Cerpen Mashdar Zainal (Republika, 9 Desember 2012)

Pelajaran Hujan ilustrasi Rendra Purnama

LELAKI itu kembali membuka gorden, mengintip bingar hujan di luar jendela. Langit hampir gelap, dan hujan masih saja berdebaman menikam apa saja. Lelaki itu menghela napas, ia benar-benar cemas. Cemas pada istrinya yang sudah hampir empat jam belum juga sampai di rumah. Mungkin ia takkan secemas itu jika isterinya tidak dalam keadaan hamil tua. Ia menyesal sudah menyuruh istrinya naik taksi seorang diri. Ia memang tak punya pilihan lain, hujan turun deras sekali dan ia lupa membawa jas hujan—yang biasanya ia siapkan di jok motor.

Lelaki itu membayangkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi jika ia nekat membonceng istrinya pulang dalam keadaan hujan sederas itu, dengan motor telanjang. Jalan menuju rumahnya begitu berkelok dan sangat licin bila hujan turun. Beberapa hari lalu seorang pengendara motor terjungkal dan terluka parah di tikungan jalan itu. Sebab itulah ia menyuruh istrinya untuk naik taksi. Sedangkan ia sendiri memilih nekat untuk menembus guyuran hujan yang begitu parah.

“Tolong kau bawakan tasku, handphone-ku ada di dalam,” tuturnya sebelum melesat pergi meninggalkan istrinya seorang diri di teras swalayan, tempat ia berbelanja kebutuhan persiapan lahiran.

“Iya, hati-hati, Mas, jalannya licin lho,” sambut istrinya singkat. Dan lelaki itu segera meluncur tanpa menoleh ke belakang lagi. Hujan turun deras sekali.

***

Lelaki itu sampai di rumah dalam keadaan kuyup sekuyup-kuyupnya. Selepas berganti pakaian dan mandi ia duduk di teras rumah dengan sebuah payung yang ia siapkan untuk menyongsong istrinya supaya tidak kehujanan ketika turun dari taksi. Menunggu taksi bukanlah pekerjaan yang memakan waktu, lagi pula, tempat itu tidak terlalu jauh dari sini, beberapa menit lagi pasti istriku datang, pikirnya. Ia mulai panik ketika satu jam istrinya belum juga datang. Ia ingin menghubungi istrinya—sudah sampai di mana sekarang, namun ia baru ingat bahwa handphone miliknya ada di dalam tas yang sekarang di bawa istrinya.

Lelaki itu memilih untuk masuk ke dalam rumah. Pasti sebentar lagi taksinya datang. Tak masalah ia berada di dalam rumah, toh kalau ada suara mobil berhenti di depan rumah pasti kedengaran. Tapi, hujan kali itu benar-benar berisik hingga kepanikannya bertambah-tambah. Untuk menenangkan diri, lelaki itu beranjak ke dapur dan menyeduh dua cangkir teh hangat, satu untuknya, dan satu lagi untuk istrinya. Sebentar lagi pasti istriku sampai. Dingin-dingin begini pasti akan sangat nyaman menyeruput teh hangat berdua-duan.

***

Lelaki itu kembali meyingkap gorden jendela. Hujan mereda sejenak dan kembali menderas. Dua cangkir teh mendingin, menguap di atas meja, yang satu masih utuh, yang satu tinggal separuh. Lelaki itu masih berdiri di balik jendela. Menatap ruahan hujan yang seperti ditumpahkan begitu saja dari bejana raksasa. Ia menatap nanar dua pohon kelengkeng yang berayun-ayun di depan rumah karena kibasan angin. Ia bertanya-tanya, sedang apakah istrinya sekarang. Apa ia baik-baik saja?

Entah mengapa, tiba-tiba ia membayangkan, ketika istrinya tengah menunggu taksi, tiba-tiba istrinya merasakan kontraksi pada janinnya. Lantas, sebelum taksi datang, beberapa orang membawa istrinya ke rumah sakit. Ia membayangkan, di sebuah ruang, di sebuah rumah sakit, istrinya sedang berjuang mati-matian untuk melahirkan bayi pertamanya. Ia membayangkan istrinya mengejan, bersimbah peluh, ketubannya pecah, bergumul darah, dan ia tidak ada di sana, di samping istrinya. Pasti itu sangat sulit, melahirkan tanpa seorang suami di sebelahnya, tanpa seorang suami yang menghibur payahnya, menyemangatinya.

Ia tersadar dari lamunan jauh itu ketika sebuah mobil menderum, melintasi depan rumahnya, hanya melintas, tidak berhenti. Ia baru sadar kalau ia terlampau khawatir, matanya sedikit berair. Tidak, itu tidak akan terjadi. Kata dokter, HPL istriku masih awal bulan depan, sekitar dua pekan lagi. Ia menghela napas berat dan kembali ke sofa. Merebahkan tubuh dan pikiran yang cemas.

***

Sekali lagi, lelaki itu menengok jam yang membeku di pusat dinding. Sudah hampir tiga jam lebih dan istrinya belum juga kembali. Langit sudah sempurna didekap gelap. Ia semakin khawatir. Sebenarnya ia sudah menyiapkan jas hujan dan bersiap untuk menyusul istrinya kembali. Namun hujan di luar semakin parah, deras sekali, lebih deras dari sebelumnya. Ia juga khawatir, jika istrinya sudah terlanjur naik taksi, perjalananya yang susah payah itu hanya akan berbuntut sia-sia. Saya akan menunggu sampai setengah jam lagi, jika setengah jam ke depan istriku belum datang, aku akan benar-benar menyusulnya. Tak peduli gelap, tak peduli hujan, aku akan menyusulnya, pikirnya berapi-api.

Sekilas ia mendengar deruman mobil melintas di jalan depan rumah. Itu dia, pikirnya. Maka, segeralah ia berlari menyosong deruman itu. Namun sayang, itu hanya deruman mobil tetangga yang lewat sepulang kerja. Ia kembali mengempaskan napas berat dan terduduk di sofa dengan tubuh lemas. Teh di atas meja sudah tandas. Ia berjanji tidak akan menyeruput teh milik istrinya yang ia buat sendiri. Ia ingin istrinya tahu, bahwa ia sangat peduli, bahwa ia sangat khawatir.

Sekali lagi, sayup-sayup ia mendengar suara deruman mobil. Entahlah, ia tidak yakin, apakah itu suara deruman mobil atau hanya suara hujan yang tak henti-henti. Dengan langkah terhuyung ia berjalan mendekati jendela. Membuka gorden yang bergoyang-goyang. Dan lihatlah! Di luar tidak apa pun kecuali hujan yang menambah kepanikannya. Mengapa hujan ini tidak juga berhenti, ia mulai menyalahkan hujan. Harusnya aku membawa sendiri handphone-ku, ia mulai menyalahkan handphone. Seharusnya aku membawa jas hujan, ia menyalahkan jas hujan. Ah, suami macam apa aku ini, ia menyalahkan dirinya sendiri.

***

Lelaki itu masih berdiri di muka jendela. Ia menyaksikan dua pohon kelengkeng di depan rumah menjadi buram seperti bayang-bayang. Hujan kali ini benar-benar parah. Serupa kabut-kabut air yang menyusun sebuah rencana tak terduga.

Entah mengapa, tiba-tiba ia membayangkan istrinya memanggil taksi yang salah. Ia membayangkan istrinya duduk kedinginan di jok belakang, sementara sopir taksi itu sesekali meliriknya dari kaca spion. Ia membayangkan, sopir taksi itu tidak membawa istrinya pulang, tapi membawa istrinya ke tempat sepi dan kemudian meminta uang dan perhiasan yang ada. Lantas istrinya diturunkan di sebuah tempat yang sepi pula. Istrinya menangis tak karuan karena takut. Terlebih-lebih ia membobot janin yang beratnya hampir tiga kilogram di perut. Pasti itu akan sangat sulit sekali. Ah, suami macam apa aku ini.

Ia terbuyar dari lamunan yang tidak-tidak itu ketika kilat di luar jendela menyambar tiba-tiba. Hatinya sesak. Ia ingin menangis. Ia benar-benar menyesal tidak membawa handphone-nya sendiri. Jika ia membawa handphone itu, ia takkan secemas ini. Ia bisa menghubungi istrinya kapan saja ia mau. Ia mengusap wajah tergesa-gesa dan kembali menyeruput teh yang tandas di atas meja. Ia ingin menghilangkan pikiran-pikiran buruk itu tentang istrinya, semua itu hanya ada di sinetron. Ia juga menyesal sudah terlalu banyak menonton sinetron. Ah.

***

Ini sudah terlalu lama. Aku tak akan menunggu lagi. Lelaki itu menyahut jas hujan yang sudah terlipat rapi di atas meja. Hampir empat jam sudah. Menunggu taksi tak mungkin selama itu. Ia harus segera menyusul istrinya kembali. Ia bergegas, mengenakan jas hujan, megeluarkan motor yang masih kuyup. Ia mengunci pintu dan melesat menembus hujan. Hujan yang sangat deras, sederas rasa khawatir yang meluap-luap di dadanya. Hujan bukanlah apa-apa. Sederas apa pun, ia akan tetap menembusnya.

Secepat kilat lelaki itu meluncur dengan motornya, berseliut dari tikungan ke tikungan, melesat dari jalan ke jalan, menembus hujan yang seperti tak peduli pada apa-apa. Dalam perjalanan yang kuyup dan gigil itu, lelaki itu terus menggumam do’a, ia terus memikirkan nasib istrinya yang juga belum kembali. Beberapa menit, ia telah sampai di swalayan tempat semula istrinya menunggu. Dan di sana, ia tidak melihat siapa-siapa. Ia bertanya pada beberapa orang yang melintas, kepada satpam yang berdiri di depan gerbang, dan tak seorang pun memberikan jawaban yang bisa membuatnya lega.

Tanpa banyak kata, bergegaslah lelaki itu ke rumah sakit terdekat. Sesampainya di rumah sakit, ia segera menemui resepsionis dan menanyakan apakah ada wanita hamil yang mungkin datang beberapa jam lalu, dan resepsionis itu menjawab tidak ada. Lelaki itu lemas. Ia meraih motornya dan segera kembali rumah. Hujan yang deras mendedas sudah liris menjadi gerimis-gerimis tipis. Ketika lelaki itu sampai di depan rumah, hujan sudah hampir reda.

Di teras rumah ia melihat sesosok perempuan tengah berdiri mematung, mengelus perutnya yang buncit. Tanpa sepatah kata, lelaki itu segera menghambur, memeluk perempuan itu erat-erat, seolah mereka telah terpisah begitu lama. Dan hujan pun kembali turun dengan derasnya. (*)

Ketika hujan turun berlarat-larat, Malang, akhir November 2012

*Cerita untuk istriku tercinta yang telah bersusah payah menanak cinta dalam berbagai bentuk.

Mashdar Zainal lahir di Madiun pada 5 Juni 1984, suka menulis puisi dan prosa. Novel terbarunya Iktiraf Sekuntum Melati (2012). Tulisanya terpercik di beberapa media lokal dan nasional. Saat ini aktif bergiat di Komunitas Sastra Budaya Lembah Ibarat Malang.

Advertisements