Cerpen Zelfeni Wimra (Jawa Pos, 14 Oktober 2012)

AKU harus bertemu Gadis bermata gerimis itu menjelang siang beralih jadi senja. Menjelang matahari benar-benar lenyap dari pandangan dan perbukitan Batu Ampa telah disungkup gelap. Sebab, bila alam sudah kelam, tanjakan dan penurunan jalan yang akan dilalui jauh lebih sulit dilewati daripada ketika masih tersisa terang di garis langit. Aku mempercepat langkah. Garis kelabu masih tergurat di sekitar ufuk barat. Aku pererat tali sepatu yang terasa longgar. Jalan setapak menuju rumah gadang terpencil yang kini ditempati Gadis masih licin. Sisa hujan siang membuat badan jalan bertanah liat dan berbatu itu berbalut lumpur.

Ojek yang kutumpangi tidak bersedia mengantar sampai ke halaman lantaran jalan licin. Sudah lama aku mengidamkan perjalanan ini. Menjelang usia 25 tahun aku pikul, hari-hariku lebih banyak di kampus. Setelah menamatkan S1 langsung ke S2. Begitu bunyi perjanjian dengan yayasan yang memberiku beasiswa. Sepanjang 25 tahun itu, rasanya, hidup berkejaran dengan sekawanan rencana dan cita-cita yang liar. Target-target hidup modern yang akhirnya kusadari telah menjauhkanku dari kesempatan memaknai asal-usul. Sering aku menerima cibiran. Aku dikatakan perempuan ambisius yang telah tercerabut dari akar budayanya. Perempuan berdarah Minang yang tiada lagi menginjak bumi; lupa pada jaringan kerabat dan sanak famili. Pernyataan yang harus kuterima dengan sadar dan sabar.

Dalam hati telah kusimpan niat bahwa pada waktunya aku akan pulang, mencicil utang-utang pada kerabat di kampung. Terutama utang pada Gadis bermata gerimis itu. Sebenarnya aku memanggilnya Nek Gadis. Panggilan unik yang tidak aku saja yang menggunakan. Sekampung, orang memanggilnya Nek Gadis. Nama lengkapnya Gadis Yulianis, amak dari ibuku yang kini tinggal sendirian menghuni rumah gadang kami di Batu Ampa. Seorang nenek yang selalu tampak ceria. Ketika sedang tersenyum, matanya yang tua selalu seperti dituruni gerimis. Sungguh pun begitu, dalam hati, aku senang menyebut dan menganggapnya sebagai seorang gadis muda. Kesadaran akan keberadaan aku dan dia memuncak ketika mendapat email dari seorang pengurus yayasan: “Jalito, nenekmu sangat merindukanmu. Kalau urusan di kampus sudah selesai, pulanglah. Temui dia, sebelum ajalnya mendahuluimu….”

Pesan singkat yang menyentak perasaan. Setelah menuntaskan urusan dengan kampus dan Yayasan Bung Hatta, pemberi beasiswa kuliahku, aku langsung mengurus keberangkatan dari Bandung-Jakarta-Padang. Dari Padang melakukan perjalanan darat dengan bus ke Payakumbuh. Turun di simpang Batu Ampa lalu naik ojek ke alamat yang kini ditempati Nek Gadis.

Aduhai. Sahutan suara siamang dari kejauhan menyambutku. Jalanan lengang. Kesejukan menyelimuti segenap pikiran melihat orang-orang mengayuh sepeda. Hanya sesekali melintas sepeda motor. Gemericik air di sawah. Kicau burung. Semua mengetuk kesadaran yang selama ini terkurung dalam diri dan tak pernah tersapa. Inikah kampung asalku? Barisan rumah yang dihuni orang-orang sederhana. Bentangan sawah-ladang yang lebih banyak tidur daripada tergarap karena pemiliknya telah ditelan perantauan.

Berbekal sisa tabungan, aku berniat akan tinggal lebih lama di sini. Selain ingin bertemu satu-satunya keluargaku yang masih hidup, aku ingin menjiwai lebih dalam cita-rasa menjadi perempuan di ranah yang bersuku ke ibu ini. Mudah-mudahan nenek bahagia menerima kehadiranku. Hari benar-benar telah gelap. Aku bersuluh senter yang tersedia di ujung telepon genggam. Aku tapaki anak tangga rumah gadang yang dibangun di atas sepetak tanah di pinggir kebun kakao.

Dulu, ketika keluargaku masih utuh, rumah ini kami kunjungi, paling hanya sekali setahun, setiap hari raya tiba. Daun pintu terbuka dengan gerak yang lembut. Sesosok tubuh bungkuk muncul diterangi cahaya lentera. Kebiasaannya belum juga berubah, lebih suka bersuluh lentera padahal rumah gadang itu sudah dialiri listrik. Lebih suka mendengar radio, padahal mendiang ibuku sudah membelikannya televisi.

“Masuklah,” getar suaranya sangat dalam. Suara seorang yang sudah lama mengecap asam-garam kehidupan. Ia bergegas ke sebuah lemari. Memperkecil volume radio yang sejak tadi terdengar mendominasi suara seisi rumah. Lambat-lambat, suara katak dan belalang meningkahi. Ia kemudian mengembangkan tangan. Siap menerima pelukan. Aku langsung menyambutnya. Pelukan yang menenangkan. Pelukan yang menandakan kerinduan yang lama tertahan.

“Jalito, Nenek sudah lama menunggumu,” kedua tangannya menupang dagu dan pipiku.

“Pipi ini. Hidung ini. Mata ini. Semuanya mirip sekali dengan punya ibumu,” ucapnya di sela haru yang terjaga. Matanya kembali bergerimis, tetapi otot pipinya sepertinya sudah terlatih mengendalikan perasaan, sehingga hanya tiga segukan yang keluar.

“Nenek sudah dapat kabar siang kemarin, kalau kamu akan pulang. Nenek sengaja berpesan pada orang yayasan yang tempo hari memberi tahu Nenek kalau kamu akan wisuda. Nenek ingin kamu ada di sini menjelang usia Nenek ditutup nan satu. Di keluarga kita, yang tersisa hanya kita berdua….”

Di sela getar suara nenek, ingatanku memutar kembali gempa Aceh 2004 lalu. Bencana yang mengakhiri kebersamaanku dengan keluarga di sana. Beruntung keberadaanku cepat diketahui. Aku selamat dari bencana itu karena sedang berada di asrama pondok pesantrenku di Bukittinggi. Neneklah yang mengurusi penjemputanku.

Yayasan Bung Hatta menyetujui permohonan nenek untuk mengamankanku yang waktu itu masih kelas tiga Aliyah. Aku sempat dibawa ke rumah nenek, berpamitan menjelang aku berangkat ke Bandung melanjutkan pendidikan.

Enam tahun lebih berlalu. Rentangan waktu yang kulalui antara harapan dan ketakutan. Namun, terasa singkat ketika berada kembali di pelukan nenek. Merasakan denyut semangat di tubuh 85 tahunnya. Tubuh yang boleh saja ringkih. Ia boleh saja ditinggal mati suaminya, disusul kehilangan anak dan menantunya, tetapi semangat yang dikandung batinnya terasa masih menyala. Segelas teh hangat sudah tersedia di meja bundar yang dilingakari kursi rotan ketika aku selesai mandi dan salat Magrib. Tapi masih aku abaikan. Sungkan rasanya langsung meminum teh buatannya. Aku langsung ke dapur menemaninya menunggu rebus buncisnya matang.

“Tehnya sudah kamu minum?” tanyanya sambil menyusun letak kayu api yang ujung-ujungnya sedang menyala. Aku menggeleng.

“Kenapa belum diminum? Kalau sudah dingin, tidak enak.”

“Harusnya aku yang buatkan teh untuk nenek,” tanggapku.

“Tak apa. Itu tanda kerinduan nenek padamu. Minumlah.”

Aku dan nenek terlibat aktivitas menjelang makan malam. Hingga kantuk terasa kami terus bercerita tentang banyak hal yang muara kisahnya berputar pada keadaan keluarga kami yang nyaris punah. Katanya, kalau dirinya telah tiada, tinggal aku seorang anak perempuan yang akan meneruskan nasab keluarga. Ia kisahkan pula bagian terpenting dalam hidupnya. Tentang sejumlah kekeliruan yang pernah dilakukannya di masa lalu.

Semasa muda, ia pernah mengalami perasaan iba yang tak terperikan. Perasaan iba itu menguasai pikirannya sehingga ia termasuk gadis yang terlambat bersuami. Ia menikah saat sudah berusia 30 tahun. Di masa Nek Gadis muda, itu sudah sangat terlambat. Setelah menikah, ia pun hanya dikaruniai dua orang anak. Satu laki-laki, satu perempuan. Yang laki-laki meninggal ketika berusia delapan bulan. Yang perempuan, yakni ibuku, meninggal pada bencana tsunami Aceh. Tinggal aku, cucu perempuannya.

“Doa nenek sekarang, cepatlah hendaknya kamu bertemu jodoh. Teruskan nasab keluarga kita. Atau jangan-jangan kamu sudah punya calon? Bilanglah sama Nenek….” Keriput senyumnya seperti sedang menggoda dan gerimis di matanya terus saja merinai. Aku juga mencoba tersenyum. Terlalu dini membukanya pada nenek. Bisa saja dia tercengang; sangat heran bila rahasia masa mudaku diceritakan padanya. Bisa jadi dia naik pitam mendengarnya.

Di ujung senyum yang kupaksakan itu, kutanyakan pada nenek, apa sebenarnya hal yang pernah membuatnya bersedih sehingga larut dalam perasaan tak berguna. Melakukan hal yang kini ia anggap keliru, sampai-sampai ia terlambat menikah? Nenek tidak menjawab dengan jelas. Ia hanya menceritakan tentang rencana mamaknya memperkenalkan pada seorang anak muda terpelajar yang pada saat itu sedang berada di Tanah Jao. Anak muda itu masih cucu saudara sepupu sang mamak. Ia seorang yang secara adat sangat pantas mempersunting nenek. Pulang ka Bako, demikian istilah adatnya, yakni menikah dengan kemenakan atau keluarga ayah.

Apa yang terjadi? Hanya sekali pemuda itu pulang. Itu pun sebentar. Hanya beberapa hari. Setelah sempat diperkenalkan pada nenek, ia kembali lagi ke Tanah Jao dan tak pulang-pulang. Sang mamak tetap meminta nenek bersabar. Kalau negeri sudah aman, pemuda yang akan jadi suami nenek itu pasti akan pulang. Ini sudah menjadi keputusan keluarga. Rasanya sayang kalau pemuda itu mempersunting gadis lain di tanah rantau. Jika itu terjadi, ibaratnya memagar kelapa condong. Batang di kebun kita tapi buah jatuh ke ladang orang. Begitu pikiran sang mamak.

Beberapa kerabat lain juga berkeyakinan seperti itu. Mereka paham, pemuda itu sedang berjuang memerdekakan sebuah negara-bangsa. Jadi anak muda di masa itu memang penuh tantangan. Malu besar bila ada anak muda yang hanya mampu memikirkan diri sendiri. Apalagi laki-laki. Nenek juga berusaha mengerti bagaimana rumitnya jadi laki-laki di masa itu. Beruntung masih bisa hidup. Bahkan tak terhitung yang meregang nyawa karena memperjuangkan hidup dan tanah airnya. Tapi, seperti yang diakui nenek, satu hal yang sering membuatnya terjebak iba adalah penantiannya yang tak berujung. Pemuda itu tiada pernah berkabar. Hal ini memang bukan perkara laki-laki. Kata nenek, ini perkara perempuan. Selalu perempuan yang ditinggalkan; selalu perempuan yang menunggu.

“Siapa nama pemuda yang Nenek tunggu-tunggu itu, Nek?” tanyaku tak sabar.

Nenek tertegun. Matanya kembali bergerimis. Di luar, gerimis sesungguhnya juga turun. Kerut wajahnya menampakkan tanda-tanda misterius yang tak mampu kupahami maknanya. Dengan langkah tenang, nenek berlalu ke ruang tidurnya.

Nenek keluar dari biliknya membawakan sebuah map kelabu yang sudah tampak tua. Map itu bergetar ketika nenek menyerahkannya padaku. Pelan-pelan aku buka map itu. Sebuah foto setengah badan. Seorang pemuda berkaca mata bingkai hitam.

“Bung Hatta?!”

Suaraku tercekik di tenggorokan. Kami pun tidak lagi bercakap-cakap. Hanya saling tatap. Di luar, gerimis terus menyentuh atap. Perlahan seiring rentak gerimis, aku perhatikan muka nenek. Keriput bertautan. Aku sentuh bahunya.

“Nek, ada apa dengan mata Nenek?” aku guncang-guncang bahunya. Kembali kuperhatikan, rupanya di kedalaman mata nenek, rintik gerimis semakin rapat.

Dari cara nenek membersihkan percikan gerimis di matanya, terlihat sekali kalau dirinya sudah terbiasa menghadapi perasaan demikian. Penglihatanku pun jadi sedikit kabur dibatasi kabut yang tercipta dari percikan gerimis di mata nenek. Wajah nenek tidak lagi terlihat keriput, melainkan seperti wajah seorang gadis yang kuyup di tengah siraman gerimis. (*)

 

 

Advertisements