Bilamana Bagaimana


Cerpen Dias Novita Wuri (Koran Tempo, 23 Desember 2012)

 

SEMINGGU kemudian tanpa disangka-sangka, gadis berjilbab itu kembali ke salon Donna. Ia muncul di ambang pintu, melompat-lompat masuk dengan hak sepatunya yang mengetuk-ngetuk di atas ubin geripis dan membuat kaget satu-satunya pengunjung yang saat itu sedang Donna poles mukanya. Melihatnya Donna pun menjerit bahagia, dan ia dan gadis itu segera berpelukan, sepasang sahabat dekat dalam waktu yang terlampau singkat.

“Annisa! Ya, kan?” seru Donna.

“Iya, ini Annisa. Apa kabar, Mbak? Aku main ya! Sekalian, kepingin nyalon-nyalon sedikit nih.”

Donna senang sekali. “Kamu mau creambath? Ayo sini. Sama aku nggak usah bayar.” Ia berpaling ke arah asistennya. “Lili, tolong kamu urus Mbak Suti—pakai eyeshadow yang emas, jangan yang biru.”

Si asisten langsung patuh seperti robot, sementara gadis bernama Annisa itu sekarang sedang melepas jilbabnya dan menyampirkan kainnya di atas tumpukan majalah mode di meja. Donna tertegun; baginya, perempuan yang melepas jilbab di depan orang lain sama saja seperti melepas baju. Tapi Annisa melakukannya dengan wajar dan tanpa gamang. Ia kini tertawa. “Mbak, rambut aku dicat kayak punya mbak dong.”

Di balik kain itu ternyata ada rambut yang ikal dan panjang. Donna menyentuh helai demi helainya dan merasakannya berdesir di ujung-ujung jari. Rambut lembut begini sudah pasti dikeramas dengan sampo paling mahal yang bisa ditemukan di supermarket. Teksturnya sehalus sutra, tidak ada yang bercabang, tebal dan kuat dan mengundang cemburu. Rambut lembut begini tidak sering terpanggang di bawah matahari.

“Wella yang hazelnut?” tanya Donna.

“Pokoknya persis kayak punya mbak,” kata si gadis.

Maka Donna melakukannya. Dengan cekatan, tangannya membuka sebotol Wella Koleston Hazelnut 307/3. “Baru juga seminggu yang lalu,” katanya, dan Annisa tertawa lagi, meskipun sebenarnya tak perlu. Karena apa sih yang lucu? Aroma khas krim cat rambut menguar menerpa hidung Donna, dan perjumpaan mereka seminggu yang lalu hidup lagi di benaknya.

 

GADIS itu basah kuyup dari kepala sampai kaki. Ketika ia dibawa masuk ke dalam, kedua matanya nanar menelusuri kaca-kaca cermin, handuk-handuk kecil yang agak dekil, serta setumpuk majalah mode yang sudah ketinggalan zaman satu dekade.

“Hari ini ada orang mati gara-gara saya,” ceracaunya. Ia meremas-remas tangannya yang putih kurus dan rapuh sementara air matanya mulai tergenang, bercampur-baur dengan air hujan. “Orang itu betul-betul mati, ia tergeletak di jalan di tengah genangan darahnya sendiri.”

“Huss. Ini minum teh dulu,” kata Donna.

“Teh? Saya tidak ingin teh.”

“Ini teh Dilmah rasa mint yang lagi terkenal itu, enak sekali. Tertulis di bungkusnya, terbuat dari daun peppermint. Aku seduh dua cangkir; untukmu dan untuk diriku sendiri. Mari, mari. Kamu panik. Teh ini akan membikin badanmu hangat sampai ke kaki-kaki.”

Gadis itu menerima tehnya dalam kebingungan. Ia mengenakan jilbab yang diikat artistik dan blus lengan panjang indah di atas celana jins. Seorang jilbabe, bukan sekadar perempuan berjilbab. Wajahnya berias tapi kini sudah luntur karena deraan air hujan, dan ada lelehan hitam kebiruan maskara yang tampak mengerikan di pipinya karena sekarang ia menangis tersedu-sedu.

“Ya, itu gara-gara saya! Malingnya mati. Orang itu mencoba mencuri tas saya dan saya menjerit. Ia dihajar massa habis-habisan. Saya melihat sendiri semuanya, kepalanya dihantam batu berkali-kali dan ada suara pecah yang terdengar sampai ke mana-mana.” Tiga butir air matanya menetes ke lengan Donna. Donna sedikit terkejut. Ketika air mata orang lain menyentuh kulit kita, entah kenapa rasanya lebih dingin, seperti teh yang dibiarkan setengah jam dan sudah menjadi suam-suam kuku. Kita tidak merasa demikian kalau kita sendiri yang menangis. Air mata kita selalu panas membara, membuat kita ingin menangis lebih banyak lagi.

“Huss, huss,” desah Donna tanpa daya.

“Saya habis dari kantor polisi. Mereka bertanya macam-macam tentang malingnya, tentang kejadian tadi siang. Saya cuma sedang berjalan saja di trotoar tapi tiba-tiba orang itu sudah memegangi tas saya. Tampangnya hitam dan seperti preman. Ia begitu menakutkan, begitu menakutkan, dan saya sangat takut. Saya teriak sekencang-kencangnya. Orang-orang langsung ramai berdatangan, beberapa tiba-tiba sudah membawa batu dan potongan kayu. Jadi malingnya dikeroyok. Saya tidak tahu pasti berapa banyak.” Mata si gadis yang berlinang-linang menatap Donna dengan pandangan memohon. Cangkir berisi teh Dilmah di tangannya bergetar keras. “Mbak, dia mati. Ya Allah, ya Tuhan, dia mati!”

“Aduh, Sayangku, sudahlah. Kamu harus melupakannya.”

“Saya sudah membunuh dia, kan? Dia mati karena saya. Mungkin dia punya anak dan istri. Mungkin dia memang perlu uang karena… karena istrinya sedang sakit… atau anaknya harus bayar sekolah, atau sesuatu—”

“Sudahlah, kita kan tidak tahu. Semua sudah terjadi. Yang sudah terjadi tidak bisa ditarik lagi….”

Tapi sekonyong-konyong, gadis itu pun pingsan.

Donna tidak sempat panik: ia refleks membaringkan gadis itu di sofa bututnya, meluruskan kedua kakinya dan mencopot kaus kakinya yang basah. Gadis itu bernapas dengan cukup teratur, syukurlah. Ia berlari mengambil minyak kayu putih di rak dan membubuhkan isinya sedikit di bagian atas bibir si gadis agar aromanya merasuk ke lubang hidungnya. “Mengapa kau hujan-hujanan di luar,” Donna bergumam sendiri seraya menghanduki sekujur tubuh si gadis dengan salah satu handuk kecil dekil itu hingga kering. “Dan siapa kau, Sayangku, begitu bersusahhatinya dirimu itu.”

Donna tadinya sedang duduk saja di sofa bututnya. Harinya pendek, tak banyak tamu yang datang, hanya beberapa ibu rumah tangga yang hendak pergi ke pernikahan dan ingin rambutnya ditata. Mereka bergosip dengan sibuk tentang artis-artis yang menikah atau punya anak di luar nikah. Lalu mereka pergi dan Donna tinggal bertiga lagi dengan dua pegawainya, seorang gadis SMA yang pendiam karena sedang jatuh cinta, dan seorang pemuda perantauan dari pulau lain dan mau bekerja apa saja—ia biasanya menyapu sisa-sisa rambut di lantai. Dua-duanya sedang pergi keluar. Jadilah Donna sendirian.

Gadis berjilbab itu sudah sadar sedikit-sedikit.

“Halo lagi,” sapa Donna. “Sudah agak mendingan?”

“Saya di mana?”

“Ini salon kecantikan.” Salon kecantikan ini mungil, sederhana, dihimpit salon-salon kecantikan lain yang juga mungil dan sederhana. Semua salon ini berderet beramai-ramai di kedua sisi jalan besar di dekat sebuah terminal bagaikan segerumbul ilalang, semua pemiliknya adalah waria, seperti Donna sendiri. Salah satu salon dihiasi dedaunan dan bunga-bungaan dari plastik di jendela depannya, salon yang lain begitu jelek dan jorok, salon yang lain lagi begitu sedikit pengunjungnya sehingga hampir bangkrut, namun pintunya masih ditempeli pengumuman ‘dicari kapster’ dilaminating yang sudah berbulan-bulan di situ. Salon Donna biasa-biasa saja. Letaknya di tengah-tengah, terkadang hingar-bingar, terkadang tidak. Di sore hari, supir-supir angkutan umum biru bernomor 106 senang nongkrong di terasnya untuk mengobrol dan merokok.

Di pagi hari, lalu lintasnya membuat depresi. Trotoar penuh penjual buah-buahan dan anak-anak sekolah bersama ibu mereka. Anak-anak turun dari dalam angkutan umum dan mengalami mabuk darat, ibu mereka berteriak sementara anak-anak itu berjongkok di depan salon Donna lalu memuntahi trotoar dengan cairan warna-warni. Para laki-laki kantoran berkemeja dan bercelana rapi bergegas mengejar bus, yang perempuan mengenakan sandal jepit tapi menenteng kotak sepatu di dalam kantong kertas. Mobil-mobil pribadi dikemudikan bangsat-bangsat yang tak berhenti menekan klakson, disundul, diserempet angkutan umum di belakangnya.

Di malam hari, banyak sekali makanan: warung bubur ayam, lontong sayur, nasi goreng, martabak asin dan manis, onde-onde mini menggunung di dalam kotak kaca, mie Aceh, burung goreng, tempe goreng dan tahu isi goreng yang pedasnya membikin mata serasa akan meloncat keluar. Donna menyukai burung goreng itu, kecuali jika ia sedang ingin berdiet.

“Salon?” tanya gadis berjilbab.

“Salon milikku, namanya Salon Mambo. Kamu sudah baikan?”

“Memangnya tadi saya kenapa?”

“Pingsan. Kamu sedang sangat sedih, dan kamu tiba-tiba pingsan.”

Ia sudah ingat lagi sekarang. “Oh! Maling itu.” Ia murung lagi.

“Sudahlah, Sayang,” kata Donna.

“Mbak cantik sekali ya,” kata gadis itu masih dengan matanya yang basah. “Boleh saya pegang rambut Mbak?”

Donna tercengang tapi ia mengangguk. “Ini baru aku warnai dengan cat rambut merek Wella yang hazelnut. Kamu suka, Sayang?”

“Suka sekali. Warnanya indah. Rambut Mbak juga indah.”

“Terima kasih, Sayang.”

Dulunya, tentu saja, Donna laki-laki. Tapi tentu saja ia tidak pernah menjadi laki-laki. Namun sejak dulu rambutnya sudah panjang dan indah, dan dari belakang ia menyerupai perempuan sejati. Baru-baru ini Donna memutuskan untuk mewarnai rambutnya dengan warna cokelat lembut—hazelnut, menurut tulisan di bungkus cat rambutnya.

“Mbak tampak cantik.”

“Masa iya?”

“Iya.”

“Perempuan memang sudah seharusnya cantik. Kita tidak cantik dari sananya saja, tapi juga harus berusaha. Setidaknya, harus suka mandi. Kalau mandi kulit harus digosok sampai bersih, tidak boleh ada daki yang ketinggalan. Habis mandi pakai wewangian. Rambut harus selalu disisir dan disikat, baju disetrika yang rapi.”

Gadis itu mengangguk.

“Kamu juga cantik, Sayang,” kata Donna. “Sudah lama pakai jilbab?”

“Nggak, baru-baru ini saja.”

“Kamu sendirian?”

“Mbak sendirian?”

“Aku punya dua pegawai, sedang pergi.”

“Aku punya suami bajingan.”

Donna tersenyum. “Huss, jangan ngomong begitu.”

“Sungguh.”

“Apa yang dilakukannya? Suamimu?”

“Nggak perhatian, suka main gila dengan pelacur. Bilangnya sibuk kerja, tapi dia senang-senang dengan pelacur di kantornya. Sekertarisnya di kantor betul-betul perempuan jalang.”

Di luar sana, hujan masih turun kendati sudah tidak sederas sebelumnya. Donna pernah melihat sebuah gambar di kalender, lukisan gadis yang ban sepedanya pecah jadi ia harus menunggu di pinggir jalan dalam hujan rintik-rintik, di kejauhan tampak siluet kota di senja hari dengan lampu-lampu berkelap-kelip buram. Cuaca seperti ini selalu berkesan senja hari yang sendu. Tidak ada yang menolong gadis itu membetulkan ban sepeda dan ia kebasahan sendirian.

Pintu salon Donna diketuk dari luar.

“Mungkin itu dia,” ujar si gadis berjilbab. “Suamiku. Biarkan saja di luar, biar dia masuk angin kehujanan.”

“Tapi kasihan lho.” Donna beranjak untuk membuka pintu, tapi gadis itu meraih tangannya.

“Mbak, tolong biarin aja.”

“Anissa! Kamu pasti di dalam, kan? Tadi aku lihat kamu masuk. Keluar, ayo kita pulang.”

“Tuh, memang dia,” kata gadis itu. “Pergi sana, bangsat!”

Diam. Pria di luar itu tidak memanggil lagi namun Donna melihat sosoknya di balik tirai jendela—ia pria tinggi besar dengan bahu lebar, agak gemuk, kepalanya tanpa rambut. Sejurus kemudian, sosok itu lenyap.

“Suamimu pergi,” kata Donna.

“Bagus deh, Mbak.”

Donna mengerutkan dahi. “Kalian sudah lama menikah?”

“Nggak juga, baru-baru ini saja. Kami sama-sama anak orang kaya dan orangtua kami berteman. Lalu suatu saat orang tua kami punya ide untuk menikahkan kami.”

“Ini, minum teh lagi.”

“Aku sebenarnya cinta sama dia, Mbak. Tapi dia nggak cinta sama aku.”

“Kok kamu bisa cinta sama dia?”

“Entahlah, Mbak. Menurut Mbak, kenapa?”

“Aku juga tidak tahu.”

“Mbak pernah mencintai seseorang seperti ini?”

Donna memikirkan pertanyaan itu, yang pada akhirnya tidak ia jawab. Sudah lama ia memikirkan pertanyaan itu bahkan sebelum gadis berjilbab ini datang.

Mungkin ia pernah mencintai seorang laki-laki atau beberapa laki-laki. Ia pernah mencintai laki-laki saat ia masih menjadi laki-laki dan pernah mencintai laki-laki saat ia sudah menjadi perempuan. Ia selalu menyukai tubuh bidang, suara yang berat, kulit kecokelatan laki-laki yang terpanggang matahari. Ia mencintai otot-otot yang begerak di balik lapisan kaus dan otot-otot di balik celana. Ia cinta pada apa yang ada di balik celana laki-laki. Kekasaran mereka, kejantanan mereka, cara mereka berteriak dan memaki, suara yang berat, cara mereka berpikir.

“Aku hari ini membunuh seseorang, Mbak.”

“Orang-orang yang mengeroyoknya yang membunuhnya, bukan kamu.”

“Mbak tidak tahu rasanya. Kalau aku tidak menjerit, ia tidak akan mati.”

“Kalau begitu, itu salahnya sendiri. Dia membunuh dirinya sendiri.”

“Mbak pikir begitu?”

“Memang kenyataannnya begitu.”

“Tadi pagi aku dan suamiku bertengkar di mobil dan suamiku yang bajingan menurunkan aku di jalanan. Kemudian aku dicopet dan copet itu mati dikeroyok orang-orang. Mungkin semua sebenarnya salah suamiku, karena ia betul-betul bajingan.”

“Boleh juga.”

“Suamiku menjemput di kantor polisi tapi lalu kami bertengkar lagi. Lalu di sanalah dia berada, di luar pintu salon Mbak. Tapi sekarang dia sudah pergi. Memang dia orangnya seperti itu. Dia tega. Dia selalu tega. Mbak, padahal bisa saja aku sedang hamil. Entahlah. Sudah telat tiga minggu.”

“Ya ampun, Sayang.”

“Nggak apa-apa.”

“Rumahmu di mana?”

“Jauh, Mbak. Tapi nggak apa-apa, aku bisa naik taksi. Di sekitar sini gampang kan cari taksi?”

“Ya sudah.”

Hujan berhenti.

“Aku harus pulang, Mbak.”

Donna mengantar gadis itu keluar lewat pintu. Di luar masih ramai seperti biasanya dan seharusnya. Gadis itu langsung mendapat taksi dan ia pergi.

Sekarang Donna sendiri lagi.

Sebelum Donna kembali masuk ke dalam salonnya, tetangga-tetangga warianya menyapa. Mereka sedang duduk-duduk santai di teras setelah seharian bekerja, sudah mandi dan sekarang mengenakan daster berbunga-bunga kedodoran. Donna memandangi mereka seraya bertanya-tanya mengapa mereka memutuskan untuk berubah menjadi seperti ibu-ibu, dengan daster yang jelek itu, wajah yang kasar dan letih, dan rambut yang digelung asal-asalan. Donna selalu berusaha tampil cantik. Saat tidur, ia mengenakan kamisol yang indah dan seksi, kadang menantang dalam pola totol-totol macan atau renda-renda. Sebagai perempuan kita harus selalu cantik, pikirnya.

Namun sebagai perempuan, ia masih belum sempurna. Donna berdiri berkaca di hadapan sebuah cermin dan dirinya sendiri yang langsing dan merana menatapnya balik. Rambutnya baru, berwarna hazelnut, lembut dan berkilauan. Ia cantik, tapi tidak sempurna.

Karena di balik kamisol renda-rendanya, ia masih memiliki kelamin laki-laki yang dibencinya, sebuah penis lemas menggantung, bergelung sembunyi di balik celana dalam renda berwarna ungu. Seekor ayam tidur, yang sewaktu-waktu bangun saat ada laki-laki tampan melintas. Donna teringat suami si gadis berjilbab. Betapa kurang ajarnya laki-laki! Donna masih memiliki kelamin laki-laki dan ia tidak menginginkan benda itu! Ini benda untuk menusuk, laki-laki hanya bisa menusuk dan perempuan selalu berdarah.

Donna beranjak dari cermin. Hidupnya belum berakhir, pikirnya yakin. Ia kuatkan hatinya. (*)

 

 

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: