Cerpen Maggie Tiojakin (Kompas, 2 Desember 2012)

Kota Abu-Abu ilustrasi Nunung Rianto

TERLETAK di ujung dunia, di mana hujan turun tanpa henti dan matahari terus bersembunyi di balik awan gelap, kota ini menelan, mengunyah dan melepehkan segala macam warna hingga kusam tanpa nyawa. 

Merah, kuning, biru, hijau, jingga, ungu–semua tampak sama saja jika dibalut sendu. Hanya ada satu warna yang konstan di sini; yaitu abu-abu. Bahkan air laut yang mengelilingi tepian kota tampak keabuan. Begitu juga dengan langit yang memayungi serta tanah yang jadi pijakan kami.

Sesekali ada saja warga kota yang pergi melanglang buana, mengelilingi dunia, dan kembali membawa segenggam tanah merah atau daun kering yang telah kemuning. Cerita petualangan mereka selalu beragam dan sangat menarik untuk dijadikan anekdot penghibur di saat berkumpul. Ada satu kota di garis lintang ini dan bujur itu yang sarat akan lampu-lampu berwarna, di mana salju turun seputih kapas dan empat musim datang dan pergi silih-berganti. Ada pun kota lain yang didominasi hanya oleh warna emas–di mana matahari bersinar terik sepanjang hari dan para penduduknya berkulit hitam legam. Atau kota lain lagi yang menampakkan warna-warna agraris, datangnya dari hijau rerumputan, kuning jerami, merah bunga mawar serta birunya langit.

Suatu malam, aku dan istriku, Greta, tak sengaja papasan dengan seorang kawan lama di sebuah bar pinggir kota. Namanya Temuji. Ia mengaku baru saja kembali dari sebuah kota yang diselimuti warna hitam, tidak jauh dari belantara hutan es di Kutub Selatan.

Semasa sekolah, Temuji dikenal sebagai seorang atlet yang gemar main bola kaki serta mahir memanjat pohon. Kakinya gesit. Langkahnya tak pernah ragu. Hampir dua puluh tahun lamanya kami tak berjumpa, namun ia masih sama seperti dulu. Berbeda dengan aku dan Greta yang sudah mulai menunjukkan kerut-kerutan usia.

“Seperti apa Kota Hitam yang kau kunjungi, Muji?” tanyaku. Kami duduk di salah satu meja kayu dengan kursi panjang yang saling berhadapan. Greta duduk di sampingku, pundaknya merapat ke dinding.

“Gelap dan panas,” jawab Muji. Ia menuang isi botol anggur ke dalam gelas yang telah kering. “Rasanya seperti masuk ke dalam perut bumi.”

“Kau pakai pemandu? Ikut tur khusus?” tanya Greta. Di hadapannya ada segelas kopi hangat yang belum disentuh. “Kudengar banyak sekali paket murah yang ditawarkan oleh agen-agen perjalanan.”

“Kota Hitam adalah tempat sakral yang hanya boleh dikunjungi oleh orang-orang tertentu,” jelas Temuji. “Kota itu bukan tempat wisata seperti kota-kota lain. Tidak, tidak. Kau takkan bisa pergi ke sana dengan paket tur murah. Tempat itu letaknya tak tertera di atas peta. Hanya Tuhan yang tahu.”

“Lantas bagaimana kau bisa ke sana?” desak Greta.

“Aku punya caraku sendiri,” ujar Temuji.

“Aku tak percaya.”

“Terserah.”

“Oke, hentikan,” kataku. “Kalian membuat kepalaku sakit.”

“Aku yakin kalian tidak pernah ke mana-mana,” ujar Temuji seraya menghabiskan isi gelasnya. “Kalian tidak tahu ada apa di luar sana. Keindahan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.”

Kami berpisah dengan Temuji di depan bar pada pukul sebelas malam ketika para pengunjung yang lain juga mulai berhamburan keluar. Dia berjanji untuk mengirimkan kartu pos dari kota-kota yang akan dia kunjungi dalam waktu dekat ini–agar kami bisa melihat apa-apa saja yang kami lewatkan dengan berdiam diri di satu kota, kota kelahiran kami, tempat kami mengubur dan memuja leluhur kami. Selama bertahun-tahun, hanya kota ini yang kami kenali.

“Menurutmu kita harus keluar dari kota ini?” tanya Greta saat malam menyambut subuh. Di luar langit kelam tampak pucat disinari cahaya bulan yang keperakan. “Melihat keindahan dunia?”

“Duniaku sudah indah,” sahutku. “Karena ini dunia yang kutahu.”

“Kau tidak penasaran terhadap dunia lain di luar sana?”

“Tidak.”

“Masa?”

“Tidak.”

“Aku penasaran.”

“Tidurlah, Greta.”

“Aku ingin melihat warna lain selain abu-abu.”

“Apa yang salah dengan abu-abu?”

“Tidak ada. Aku hanya ingin melihat sesuatu yang berbeda.”

“Tak usah kau pusingkan hal-hal yang berbeda,” kataku. “Jalani saja apa yang ada.”

“Itu pemikiran orang kuno,” sahut Greta. “Bagaimana hidupmu mau senang kalau kerjamu hanya menjalani apa yang ada?”

Aku tidak menjawab, membalikkan tubuh, pura-pura tidur.

“Remos,” panggilnya. Kurasakan tangannya meraba punggungku, hangat. “Apa kau akan membenciku kalau aku pergi darimu demi memuaskan rasa penasaranku?”

Aku bungkam.

“Tidak lama, tentunya,” lanjut Greta. “Paling satu atau dua bulan. Kalau kau tidak sudi menemaniku, aku ingin minta restumu untuk melihat dunia lain seorang diri.”

Aku masih bungkam.

“Remos—”

“Tidurlah, Greta.”

“Kau takkan merasakan kepergianku, aku janji,” sambungnya. “Aku akan kembali sebelum kau sempat merindukanku.”

Greta pergi berbekal uang seadanya dan tekad bulat. Ia menumpang kereta dan kapal laut. Ia ingin menikmati perjalanannya. Ia tidak mau buru-buru. Satu atau dua bulan, katanya. Janjinya dia akan kembali sebelum aku sempat merindukannya. Tapi itu mustahil. Aku merindukannya setiap saat. Ia tak kirim kabar. Kartu pos yang dijanjikan Temuji pun tak kunjung datang. Hari-hariku semakin kelabu. Awan bergumul memanggul hujan. Ke mana-mana aku jalan kaki, mengusir sendu, mengeluh bisu. Aku pergi ke pantai dan duduk menatap laut keabuan. Kutatap dinding semen tanpa warna. Tak tahu harus mencari Greta ke mana.

“Sudah berapa lama?” tanya Puma, seorang bartender yang sudah lama mengenalku. Ia menuangkan bir ke dalam gelasku yang beku. “Setahun?”

“Setahun, delapan bulan,” kataku. “Hampir dua tahun.”

“Dan tak ada sedikit pun kabar dari istrimu?”

“Tidak ada.”

“Mungkin dia tersesat,” ujar Puma.

“Dia terlalu pintar,” kataku. “Dia takkan pernah tersesat.”

“Diculik?”

“Siapa yang hendak menculiknya tanpa minta uang tebusan?”

“Kecelakaan?”

“Aku juga sempat pikir begitu,” desahku. “Tapi perasaanku mengatakan ia baik-baik saja.”

“Lantas kenapa?”

“Kurasa dia suka apa yang dia temui dan merasa enggan kembali kemari.”

“Kalau gitu dia bodoh.”

“Dia istriku,” kataku. “Jaga mulutmu.”

“Aku justru membelamu.”

“Aku hargai itu, tapi sebaiknya jangan.”

“Kalian berdua sama anehnya.”

Kupagut bibir gelas dan kuteguk bir yang ada di dalamnya. “Mungkin.”

Seperti yang kutakutkan—dan kuantisipasi—Greta tak pernah kembali. Aku sempat bertemu lagi dengan Temuji, beberapa tahun kemudian, di bar yang sama saat dia tengah dalam perjalanan ke sebuah kota di kaki gunung yang padat dengan kabut. Kota tersebut terkenal sejuk dan merupakan salah satu kota wisata paling ternama di dunia. Kabut yang menggantung selalu berganti warna mengikuti interval kalender kuno. Dan setiap kali warna kabut berganti, warga kota selalu merayakannya dengan mengadakan festival seni. Temuji bilang dia sempat bertemu Greta di atas kereta menuju Kota Tropis di mana matahari memancarkan sinar keemasan tanpa henti. Aku tanya apakah istriku tampak bahagia. Temuji mempertimbangkan jawabannya.

“Tidak,” kata teman lamaku. “Dia sedih karena kau tak ada bersamanya. Tapi ia puas karena telah mengambil langkah pertama untuk keluar. Perjalanan panjang seperti itu lebih baik dilakukan berdua; tapi kalau salah satu di antara kalian tak melihat poin dari perjalanan tersebut—sebaiknya dilakukan sendiri.”

“Aku tak ada masalah dengan kota ini,” kataku. “Aku nyaman di sini.”

“Bagus,” kata Temuji. Ia menepuk pundakku berkali-kali. “Memang sudah seharusnya begitu. Tak ada apa-apa untukmu di luar sana.” (*)

Advertisements