmu pada sosoknya, terutama dari cerita-cerita yang kau dengar tentangnya dari orang-orang tua di desamu. Keinginanmu menjadi Angin makin bertambah ketika kau mendengar perempuan yang dipilih Angin tidak bisa melahirkan keturunan bagi Angin. Saat itulah kau mendengar bahwa Angin akan mencari penerusnya kelak dari pemuda di desamu kelak ketika mereka berusia 20 tahun.

***

Aku tak lagi mendengar tentangmu begitu kita berpisah. Kudengar kamu kembali ke desamu dan menunggu usiamu menjadi 20 tahun. Namun ada pula teman yang bercerita kau menghabiskan sisa waktu setahun untuk berkelana dan kemudian kembali ke kampungmu tepat ketika kau berulang tahun ke-20. Aku tak tahu mana yang benar. Aku sendiri sudah disibukkan dengan dunia kuliah dan kampus yang lebih menjanjikan nasib baik bagiku daripada mempertahankan cerita absurd yang begitu kau pertahankan.

Ya, aku melupakanmu juga cerita yang menurutmu hanya kauceritakan kepadaku di belakang sekolah waktu itu. Aku menganggapnya tak serius karena aku tahu kau menceritakannya dalam pengaruh ganja yang kau campur dengan tembakau yang kau linting sendiri. Kau sempat menawariku seisap dua isap, tapi aku menolaknya. Ganja hanya membuatku doyan makan, bukan pikiran melayang seperti yang kau yakini. Namun yang kuyakini ketika itu bahwa ceritamu tak lebih dari khayalan semata.

Barulah 15 tahun kemudian, yaitu saat ini, cerita itu kembali terngiang di otakku, ketika aku mendengar pemberitaan di sejumlah media massa tentang kehancuran yang dialami sejumlah kampung di Sulawesi. Salah satunya desa tempat kau lahir. Kondisinya sangat memprihatinkan. Banyak rumah luluh lantak dan yang lebih menyedihkan, ada sekitar puluhan anak lelaki hilang. Konon kabarnya situasi sangat mencekam di sana. Jam malam diberlakukan, dan diadakan ronda keliling untuk menjaga keluarga-keluarga yang memiliki anak lelaki. Pemberitaan ini memang tak ada kaitannya dengan ceritamu tentang Angin, tapi entah mengapa aku teringat kamu begitu membaca kampungmu ikut terkena musibah ini.

Kenanganku tentang ceritamu barulah terangkai menjadi kisah lainnya ketika aku bertemu denganmu. Suatu malam kamu datang ke rumahku tanpa kutahu dari mana kau mengetahui kediamanku. Kamu datang dalam keadaan lusuh, letih, namun masih menyisakan kekonyolan kanak-kanakmu yang dulu selalu menggelisahkan guru-guru. Sosokmu yang lebih legam dan kini berambut cepak, pipi dan dagu yang dipenuhi bulu, membuatmu sangat terlihat seperti musafir yang lama tak mengenal kasur dan air. Matamu yang masih setajam dulu terlihat lelah. Malam itu kupandangi dirimu yang tertidur lelap di sofa kamar tamuku.

Perlu kesabaran dan usaha keras untuk memintamu bercerita keesokan harinya. Beberapa kali kulihat kau menghela napas, dan matamu seolah mempertimbangkan sesuatu. Kau begitu bimbang, dan berulang kali memandang langsung ke mataku seolah mencari sebentuk kepercayaan.

“Kau ingat tentang Angin?” akhirnya kau membuka suara setelah aku bertahan membisu selama dua jam menunggumu bicara.

Aku mengangguk. Dan setelah sekitar sepuluh menit terus menatapku mencari keyakinan.

Kemudian mengalirlah kisah tentang perjalananmu selama 15 tahun. Kau berkelana mencari Angin. Mencari cara untuk menjadi Angin. Bukan perkara gampang karena banyak ujian yang harus kau lewati untuk bisa membuktikan kemampuanmu. Bahkan kau sempat lelah dan selama lima tahunan terjebak dalam ujian yang sengaja dipasang Angin.

“Aku mencoba semua benda-benda itu yang hanya kau dan Tuhan yang tahu kenikmatannya, Lan. Dan ketika kau memutuskan berhenti, hanya kau dan Tuhan saja yang tahu kesakitannya. Aku kemudian kembali ke Sulawesi, ke kampung kakekku. Selama beberapa tahun di sana, aku menyembuhkan diri dan mulai mendapatkan ketenangan. Dan saat itulah aku mendengar tentang keberadaan Angin.”

Tanpa merinci dengan detail, kau menceritakan bahwa justru masa-masa ketika kau mencandu itulah Angin mendengar tentangmu. Dan itu sudah cukup menjadi bekal bagi Angin untuk memilihmu. Diantar oleh kaki tangannya yang berhasil menemukanmu, kamu bertemu dengan Angin.

“Sejak itu aku menjadi bagian dari Angin. Aku pergi ke tempat-tempat yang ia minta. Aku melakukan apa pun yang ia ingin untuk kulakukan.”

“Apakah semua yang ia minta sesuai dengan keinginanmu? Dengan bayanganmu selama ini tentang Angin?”

Kau terdiam cukup lama.

“Jujur, setelah bertahun-tahun kemudian aku lelah. Namun itu sudah pilihan yang kuinginkan sejak kecil. Aku belajar tentang pengabdian, loyalitas sebuah tugas. Apa pun konsekuensinya. Apa pun jenis pekerjaan itu. Dengan Angin, aku bisa menjadi apa saja. Aku suatu hari menjadi gembel, suatu hari kemudian menjadi satpam, bisa saja suatu hari aku ada di tengah pesantren. Awalnya aku menikmati semuanya, tapi lama-lama aku tak lagi tahu untuk apa Angin menyuruhku seperti itu.” Matamu menerawang jauh penuh kelelahan.

Aku tak lagi bertanya lebih lanjut. Sisa hari itu kita lebih banyak bercerita tentang masa lalu. Tentang teman-teman kita, tentang pekerjaanku, tentang rencanaku, dan tentang keluarga kita masing-masing. Kau mungkin akan kembali ke Sulawesi, ke kampung kakekmu. Tapi kau tak terlalu yakin.

“Mungkin setelah aku bicara dengan Angin, aku akan kembali ke sana,” ujarmu lirih.

Sore hari, kau mengajakku ke pantai. Kita memandangi matahari yang tenggelam dengan cepat, menyisakan warna abu-abu di air laut. Saat itulah kau memintaku untuk selalu menantimu setiap matahari tenggelam.

“Aku akan menjadi angin untukmu, Ilan. Angin yang mengalir pelan dan menenangkanmu. Yang tak kau sadari kehadirannya tapi bisa kau rasakan. Aku akan menjagamu.”

Itulah saat terakhir aku bertemu denganmu, Enzo. Tak lagi kudengar keberadaanmu. Apakah kau telah menjadi Angin? Apakah kau kembali ke kampung halamanmu? Apakah kamu berkelana menyusuri setiap pulau di negeri ini?

Setahun setelah kepergianmu aku telah berhenti mempertanyakan kehadiranmu. Aku cukup mengikuti pemberitaan di surat kabar atau televisi untuk mengikuti jejak-jejak keberadaanmu. Di tempat-tempat itulah aku yakin kau tengah menjadi Angin yang kadang menderu, mengalir, berputar, atau menghantam memporakporandakan.

Aku tak hendak mempertanyakan pilihan hidupmu. Hanya keyakinan bahwa kau tahu mana yang terbaik buatmu. Karena selalu ada kebaikan dalam dirimu yang selalu meyakini adanya kebaikan di setiap orang. Entah tengah menjadi Angin seperti apa dirimu, aku yakin Enzo, kau akan baik-baik saja, karena aku menunggumu di sini.

Setiap senja, menjelang matahari terbenam, aku duduk di pantai ini. Pantai yang sama. Pasir yang sama. Air berwarna abu-abu ketika terang mulai menyurut yang masih sama. Busa ombak yang sama. Hanya kini ada yang tak sama lagi. Aku sudah memiliki Angin yang kadang menderu, kadang pelan, kadang letih, kadang berhenti, kadang menangis, Angin yang tak lagi membuatku terlalu kehilangan dirimu, atau merindumu terlalu sangat. Angin yang berlarian menjejaki pasir, tertawa keras mempertontonkan gigi-gigi kecilnya, dengan sepasang mata menatap tajam ke arahku, sama sepertimu.

Angin kita, Enzo, kini menemaniku setiap senja dan kami sama-sama menantimu pulang. (*)

 

 

Jakarta, 2012

Advertisements