Cerpen Vika Wisnu (Koran Tempo, 30 September 2012)

 

JIKA hidupku ini adalah sebuah novel, maka dia adalah lelaki paragraf pertama. Muncul dalam setiap bab, mengawali semua kisah, adakalanya demikian terus terang hingga aku mendapat petunjuk akhir seperti apa yang akan kudapat; di kali lain begitu samar, tak dibiarkannya aku berhasil menebak, dibuatnya aku penasaran, disengajanya aku jatuh terpesona, tak percaya, hingga mau tak mau aku harus mengulangi membaca dari mula—yang berarti: menemuinya lagi, sekali lagi, beberapa kali lagi, atau bahkan berulang kali.

“Istriku hamil,” katanya.

Good,” kataku. Jadi apa masalahnya? Dia menemui atau tidak menemuiku, tetap saja istrinya muntah-muntah tiap pagi. Dia meneleponku atau tidak meneleponku, tetap saja istrinya mengoleskan krim perawatan di atas garis vertikal kehitaman yang membelah perut berkulit putih—yang selalu menggemaskannya—yang kian hari kian membuncit. Dia membalas atau tak membalas pesan singkatku, tidak serta merta juga membuat istrinya itu mengempis atau janinnya menguap. Lalu mengapa kehamilan menjadi isu agar kami tak bertemu?

“Istriku cemas,” katanya.

“Kenapa?” tanyaku. Barangkali dia belum tahu atau lupa, perempuan selalu cemas, bahkan untuk hal-hal yang tidak perlu dicemaskan. Ketika ditanya pasangannya, apa yang membuatnya cemas, perempuan bisa-bisa makin cemas, karena pertanyaan itulah sesungguhnya yang dicemaskannya: pertanyaan yang seringkali dilontarkan laki-laki, pertanyaan yang secara sempurna membuktikan hipotesa bahwa sebenarnya laki-laki memang tidak pernah mengerti bahwa merekalah sumber kecemasan itu.

“Entah,” katanya lagi, “Dia mengira aku selingkuh.”

Kali ini gantian aku yang cemas. Mencemaskan istrinya yang mulai cemas.

Advertisements