Cerpen Adam Gautar Parra (Suara Merdeka, 30 September 2012)

SENJA hampir magrib. Di kedua sisi jalan setapak dekat pekuburan desa berdiri pohon-pohon besar berusia ratusan tahun. Suasana sore tampak remang-remang seperti di dalam hutan belantara. Namun masih terlihat jelas ruas-ruas batang dan dahan pohon buwuh yang kulit batangnya mengelupas dan memutih terbungkus jamur benang, hingga mirip lukisan gadis telanjang yang berdiri anggun di permukaan kanvas; atau kepulan asap yang membubung tinggi ke udara dalam cahaya senja yang makin temaram.

Aku yang meringkuk dalam kain gendongan Ibu samar-samar merasakan suasana sore itu seperti di alam dongeng atau mimpi, namun entah di mana, aku lupa. Tapi mungkin dalam dongeng Anak Iwoq seperti yang kerap diceritakan Nenekku, setiap kali kami berkunjung ke rumahnya di Dusun Sembalun Bumbung, di kaki Gunung Rinjani, Lombok Utara, yang kami tempuh dengan naik kuda seharian penuh, melewati desa-desa, padang rumput, dan bukit-bukit kecil yang di Lombok disebut montong. Namun yang pasti, saat melewati halaman pekuburan sore itu, aku merasa terasing dan sepi, seolah di alam dongeng. Rasa asing di tempat yang telah berkali-kali kami lewati itu membuat bola mataku berputar-putar liar seperti gundu, menggelinding ke sana-kemari di antara batang-batang pohon yang tampak kelabu dalam warna senja yang suram dan ditandai tarian kepak sayap kelelawar yang terbang simpang-siur di antara ribuan pepohonan. Di mana-mana yang terlihat hanya batang pohon, yang seolah mengepung kami dari semua arah.

Kelelawar, makhluk terbang menyusui, yang kepalanya mirip tikus itu, perlahan menggiring ingatanku pada sekeping kenangan di halaman rumah Nenek di Dusun Sembalun Bumbung, di kaki Gunung Rinjani, dengan dua batang pohon rambutan dan mangga, sehingga saban sore di atas atap genteng berlumut rumah Nenek akan berdatangan ratusan kelelawar yang mengincar buah mangga dan rambutan, yang sebentar-sebentar akan memperdengarkan bunyi kelepuk buah mangga yang jatuh di halaman atau atap genteng yang tertutup sampah daun-daun busuk.

Seekor burung putih sebesar induk ayam terbang melesat dari puncak pohon banyan yang berakar lebat mirip jenggot Pedande, membuyarkan ingatanku pada serpihan kenangan di rumah Nenek yang dingin seperti es mambo, dan kini mengembalikan kesadaranku ke dalam gendongan Ibu yang tengah membawaku melewati jalan setapak sambil menjunjung bakul di samping kuburan desa. Burung putih itu terbang berputar-putar sejenak di atas pohon pallo yang cabangnya membentuk hurup Y di pucuk Bukit Tongtong yang tengah mengepulkan asap dari kampung nelayan di bawahnya, lalu terbang lurus ke barat, seakan mengikuti selajur serat sinar matahari yang menerobos keluar dari celah awan kelabu, dan kian mengerucut, hingga mirip kumbang tai yang nemplok di cermin, lantas menghilang, seperti masuk ke dalam kawah awan yang memancarkan sinar matahari berwarna saga.

Aroma bunga kamboja dari pekuburan yang mengambang dalam udara Magrib yang lembab terbawa angin dingin yang berembus dari Samudera Pasifik terasa menusuk-nusuk hidung dan mulut. Udara dingin membuat aku menyusupkan wajah ke dada Ibu yang terbungkus baju kebaya dari kain brokat warna hijau bersulam burung srigunting, yang permukaannya kasar oleh serat-serat benang emas, namun membuatku merasa nyaman dan tenteram dalam kehangatan kasihnya.

Sebagai bocah umur tiga setengah tahun yang baru disapih, aku tak lagi mengonsumsi ASI, tapi mulai diperkenalkan pada makanan orang dewasa, seperti nasi dan lauk-pauk, termasuk masakan pedas. Diputusnya ASI secara mendadak itu tentu saja membuatku meradang dan ngambek selama berhari-hari, serta selalu menangis di malam hari saat akan tidur atau terbangun tengah malam.

Aku masih menyembunyikan wajah di dada Ibu, ketika telingaku mendengar suara anak kucing mengeong-ngeong, yang membuatku langsung menegakkan kepala, menengok ke sana-kemari, mencari-cari arah datangnya suara. Persis di belakang tumit Ibu yang tengah berjalan di bawah deretan pohon sandat, seekor anak kucing hitam membuntuti langkah Ibu. Ia berlari-lari kecil sambil mengeong lirih. Aku langsung meronta-ronta minta turun dari gendongan, ingin menangkap anak kucing hitam yang tampak lucu dengan segores warna putih di pucuk telinga kiri dan ujung moncongnya yang mungil mirip mulut penyanyi gambus keliling Sumarni Abadi, yang foto hitam-putihnya terpampang di pintu kamar kos abang sulungku, Rasyid, yang kini sedang menuntut ilmu di Sekolah Guru Bantu (SGB) di kota Praya.

***

SEPERTI yang rutin dilakukan Ibu pada setiap awal bulan, beliau akan selalu datang ke kota Praya untuk menjenguk abangku, untuk mengantarkan beras, lauk-pauk, seperti ikan asin, telur asin, biji kacang tanah, minyak kelapa, sambal terasi, kue kering, dan lain-lain, untuk bekal sebulan. Dan setiap kali berpergian—karena masih kecil dan akan selalu menangis jika ditinggal pergi—aku akan selalu diajaknya. Biasanya kami berangkat pagi, dan pulang pada sore hari.

Pengalaman ke kota dengan naik dokar dan bis Damri itu selalu membuat cemburu dua orang kakak perempuanku, Erni dan Rahmi. Sehingga setiap kami pulang dari kota, begitu turun dari gendongan Ibu, aku akan langsung dihujaninya dengan berbagai pertanyaan mengenai seputar pengalaman naik bis Damri. Hasratnya untuk mendengarkan ceritaku seputar pengalaman naik bis itu membuat mereka tak begitu tertarik untuk membongkar isi bakul yang biasanya berisi oleh-oleh berupa kue abug, bakpao, permen, dan balon tiup. Meskipun pertanyaan mereka biasanya hanya akan kujawab dengan anggukan atau gelengan kepala, karena tidak memahami maksud pertanyaannya. “Seperti apa rasanya naik bis Damri? Enak ya?” begitu biasanya pertanyaan yang dilontarkan kedua kakakku.

Ibu marah-marah padaku karena terus meronta-ronta minta turun dari gendongan untuk menangkap anak kucing yang lucu itu.

“Itu bukan kucing beneran, Rasman. Siluman!” kata Ibu, menakut-nakutiku, agar tidak mendesak minta turun, “Mungkin Tu Selak? Lihat saja warna bulunya yang aneh. Beda dengan kucing biasa!” ujarnya.

Tapi, sebagai bocah yang belum mengerti soal ilmu hitam dan makhluk halus, tentu saja aku tidak paham dengan kata-kata Ibu. Bagiku binatang yang kini tengah membuntuti langkah kami dari belakang itu tidak lebih dari kucing biasa seperti yang juga terdapat di rumah kami, sehingga tak sedikit pun menimbulkan rasa takut di benakku. Aku benar-benar tak paham dengan maksud Ibu ketika mengatakan bahwa binatang kecil itu adalah anak kucing siluman atau penjelmaan Tu Selak, yang pada masa-masa itu memang masih banyak terdapat di daerah bagian pinggiran pulau Lombok, yang secara sosial-ekonomi masih berada di bawah garis kemiskinan setelah ratusan tahun dijajah Bali dan Belanda.

Tu Selak, makhluk jadi-jadian akibat salah ngelmu pada dukun itu, bila sedang kumat atau kesurupan akan mengeluarkan cahaya kehijau-kehijauan dari pelipis atau bulu alisnya yang telah diolesi minyak penawar yang terbuat dari biji zaitun.

Mereka akan keluar dari rumahnya di malam hari saat turun gerimis untuk meng-karot-karot tanah di sekitar mata air di tengah ladang atau persawahan. Tu Selak laki-laki dan perempuan akan berkumpul dekat mata air dalam keadaan telanjang bulat, berkalung kain kafan bekas. Bau amis tanah yang tertimpa gerimis pertama akan membuat mereka kumat dan kesurupan.

Di kemudian hari baru aku ketahui, bahwa perihal Tu Selak ini bukan cerita bohong atau mitos, tetapi pathology social yang telah dibuktikan oleh banyak orang, termasuk antropolog Eropa, Susan Barber, yang pada tahun 1980-an, bersama sasakolog Kardiman Said, melakukan riset di beberapa desa di pulau Lombok, hingga Said sendiri nyaris terbunuh dalam sebuah insiden di kampung X, karena misi penelitian rahasia itu dibocorkan oleh seseorang yang batal dilibatkan dalam proyek riset tersebut.

Berdasarkan naskah lontar kuno berjudul Keropakan Tu Selak dan beberapa sumber lisan, dimulailah penelitian berbahaya dengan taruhan nyawa itu, karena hendak membongkar sebuah borok sosial berusia ribuan tahun, yang berasal dari warisan tradisi agama Magic (Majusi). Kendati riset itu tidak mencapai target—karena sulitnya mendekati para responden atau pihak-pihak yang diduga sebagai (maaf!) Tu Selak. Tetapi, dari data-data lapangan yang berhasil dihimpun selama tiga tahun lebih, akhirnya dapat disimpulkan, bahwa Tu Selak memang benar-benar ada. Kendati untuk ukuran sebuah karya ilmiah di bidang penelitian, kedua peneliti merasa tidak puas, karena putusnya benang merah ke akar masalahnya secara genealogis. Jika para pewaris ilmu selak adalah murni berasal dari mereka yang keliru memilih “guru” atau dukun tempat berguru, tetapi tidak ditemukan data atau informasi memadai yang memberi titik terang sekitar latar belakang atau asal-usul kelahiran “sang empu”, yang kemudian menjadi “mahaguru” pertama para Tu Selak. Sebagai ilmuwan dan peneliti, kegagalan itulah yang membuat Susan Barber patah arang, sehingga pulang ke Inggris dengan tangan hampa, tanpa membawa koper dan berkas penelitiannya, yang hingga kini masih tertumpuk di gudang sebuah kantor LSM di Lombok.

***

MUNGKIN karena pada masa itu usiaku masih terlalu dini untuk dapat memahami hal-hal yang tidak begitu jelas seperti siluman dan hantu, sehingga sedikit pun aku tidak merasa takut mendengar kata-kata Ibu. Di mataku anak kucing hitam itu justru terkesan lucu dan jenaka dengan segores warna putih pada bagian moncong dan ujung daun telinga sebelah kiri.

Karena takut oleh anak kucing yang dikiranya siluman atau makhluk jadi-jadian itu, Ibu mempercepat langkahnya, hingga dalam hitungan detik kami telah keluar dari halaman pekuburan yang mulai gelap itu. Kini dengan napas terengah-engah, setelah berjalan setengah berlari, Ibu terduduk di atas gundukan tanah di pematang.

Sementara kucing kecil yang membuat Ibu ketakutan itu, sudah menghilang ke balik rumpun semak-semak. Tak terdengar lagi suara ngeongnya yang lirih seperti bunyi derit engsel pintu rumah kami di kaki bukit Tongtong yang kini mirip seperti kandang burung merpati dalam sepuhan cahaya bulan limau yang mulai mengambang naik di atas rawa-rawa yang ditumbuhi rumput gajah setinggi badan orang dewasa.

Kami tengah memandang takjub pada “bola lampu kristal raksasa” berwarna kuning emas yang menerangi separuh permukaan bumi malam itu, ketika rombongan awan mendung yang bergerak bagai segerombolan kuda hitam mendadak menerjang bulan dari arah utara. Seketika pemandangan menjadi gelap gulita seperti di dalam rahim gua.

Dalam waktu hampir bersamaan mendadak terdengar bunyi kentongan, baskom, ember, panci, rantang, dan kaleng, yang ditabuh bertalu-talu, hingga terasa seluruh permukaan bumi seolah dipenuhi suara kentongan. Ingar-bingar!

“Bulan tertutup awan, dianggap gerhana!” kata Ibu mencemooh orang-orang yang memukul kentongan itu. Karena seperti biasa, jika terjadi gerhana bulan atau matahari, orang-orang di kampung kami akan memukul benda-benda bersuara nyaring, tujuannya agar raksasa Butakala yang menelan bulan segera memuntahkan kembali bulan yang kini masih nyangkut di kerongkongannya. Hehehe…. Begitulah cerita Nenekku di kaki Gunung Rinjani, yang kini tentu sedang berdiri membungkuk sambil memukul-mukul panci di teratak rumahnya.

Tetapi, jadi aneh, bunyi kentongan bertalu-talu itu terdengar makin mendekat. Selain itu terdengar pula suara orang berteriak-teriak marah dan jerit tangis bocah perempuan yang minta tolong, berbaur jadi satu di udara yang mulai berembun.

“Tangkap! Tangkap!”

“Bunuh! Bunuh!”

“Ikat! Jerat lehernya!”

“Kafir laknat! PKI!”

“Gorok! Gorok!”

“Jangan! Jangan bunuh ayah saya…!” cegah seorang bocah perempuan sambil menjerit.

“Langsung bakar saja hidup-hidup…!”

“Komunis laknat…!”

“Jangan! Kasihan ayah saya!”mohon bocah itu.

“Masak Nabi difitnah suka kawin-cerai!”

“Tahu rasa kamu, PKI keparat! Anjing komunis! Tuhan kamu hina!”

“Kubur hidup-hidup!”

“Ceburkan ke sungai!”

“Ya, ceburkan ke Lubuk Batu…!”

“Jangan! Kasihan ayah saya! Jangan dibunuh!”

Selain bunyi kentongan dan suara manusia, kini mulai tampak juga sederetan titik api dari nyala obor, yang seolah bergerak keluar dari mulut goa di lereng bukit, berkelebat di antara batang-batang bambu betung, menuruni lereng bukit ke arah timur, lalu berbelok ke selatan sebelum mencapai pinggir sungai yang jembatan kayunya rusak, dibakar sekelompok orang tak dikenal.

“Seret dia!”

“Nyangkut!”

“Tarik!”

“Nyangkut di akar….”

“Tarik saja! Biar mampus!”

Boeghh…. Batu sebesar buah kelapa mendarat di kepalanya.

“Ayaaah…! Ayaaah…!” bocah itu berusaha meraih kaki ayahnya yang sedang diseret dengan seutas tambang yang menjerat lehernya.

“Puuiiihh!” seseorang meludahi mukanya.

“Ayaaah…!”

“Tebas lehernya, biar putus!”

Suara-suara itu terdengar makin beringas dan tumpang-tindih di udara yang juga disesaki anai-anai yang memburu nyala obor.

Boeghh….! Sebuah benda tumpul membentur tengkuk laki-laki kurus mirip memedi sawah itu.

“Jangan! Jangan bunuh ayah saya…!” mohon bocah itu, memelas.

Kini aku dan ibu baru tersadar, bahwa yang punya suara itu adalah Erni dan Rahmi.

Air mata ibu langsung terjun di ubun-ubunku yang botak mirip buah melon, disusul lolongan tangisnya yang menyayat merobek udara.

“Tolooong…! Jangan bunuh Ayah saya!” mohon Rahmi sia-sia, karena sebenarnya ayah kami sudah jadi mayat. Tapi tak ada yang mendengarnya, karena malam itu, mereka berubah jadi siluman! (*)

 

 

Catatan:

Anak Iwoq         : Anak sebatang kara yang merupakan dongeng di Lombok.

Tu Selak             : Secara etimologis berasal dari kata “teu” (manusia/orang), “selak” (rakus, jorok, atau pemangsa kotoran). Dilihat dari definisi, Tu Selak berarti makhluk jadi-jadian yang memangsa kotoran seperti bangkai, darah, tahi, dan lain-lain.

Penawar             : Nama sejenis minyak (terbuat dari biji zaitun) yang biasa digunakan oleh pelaku ilmu hitam/sihir di Lombok.

Karot-karot        : Menggaruk tanah dengan giginya.

Pathology Social            : Penyakit masyarakat.

Sasakolog                      : Ahli tentang kebudayaan Sasak, Lombok.

Keropakan                     : Riwayat, cerita, atau kisah.

 

 

Mataram, 2010/12

Ayah, inilah jejak ziarahku untukmu….

Adam Gautar Parra(atau Adam Gottar Pirre), lahir, 12 September 1967, di Praya, NTB. Menulis cerpen pertama kali di Majalah Kartini tahun 1995. Selama tahun 2012 ini cerpen-cerpennya dimuat di beberapa media massa. Gottar aktif dalam penelitian kebudayaan, terakhir meneliti kehidupan Tuselak (2009). Ia tinggal di kota Mataram, Lombok.

.

.

Advertisements