Cerpen Cha Canlierz (Republika, 7 Oktober 2012)

“JIKA kau tak ingin pulang karena Apakmu, pulanglah karena Amak, Nak,” itulah ucapan Amak di ujung teleponnya saban hari. Saat itu, aku tak menjawab apa-apa. Aku hanya diam. Tak menolak juga tak menerima.

“Jika Koko mengizinkan aku ambil cuti, aku akan pulang, Mak,” jawabku berbohong. Koko, lelaki seperempat abad yang menjadi bosku sebenarnya dengan mudah mengizinkan aku pulang ke Maninjau. Hampir setahun, aku belum mengambil cuti legal maupun ilegal. Hanya… aku yang enggan. Rinduku pada Amak telah bergumpal-gumpal. Aku juga rindu celoteh Uwaikyang dulu sering mengejarku dengan sapu.

Biasanya, jika kondisi memungkinkan, aku pulang tiap tiga bulan sekali. Untung sudah ada pesawat terbang, jadi jarak antara Maninjau dan Jakarta tak menjadi soal bagiku. Cuma satu jam lebih. Namun, kali ini aku yang tak ingin pulang. Meski harga tiket pesawat tak terlalu membobol dompetku.

Apak! Dialah satu-satunya alasan mengapa aku enggan pulang. Terakhir kali aku bertemu dengannya, aku masih kecil. Kata Amak waktu itu, umurku masih tiga tahun. Aku tak ingat pasti. Lalu Apak pergi. Barulah setelah empat tahun kemudian, surat untuk Amak dan sebuah ponsel dengan simcard aktif datang. Pesan itu dari Apak.

Beberapa detik setelah membaca surat itu, mata Amak membulat. Amak langsung berurai airmata. Dari dipan di dekat jendela aku menatapnya. Bersembunyi di balik gorden kamar Uwaik. Aku tak terlalu mengerti kabar apa itu, tapi saat itu aku benci Apak. Ia buat amak nangis, padahal kapan Uwaik sebagai orang yang melahirkan Amak pernah membuat Amak nangis?

“Bagaimanapun juga ia Apakmu. Kali ini ada Apakmu, Nak. Tak rindu kau dengannya?” ucapan Uwaikterngiang lagi. Aku tahu, pasti Amak yang menyuruhnya. Biasanya kalau Uwaik yang minta, aku tak pernah melawan. Kasihan dia, dagingnya telah digerogoti waktu. Tinggal kulitnya saja mengkerut-kerut. Maka tak tega kalau melawannya, jika aku lawan, jangan-jangan tubuhnya makin lisut. Sudah habis ia dimakan waktu, tak mungkin aku buat ia makan hati pula.

Justru karena ada Apak-lah yang membuatku uring-uringan. Jika tak ada dia. Aku akan segera terbang, kalau perlu hari ini. “Darahnya mengalir di tubuhmu. Bagaimanapun kau mengingkarinya, dia tetap ayah kandungmu.”

Amak menasihatiku lagi. Ketika entah untuk kesejuta kalinya ia mendengarkan aku berkata pada orang, “Apakku telah lama mati. Dimakan penjaga gunung.” Pernah di lain kesempatan aku bilang, “Apakku dikucilkan. Dibuang ke pulau terpencil karena kedapatan sedang bertransaksi narkoba.” Makin ke sini makin banyak dan beragam jawabanku untuk menjawab pertanyaan orang-orang yang menanyai Apak.

Sejak Apak pergi, Amak harus bekerja di sawah orang. Bergomok-gomok. Uwaik yang telah renta pun harus jadi korban. Aku kasihan pada Amak dan Uwaik. Semakin aku kasihan pada mereka, semakin muak aku pada Apak.

“Apakmu sengaja dibawa pulang oleh Pak Etek Jar. Dia lemah jantung, istri siri keenamnya turut mengantar Apak pulang,” papar Uwaik via telepon. Paman beranggapan karena Amak dan Apak tak pernah bercerai, jadi wajar saja menurutnya kalau di saat sekarat seperti ini ia dibawa ke istri tuanya.

“Istri siri keenam, Waik?”

“Iyo, keceknyo, Apak kau tu gilo babini. Dima-dima, kawin ka kawin, kawin ka kawin.” Uwaik mengulang ucapan Pak Etek Jar. Menjelaskan bahwa Apakku itu suka nikah, di mana pun ia tinggal, pasti akan menikah. Tapi, apa pun alasannya menurutku sifat Apak salah. Sangat salah.

Aku tak tahu persis kenapa Amak menerimanya lagi. Cintakah namanya? Tak marahkah Amak setelah sekian lama ia tinggalkan? Bukan untuk mencari makan demi anak dan istri, tapi untuk menjajakan keperkasaannya. Dari satu wanita ke wanita lainnya. Dan… penjelasan Uwaik makin membuatku muak.

“Jadi kapan kau pulang, Nak?” Amak menelepon lagi hari ini. Akhirnya dipanggilan kelima belas aku baru mengangkatnya, membiarkan empat belas panggilan sebelumnya aku abaikan.

“Kalau laki-laki itu masih di rumah, aku tak akan pernah pulang.” Setelah mengucapkan kata-kata itu, aku membekap mulutku. Baru tersadar kalau ucapan itu tak pantas dari bibir seorang anak pada ibunya, maka aku takut kata-kataku barusan merusak hatinya. Amak tak pernah suka anaknya berkata lancang. “Mak?”

Aku mendengar suara Amak makin berat, ia pasti menangis. Dulu aku pernah melihat Amak menangis ketika membaca surat dari Apak. Saat itu, aku berjanji tak akan pernah membiarkan siapa pun membuat Amak nangis. Namun, kali ini. Akulah penyebab utamanya. Aku membuat Amak menangis. Agaknya aku memang pantas dijuluki si malin kundang versi modern.

Amak tak menyahut. Telepon itu mati. Bukan mati karena jaringan yang kadang-kadang menjengkelkan, tapi memang sengaja dimatikan Amak. Padahal, biasanya Amak tak pernah menutup telepon sebelum berkata, “Wahai anakku, aku gantungkan seluruh harapanku padamu. Semoga engkau menjadi bidadari kecilku, yang mendapat semua yang engkau inginkan, juga menjadi anak shalihah sesuai ajaran Baginda Rasulullah.”

Tapi kali ini tidak. Amak menutup telepon dengan sedih yang membuncah, kecewa yang menggumpal. Tak hanya Amak yang sedih, aku juga ikut sedih sebenarnya. Jika ditanya siapa orang yang paling kusayangi, aku akan menjawab Amak kemudian Uwaik. Jika ditanya maukah aku berkorban demi mereka, jawabannya, apa pun akan aku lakukan demi melihat dua wanita tua yang mengorbankan hidupnya demi aku dapat bahagia di masa tua.

Sepanjang malam, aku membenamkan wajahku di bantal, membiarkan air yang menggantung di pelupuk mata membasahi bantal. Meledakkan sesak di dada. Menghantam bongkahan kecewa. Seharusnya Amak mengerti apa yang aku rasakan saat ini.

Sehari…. Dua hari…. Tiga hari… Seminggu sudah lewat. Amak tak pernah menghubungiku lagi. Merajuk mungkin. Telepon dan pesanku tak pernah digubrisnya. Awalnya aku menunggu emosi Amak reda, tapi jika sudah lebih dari seminggu ngambeknya belum juga reda, itu artinya beliau murka. Akhirnya aku mengambil penerbangan pertama ke kampung. Ranah minang tercinta.

***

Aku berdiri tepat di depan rumah yang berbentuk panggung itu. Tempat di mana aku dibesarkan. Diberi penghidupan, ditempa dengan sebuah semangat yang selalu dinamakan ‘kerja keras’.

“Alhamdulillah, Nak…. Akhirnya kau pulang juga….” Suara Uwaik menggaung di telingaku meski ia masih berdiri di Janjang. Anak tangga itu nampaknya sudah reot. Padahal dua bulan lalu aku mengirimkan rupiah agar mereka merenovasi rumah.

“Tak tega aku menghilangkan unsur Minangkabau dengan rumah-rumah dari batu-batu itu,” Uwaik sepertinya membaca pikiranku. Menjawab dulu sebelum aku bertanya. Ia merunduk, menyambar koper ukuran sedang dengan tangan kirinya.

Namun tanganku lebih cepat menyambar tangannya. Matanya menjurus padaku. “Biar aku saja yang bawa, Waik” Uwaik tersenyum. Malah makin menguatkan pegangannya.

“Meski setengah badanku sudah dikubur, tapi tenagaku jauh lebih besar dari engkau yang masih muda.” Ia terkikik. “Masuklah ke dalam, sudah hampir seminggu Amak kau payah disuruh makan.”

Lantai kayu bercicit-cicit ketika kupijak. Aku edarkan pandang, berjalan ke sisi jendela. Di sebelah kanan rumah. Ada tabek, tempat Amak dan Uwaik memelihara ikan. Aku melongok ke bawah. Tabek kami tak lagi sekecil dulu. Sejajar dengan papan bagian depan rumah sampai papan ekor rumah. Lebarnya setengah dari lebar rumah. Nampak betul, mereka lebih memilih merenovasi tabek daripada rumah.

Aku masih ingat. Dulu Uwaik nyinyir kali, takut-takut aku jatuh ke dalam tabek. “Itu kamu, Nak?” Suara tertahan seorang laki-laki, menyambar telingaku. Aku membalikkan tubuh ke belakang. Berdiri sesosok lelaki gemuk gempal, dengan kulit yang melorot di bagian pipinya.

“Nak?” ucapnya lagi. Aku tak menjawab. Mencorong matanya bulat-bulat. “Papa tahu papa salah, papa minta maaf, Nak.” Papa? Lancang sekali ia mengubah panggilan itu. Ia merentangkan kedua tangannya. Seperti berharap, aku akan menghambur kepelukannya. Jika itu yang ia harapkan ia salah besar. Tidak semua anak yang dibuang, akan bersikap manis pada pembuangnya. Aku menoleh ke arah kamar Uwaik. Di sana berdiri, Uwaik dan Amak yang bergenggaman tangan. Wajah Amak amat pucat.

Obrolan aku dan Amak minggu lalu, teringat lagi. Aku sangat paham, Amak tak pernah suka anggota keluarganya berbuat dan berbicara lancang. Hidup boleh miskin, tapi tak boleh kurang ajar. Jadi, meski banyak carut marut yang ingin aku muntahkan. Nyatanya, semua itu hanya menggantung menyesakkan dada.

“Bagaimanapun salahnya aku, aku tetap ayahmu.”

Aku menghela napas. Memutar otakku bekerja cepat dan cermat. Harus ada yang kusampaikan. Sebuah kalimat yang bisa mewakili semua sakit hati, kecewa, tapi bukan kata-kata yang tak beradab. Bukan kata-kata yang tak disukai Amak. “Memang benar ada darah Apak ditubuhku, tapi sosok Apak buatku adalah yang bisa mengayomi, menjaga dan melindungi istri dan anaknya. Bukan hanya untuk meninggalkan benih dan nama. Apa Apak pernah melakukannya? Jika ingin minta maaf, Amaklah orang yang seharusnya dimintai maaf. Amak telah banyak menanggung duka semenjak kepergian suaminya.”

Ia tak menjawab, ia terdiam. Pelan-pelan tubuhnya meringkih mendekati Amak. Amak menatapku lamat-lamat. Kemudian, lengkungan membentuk di sudut pipinya. Apak merunduk, ingin mencium kaki Amak. Air mengalir dari matanya juga dari mata Amak. Tapi, Amak menggeser kakinya, menjauh dari Apak.

Apak membentangkan kedua tangannya menunggu pelukanku. Namun, aku menggeleng. Aku berjalan, lalu berbelok. Keluar dari rumah. Aku masih mendengar suara Amak dan Uwaik memanggil-manggil. Semua kuacuhkan.

“Apakmu sengaja dibawa pulang oleh Pak Etek Jar. Dia lemah jantung, istri siri keenamnya turut mengantar Apak pulang.” Perkataan itu menguar lagi. Istri siri keenam? Sebanyak apa bayi-bayi tak berdosa ia telantarkan? (*)

 

 

Pekanbaru, 8 September 2012

 

 

Advertisements