Cerpen Veven Sp. Wardhana (Koran Tempo, 9 Desember 2012)

Nisan Tak Bermakam ilustrasi Yuyun Nurrachman

#1. Kesaksian Entah

BANYAK yang sudah mencatat mengenai makam tanpa nisan. Catatan-catatan itu tergurat dalam banyak hikayat, juga babad, bahkan sejarah. Bisa saja itu makam massal, yang berisi mayat-mayat korban bencana, korban pembantaian, mati ramai-ramai bunuh diri, lalu karena jumlahnya sangat banyak dan dimakamkan dalam satu lubang, atau satu galian, atau satu kubangan, satu tonggak nisan yang ditancapkan sudah dianggap cukup untuk menandainya. Nisan itu sendiri tanpa nama. Satu nisan untuk sangat banyak jenazah sama maknanya dengan banyak makam tanpa nisan.

Kini: nisan-nisan ditancapkan di atas sehamparan lahan sebagai penanda bahwa yang dinisani adalah sebuah makam. Dinamakan makam karena di dalamnya ada jenazah yang disemayamkan. Ada mayat yang dikubur, atau ada kerangka manusia yang dipendam, atau ada abu hasil pembakaran yang diendapkan di dalamnya. Namun, yang belakang-belakang hari saya hadapi adalah begitu banyak beronggok nisan yang ditancapkan di salahsatu ujung gundukan tanah sebagai penanda ada jenazah di baliknya, ternyata jenazah itu sudah tak lagi ada pada esok harinya—begitu saja lenyap, tanpa sama sekali ada tanda-tanda habis dibongkar saat dinihari yang sangar.

Jenazah selalu buru-buru dimakamkan sebelum matahari benar-benar tenggelam. Tak ada yang menginginkan—bahkan karena alasan terpaksa sekalipun—menginapkan jenazah untuk dikubur esok saja. Kalau sampai mayat itu diinapkan, kata mereka, warga kampung kami akan membaui mayat yang terlambat dimakamkan itu. Apalagi jika yang meninggal itu bukan karena usia tua. Mayat yang tewas terbunuh, katanya, menguarkan bau yang sangat busuk pada tengah malam. Karena itu, jenazah buru-buru dimakamkan, sebisanya sebelum ujung cahaya matahari meninggalkan jejak senja; esoknya, sebelum cahaya matahari pagi menerobos rimbunan daun, yang tertinggal hanya nisan yang tertancap, dengan posisi yang sama persis dengan saat senja kemarin. Tak ada yang berubah. Tak ada yang bergeser. Tak lagi ada jenazah di balik gundukan tanah, yang posisinya sedikit pun tak tergoyah.

Baru senja kemarin….

#2. Kesaksian Penggangsir Makam

MAKAM itu terletak tepat di kaki tebing. Tebing itu sendiri menghadap ke arah matahari tenggelam, sehingga jika senja tiba, tebing itu seperti menjadi satu-satunya saksi yang menatap matahari yang perlahan terbenam menyusup di balik rerimbunan hutan, yang tak satu pun orang pernah menembus dan melintasinya. Hutan itu tampak lebih dari sekadar hijau kelam. Tentu, bukan karena hutan itu benar yang menyebabkan tak seorang pun memasuki dan melintasi hutan; pinggiran hutan itu sendiri dibatasi oleh endapan lumpur yang sesekali menggelegak dan menyemburatkan uap panas bercampur lelehan lumpur cair. Bahkan bau yang sangat menyengat dari genangan lumpur itu sudah membuat orang enggan mendekat.

Awalnya, penduduk mengebumikan jenazah di dekat-dekat pinggiran genangan lumpur itu. Namun, karena jarak wilayah pemakaman begitu dekat dan lumpur itu dirasa bakal merambat ke wilayah pemakaman, penduduk memilih mengalihkan tempat pemakaman yang sekalian saja jauh dari genangan lumpur. Pilihan yang paling mudah adalah menentukan lahan yang paling akhir ditimpa sinar matahari senja. Hamparan tanah yang paling akhir mendapatkan sinar matahari itu adalah kaki-kaki tebing itu. Lahannya juga yang paling mudah dicangkul dan digali di antara hamparan berpadas, keras, layaknya cadas.

Di antara deretan tanah yang terkadang gembur itulah penduduk menanam tumbuhan. Berbagai tumbuhan yang bahkan tak mereka kenal namanya. Ada yang memanfaatkan lembar-lembar daun untuk dimakan—jika memungkinkan—ada pula di antara jenis lain tumbuhan yang menumbuhkan buah, yang awalnya juga diragukan bisa dimakan ataukah bahkan mengacaukan pencernaan, yang bisa menghantarkan pada pencabutan nyawa, karena menyimpan racun dan tuba.

Tak ada umbian yang muncul dari akar tumbuhan yang tertanam. Saat ada yang mencoba menjebol akar salah satu tumbuhan, pangkal tumbuhan malah patah, sementara akarnya tetap tertanam di balik gundukan, dan ketika patahan akar yang masih terpendam dicoba digali, yang mereka dapatkan adalah bebatuan. Akar-akar yang tertanam itu telah berubah menjadi batu. Bahkan ada yang lebih keras dari sekadar batu…. Besi. Besi berserabut. Besi bertunjang. Tak ditemukan tumbuhan yang berbuah. Adanya hanya bunga—dan putik bunga itulah yang biasanya dipetik sebelum ditaburkan ke atas gundukan tanah pemakaman.

BEBERAPA butir putik bunga itu masih tertebar di atas tanah makam. Posisi buliran dan kelopak bunga itu sama sekali tidak berubah sejak kemarin senja ditaburkan setelah jenazah selesai dikebumikan. Kebetulan angin tak berkelebat. Dia, lelaki, tahu benar posisi kelopak kembang itu, karena senja kemarin dialah salah satu yang menjemba kembang itu sekaligus menebarkan sekuntuman kembang itu di atas makam.

Malam itu, saat semuanya lelap dan suara senyap, udara terasa nyenyap, dari balik rimbunan yang gelap lelaki itu mengendap. Dia biasa menggangsir makam. Dia gali tanah beberapa jengkal dari makam hingga kedalaman tertentu, lalu dia gali lagi ke samping ke arah makam hingga sebongkah lobang menembus sampai makam, bahkan persis di mana jenazah dibaringkan. Karenanya, pucuk-pucuk kembang di atas gundukan makam tak sempat talimburan.

Bukan jenazah itu yang dia arah. Barang-barang bawaan jenazah itulah yang hendak dia rayah. Cincin emas, gelang dan kalung emas, juga barang berharga lainnya. Penggangsir itu paham, jenazah yang dimakamkan senja kemarin tak disertai barang bawaan. Hanya berderet gerahamnya bersepuh emas.

Penggansir itu tak butuh gemuruh halilintar dan derasnya air hujan yang runtuh untuk menyembunyikan suara cangkulannya menggali dan menggangsir tanah di sekitar makam. Kelesik malam yang senyap, penduduk yang senantiasa berangkat tidur dengan cepat, semuanya bahkan menjadikan percikan debu pun bisa terbekap.

Penggangsir itu mendadak tercekat ketika cangkul dan linggisnya bahkan sudah melampaui jarak lokasi jenazah direbahkan. Penggangsir itu tidak mendapati sesosok jenazah itu. Cangkul dan linggisnya sama sekali bahkan tak terantuk kayu papan penyekat jenazah dari urugan tanah. Jenazah itu tak ada. Gigi-gigi bersepuh emas ikut lenyap.

“Siapa yang berani mendahului aku?” penggangsir itu bergumam.

Dia paham, di kawasan ini, tak ada yang seahli dirinya menggangsir makam. Dia paham, belum ada yang menggangsir makam itu, karena dia tak menemukan bekas tanah galian di sekitaran makam, sementara putik bunga di atas makam juga tak bergeser sama sekali, bahkan pun setengah senti.

#3. Kesaksian Bunga Rumah Minum

BUNGA bukan nama saya. Hanya saja, orang-orang yang datang ke rumah minum kami senantiasa memanggil saya Bunga. “Kamu satu-satunya perempuan di sini. Karena itu kamu dipanggil Bunga,” Pak Nangla, pemilik rumah minum membisik ke telinga saya.

Istri Pak Nangla juga perempuan. Saya bukanlah satu-satunya perempuan di rumah minum ini.

Saya hanyalah salah satu pengantar minuman yang dipesan para tamu di rumah minum atau kedai tempat kami. Saya hanya pengantar, bukan pemilik, bukan salah satu pemilik kedai—jadi, salah besar saya katakan “kedai kami”. Saya sebut “kedai kami” lebih untuk menggampangkan penyebutan. Saya mengambil gelas-gelas berisi air minum, meletakkannya di atas nampan, untuk kemudian saya hantarkan ke meja para tamu yang memesan. Ada yang memesan air butek warna kelam, campuran air panas adukan serbuk entah apa; ada yang menginginkan air hangat berwarna kecoklatan; ada juga yang hanya memesan air bening dingin—dan itu tak perlu dimasak lebih dulu. Kata beberapa tamu yang pernah datang, air yang memancar dari belik [1], perigi kecil di belakang kedai kami langsung layak tenggak. Jika kami harus menjerangnya, itu lebih untuk melarutkan serbuk yang akan sempurna jika menggunakan air mendidih.

“Pak Nangla harus menjaga air perigi Bapak. Jangan sampai tercemar, jangan sampai ada yang jahat menaburkan racun…,” kata beberapa di antara tamu yang datang. Mereka, tamu dari seberang. Maksud saya, dari seberang hutan, yang harus melewati lumut licin dan endapan lumpur panas yang terkadang memuncrat dadakan.

Pak Nangla juga tak tahu nama asli saya. Bahkan Pak Nangla tak tahu siapa orangtua saya. Katanya, dalam sebuah percakapan diam-diam dengan istrinya, yang sempat saya curi dengar dari bilik sebelah, saya adalah sosok yang tak jelas asal-usuknya. Tak hanya saya sebetulnya, istri Pak Nangla juga tak jelas silsilahnya. Kejadiannya begitu saja terbentang di hadapan. Kami sama-sama merasa baru siuman. Saya terbangun di bawah kursi rumah minum. Pak Nangla terbangun di bawah ranjang di dalam kamar, berdekapan dengan seseorang, sama-sama dalam keadaan telanjang. Maka perempuan itu dianggap sebagai istrinya.

“Kalau saja waktu bangun itu yang ada dalam pelukan itu Bunga, pastilah Bunga istriku,” kata Pak Nangla setengah berbisik pada istrinya. Dia hendak mengatakan bahwa dia merasa beruntung yang ada dalam pelukannya adalah yang kini menjadi istrinya. Bukan karena dia lebih cantik ketimbang saya, tapi karena usianya tampak lebih sepadan dengan Pak Nangla dibandingkan dengan usia saya yang sangat jauh lebih muda—dan saya memanggilnya Bu Nangla, sekalipun kami tahu nama aslinya Qodwei.

SAYA hapal benar: sebentar lagi suara pintu kedai kami akan dikuak lebar-lebar oleh serombongan orang dari seberang. Seberang hutan, seberang kawasan. Suara kulik burung nasar [2] yang memekik di atas bubungan, setelah sebelumnya memusar-musar di langit, menjadi penandanya. Begitu selalu. Setelah daun pintu kedai dikuak dan menutup kembali dengan sendirinya—setelah beberapa orang melintas—burung pemakan bangkai itu ikut meliuk menerobos masuk kedai dan hinggap di salah satu cuatan kayu di atas kami, untuk kemudian bertengger.

Hmmm, siapa lagi yang akan duel hingga senja hari ini? Siapa pula yang bakal jadi bangkai—dan buru-buru dikubur sebelum matahari benar-benar tenggelam menyelusup dan disungkup dalam rimbunan hutan?

Seperti itulah biasanya. Saban kali rombongan yang kedatangannya ke kedai kami disertai burung nasar itu, seusai makan siang, bahkan saat makanan baru mulai disantap, selalu ada pertikaian yang diawali oleh mereka yang saling mengata-ngatai dan diakhiri dengan baku pukul yang dipungkasi oleh tersungkurnya salah satu dari mereka.

Saya semakin hapal: suara gebrakan dari kayu balok yang dipukulkan ke papan kayu muncul dari arah dapur. Untuk itu, saya buru-buru segera menuju arah dapur, karena minuman yang dipesan para tamu sudah siap saya pindahkan ke nampan untuk segera saya suguhkan ke mereka.

Saya terus belajar menghapal: jika ada suara meja digebrak, itu pasti para tamu kedai memukulkan kepalan tangannya ke atas meja di hadapan mereka. Jika bukan karena ada yang marah pada kami yang dianggap lamban melayani pesanan, bisa jadi itu gebrakan tamu yang ingin menambah pesanan minuman, atau hendak membayar karena perut mereka sudah dirasa cukup kenyang. Saya benar-benar harus belajar untuk bisa membedakan macam-macam suara meja digebrak, termasuk gebrakan yang nyaris menjadi dentuman—karena yang dihantamkan ke atas meja adalah genggaman tangan—itu pertanda ada tamu yang murka pada tamu lainnya, entah lantaran apa. Saya akan tahu musababnya jika mendengar isi kata-kata yang saling mereka serapahkan.

Kali ini saya dengar dua suara gebrakan dalam waktu hampir bersamaan. Dalam dentuman yang sama berdentam. Muasalnya dari meja yang sama, meja serombongan yang disertai seekor burung nasar. Di antara mereka telah terjadi saling gebrak.

“Diam-diam kau menikam dalam lipatan!” tuding salah seorang.

“Kamu sendiri menikam kawan setilam!” balas satunya.

“Kau tebar sesuatu ke perigi agar kamu punya alasan membantu Pak Nangla untuk mengelola sucinya air perigi,” tuding salah seorang.

“Kamu tak punya cukup bukti. Tak ada bukti apa pun untuk membuktikan alasan itu,” tangkis satunya.

“Bukan alasan itu yang penting. Tapi, kamu diam-diam mendekati, kamu tempel anak Pak Nangla,” sembur salah seorang.

Anak Pak Nangla? Tak ada lain, itu saya.

“Kamu perdaya Bunga!”

Nama saya disebut.

“Kamu pelet Bunga!”

Saya tak mendengar nama saya disebut lagi, karena seseorang satunya kembali menggebrak meja lebih keras.

“Jika kau cemburu, tak pantas kau bawa-bawa ke persoalan bersama kita!”

Saya tak tahu, apa benar salah seorang itu cemburu, karena saya tak pernah merasa dia  dekati. Hanya yang satu itu yang mendekati saya. Bahkan mendekap saya. Saya merasa nyaman berada dalam dekapan yang satu itu. Ada rasa hangat menjalar dalam tubuh saya, dan itu bukan kehangatan pertama. Saya merasa sudah pernah merasakan sebelumnya—entah kapan. Saya merasa tenteram—entah kenapa.

“Dengan mendekati Bunga, kamu bisa punya alasan untuk buang air kecil di bilik dekat belik.” Seseorang menuding satu lainnya.

Saya ingat, sehabis kami bergumul, seseorang satunya beringsut pamit ke balik bilik. Katanya, mau cuci muka. Saya sedang berada dalam kelelahan yang sangat. Malam menyengatkan rasa hangat.

Ketika saya mulai merasa berhasil menguntai lagi ingatan saya, burung nasar itu mendadak meliuk meninggalkan tempatnya bertengger sambil mengibaskan sayapnya di atas para pengunjung kedai, menuju keluar kedai. Saya paham, perkelahian dua lelaki satu rombongan itu segera dilanjutkan di halaman luar kedai.

Saya mendadak disergap rasa cemas. Saya mengkhawatirkan lelaki yang kerap mendekap dan menyingkap tubuh saya itu gagal memenangi perkelahian. Sedari kedatangannya tadi saya membayangkan dia tak ikutan kembali ke seberang hutan seberang kawasan bersama-sama rombongan sebagaimana sering dia lakukan.

Firasat saya terbukti. Lelaki itu langsung terkapar begitu dia mengambil ancang-ancang pasang kuda-kuda. Lelaki sebelumnya begitu mendadak menyarangkan belatinya ke dada lelaki saya.

Burung nasar terbang menjulang. Kuliknya seperti suara jerit panjang menancap batas langit bersamaan dengan membenamnya belati itu ke ulu hati lelaki saya yang tak sempat memekik menahan rasa sakit. Dan burung itu kemudian menukik meliuk-liukkan badannya sebelum kemudian melesat menuju arah hutan seakan menjadi penunjuk jalan rombongan kembali pulang ke seberang.

Matahari redup. Senja mempersegera temaram. [3] Penduduk segera merubung tubuh yang terkapar itu untuk segera dikuburkan. Saya meminta izin Pak Nangla untuk beberapa bentar meninggalkan kedai. Saya hendak mengantar kekasih saya ke pemakaman. Sekawanan rombongan sudah lebih dulu mencongklang kuda-kuda mereka yang menghela kereta menyeberang hutan menyeberang kawasan.

Pemakaman selesai bersamaan dengan kian menipisnya bias sinar matahari senja. Saya sendiri yang menancapkan kayu nisan di ujung gundukan. Saat satu per satu yang memakamkan kekasih saya meninggalkan tempat pemakaman, saya memilih tinggal bersimpuh di salah satu sisi makam kekasih saya. Saya ingin merasakan sisa-sisa kelebatan kenangan kami membilas-bilas hati saya.

“Saya sepertinya sudah pernah ketemu kamu sebelumnya,” kata saya pada kekasih saya.

“Itu tanda berjodoh, Bunga. Tapi, maaf, aku sama sekali belum pernah mengenal perempuan sebelum kamu.”

“Tapi aku merasa pernah bersamamu sebelum-sebelumnya,” saya menegaskan.

“Mungkin bukan aku yang kamu temui. Mungkin lelaki lain. Bisa saja kamu sudah pernah kelonan dengan lelaki lain.”

“Kok….”

“Tak apa, Bunga. Tak soal untukku. Aku tetap mencintaimu. Maaf, apakah kamu juga sudah pernah ham…, sudah pernah merasa mengandung?” Kekasih saya mengelus perut saya yang sedikit lebih mengeras. Ada janin di dalamnya. Janin yang tumbuh setelah kekasih saya kerap mendekap, menyingkap, dan menyelinapi tubuh saya.

Berarti masih ada yang tersisa yang ditinggal kekasih saya. Janin dalam perut saya adalah bawaan lelaki saya yang harus dibawa serta jika dia meninggal.

“Aku tetap sayang kamu, Bunga,” lelaki saya meyakinkan saya. Seraya berkata demikian, dia keluarkan sekeping binggel [4] emas dari balik pinggangnya, yang kemudian diselusupkan ke pergelangan kaki saya. “Ini tanda aku terikat kamu, kamu terikat aku. Kita saling terikat.”

Ah, janin bukan semata milik lelaki saya. Itu milik kami. Milik lelaki saya yang masih ada di saya tinggal binggel emas di pergelangan kaki saya. Binggel itu masih milik lelaki saya karena kami belum resmi mengikatkan diri. Saya harus sertakan binggel ini bersama jenazah lelaki saya di balik gundukan makam.

Angin berkelebat. Udara dingin menjilat-jilat. Sekeliling gelap sangat. Hanya karena makin terbiasa, mata saya masih dapat melihat yang berjarak dekat.

Cepat-cepat saya lepaskan binggel di kaki saya. Saya tak tahu bagaimana caranya menyertakan binggel itu bersama jenazah kekasih saya. Di saat saya memikir mencari cara untuk memasukkan binggel itu ke balik gundukan makam, tanah tempat saya taruh binggel itu tampak mendadak melunak, dan binggel itu membenam. Begitu cepat membenam sampai-sampai saya gagal menahannya agar binggel itu tak terserap gundukan tanah yang mendadak gembur.

Saya bongkar makam lelaki kekasih saya untuk meyakinkan bahwa binggel itu benar-benar sudah bersama bapak bagi janin yang ada dalam perut saya. Saya gali dengan cepat gundukan tanah yang belum benar-benar mengeras itu. Binggel itu sudah benar-benar lenyap, seperti mencair dan merembes menuju jasad jenazah lelaki saya.

Tidak hanya binggel, gelang kaki itu, jasad lelaki saya juga tak saya temukan. Seperti ada yang menyerap. Seperti ada yang menyesap. Lesap.

SAYA tak mau lagi menghapal suara burung nasar dan derap kaki-kaki kuda mencongklang menyeret kereta berisi sekelompok orang dari seberang. Saya enggan menghapalnya karena tak ada lagi lelaki saya dalam kelompok yang datang esoknya. Saya mendengar mereka memasuki rumah minum kami. Saya dengar salah seorang dari mereka bertanya pada Pak Nangla: apakah jasad kawan mereka yang dikubur kemarin senja—setelah terkapar kalah ditikam belati kawan lainnya—juga sudah lesap pagi tadi.

Saya tak mendengar jawaban Pak Nangla. Sejak kedai dibuka pagi tadi, Pak Nangla menyarankan agar saya beristirahat tak melayani pengunjung rumah minum kami. Saya berada di balik bilik.

“Tampaknya, petaka akan terus terjadi di kampung ini, Pak Nangla,” seseorang berkata. Saya tak hendak menghapal itu suara siapa. Suara lelaki yang berduel dengan kekasih saya ataukah seseorang yang dituakan dalam kelompoknya atau….

“Mayat yang hilang belum lama setelah dikubur adalah petaka. Tanda-tanda bencana,” seseorang yang tadi menambahkan.

“Penyebab petaka itu harus dicari. Pak Nangla bisa kabarkan itu pada penduduk. Pada pengunjung kedai Bapak….”

“Penyebab itu ada di kawasan ini sendiri.”

“Mungkin ada yang murtad, berpindah keyakinan?”

Tak ada suara yang menanggapi.

“Dulu, ada sebuah kerajaan yang didera wabah penyakit gara-gara ada raja yang mengawini ibu kandungnya sendiri.”

“Sebelumnya, raja itu membunuh ayah kandungnya.”

“Raja itu kemudian mencucuk kedua belah matanya karena merasa gagal menggunakan matanya untuk melihat ketidakberesan yang ada di kawasan yang dia perintah. Dia cucuk matanya karena dia bertekad hendak melihat dengan mata batinnya.”

Saya ingin menyela pembicaraan di luar bilik. Saya berharap Pak Nangla, atau Bu Nangla—Qodwei!—menimpali kelompok orang dari seberang itu. Saya berharap mereka menegaskan: di kampung kami tak ada raja.

#4. Lagi, Kesaksian Entah—Yang Lain

DI kemudian waktu—entah berapa puluh tahun kemudian—penduduk kawasan itu tak pernah lagi memakamkan jenazah di tanah lapang atau di dataran biasa. Jenazah dimakamkan dalam batu yang lebih dulu dilobangi, yang banyak ditemukan di pinggir jalan; atau dimakamkan dalam goa-goa di tebing yang susah dijangkau. Jika di kawasan itu tak didapatkan bongkahan-bongkahan batu besar yang cukup untuk menampung jenazah, juga tak ada lereng tebing, mayat itu dimakamkan dalam rongga pokok pohon besar yang menjulang ke langit.

Ada yang mencatat: jika yang meninggal itu tak mempunyai keluarga, atau kerabat, atau tetangga yang ringan tangan memakamkannya, jenazah itu akan mencari sendiri lokasi pemakamannya—mengembara hingga menemukan batu besar berlobang, tebing bergoa, pohon besar yang menusuk cakrawala. (*)

Lambhuk, Aceh; Makale, Tana Toraja, Januari 2006-Januari 2011; Jakarta, November 2012.

Catatan:

[1] belik: mata air kecil.

[2] burung nasar: Rüppell’s Griffon Vulture (Gyps rueppellii).

[3] Terkait frasa “senja mempersegera temaram”, di kemudian waktu, saya temukan (lagi) lirik “gerimis mempercepat kelam” tulisan Chairil Anwar, dalam sajak Senja di Pelabuhan Kecil (1946).

[4] binggel: gelang kaki.

Veven Sp. Wardhana, sejak akhir 2005, bekerja di BUMN Jerman. Lebih banyak menulis tentang budaya massa, beberapa karya fiksinya: Panggil Aku Pheng Hwa (kumpulan ceritapendek, 2002), Dari Mana Datangnya Mata (kumpulan ceritapendek, 2004), Stamboel Selebritas (novel, 2004), dan Hilang Identitas di Metropolitan (film animasi, 2011—sebagai creative advisory dan penulis lirik lagu“Rap Jatidiri”).

Advertisements