Archive for November, 2012

Hatarakibachi
November 25, 2012


Cerpen Awit Radiani (Kompas, 25 November 2012)

Hatarakibachi ilustrasi Zico Albaiquni

BAHASA Inggris dengan pengucapan payah petugas bandara membuat aku semakin sakit kepala. Sebenarnya aku enggan datang ke negeri ini. Tapi Satoshi-san mengirim undangan kehormatan kongres seni budaya Asia, yang mewajibkanku hadir. Atau aku dianggap tak menghargai hubungan baik antar negara. (more…)

Advertisements

Surau Kaki Bukit
November 25, 2012


Cerpen Dafriansyah Putra (Republika, 25 November 2012)

Surau Kaki Bukit ilustrasi Rendra Purnama

SURAU mendadak ramai. Biasanya, meskipun waktu shalat wajib tiba, hanya seorang Gaek Puai yang senantiasa menjaga sujudnya di hamparan sajadah surau ini. Entahlah, apakah masyarakat di sekitar banyak melaksanakan shalat di masjid-masjid besar bersajadah harum di sana, atau malah mereka mungkin lupa untuk shalat. Akan tetapi ramainya surau kali ini bukanlah untuk beribadah. (more…)

Rindang Sedayu
November 25, 2012


Cerpen Isbedy Stiawan ZS (Jawa Pos, 25 November 2012)

Rindang Sedayu ilustrasi Budiono

CINTA

Betapa tua usia cinta. Tak terjelaskan oleh hitungan: angka-angka. Semenjak Tuhan ingin dicintai dan disembah oleh manusia, Dia jadikan seorang lelaki yang kemudian diberinya nama Adam. (more…)

Si Janggut Mengutuk Setan dan Herucakra
November 25, 2012


Cerpen A.S. Laksana (Koran Tempo, 25 November 2012)

 

 

BERTAHUN-TAHUN lalu, dengan rasa sedih yang tak tersingkirkan dari paras mukanya, ia membawa boneka kucing ke rumah sakit jiwa. Itu boneka untuk Sasi Kirana. Mereka pernah tinggal bersama di satu kamar kontrakan di pinggiran Magelang dan bekerja di toko yang sama milik paman Sasi. Empat tahun mereka tinggal sekamar, tanpa kegaduhan, tanpa suara, hanya bertukar isyarat—keduanya bisu-tuli—dan Sasi demam pada hari Selasa pagi dan mati pada Jumat sore dan hidup lagi beberapa jam kemudian. Sejak peristiwa itu, perangai Sasi berubah: ia menjadi suka mencuri barang-barang di toko pamannya dan kencing sembarangan. Ayah dan ibu Sasi, setelah menerima laporan yang terdengar genting dari si paman, membawa gadis itu pulang dan mengirimkannya ke rumah sakit jiwa beberapa hari kemudian. (more…)

Batu Roh Orang Mati
November 25, 2012


Cerpen Aris Kurniawan (Suara Merdeka, 25 November 2012)

Batu Roh Orang Mati ilustrasi Hery Purnomo

KAMI tengah menggelar upacara membangkitkan roh orang mati. Pada malam Jumat Kliwon itu kami keluar dari rumah kami membawa kembang dan wewangian, berjalan dengan langkah lesu lantaran perut kosong, menyusuri jalan desa yang kering dan pecah-pecah. Cahaya bulan kebiruan dan dengung serangga memandu langkah kaki kami yang tak bersandal. Kami memang begitu miskinnya sampai sandal pun kami tak punya. (more…)

Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi
November 18, 2012


Cerpen Eka Kurniawan (Koran Tempo, 18 November 2012)

Perempuan Patah Hati ilustrasi Yuyun Nurrachman

MAYA tak pernah menceritakan kepada Sayuri bahwa ia ditinggalkan kekasihnya tepat di malam sebelum mereka menikah. Itu tak hanya membuatnya patah hati, tapi juga membuat keluarganya merasa malu. Terutama ketika keesokan harinya, tamu-tamu berdatangan (mereka tak sempat mencegah hal ini), dan harus menjelaskan bahwa pernikahan itu dibatalkan. (more…)

Gumading Peksi Kundur
November 18, 2012


Cerpen Sanie B. Kuncoro (Jawa Pos, 18 November 2012)

Gumading Peksi Kundur ilustrasi Jawa Pos

LAKI-LAKI itu datang padamu di suatu sore yang bercahaya. Musim kemarau ketika itu, terik kulminasi matahari masih tersisa di sekitarmu. Debu tipis melekat pada reranting dan dedaunan. Saat angin menghampiri, akan kau dengar gemerisik dedaunan yang seolah membisikkan dahaganya kepadamu. Tak hendak kau abaikan bisikan itu, namun kunjungan seorang tamu di beranda rumah tentulah harus dipedulikan terlebih dahulu. Siraman air untuk mereka haruslah menunggu. (more…)